Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MEYAKINKAN


__ADS_3

"Nur, kamu kenapa tidak pernah mau jujur, aku hanya ingin menghiburmu dan menjadi sahabatmu Nur" ucap Fatimah


"Maafkan aku Fatimah, aku tidak bermaksud seperti itu hanya saja. memang aku tidak terbiasa menceritakan masalahku pada orang lain"


"Aku ingin bersahabat dengan kamu, tapi sepertinya kamu belum bisa menerima aku sebagai sahabat kamu" Fatimah kecewa


"Sebenarnya Abah memanggilku karena ustadz Guntu"


"Ustadz Guntur? kenapa dengan ustadz Guntur?" Tanya Fatimah membulatkan matanya


"Ustadz Guntur ingin mengajak ku untuk ta'aruf" jawba Nur


"Apa? ustadz Guntur ingin ber ta'aruf dengan kamu? bagaimana mungkin ustadz Guntur mengajak kamu untuk ta'aruf?" Fatimah tercengang pasalnya banyak santriwati di pondok ini yang jauh lebih pantas untuk menjadi istri ustadz Guntur tapi kenapa malah Nur? itu yang membuat Fatimah tercengang.


"Aku sendiri juga tidak tau kenapa harus aku"


"Lalu apa jawaban kamu?" Fatimah yang sebenarnya cemburu mengetahui fakta ustadz Guntur ada rasa dengan Nur padahal dirinya yang lebih dulu jatuh hati pada ustadz Guntur


"Aku tidak mungkin bersama dengan ustadz Guntur" Jawab Nur


Fatimah tersenyum diak-diam merasa lega Nur berkata seperti itu


"Tapi kenapa kamu bilang kalau kamu tidak mungkin bersama dengan ustadz Guntur?" Fatimah penasaran


"Tidak apa, hanya saja aku tidak mungkin bersama dengan ustadz Guntur" Jawab Nur meneteskan air matanya


"Lalu kenapa kamu kamu menangis?"


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang teringat sesuatu. Fatimah maaf ya, tapi saat aku ingin sendiri" ucap Nur


"Ya sudah, aku pergi dulu. ingat ya, kalau kamu butuh apa-apa panggil aku. disini kamu tidak sendiri. ada aku. kamu bisa menceritakan apa saja padaku" ucap Fatimah


Ditempat lain, ustadz Guntur termenung di meja belajarnya. berusaha mencerna perkataan Nur yang sulit untuk dipahami.

__ADS_1


Kemudian Guntur berusaha mengingat-ingat anak kecil yang tempo hari datang ke pondok pesantren dan dipeluk Nur sambil menangis.


"Apa itu anaknya Nur? lalu siapa yang bersama anak itu kemarin?" gumam Guntur lirih


Pernyataan yang Nur sampaikan memang cukup membuatnya kaget, tapi bukan berarti ustadz Guntur langsung menghakimi Nur begitu saja. ustadz Guntur untuk beberapa hari memang tidak tampak di depan Nur bukan karena menghindar atau menghilang begitu saja melainkan ustadz Guntur berusaha untuk menenangkan hatinya dan selama beberapa ini melakukan sholat Istikharah untuk memantabkan hatinya. meminta petunjuk yang terbaik dari Alloh.


Dan setelah beberapa hari tidak terlihat di depan Nur kini tiba-tiba ustadz Guntur menemui Nur ditepi danau yang ada dipesantren. ustadz Guntur memintanya untuk untuk mendengar apa yang ingin ustadz Guntur sampaikan, tentu saja mereka tidak berdua. ada salah satu santri yang diajak ustadz Guntur disana agar tidak menimbulkan fitnah.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Nur menoleh kearah ustadz Guntur


"Untuk apa lagi ustadz memintaku kesini?" ucap Nur


"Ada hal yang ingin aku sampaikan secara langsung padamu" jawab ustadz Guntur


"Apa yang ingin ustadz sampaikan?" Nur mengerutkan keningnya


"Ustadz, tidak apa-apa. aku mengerti, laki-laki manapun pasti akan melakukan hal yang sama. sungguh aku tidak apa. ustadz jangan merasa tidak enak. timpal Nur memotong pembicaraan ustadz Guntur


"Dengarkan aku Nur, aku.. "


"Tidak usah merasa tidak enak hati ustadz, aku sungguh tidak apa-apa" timpal Nur senyum


"Aku ingin kita mengkhitbahmu" ustadz Guntur


"Apa, apa aku salah mendengar?" Nur membelalakan matanya tidak percaya


"Tidak, kamu tidak salah. jika kamu mengijinkan. aku akan segera menemui orang tuamu dan meminta ijin untuk meminangmu" ucap ustadz Guntur penuh keyakinan


"Apa ustadz tidak salah berkata seperti itu? ustadz, aku tidak pantas untuk menjadi istri seorang ustadz. aku hanya seorang pendosa yang hina. jangankan seorang ustadz, dengan laki-laki biasa saja aku juga tidak pantas. mungkin seumur hidupku, aku akan sendiri. mungkin ini caraku untuk menebus dosa-dosaku dimasa lalu" ucap Nur dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa diri kita ini sehingga bisa menilai dosa dan kesalahan kita, Alloh itu maha pengampun, dan Alloh Akan menerima taubatan hambanya asal bersungguh-sungguh. jangan pernah mendahului takdir Alloh Nur" ucap ustadz Guntur

__ADS_1


"Percayalah ustadz, aku bukan wanita yang baik untuk ustadz. menikahi seorang pendosa sepertiku hanya akan membuat ustadz malu" Nur dengan mata berkaca-kaca


"Sesungguhnya Alloh lebih menyukai pendosa yang bertaubat dari pada orang yang sholih tapi selalu merasa benar. aku sudah pernah mengatakan itu kan Nur? jadi jangan terus-terusan menyalahkan dirimu atas dosa yang kamu lakukan dimasa lalu. jadikan itu sebagai acuan agar kedepannya kamu bisa menjadi orang yang lebih baik. masa lalumu sudah terjadi dan sudah tidak bisa kamu rubah lagi, tapi masa depanmu bisa kamu perbaiki dengan menjadi orang yang lebih baik. dekatkan diri pada Alloh! InsyaAlloh aku yakin kamu bisa menjadi wanita sholihah yang taat kepada Alloh. karena sesungguhnya sebaik-baiknya hamba adalah yang selalu taat kepada Alloh. menjauhi laranganNya dan menjalankan perintahNya" ustadz Guntur berusaha memberi pengertian pada Nur agar tidak selalu larut dalam penyesalan dosa.


"Dengan kamu menyesali perbuatan kamu dimasa lalu dan mau bertaubat meminta pengampunan kepada Alloh, itu sudah cukup membuktikan masih ada keimanan dihati kamu." ucap ustadz Guntur lagi


"Maaf ustadz saya benar-benar tidak bisa menerima semua ini. ustadz terlalu baik untuk saya. saya benar-benar merasa tidak pantas menjadi pendamping hidup ustadz" ucap Nur melangkah pergi


"Tolong jangan buru-buru menolakku! shalatlah istikharah dulu selama tiga hari berturut-turut, jika setelah kamu sholat istikharah dan hati kamu masih ragu untuk menerimaku. maka tolaklah aku, tapi jika setelah sholat istikharah hatimu merasa mantap denganku tolong terimalah aku dan jangan kamu lawan kehendak Alloh" ucap ustadz Guntur menghentikan langkah Nur


Nur yang masih terdiam mematung sekilas menoleh lagi kebelakang menatap ustadz Guntur sekilas dan segera berlari menuju kamar. dipersimpangan jalan Fatimah melihat Nur yang sedang berlari dan tidak selang lama ada ustadz Guntur dan seorang santri yang juga melewati Fatimah.


"Kenapa mereka bisa kebetulan seperti itu" batin Fatimah tatapan matanya terus tertuju pada ustadz Guntur.


Sedangkan dikamar Nur menangis sejadi-jadinya, membenamkan wajahnya dibantal. harinya terasa sesak. wanita mana yang tidak ingin memiliki seorang suami yang sholih? taat beribadah dan memahami ilmu agama yang bisa menuntun istri dan anak-anaknya kelak kesurga. begitu juga dengan yang Nur rasakan. hati kecilnya ingin menerima ustadz Guntur sebagai pendamping hidup yang bisa menuntunnya menjadi orang yang lebih baik. tapi dosa dimasa lalunya seolah menjadi penghalang bagi dirinya.


Disaat seperti ini Nur ingin meminta pendapat kepada sahabatnya Ane.


Nur mengambil hapenya mencari nomer Ane di kontaknya dan menekankan tombol panggil.


"Assalamu'alaikum Ne" ucap Nur terisak


"Walaikumsalam Nur, kenapa suara kamu seperti sedang menangis" Ane cemas dari seberang telpon


"Tidak apa-apa, apa kamu sedang sibuk Ne?" tanya Nur takut mengganggu Ane


"Tidak Nur, kebetulan Amar lagi tidur siang. ada apa Nur? kamu kenapa? apa benar kamu ini sedang menangis?"


"Iya Ne, aku ingin bisa menceritakan apa yang aku rasakan ini kepada kamu. kamu tau kan, selama ini hanya sama kamu aku bisa berkata jujur" tangis Nur


Fatimah yang awalnya penasaran ingin menanyakan kenapa bisa berbarengan dengan ustadz Guntur tidak sengaja mendengar Nur sedang berbicara dengan seseorang ditelpon.


Fatimah yang awalnya akan mengetuk pintu mengurungkan niatnya karena mendengar Nur menyebut nama ustadz Guntur

__ADS_1


__ADS_2