Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 217


__ADS_3

"Astaghfirullah, Ja-jadi Nia saat ini dipenjara karena mencoba membunuh suaminya yang baru? " tanya bu Indah tidak percaya


"Iya ma, saat ini Nia masih berada di tahanan polres, dan Nia juga sudah mengakui dan membenarkan semua tuduhan terhadapnya. mungkin tidak lama lagi kasusnya akan segera dinaikkan di kejaksaan" ucap Alan


"Kenapa jadi wanita yang menakutkan seperti itu Nia? mama benar-benar masih tidak menyangka kalau Nia bisa sekejam itu" ucap bu indah


"Saat ini Alan kepikiran dengan ayah dan ibu, kasian mereka ma, semau sawahnya habis dijual untuk membukakan Nia klinik di sini" ucap Alan


"Astaghfirullah, kasihan sekali pak Karsa dan bu Iin. mereka itu orang yang baik. tapi kenapa tak henti-hentinya Nia membuat ulah dan mencoreng nama keluarga" bu Indah kesal


***


Sementara Ane tercengang mendengar apa yang barusan Arif ceritakan.


"Astaghfirullah bang, kenapa Nia malah jadi seperti ini. apa yang dia lakukan. baru kemarin Ane bertemu dengan Nia. tidak menyangka kalau sekarang dia ada di tahanan. apa boleh Nia dikunjungi bang?" tanya Ane


"Iya boleh aja, kenapa mau bertemu sahabat kamu lagi?" Goda Arif


"Bang Arif sayang, gak boleh gitu, biar bagaimana Ane kasian dengan Nia bang."


"Iya, iya cuma bercanda kok"


"Oya bagaimana keadaan suaminya Nia bang?"


"Saat ini masih diruang perawatan intensif, sepertinya kehilangan banyak darah. kita do'akan saja yang terbaik." ucap Arif


***


Dirumah sakit


"Awas saja kamu Nia, aku tidak akan memaafkan kamu" gumam mamanya Dokter Sigit


"Iya nek, kalau sampai papa kenapa-kenapa Tasya tidak akan pernah memafkan wanita itu, bisa-bisanya dia melakukan perbuatan keji seperti itu" ucap Tasya


"Hua..hua..Sigit, Sigit. kenapa nasib kamu jadi seperti ini" tangis mamanya pecah


"Assalamu'alaikum ma, Tasya" ucap dokter Anggun yang mendengar kabar yang menimpa mantan suaminya datang kerumah sakit. karena kebetulan Dokter Sigit dirawat dirumah sakitnya.


"Anggun, Hua.. Hua.. " mama Dokter Sigit menangis dan memeluk Dokter Anggun


"Ma, papa ma, papa belum sadar. wanita itu mau membunuh papa ma, Tasya tidak mau kehilangan papa ma, Tasya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kalau terjadi apa-apa sama papa, bagaimana dengan nasib Tasya ma" tangis Tasya pecah


Anggun mendekati Tasya dan memeluk Tasya erat.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu ya sayang, kita do'akan semoga papa Tasya baik-baik saja" ucap Dokter Anggun menenangkan Tasya


Malam ini Dokter Anggun tidur dirumah sakit menemani Tasya, karena bagi Anggun Tasya adalah anak yang disayangi. walaupun papanya sudah membuat kecewa namun perasaan sayangnya untuk Tasya tidak pernah berubah.


Dret.. dret...


Telpon dari Alan, dan Dokter Anggun pergi ke luar untuk mengangkat panggilan dari Alan.


"Assalamu'alaikum" ucap Alan dari sebrang telpon


"Walaikumsalam Lan" jawab Dokter Anggun.


"Aku lihat di story kamu, sepertinya itu rumah sakit, apa kamu malam ini tidur dirumah sakit?" tanya Alan


"Iya, malam ini aku tidur dirumah sakit menemani Tasya" jawab Dokter Anggun


"Oow.. bagaimana keadaannya?"


"Keadaan mas Sigit maksud kamu?"


"Ya, siapalah itu namanya. bagaimana keadaannya, apa dia sudah sadar?" tanya Alan yang sebenarnya malas dan ada perasaan tidak rela dokter Anggun menemaninya


"Belum sadar, keadaannya masih cukup mengkhawatirkan. kalau bukan karena Tasya, aku juga tidak mungkin tidur disini malam ini. aku mau pulang tapi jujur aku tidak tega meninggalkan Tasya disini"


"Iya Lan, walaupun dia bukan anak kandungku. tapi aku sudah menganggap Tasya seperti anakku sendiri. aku kasian sama Tasya, dia sangat takut kehilangan papanya. kamu tau kan mamanya sudah tidak lagi ada yang dia miliki saat ini hanya papanya. tapi dengan keadaan papanya seperti ini, aku tidak tega membiarkan Tasya sendiri"


"Ya aku ngerti bagaimana perasaannya saat ini, ya sudah kamu temani Tasya dulu saja, besok aku jemput kamu ya" ucap Alan


"Em.. Lan, kamu tidak berpikir yang bukan-bukan kan?" tanya Dokter Anggun


"Maksudnya?" Alan tak mengerti


"I-iya kamu tidak berpikir aku disini karena masih ada rasa dengan masa Sigit kan?" tanya dokter Anggun salah tingkah


"Emang kalau aku berpikir seperti itu boleh?" tanya Alan


"Ya gak boleh lah, karena memang aku disini hanya untuk Tasya bukan karena mas Sigit. Iya aku kasian sama Dokter Sigit tapi hanya rasa kasian terhadap sesama manusia yang tertimpa musibah, bukan karena masih ada rasa" Dokter Anggun mencoba menyakinkan Alan sementara tak jauh dari tempatnya duduk, Tasya sudah berdiri di belakang Dokter Anggun dan mendengarkan semua percakapan Dokter Anggun dengan Alan


"Ya sudah cepat gih istirahat, sudah malam. besok pagi aku jemput kamu" ucap Alan


"Iya, kamu ini dimana?" tanya Dokter Anggun


"Aku lagi piket, jadi malam ini tidur dikantor"

__ADS_1


"Bertemu dengan mantan istri kamu?" tanya dokter Anggun


"Ya tidak lah, Nia kan ada diruang tahanan. aku bertemu dengan Nia tadi siang saja saat melakukan penyidikan kebetulan kasus ini aku penyidiknya. mau tidak mau ya harus bertemu"


"Oow" jawab Dokter Anggun


"Hahaha.. kamu kenapa?" Alan terkekeh


"Tidak apa-apa, ya sudah aku tidur dulu ya, selamat malam ini. Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Alan tersenyum menutup telpon


"Apa benar dia cemburu?" gumam Alan tersenyum.


***


"Tasya" ucap Dokter Anggun saat berbalik melihat Tasya meneteskan air mata


Dokter Anggun mendekat tapi Tasya mundur menjauh


"Kamu kenapa sya?" tanya Dokter Anggun


"Sebaiknya mama pulang saja dan pergi dari sini" ucap Tasya


"Iya tapi kenapa?" Dokter Anggun tak mengerti


"Tasya sudah dengar semua apa yang mana bicarakan dengan om Alan" ucap Tasya


Dokter Anggun mengerutkan dahinya


"Tasya, memang salahnya mama dimana? mama kan tidak bicara yang salah?"


"Mama jahat, mama bilang kalau mama disini hanya untuk Tasya bukan untuk papa. apa mama tidak sedikitpun kasian sama papa, lihat keadaan papa seperti itu, kenapa mama tega menganggap papa seperti orang asing. iya Tasya tau memang papa sudah menyakiti mama. tapi papa sudah menyesali perbuatannya. Tasya mau tanya ma, orang mana didunia ini yang tidak pernah berbuat salah? tapi dalam keadaan papa sudah sekarat seperti ini, apa mama masih menyimpan rasa dendam itu?" tangis Tasya pecah


"Tasya, kamu salah faham. mama ini bukan masih menyimpan dendam seperti apa yang kamu bicarakan barusan, tidak sya. mama tidak dendam sama papa kamu" jelas Dokter Anggun


"Tapi kenapa tadi mama bilang kalau mama tidak perduli dengan papa?"


"Sya, mama disini memang bukan karena papa kamu, tapi mama disini karena kamu. mama cukup prihatin dengan musibah yang menimpa papa kamu, tapi mama ini sekarang sudah bukan siapa-siapanya papa kamu. tidak pantas kalau mama masih mencemaskan papa kamu" terang dokter Anggun


"Apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi untuk papa ma? papa masih sangat menyayangi mama. Tasya ingin keluarga kita bisa kembali seperti dulu lagi ma. Tasya tidak rela mama dekat dengan laki-laki lain. Tasya mau kita kembali seperti dulu ma" rengek Tasya


"Itu tidak mungkin sya, mama tidak bisa kembali dengan papa kamu, hati mama terlalu sakit dan tidak akan pernah ada kesempatan kedua untuk sebuah penghianatan" jawab Dokter Anggun

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2