Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MENUDUH


__ADS_3

Setelah acara pertemuan bhayangkari, Ane mengajak Nia untuk mampir keruangan suami mereka.


"Assalamu'alaikum" ucap Ane dan Nia masuk ke ruang kerja Arif dan Alan


"Walaikumsalam" jawab semua yang ada diruangan.


"Nia, kak Ane" ucap Alan senyum melihat Nia yang datang


"Kenapa tidak bilang kalau mau datang ke pertemuan bhayangkari? kalau bilang kan tadi pagi kita bisa berangkat bersama" ucap Alan pada Nia tapi Nia hanya diam tidak menjawab karena sebenarnya Nia datang bukan untuk Alan tapi karena desakan dari Ane.


"Lan, Bang Arif ada didalam?" Ane menujuk ruangan suaminya


"Ada kak, mau Alan panggilkan?"


"Tidak usah, biar aku kesana. kalian ngobrol dulu saja, Nia tunggu aku sebentar ya. aku mau bertemu bang Arif" Ane memegang tangan Nia


"Iya" Nia mengangguk


Setelah Ane Keruangan Arif. Alan mengajak Nia untuk duduk didalam ruangannya.


"Aku seneng kamu datang kesini, kamu cantik bhayangkari ku" Alan tersenyum memegang tangan Nia tapi Nia menarik tangannya seolah tak mau dipegang.


"Aku kesini karena dipaksa sama Ane. kalau bukan karena Ane yang maksa aku juga gak mau datang." jawab Nia ketus


"Sayang, jangan seperti ini lagi ya. mas minta maaf kalau mas salah. kita perbaiki semua dari awal ya. mas akan mengajukan cuti tahunan. minggu depan, bagaimana kalau kita liburan ke luar kota. Nana kan sudah besar, sudah bisa kita ajak pergi jauh"


"Tidak perlu mas, Nia bln ini sepertinya jarang liburnya."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Karena kebetulan rumah sakit lagi kekurangan tenaga bidan. dan pasien selalu full akhir-akhir ini" jawab Nia


"Jadi kita tidak bisa liburan ya? padahal jujur saja. mas sadar selama ini mungkin mas terlalu sibuk dengan pekerjaan, makanya tahun ini pengen ambil cuti tahunan untuk bisa berlibur dengan kamu dan Nana tapi kalau memang kamu sibuk ya sudah. mas tetep ambil cuti tahunan mas, cuma biar mas dirumah mainan sana Nana saja"


"Terserah mas saja" ucap Nia ketus.


****

__ADS_1


"Assalamu'alaikum bang"


"Walaikumsalam" Arif tersenyum melihat Ane datang


"Sudah selesai acaranya?" Arif bangun dari kursinya dan mendekati Ane, diciumnya tangan Arif.


"Sudah bang, tadi Ane kesini sama Nia"


"Emm.. Nia nya mana?" Tanya Arif


"Ada diluar sana Alan"


"Oya bagaimana, apa Nia sepertinya ada perubahan? mas itu kasian melihat Alan. sebagai pimpinan mas jujur saja tidak tega melihat dia terlihat murung terus dikantor"


"Entahlah, sepertinya masih sama saja. tapi semoga setelah tadi mendengarkan apa yang disampaikan bu Ketua cabang bhayangkari, bisa menjadi bahan renungan untuk Nia berpikir. bukan hanya dirinya saja yang merasakan, semua istri Polisi merasakan berapa sibuk dan lelahnya seorang Polisi. belum lagi setiap suami harus mendatangi TKP(Tempat kejadian perkara?) atau sedang ada misi penangkapan ibarat seorang istri harus bersiap dengan apa pun yang nantinya terjadi dengan suaminya. hanya doa yang selalu dipanjatkan seorang istri saat suami sedang dalam sebuah tugas."


"Terimakasih bhayangkari ku, abang besyujy memiliki istri yang bisa mengerti pekerjaan abang." ucap Arif mengusap lembut kepala Ane yang tertutup jilbabnya.


"Bagaimana kalau kita ajak Nia dan Alan makan siang bersama"


"Gak papa ini kan jam makan siang" ucap Arif melihat jam ditangan nya.


Keduanya menghampiri Nia dan Alan yang masih tampak saling diam.


"Lan, Nia ayo kita makan siang bareng" ajak Arif


"Maaf bang Arif, sebenarnya Nia pengen ikut tapi sepertinya tidak bisa Nia harus segera pergi." ucap Nia


"Lho tadi katanya mau jalan-jalan dulu kita, kok sekarang malah mau pulang duluan?" tanya Ane


"Awalnya gitu, tapi aku baru inget kalau aku harus segera kerumah sakit, gantiin temanku jaga siang." ucap Nia bohong


"Aku pulang dulu ya Ne, bang Arif. mas Alan aku pulang dulu ya" Nia mencium tangan Alan


"Nanti malam Mas jemput ya"


"Tidak usah mas. aku pulang sendiri saja"

__ADS_1


"Tidak apa-apa mas nanti malam gak ada kegiatan kok cuma apel malam saja. selesai apel mas jemput kerumah sakit"


"Mas, jangan mulai ya. tidak usah memaksa bisa kan?" ucap Nia


Nia pulang tanpa menghiraukan Alan lagi


"Sabar ya Lan, ayo kita makan dulu saja" ucap Nia


"Kalian pergi saja sendiri bang, aku sudah tidak berselera makan" jawab Alan


"Alan, kita pergi makan dulu saja. jangan terlalu kamu pikirkan. ayo kita pergi" ucap Arif


Alan pun akhirnya menurut dan mereka makan di sebuah rumah makan tidak jauh dari kantor.


Selesai memasang beberapa makanan Arif menasehati Alan agar tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi.


"Bener apa yang dibilang bang Arif Alan. kamu harus tenang dan coba kamu ajak Nia bicara dari hati ke hati" ucap Ane


"Percuma Kak" jawab Alan singkat


"Kenapa begitu?" Ane mengerutkan dahinya


"Percuma karena itu tidak akan berhasil, Nia sudah tidak bisa diajak komunikasi. setiap aku dekati dia selalu menghindar. nanti ujung- ujung-ujungnya marah dan menuduh aku selingkuh. selalu itu yang diucapkan setiap aku berusaha mengajaknya bicara."


"Ternyata permasalahan kalian sudah seserius itu ya" ucap Ane tampak merasakan kesedihan Alan


"Begitulah kak, aku sudah tidak mengerti lagi dengan Nia. dia selalu saja memojokkan aku, menuduh aku berselingkuh. padahal aku sudah berkali-kali menjelaskan, tidak ada wanita mana pun yang sedang dekat denganku. tapi tetap saja Nia tidak percaya. bahkan kecurigaan tanpa alasannya itu dijadikan alasan untuk menghindari aku. setiap aku mendekati dia bilang tidak mau karena takut aku sudah tidur dengan wanita lain, jadi dia tidak mau lagi dekat denganku." Alan tampak frustasi mengacak-acak rambutnya.


Bagaimana tidak sudah hampir dua bulan Alan tidak pernah mendapatkan haknya sebagai seorang suami. karena Nia selalu saja menghindari.


"Sepertinya masalahnya memang harus segera diselesaikan. jika pembicaraan antara kalian tidak berhasil tidak ada salahnya meminta tolong pada orang tua, siapa tau jika orang tua yang menasehati Nia bisa berubah setidaknya biar Nia memikirkan Nana." ucap Ane


"Itulah kak, Nia sama sekali tidak perduli lagi dengan Nana. Ibaratnya Nana ini seperti tidak punya ibu, kalau tidak sibuk kerja. setiap dirumah pun Nia selalu saja main dengan hapenya. setiap aku ingin melihat hapenya dia bilang privasi dan itu hanya alasanku untuk memutar balikkan fakta. apa aku tidak stres kak, menghadapi istri yang seperti itu? aku ini tidak Ngapa-ngapain. kalaupun aku jarang dirumah itu hanya karena pekerjaan, bang Arif tau kok, tapi Nia seolah tidak mau tau alasan apapun yang aku berikan tetep saja dianggap salah"


^Happy Reading^


Terimakasih dukungan nya, jangan lupa Like, coment dan vote ya😍😘 dukungan kalian sangat berarti bagi Author

__ADS_1


__ADS_2