Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 191


__ADS_3

Kamu beneran gak mau jadi bidan lagi Ne?" tanya Yeni yang baru tau kalau sekarang Ane sudah tidak bekerja


"Aku mau fokus sama keluarga saja yen"jawab Ane


"Bagus sih fokus sama keluarga. tapi entah kenapa kalau aku tidak bekerja aku merasa takut kalau suatu saat tidak dihargai lagi sama suami"


"Sebenarnya kalau itu sih pilihan, kalau menurutku asal keduanya sama-sama saling mengerti dengan tugas masing-masing semua itu tidak akan terjadi. intinya dalam suatu keluarga harus didasari pemahaman agama yang kuat biar hal seperti itu tidak akan pernah terjadi"


"Iya sih kamu bener Ne, cuma aku takut saja karena kamu tau sendiri kan, banyak banget wanita diluar sana yang menginginkan suami kita."


"Iya entah kenapa diluar sana itu, banyak banget perempuan yang menginginkan laki-laki meski mereka tau laki-laki itu sudah beristri. kadang aku juga heran sesama wanita bagaimana mereka bisa setega itu?" sahut Wawa


"Aku jadi merasa tersindir" ucap Nur senyum karena teringat masa lalunya juga pernah seperti itu, hingga akhir dari cerita hidupnya hancur karena tidak ada keberkahan dalam hubungannya


"Nur jangan bicara seperti itu, saat itu kamu kan belum merasakan rasanya jadi istri dan lagi saat ini Saka dan Nia juga belum menikah. sebenarnya masih sah saja sih Saka memilih siapa. terbukti juga kan Nia juga gak ada bedanya dengan Saka. kalau kamu saat itu kan hanya cinta buta. soalnya kamu itu kalau udah cinta sama orang terus bucin banget gitu" Ane membela Nur yang saat ini memang sudah bertaubat


"Iya kalau menurutku, semau orang pasti punya sisi baik dan sisi buruk masing-masing. dan ujian dalam hidup seseorang itu berbeda-beda. saat itu imanku lemah. bahkan aku tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. seperti teman kita Nia saat ini, semoga saja Alloh memberinya hidayah dan bisa kembali kejalan yang benar" ucap Nur dan semua mengaminkan


Saat ini para gadis yang saat ini sudah menjelma sebagai emak-emak ini sibuk bercandaan gurau melepas kerinduan. setelah sekian lama tidak pernah meetup seperti ini lantaran jarak.


Bisa kembali berkumpul seperti ini merupakan hal yang paling mereka nantikan. persahabatan yang tak lekang oleh waktu. meskipun jarak memisahkan, meskipun kesibukan masing-masing berbeda nyatanya mereka masih bisa saling mendukung, saling memberi semangat dan saling mengingatkan serta menguatkan.


Dimeja sebelah tak kalah para mas-mas yang kini sudah menjelma sebagai bapak-bapak tampak asyik bercengkrama. persahabatan yang terjalin lantaran istri-istri mereka membuat bapak-bapak ini mempunyai teman baru dan bisa saling bertukar pikiran.


Arif tampak senang dan bersemangat berbincang dengan ustadz Guntur. banyak ilmu agama yang didapatkan saat berbincang dengan ustadz Guntur. begitu juga dengan suami Yeni yang sangat senang bertukar pikiran dengan ustadz Guntur seolah mendapatkan wajangan.


"Lihat tu bapak-bapak kenapa sepertinya serius banget mendengarkan Ustadz Guntur berbicara ya?" ucap Ane


"Mungkin mereka sedang mendengarkan tausyiah dari suaminya Nur" Sahut Yeni


"Sepertinya begitu" jawab Nur


"Alhamdulillah ya, kita bisa menjaga persahabatan kita begitu juga dengan suami kita. Alhamdulillah sangat mendukung dengan pertemanan kita bahkan suami kita juga bisa bersahabat seperti itu" ucap Ane


"Iya bener, aku juga gak nyangka kalau suami-suami kita bisa cepat bergaul dan menemukan kecocokan seperti kita, jadi enak kalau lagi kumpul gini gak berisik hehehe.. " ucap Yeni tertawa


Tanpa mereka sadari sudah hampir tiga jam mereka ngobrol, hingga sekarang saatnya ke empat sahabat ini harus berpisah karena kesibukan masing-masing. dan Nur juga yang sudah kangen ingin bertemu dengan Almira.


Setelah berpamitan Nur meminta ijin pada ustadz Guntur untuk menjenguk Almira dirumah Saka


"Apa boleh kalau kita mampir ke rumah Almira mas?" tanya Nur ragu-ragu

__ADS_1


"Kenapa bertanya seperti itu sayang? tentu saja boleh. aku juga sudah kangen dengan anak kita" ucap Ustadz Guntur senyum satu tangan menggenggam tangan Nur dan tangan yang lain memegang setir mobilnya.


"Anak kita?" gumam Nur lirih takut salah bicara


"Iya anak kita. Almira kan anak kita. karena saat ini kita ada di Semarang tentu saja kita harus menyempatkan waktu untuk mengunjungi anak kita" terang Ustadz Guntur


"MasyaAlloh mas, terimakasih ya sudah menerima Almira sebagai anak mas Guntur" ucap Nur dengan mata berkaca-kaca


Ustadz Guntur menepikan mobilnya dan berhenti ditepi jalan menatap mata Nur dan memegang kedua pipi Nur.


"Kenapa menangis?" ustadz Guntur menyeka air mata Nur yang membasahi pipinya


"Nur hanya bahagia mas, bahagia karena memiliki suami seperti mas Guntur. tidak tau seperti apa jadinya kalau suami Nur bukan mas Sigit" ucap Nur


"Sayang jangan bicara seperti itu, tidak boleh ya bicara seperti itu. karena Alloh memang mentakdirkan kita berjodoh dan sudah wajibnya seorang suami memperlakukan istrinya dengan baik. karena sesungguhnya wanita itu memang harus dimuliakan sayang" ucap Ustadz Guntur mencium kening Nur


Kini ustadz Guntur kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Saka untuk bertemu dengan Almira.


Sesampainya dirumah Saka, Almira berlari memeluk Nur mamanya. tampak Almira dan Nur saling menangis berpelukan meluapkan rindu yang selama ini terpendam. rindu antara anak dan ibu yang telah melahirkannya.


"Almira sayang apa kabar, Almira sehat kan?" tanya Nur memegang pipi Almira setelah menghujani dengan ciuman yang bertubi-tubi dan Air mata Nur kembali membasahi wajahnya


"Almira kangen mama" ucap Polos Almira


"Mbak Nur, apa kabar?" tanya Tika membuyarkan lamunan Nur


"Alhamdulillah baik Tika. maaf ya baru bisa kesini melihat Almira." ucap Nur


"Iya mbak, oya mbak Nur silahkan masuk dulu. kita ngobrolnya didalam ya" ajak Tika


"Nur, ustaz Guntur" ucap Bu Risma melihat kedatangan Nur dan ustadz Guntur masuk kedalam rumah


"Tante, Hai.. Farhan lagi main apa?" ucap Nur menyapa bu Risma dan Farhan yang sedang bermain


"Ini Farhan lagi seneng-senengnya merangkak jadi lumayan capek ini tante ngawasinnya" ucap Bu Risma dan semua tertawa bahagia


"Ma, Almira mau digendong" ucap Almira minta gendong Nur


"Bagaimana kalau Almira digendong sama papa?" sahut Ustadz Guntur yang khawatir dengan kehamilan istrinya


"Mau sama mama" rengek Almira

__ADS_1


"InsyaAlloh tidak apa-apa mas" ucap Nur tersenyum dan segera menggendong Almira


"Yakin tidak apa-apa?" tanya Ustadz Guntur


"InsyaAlloh tidak apa-apa mas" jawab Nur


"Memangnya kenapa mbak?" tanya Tika


"Tidak apa-apa Tika, saat ini aku sedang hamil jadi mas Guntur agak cemas" jawab Nur


"Alhamdulillah, selamat ya mbak. Tika ikut senang mendengar mbak Nur sudah hamil. Kira-kira giliran Tika kapan ya mbak hehe.. " ucap Tika mencoba tertawa


"InsyaAlloh jika Alloh sudah merasa waktunya tepat, pasti hari itu akan tiba Tika. yang penting jangan putus asa dan selalu berdoa minta yang terbaik pada Alloh. InsyaAlloh pasti Alloh kasih" ucap Nur


"Iya mbak, terimakasih ya mbak. tolong do'akan Tika juga semoga Tika juga bisa hamil seperti mbak Nur" ucap Tika


"Pasti Tika, aku juga akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Saka" ucap Nur tersenyum


"Selamat ya Nur atas kehamilan kamu, semoga sehat-sehat ibu dan janinnya" sahut Bu Risma ikut senang


"Amin" Semua mengaminkan


"Almira turun dulu yuk, kasian di perut mama saat ini ada adiknya Almira kalau Almira minta gendong nanti adiknya sakit gimana?" ucap Tika


"Adik? Almira mau punya adik ma?" tanya Almira menatap Nur


"Iya sayang, InsyaAlloh sebentar lagi Almira akan punya adik bayi lagi. karena saat ini di perut mama ada adiknya Almira" jawab Nur senyum dan merapikan rambut Almira yang menutupi sebagian wajahnya


"Nanti kalau adik Almira lahir tinggalnya sama mama atau sama tante Tika?" tanya Almira dengan polosnya


Deg..


Nur merasa terhantam batu besar mendengar pertnyaan yang dilontarkan Almira


"Almira sini sayangku, gendong tante dulu ya" ucap Tika mengalihkan pembicaraan Almira


"Ma, kenapa tidak dijawab? adik Almira akan tinggal sama mama apa tante Tika?" tanya Almira lagi yang masih mengejar jawaban dari mamanya


"Sayang, kenapa bertanya seperti itu? apa Almira tidak bahagia bersama tante Tika?" tanya Tika pada Almira


"Bahagia tante" ucap Almira

__ADS_1


^ Happy Reading^


__ADS_2