
"Teman ibu baik-baik saja. hanya butuh istirahat dan perbaiki pola makannya. sepertinya pasien lemah juga karena kekurangan asupan gizi. dikarenakan pasien sedang hamil jadi asupan nutrisi dan Gizi yang masuk harus lebih diperhatikan" jelas Dokter
"A-apa Dok? tadi Dokter bilang Nia lagi hamil?" tanya Nia
"Iya saat ini pasien sedang hamil 4 minggu. jadi wajar jika kondisinya masih lemah. karena itu mulai sekarang lebih diperhatikan asupan nutrisi yang masuk. walaupun cuma sedikit tapi harus dipaksakan masuk nutrisinya"
"Baik Dok. saya mengerti" ucap Ane
"Astaghfirullah Nia, anak siapa yang saat ini kamu kandung? bagaimana cara mu menghadapi semua ini disaat sebentar lagi Alan akan menceraikan kamu?" gumam Ane
"Ane" ucap Nia lirih berusaha membuka matanya yang masih terasa berat
"Nia, kamu sudah sadar"
"Apa kamu yang membawa aku kesini?" Tanya Nia saat menyadari dirinya sedang berada dirumah sakit
"Iya, tadi aku kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat kamu jalan sempoyongan dijalan, lalu kamu jatuh pingsan. makanya aku dan bang Arif bawa kamu kerumah sakit" ucapnya
"Sepertinya aku hanya kurang istirahat saja dan belakang juga nafsu makanku berkurang" ucap Nia
"Iya tadi Dokter juga berkata seperti itu dan mulai sekarang kamu. harus lebih memperhatikan makanmu, karena ada janin didalam kandungan kamu yang membutuhkan nutrisi" ucap Ane
"Janin? janin dalam kandunganku? maksud kamu a-aku, aku hamil?" Nia tercengang dan tangannya memegang perut seolah tidak percaya
"Iya ,bukankah kamu sudah mengetahuinya?"
"Tidak mungkin, tidak mungkin" gumam Nia
"Apa anak itu_" ucap Ane ragu
"Tidak mungkin aku hamil dalam kondisi seperti ini" tangis Nia pecah
"Nia aku sudah tidak bisa berkata-kata dan aku sudah tidak tau harus mengatakan apa lagi sama kamu" ucap Ane
Setelah kondisi Nia cukup pulih, Ane mengantarkan Nia kembali ke kosnya
"Jadi selama ini kamu tinggal disini?" ucap Ane melihat sekeliling
"Iya aku tinggal disini" jawab Nia lemah
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa hidup kamu jadi seperti ini Nia? tinggal dikos kecil seperti ini sendirian" batin Ane
"Kenapa Ane? hidupku cukup memprihatinkan ya?" tanya Nia
"Sejujurnya aku katakan iya Nia. aku tidak menyangka. kamu sia-siakan hidupmu hanya untuk kesengsaraan seperti ini" ucap Ane
"Ane sudah ya, jangan dibahas lagi. ini sudah menjadi hukuman yang menyakitkan untukku." ucap Nia
"Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" Ane melihat kearah Nia
"Bukankah istri yang hamil tidak bisa diceraikan ya?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? jangan bilang kamu akan menggunakan kehamilan kamu ini untuk membuat Alan agar tidak menceraikan kamu?" Ane menatap Nia berusaha membaca pikiran temannya ini
"Bukan seperti itu, tapi memang kenyataan seperti itu kan? seorang istri yang hamil tidak boleh diceraikan kan?" tanya Nia
"Iya tapi masalahnya kamu hamil bukan anak suami kamu? tapi kamu hamil anak laki-laki lain" ucap Ane
"Bagaimana kamu bisa senyakin itu kalau anak yang saat ini ada di kandunganku bukan anaknya Alan?"
"Astaghfirullah Nia, aku tidak mengerti dengan jalan pemikiran kamu. apa kamu tidak kasian dengan Alan setelah apa yang sudah kamu lakukan pada dirinya? apa kamu akan mengatakan anak yang saat ini ada di rahim kamu itu anak Alan? sedangkan Alan sudah menceritakan kalau sudah lama kalian tidak pernah berhubungan. bagaimana bisa kamu bilang itu anak Alan."
"Apa Alan mengatakan semau itu?" Nia melihat Ane
"Bagaimana bisa dia menceritakan masalah seperti itu pada orang lain" gumam Nia lirih tapi Ane masih bisa mendengar
"Kamu saja bisa menghianati Alan, kenapa Alan tidak bisa menceritakan masalah seperti itu, bagi aku dan bang Arif Alan itu bukan hanya sekedar rekan kerja tapi juga kami anggap adik kami. Alan kamu hianati seperti itu, kami sebenernya juga ikut merasakan prihatin. sudahlah Nia percuma bicara sama kamu. aku pulang dulu" pamit Ane merasa kesal
***
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku baru ingat ternyata benar aku sudah lama tidak berhubungan dengan mas Alan. bahkan setiap Mas Alan menginginkan aku selalu menolaknya dengan berbagai Alasan. kalau begitu anak ini berarti anak_" gumam Nia tidak melanjutkan kata-katanya dan tiba-tiba air matanya menetes
Sementara Arif yang mendatangi TKP mencari bukti-bukti dari kasus pembunuhan yang dilaporkan seorang warga dan diduga Korban dibunuh dalam keadaan hamil oleh kekasihnya. setelah mengidentifikasi korban, Arif kembali ke kantor bersama Alan.
Dan membahas korban yang meninggal dalam keadaan hamil mengingatkan Arif pada Nia yang sepertinya juga hamil.
Dengan ragu Arif menceritakan kalau sebelum mendatangi TKP dirinya dan Ane bertemu dengan Nia yang berjalan sempoyongan dijalan dan membawanya ke sebuah rumah sakit
"Sebenarnya jujur bang, dari hati Alan yang paling dalam, Alan juga merasa iba dengan keadaan Nia. tapi Nia pantas menerima semua itu" ucap Alan
__ADS_1
"Tapi tadi saya dan Ane mempunyai kecurigaan kalau sepertinya Nia hamil" ucap Arif
"Nia hamil?" Alan tercengang
"Sepertinya seperti itu, tadi sih baru dugaan kita. mungkin untuk lebih pastinya nanti bisa ditanyakan sama Ane" ucap Arif
"Tapi yang pasti, kalau benar Nia hamil. itu bukan anak Alan bang" Tegas Alan
"Kamu yakin?" Arif menatap Alan
"1000% yakin bang, Alan sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Nia mungkin kalau terhitung sama sekarang sudah ada empat bulan, kami tidak berhubungan" terang Alan
"Abang telpon Ane dulu ya buat memastikan hasil pemeriksaan Dokter"
"Iya bang" jawab Alan
Arif mengambil ponsel dan menghubungi Ane
"Assalamu'alaikum sayang"
"Walaikumsalam bang"
"Ini masih dirumah sakit apa sudah pulang?" tanya Arif
"Sudah pulang bang, Ini ada didalam taxi."
"Bagaimana hasil pemeriksaan Nia? apa dugaan yang tadi benar? tanya Arif dari sebrang telponnya
"Iya betul bang, Nia hamil dan usia kehamilan baru sekitar empat minggu" terang Ane
"Lalu apa Nia memberitahu itu anak siapa?"
"Dia sepertinya akan menggunakan kehamilannya ini sebagai upaya untuk tidak bercerai dari Alan" ucap Ane
"Nia, Nia licik juga ternyata pemikirannya" Arif senyum menyeringai.
"Bagaimana bang?" tanya Alan penasaran
"Nia benar hamil empat minggu. dan Ane bilang sepertinya Nia akan menggunakan kehamilannya ini sebagai senjata agar kamu tidak menceraikan nya." Arif menepuk punggung Alan pelan untuk memberinya semangat
__ADS_1
"Huh.. bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? apa dia lupa kami sudah empat bulan tidak berhubungan bagaimana bisa dia hamil baru empat minggu jika benar itu anakku" Alan menggelengkan kepalanya
"Kamu yang sabar ya Lan. ini ujian buat kalian"