
Alan merasakan pening memikirkan Nana yang mengatakan mencintai Amar. sedangkan Alan tau persis, kalau Amar tidak pernah memandang Nana lebih dari anak sahabat orang tuanya. Alan hanya resah, jika Nana teralu hanyut dalam perasaannya. Alan tidak ingin Nana mengalami sakit hati.
"Kamu ada apa Sayang?" tanya Dokter Anggun
"Nana sayang, Nana sudah berani bilang kalau suka sama Amar. jujur aku takut dia akan sakit hati. karena aku tau, Amar tidak pernah melihat Nana sebagai wanita spesial" ucap Alan
"Sudahlah sayang, tidak usah terlalu dipikirkan. namanya juga remaja, biasakan mengagumi lawan jenis. tidak usah terlalu dipikirkan. nanti juga kalau ada yang lain, akan berubah lagi. biasakan cinta monyet." ucap Dokter Anggun tersenyum
"Semoga saja begitu sayang, aku tidak ingin Nana sakit hati" ucap Alan
"Sudah, yuk kita tidur sudah malam?" ucap Dokter Anggun menarik selimut menutupi tubuhnya
Alan merebahkan tubuhnya disamping Dokter Anggun dan memeluknya dari belakang.
"Love you" bisik Alan ditelinga Dokter Anggun
"Me too sayang" jawab Dokter Anggun tersenyum dan memejamkan matanya.
Kini keduanya sudah berada didalam alam mimpi. saling memeluk dan memberi kehangatan didalam selimut yang sama.
Keesokan harinya, Alan terbangun lebih dulu. dan membangunkan istrinya untuk sholat subuh berjamaah.
Karena ini weekend, Setelah sholat subuh Alan mengajak istrinya untuk joging disekitar tempat tinggal mereka. sewaktu sampai ditaman tidak disengaja keduanya bertemu dengan Nia yang sebenarnya dihari itu Nia sedang menunggu Nana. karena biasanya setiap pagi Nana akan pergi ke taman.
"Alan, Dokter Anggun" gumam Nia
"Ka-kamu wanita itu kan?" ucap Dokter Anggun menunjuk Nia ragu
"Iya, dia Nia. mamanya Nana" ucap Alan
"Kok kamu ada disekitar sini?" tanya dokter Anggun
"Maaf, aku tidak berniat muncul di hadapan kalian. aku hanya merindukan Nana. aku ingin melihat Nana." jawab Nia
__ADS_1
"Untuk apa kamu ingin bertemu denganku? apa belum cukup kamu menyakiti hati papa dan meninggalkan aku? apa sekarang kamu ingin membuat aku malu lagi? aku tidak mau kamu muncul dihadapanku. aku tidak mau ada yang tau kalau mama kandungku bukan wanita yang baik. aku tidak mau orang tau kalau mama kandungku seorang mantan narapidana" ucap Nana meneteskan air mata dan membasahi pipinya.
"Nana, jangan berkata seperti itu sayang! walau bagaimana dia tetaplah mama yang sudah melahirkan kamu" ucap Dokter Anggun mengingtkan
"Nana, maafkan mama nak. mama salah. mama sudah melakukan dosa yang tidak pernah termaafkan. tapi mama menyesal nak, mama menyesal sudah meninggal kamu" tangis Nia pecah
"Menyesal kamu bilang? apa Nana tidak salah dengar? bagaimana bisa kamu bilang menyesal setelah apa yang sudah kamu lakukan. aku malu terlahir dari wanita seperti kamu" ucap Nana berlari
Nia ingin mengejarnya tapi dihentikan oleh Dokter Anggun
"Nia" ucap Dokter Anggun menghentikan langkah Nia
"Biarkan Nana sendiri dulu! jangan tekan dia. jangan paksa dia untuk bisa memahami kamu saat ini. biarkan dia tenang dulu, pelan-pelan aku akan mencoba berbicara dengan dia."
Nia menurut dan menjatuhkan tubuhnya ketanah. menangis dan memegang dadanya yang terasa sesak.
"Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu juga tidak bisa memaksakan apa yang ada dipikiran kamu saat ini pada Nana. kasih dia ruang. jika saat ini Nana masih marah sama kamu. itu wajar. dia hanya seorang anak, yang pasti akan merasa kecewa saat mengetahui mama yang telah melahirkan dia kedunia ini pergi meninggalkan dia dengan laki-laki lain. jadi tolong jangan egois. beri Nana ruang! tegas Dokter Anggun
"Aku rasa, apa yang dikatakan Anggun benar. ada baiknya jangan temui Nana dulu. biar dia tenang dulu" sahut Alan
"Jujur aku malu mbak, aku ini wanita jahat yang sudah merusak rumah tangga mbak Anggun. tapi mbak Anggun bisa berbesar hati untuk merawat anakku dengan baik" ucap Nana terisak
"Kamu tidak perlu mengatakan itu semua. aku melakukan itu karena memang aku sudah mnganggap Nana seperti anakku sendiri. tidak ada kaitannya dengan kamu. dan untuk masa lalu kita. sebaiknya kita lupakan semua itu, yang lalu biarkan berlalu. tidak perlu kita ungkit lagi, ambil saja hikmah dibalik semua itu. karena aku yakin disetiap takdir yang Alloh berikan untuk kita pasti itu yang terbaik. aku tidak tidak marah sama kamu, justru aku ingin berterimakasih. kesakitan yang kamu dan mas Sigit berikan untuk kami berbuah manis." ucap Dokter Anggun
"Kalian memang pantas bahagia, karena kalian orang-orang yang baik" jawab Nia tersenyum dan berlalu.
"Sebenarnya aku kasihan dengan kondisinya mas, tapi apa yang didapatkan saat ini, itu semua juga karena hasil dari apa yang dilakukannya sendiri" ucap Dokter Anggun
"Iya sayang, kita pulang saja sebaiknya, aku khawatir dengan Nana" ucap Alan
Dirumah Alan dan dokter Anggun, melihat Nana dikamarnya.
"Sayang, papa tau apa yang kamu rasakan. tapi sebaiknya kamu bisa berdamai dengan keadaan. maafkan mama kandung kamu. dia sudah menyesalinya" ucap Alan
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan papa kamu Na, tidak baik seorang anak membenci ibu yang sudah melahirkan kita. terlepas apapun kesalahan yang sudah dilakukan. dia tetep mama kandung yang sudah melahirkan kamu" ucap Dokter Anggun mengusap punggung Nana
***
Keesokan harinya Nana pergi kerumah Ane dan menanyakan tentang Nia.
"Jadi kamu sudah tau semuanya?" tanya Ane
"Iya Nana sudah tau semuanya tante, jujur Nana merasa malu dengan tante. Nana tidak menyangka kalau mama kandung Nana seperti itu. apa karena masa lalu mama Nana, tante tidak mau mendukung perasaan Nana untuk Amar ya tante?" tanya Nana
"Nana, kenapa kamu harus memiliki pemikiran seperti itu? sama sekali ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu mama kamu. Nana kamu dan Amar itu masih terlalu dini untuk membahas masalah itu, tante ingin kalian belajar saja dengan benar. jangan berpikir yang tidak-tidak" ucap Ane
"Tapi Nana mencintai Amar tante, tolong jangan jadikan masa lalu mama kandung Nana menjadi alasan tante" ucap Nan
"Nana, sepertinya tante harus pergi. soalnya tante ada pertemuan bhayangkari. maaf ya na, jangan berpikir tante mengusir kamu. tapi tante memang harus kekantor om Arif untuk pertemuan bhayangkari" ucap Ane
"Baik tante. kalau gitu Nana pulang dulu" ucap Nana pamit
Setelah Nana pulang. Ane menghubungi Alan dan Dokter Anggun untuk membicarakan masalah Nana.
Di sebuah rumah makan kini Ane, Arif, Alan dan Dokter Anggun bertemu.
"Alan, maaf sebelumnya tapi aku harap kamu tidak akan tersinggung dengan apa yang akan aku bicarakan" ucap Ane
"Iya kak, ada apa dengan Nana?" tanya Alan
"Begini apa kalian tau kalau Nana menyukai Amar?" tanya Ane melihat kearah Alan dan Dokter Anggun secara bergantian
"Apa Nana mengatakan pada kak Ane tantang itu?" tanya Alan
"Iya, tadi pagi Nana datang kerumah dan menganggap aku tidak mendukung perasaannya untuk Amar karena masa lalu Nia. padahal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Alan, mbak Anggun. kita selama ini dekat dan sudah seperti saudara sendiri. aku tidak ingin karena masalah ini hubungan yang sudah terjalin baik ini akan retak. karena itu aku ajak kalian bicara disini. aku tegaskan, aku tidak mau ikut campur masalah perasaan Amar. siapapun yang nantinya akan berjodoh dengan Amar. aku akan menerimanya. aku tidak akan menjodohkan Amar dengan siapapun, biar Amar mencari sendiri siapa yang akan dijadikan pendamping hidupnya. lagian Amar ini masih kuliah. aku tidak ingin mengacaukan pikiran Amar. jadi aku minta tolong kasih Nana pengertian soal ini" ucap Ane
"Iya kak Ane, Alan faham semua itu" Jawab Alan
__ADS_1
^Happy Reading ^