
Pagi ini Alan yang sengaja ijin untuk membawa putri tercintanya ke rumah sakit.
Dan Riri merekomendasikan seorang Dokter gigi yang dia kebetulan adalah sepupu dari Fahmi yang saat ini bekerja dirumah sakit Semarang.
"Emang Dokter ini beneran bagus Ri? sepertinya kakak mau bawa kerumah sakit yang lain saja" ucap Alan ketika melihat kartu nama yang ditunjukkan Riri
"Tapi menurut Riri dia Dokter gigi terbaik yang pernah Riri temui kak" terang Riri
"Apa bukan karena dia sepupu Fahmi" Alan menggoda
"Ya bukanlah kak, tapi dia memang Dokter gigi yang paling bisa mengambil hati anak-anak. karena kebanyakan anak-anak itu paling takut sama yang namanya Dokter gigi. tapi kalau sama Dokter yang satu ini pasti anak-anak suka. Riri sendiri juga heran. mungkin karena pembawaannya yang kalem dan tenang kali ya, yang membuat anak-anak suka"
"Gitu ya" Alan menghela nafas berat
"Memang kenapa kakak tidak mau kesana?" Riri yang belum tau kalau Dokter yang direkomendasikan itu prakteknya dirumah sakit tempat Nia dulu bekerja
"Rumah sakit itu, rumah sakit tempat Nia bekerja" jawab Alan
"Maaf ya kak, Riri tidak tau soal itu. maaf Riri selama ini tidak tau kalau kak Nia bekerja dirumah sakit itu" Riri terlihat menyesal
"It's okay, gak papa. lagian Nia juga sepertinya sudah tidak bekerja disana. hanya saja rumah sakit itu sebenarnya mengingatkan aku pada apa yang telah Nia lakukan. jika saat itu aku melarang Nia bekerja dirumah sakit itu mungkin kejadian tidak akan seperti ini" ucap Alan tampak sedih
"Bukan salah kak Alan, mau kakak larang sekali pun kalau sudah ada bibit gak bener ya tetap saja kak" ucap Riri
"Ya sudah kakak bawa Nana kesana dulu" ucap Alan
"Katanya gak mau kesana, ya udah kedokter gigi yang lain saja kak"
"Tidak apa-apa siapa tau benar Dokternya memang seperti yang kamu katakan bisa membuat anak-anak tidak takut"
"Sebenarnya aku ingin ikut menemani kalian kesana. tapi sayang sekali Riri tidak bisa karena sudah ada janji mau ketemu orang tua Fahmi. tidak enak juga kalau mau dibatalkan" ucap Riri
"Iya jangan lah, jangan membuat orang tua Fahmi menunggu. kamu tenang saja, kakak bisa kesana sendiri" ucap Alan
Setelah cukup lama membujuk Nana untuk mau memeriksakan giginya ke Dokter kini Alan segera menuju rumah sakit , rumah sakit dimana banyak kenangan tentang dirinya dan Nia. mulai dari saat mereka masih sebatas teman, hingga saat pertama kalinya Alan menyatakan cinta pun dirumah sakit ini.
Sejenak Alan terdiam diparkiran melihat ke arah rumah sakit, berusaha menguatkan hatinya untuk tetep kuat apalagi saat ini disampingnya sedang ada Nana putrinya. Alan tidak ingin terlihat lemah di depan putrinya yang saat ini juga sedang berjuang melupakan mamanya. Tidak jarang Nana sering mengigau dalam tidurnya memanggil nama mamanya.
"Kenapa berhenti sayang" tanya Alan saat melihat Nana yang sedang digandeng tiba-tiba berhenti menatap seorang perawat.
"Bajunya mirip dengan baju mama kerja ya pah?" tanya Nana dengan polosnya
__ADS_1
"Sayang papa gendong saja ya? Nana kan pasti capek" ucap Alan mengalihkan pertanyaan Nana
"Pa" panggil Nana yang saat ini sudah ada digendongan Alan
"Kenapa sayang?"
"Kenapa Mama meninggalkan kita? mama kenapa kerjanya lama? apa mama tidak kangen kita?" ucap Nana menyandarkan kepalanya dibahu Alan
"Sayang, nanti saja kita bahas itu. sekarang kita harus memeriksakan gigi Nana dulu biar tidak sakit lagi seperti semalam. anak cantik tunggu disini dulu ya! papa mau ke pendaftaran dulu" ucap Alan mendudukkan Nana dikursi tunggu dan Alan segera ke pendaftaran sambil melihat putrinya yang tampak tidak bahagia.
"Maafkan papa sayang, saat ini papa belum bisa menjawab pertanyaan kamu anakku. tapi papa yakin suatu saat nanti kamu akan mengerti, kenapa papa seperti ini" batin Alan
Sakit membayangkan apa yang sudah dilakukan Nia, setelah apa yang sudah diperjuangkan selama ini. terkadang Alan masih tidak bisa berhenti berfikir, bagaimana bisa Nia tega melakukan ini terhadap dirinya setelah apa yang dilakukan untuknya selama ini. hanya beralasan pekerjaan Alan yang terlalu sibuk membuat Nia tega melakukan perselingkuhan tanpa memikirkan anaknya akan ikut terluka karena perbuatannya itu.
"Dengan pasien anak atas nama Alena Sandi atmaja" ucap perawat membuyarkan lamunan Alan
"Itu anak saya Sus" jawab Alan
"Silahkan bapak langsung saja, ke Polisi gigi. nanti akan dipanggil jika sudah giliran anak bapak" terang perawat
"Baik Sus terimakasih" jawab Alan
Alan menggendong Nana ke Poli gigi menunggu antrian
"Alena Sandi atmaja" suara perawat memanggil
"Disini Sus" jawab Alan mengangkat satu tangannya dan segera menggendong Nana masuk dalam ruang Poli gigi
"Silahkan pak" Perawat mempersilahkan masuk"
"Terimakasih Sus"
Sejenak Alan dan Dokter Anggun saling memandang
"Silakan duduk" ucap Dokter Anggun mempersilahkan
"Hai cantik siapa namanya?" Dokter Anggun bertanya pada Nana yang memeluk erat papanya seolah ketakutan
"Kenapa diam cantik? kan Bu Dokter pengen kenalan sama anak cantik" bujuk Dokter Anggun
"Gak mau?" ucap Nana membenamkan wajahnya di dada papanya
__ADS_1
"Kenapa gak mau, padahal bu Dokter punya hadiah lho buat anak pintar dan cantik"
Dengan malu-malu Nana melihat hadiah apa yang dipegang Dokter Anggun
"Jepit rambutnya indah bukan? jika dipakai anak secantik ini pasti tambah indah"
Nana perlahan mendekat dan mau menerima hadiah dari Dokter Anggun
"Bilang apa nak?" ucap Alan pada Nana
"Terimakasih bu Dokter"
"Sama-sama cantik, eh.. anak cantik giginya kenapa itu? boleh bu Dokter lihat"
Nana hanya menggelengkan kepalanya
"Padahal Bu dokter hanya ingin melihat sebentar saja, gak sakit kok Bu Dokter janji kalau ini tidak akan sakit" ucap Dokter Anggun berusaha membujuk Nana dan setelah cukup lama bernegosiasi gadis kecil ini pun akhirnya mau melakukan pemeriksaan gigi.
Setelah gigi Nana dibersihkan, Nana diberikan nasehat oleh Dokter Anggun untuk rajin menggosok gigi dan jangan teralu sering mengkonsumsi makanan manis.
Nana tampak faham dan mengerti penjelasan yang disampaikan dokter Anggun.
"Kalau begitu, Terimakasih Dok kami pulang dulu" ucap Alan
"Terimakasih Bu Dokter" ucap Nana tersenyum
"Sama-sama cantik" jawab Dokter Anggun
"Maaf Pak, sepertinya kita pernah ketemu ya?" tanya Dokter Anggun yang sedikit ragu karena saat itu dirinya sedang tidak konsentrasi dan seakan semua terjadi begitu saja
"Sepertinya begitu, dari tadi saya juga merasa kita pernah ketemu tapi saya takut salah orang. maaf apakah anda itu_" Alan tidak melanjutkan kata-katanya dan melihat Nana putrinya membuat Dokter Anggun faham, Alan tidak ingin membahas itu di depan putrinya.
"Iya saya yang pagi itu anda telpon" timpal Dokter Anggun
"MasyaAlloh pantas saja dari tadi saya merasa tidak asing dengan anda. tapi saya ragu karena setau saya anda kan bekerja diluar kota saat saya telpon waktu itu" ucap Alan
"Iya anda benar, tapi sejak kejadian mantan suami saya waktu itu, saya memutuskan untuk mengelola rumah sakit ini sendiri. karena dulu rumah sakit ini kan dikelola mantan suami saya" ucap Dokter Anggun
"Oya maaf dulu saya belum sempat mengucapkan terimakasih pada anda jika saat itu anda tidak menghubungi saya, mungkin sampai detik ini, laki-laki itu masih membohongi saya"
"Tidak perlu berterimakasih Dok, karena saat itu kita dipihak yang sama-sama tersakiti" ucap Alan
__ADS_1
^Happy Reading^
Jangan lupa dukungan nya ya sayang, dengan cara Like, coment dan Vote . Terima kasih😘💕 🙏