
Alan sangat khawatir dengan kondisi Nana, disisi lain Nana yang masih sangat terpukul dengan kenyataan masa lalu mama kandungnya. tapi disini lain Nana juga terlalu terobsesi dengan Amar. tapi Alan Berharap semoga dengan berjalannya waktu Nana bisa melupakan Amar.
"Sudah sayang, jangan terlalu memikirkan masalah itu terus, anggap saja ini itu cuma cinta monyet anak remaja. tidak perlu kita pikir terlalu jauh" bujuk Dokter Anggun dan Alan menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya. tempat bersandar paling nyaman yang bisa menenangkan hati Alan.
***
Dirumah Dokter Sigit
Setelah mendengar apa yang diucapkan Nana, Nia lebih banyak mengurung diri didalam kamar. hatinya hancur. sebagai seorang ibu Nia merasa sangat sedih putrinya tidak mau memberikannya maaf. bahkan Nana sangat membenci dirinya.
"Nia kamu jangan seperti ini, aku yakin suatu saat nanti Nana pasti mau menerima kamu sebagai ibunya" ucap Dokter Sigit
"Itu tidak mungkin, dia sangat membenciku. bahkan dia malu kalau sampai orang tau aku ini mamanya." ucap Nia kembali meneteskan air mata
"Kamu yang sabar ya, apa aku boleh mencoba berbicara dengan Nana?" tanya Dokter Sigit
"Mas Sigit mau berbicara sama Nana? apa malah tidak membuat Nana akan semakin marah?" tanya Nia
"Kita coba saja dulu, bagaimana?"
"Iya mas" jawab Nia
***
Keesokan harinya Dokter Sigit menunggu Nana di depan kampusnya.
"Maaf apa benar kamu Nana?" tanya Dokter Sigit
"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanyanya lagi dan Nia menatap laki-laki yang sudah cukup umur yang saat ini ada didepannya.
"Anda siapa? ada perlu apa mencari saya?" tanya Nana
"Saya Sigit, suami dari mama kandung kamu"
"Oow.. kamu rupanya, laki-laki yang sudah berselingkuh dengan wanita itu?" ucap Nana memandang Dokter Sigit dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis
__ADS_1
"Saya tahu, kamu membenci saya. dan itu wajar. tidak salah kalau kamu membenci saya, saya akui saya memang salah. tapi maafkan mama kamu. dia sudah menyesalinya. bahkan sangat menyesal karena telah meninggalkan kamu saat itu, tapi percayalah saat ini hatinya selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Nana om tau kamu anak baik. cobalah maafkan mama kamu" ucap Dokter Sigit
"Siapa anda mengatur sayasaya" jawab Nana ketus
"Saya memang tidak punya hak apa-apa untuk berbicara dengan kamu, hanya saja saya juga merasa bersalah dengan kamu. saat itu, saya yang sudah membuat mama kamu meninggalkan kalian. jadi om mohon Maafkanlah mama kamu. kalau ada orang yang harus disalahkan. om lah yang salah" Terang Dokter Sigit
"Kenapa baru sekarang kalian menyadari itu? disaat aku sudah tidak membutuhkan mama lagi" ucap Nana berlalu dan dokter Sigit hanya menatap punggung Nana hingga tak tampak lagi.
***
"Bagaimana mas, apa Nana mau berbicara dengan kamu mas?" tanya Nia saat Sigit pulang ke rumah
"Dia memang masih marah dengan kita, tapi percayalah asal kita sering menyakinkan dia, aku yakin suatu saat pasti dia akan menerima kamu sebagai ibunya. bagaimanapun juga darah lebih kental dari air. kalian ibu dan anak pasti suatu saat bisa kembali bersama" ucap Dokter Anggun
Nia menangis dan memeluk Dokter Sigit
"Bagaimana kalau kamu ikut aku buka praktek saja, memang hasilnya tidak banyak. tapi setidaknya aku bahagia hidupku bisa berguna buat orang lain. melihat pasien tersenyum aku cukup puas" ucap Dokter Sigit
"Baiklah mas, aku akan membantu di klinik. tapi aku kan mencari orang buat menjaga minimarketku dulu." jawab Nia
memang tidak mudah. karena Nana selalu berusaha menghindar. tapi itu semua tidak membuat Nia menyerah. jika hari ini Nana mengindar makan esok harinya Nia akan datang lagi dan selalu seperti itu untuk beberapa hari ini.
"Nana, itu siapa wanita yang setiap hari selalu menunggu kamu didepan kampus?" tanya teman Nana
"Bukan orang penting. udah tidak usah dibahas. cuekin aja" jawab Nana
"Iya tapi apa kamu tidak kasihan? setiap hari lho dia nungguin kamu diluar kampus"
"Terus kenapa emang, itu kan maunya dia. lagian aku juga tidak kenal siapa dia" jawabnya santai
"Igh.. tega kamu Na, gak mungkin lah kalau gak kenal dia nungguin kamu terus seperti itu"
"Kalian ini kenapa sih? bisa gak sih gak usah ikut campur urusan orang." gerutu Nana
Selesai kuliah, Dengan malas Nana menemui Nia bukan untuk memaafkannya tentunya, karena perasaan marah masih menyelimuti hatinya.
__ADS_1
"Sini aku mau bicara sama kamu" ucap Nana menarik tangan Nia menjauh dari kampus agar tidak ada yang melihat
"Apa sih yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Nana menghempaskan tangan Nia
"Nana, mama hanya mau minta maaf nak. tolong maafkan mama nak?" rengek Nia memohon
"Berhenti mengatakan mama dihadapkanku. kamu bukan mamaku, mamaku cuma mama Anggun!" tegas Nana
"Tapi nak, aku ini mama kamu. aku yang telah melahirkan kamu sayang. iya mama salah. mama berdosa sudah meninggalkan kamu. tapi percayalah nak, mama menyesal. mama menyesal sudah meninggalkan kamu. mama sudah mendapatkan hukuman dari Alloh karena dosa-dosa mama dimasa lalu nak. tolong ampuni mama nak" tangis Nia pecah
"Mama? ja-jadi wanita itu mamanya Nana? jadi Nana itu bukan anak kandung pemilik rumah sakit itu?" ucap Helen yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Nana dan Nia
Helen ini termasuk mahasiswa yang cukup usil dikampus, begitu dia tau berita pasti seluruh kampus akan mendengarnya. dan benar saja malam ini grub whatsapp kampus dihebohkan dengan berita Nana menyia-nyiakan mama kandungnya dan Nana hanya anak tiri dari Dokter pemilik rumah sakit X.
"Apa ini? ba-bagaimana bisa mereka mengetahui tentang semua ini" gumam Nana panik dan melemparkan hape keranjangnya.
"Tidak, aku tidak mau mereka tau, tidak, aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan?" gumam Nana bingung jalan mondar mandir seraya mengacak-acak rambutnya
"Argghhh... " Teriak Nana
"Nana kenapa itu sayang? kenapa berteriak?" ucap Anggun
"Biar aku lihat dulu" ucap Alan berdiri menuju kamar Nana. Dokter Anggun pun mengekori Alan
Tok.. tok.. tok..
"Sayang, ini Papa. kamu kenapa nak? sayang. boleh papa masuk?" ucap Alan mengetuk pintu kamar Nana
Karena tidak ada jawaban dari Nana, Alan membuka pintu dan masuk tanpa ijin dari Nana
"Sayang kamu kenapa?" tanya Alan mendekati dan memeluk Nana yang menangis disudut ruangan
"Katakan sama papa, kamu kenapa seperti ini? siapa yang membuat kamu menangis seperti ini?" Alan menyeka air mata Nana
"Pah, Nana malu. Nana malu karena wanita itu setiap hari datang kekampus. dan sekarang semua orang dikampus membicarakan Nana yang ditinggalkan mama kandungnya dan Nana hanya anak tiri dari mama Anggun Nana malu pah" tangis Nana pecah
__ADS_1