
Keesokan harinya dikantor saat jam istirahat, Arif yang sedang makan siang bersama Alan mencoba bertanya tentang kedekatannya dengan Dokter Anggun.
Alan yang sbenernya masih belum yakin dan masih menganggap semuanya hanya karena perasaan senasib akhirnya menceritakan semuanya pada Arif.
"Tidak ada salahnya mencoba membuka hati, siapa tau dia memang jodoh buat kamu dan yang utama sepertinya kalau dengar cerita dari kamu dia penyayang dengan anak-anak. mungkin sosok seperti itu yang dibutuhkan oleh anak kamu nantinya" ucap Arif
"Entahlah bang, untuk saat ini aku coba jalani saja dulu. saat ini kita hanya berteman baik sajasaja" terang Alan
****
Nia yang masih terlihat lemah mulai gelisah memikirkan wanita yang saat ini dekat dengan Alan mantan suaminya. perasaan tidak rela kenapa sekarang malah menyelimuti setelah mengarungi bahtera rumah tangga dengan Dokter Sigit yang ternyata tak seperti didalam angan-anganya. kini bayangan keping-keping kebahagiaan yang dulu pernah dilalui bersama Alan satu persatu muncul. Apa lagi saat mendengar Alan sudah bisa move on dari dirinya.
"Nia, berikan uang yang Ayah kamu beri kita harus segera memulai pembangunan" ucap Dokter Sigit membuyarkan lamunan Nia
"Eh.. iya apa mas?" Nia yang tidak mendengar saat suaminya berbicara
"Apa sih yang sedang kamu pikirkan sampai tidak fokus seperti itu, aku bilang uang yang dari ayah Kamu berikan semua padaku biar aku yang mengurusnya"
"I-iya mas, akan aku kirim semua, tapi janji ya mas gunakan dengan baik. itu satu-satunya yang aku miliki. setelah ini aku sudah tidak punya apa-apa" Nia mengingatkan
"Kamu tidak percaya sama aku? ya sudah kalau tidak percaya"
"Percaya mas, aku percaya. aku kirim sekarang ya" Nia mengambil hape dan mentransfer kan sejumlah uang untuk suaminya
"Okey, aku sudah menemukan lokasi untuk klinik yang akan kita dirikan"
"Dimana mas?"
"Di semarang"
"Semarang? kamu tidak salah mas? kenapa disana? kamu tau kan nama kita disana seperti apa? apa kamu yakin bisa dapat pasien dengan nama kita yang sudah rusak seperti itu? apa kamu lupa. mantan istri kamu sudah menyebarkan tentang bagaimana hubungan kita?"
"Tasya menginginkan kita pindah ke Semarang"
"Mas, kamu lupa tujuan Tasya? dia sengaja meminta untuk pindah kesana karena ingin berdekatan dengan mantan istri kamu"
"Lalu salahnya dimana? Tasya memang tidak mungkin jauh dari Anggun. baginya Anggun itu sudah seperti mama kandungnya sendiri."
"Lalu bagaimana denganku mas? apa kamu tidak berpikir rasanya jadi aku?"
"Sudahlah kamu itu berisik terus. itu yang membuat aku males dirumah. karena kamu berisik!" ucap Dokter Sigit menyamabar kunci mobil dan beranjak pergi
"Mas mau kemana? mas tolong maafkan aku. kita bicara baik-baik ya" rengek Nia berusaha mencegah ke pergian suaminya namun tak dihiraukan oleh Dokter Sigit
"Hua... hua.." Nia menangis dan memegang kepalanya
"Mas, kamu tega. kamu jahat" gumam Nia terisak
Belum juga selesai meratapi yang terjadi Tasya sudah memanggil untuk dibuatkan makan malam
"Tasya kamu kan sudah besar, sebaiknya kamu belajar membuat membuat makanan untuk kamu sendiri" ucap Nia
"Apa maksud tante? tante tidak mau masak buat Tasya? mau Tasya aduin sama papa?"
"Sya, bukan tante tidak mau. kamu tau kan tante ini sedang hamil anak papa kamu. itu berarti ada adik kamu didalam kandungan tante" ucap Nia memegangi perutnya
"Memangnya Tasya perduli? sudahlah cepat buatkan Tasya makanan atau tanggung akibatnya" ucap Tasya berlalu
"Hiks.. hik.. " kembali Nia menangis dan menjatuhkan tubuhnya dilantai
Hatinya terasa sakit, anak tirinya selalu berusaha menyusahkannya.
Dret.. dret...
panggilan masuk dari pak Karsa
"Assalamu'alaikum yah"
__ADS_1
"Walaikumsalam, bagaimana keadaan mu nduk? ayah dan ibu hampir setiap malam tidak bisa tidur memikirkan kamu disana seperti apa?" ucap Pak Karsa
"Nia baik ayah, Nia bahagia sekarang. terimakasih ayah selalu mengkhawatirkan Nia. tapi ayah sekarang perhatian saja kesehatan ayah. jangan berpikir macem-macem. semua orang dirumah ini sekarang baik sama Nia" ucap Nia berusaha menahan tangisannya
"Apa benar yang kamu katakan nduk? kamu tidak bohong sama ayah kan?"
"Tidak ayah, ya sudah Nia mau tidur dulu ya yah. Nia ngantuk banget"
Setelah menutup telpon dari ayahnya, Nia berusaha menghubungi Dokter Sigit suaminya, beberapa kali mengubungi tidak ada jawaban.
Dengan gelisah Nia menanti suaminya pulang hingga waktu menunjukkan jam dua dini hari.
Suaminya datang dengan sempoyongan.
"Mas kamu mabuk?" tanya Nia yang mencium bau alkohol
"Memang kenapa? kamu itu berisik. aku menyesal kenapa bermain-main denganmu? lihat aku sekarang? aku tidak punya apa-apa, wanita yang aku cintai meninggalkan aku dan sekarang diambil mantan suami kamu" rancau Dokter Sigit
"Mas, apa maksud kamu?" Nia berusaha memahami kalimat Dokter Sigit
"Anggun istri yang aku cintai sekarang diambil mantan suami kamu. aku tidak rela, aku tidak rela. dia hanya milikku, Hanya aku yang boleh memilikinya" ucap Dokter Sigit meneteskan air mata
Plak..
Nia menampar Dokter Sigit
"Berani kamu menampar saya? kamu pikir kamu siapa?" teriak Dokter Sigit ke depan muka Nia dan mencengkam rahang bawah Nia menatapnya dengan tatapan tajam
"Sekali lagi kamu berani ikut campur dalam hidupku, aku akan membuang kamu kejalanan" ucap Dokter Sigit mendorong tubuh Nia hingga terjatuh
"Aaww... " Teriak Nia saat tubuh kecilnya terhemapas ke lantai.
"Sakit, sakit, perutku sakit." gumam Nia merintih kesakitan memegangi perutnya
"Mas, tolong sakit mas, perutku sakit. anak kita mas, tolong anak kita" kembali Nia memohon tapi tak dihiraukan oleh Dokter Sigit
Dokter Sigit yang dalam pengaruh alkohol memilih untuk menjatuhkan tubuhnya dikasur dan membenamkan wajahnya dikasur.
Mata terbelalak ketika melihat ada darah mengalir di kakinya, Nia memegang cairan berwarna merah segar yang mengalir di kakinya dengan tangannya memastikan itu benar-benar darah.
"Tidak, tidak, anakku, kuat ya nak. kita akan segera kerumah sakit" gumam Nia memegangi perutnya dan menggelengkan kepalanya
Melihat tidak mungkin baginya untuk meminta tolong pada suaminya, Nia berusaha berdiri memegangi perutnya yang terasa nyeri. perlahan berjalan mencari mertuanya dan memohon untuk mengantarkan Nia kerumah sakit.
"Mama ngantuk, papa juga sudah tidur, ini sudah malam jangan merepotkan orang"
"Ta-tapi ma, Nia takut terjadi apa-apa dengan anak Nia, cucu mama"
"Belum tentu juga itu cucu saya, kenapa harus saya pikirkn. jangan manja kerumah sakit sendiri. panggil taxi sana sendiri"
Dengan derai air mata, Nia berusaha berjalan hingga jalan raya mencari taxi yang melintas karena hari sudah malam taxi juga tidak ada yang melintas.
Nia ingin memesan taxi online, tapi karena ingin segera sampai dirumah sakit, hingga Nia melupakan Ponselny yang berada dirumah.
Lagi-lagi Nia hanya bisa menangis menahan rasa sakit dan nyeri dibagian perutnya, kini tubuhnya mulai lemah lantaran banyaknya darah yang keluar. penglihatannya mulai kabur dan "Bruk" Nia terjatuh tak sadarkan diri ditepi jalan.
Cukup lama Nia tak sadarkan diri hingga ada beberapa warga yang melintas melihatnya tergeletak dijalan dan dibawa kesebuah rumah sakit yang tak jauh dari lokasi.
Saat perlahan matanya mulai terbuka, Nia melihat sekeliling ruangan yang tampak berwarna putih. cat tembok putih, gorden berwarna putih dan ranjang pasien berwarna putih.
"Dimana aku? apa dirumah sakit?" gumam Nia berusaha mengingat-ingat kejadian tadi malam hingga akhirnya dirinya tak sadarkan diri ditepi jalan.
"Ibu sudah bangun?" tanya seorang perawat
"Sus, apa saya dirumah sakit?" tanya Nia memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat benturan baru saat dirinya tak sadarkan diri.
"Iya ibu dirumah sakit, tadi dini hari ada seorang warga yang menemukan ibu tak sadarkan diri dipinggir jalan. dan sepertinya kepala ibu terbentur" terang perawat
__ADS_1
"Anakku, anakku baik-baik saja kan?" Nia panik saat mengingat tujuannya keluar rumah untuk pergi kerumah sakit lantaran pendarahan yang dialaminya
"Tenang bu, tenang. Dokter akan kesini untuk menjelaskan. tapi apa tidak sebaiknya ibu hubungi dulu keluarga ibu?" terang perawat
"Aku mau anakku, anakku baik-baik saja kan Sus?" teriak Nia lagi
Perawat segera memanggil Dokter jaga saat itu dan kebetulan yang menangani Nia saat Nia baru sampai dirumah sakit.
"Bagaimana perasaan ibu saat ini?" tanya Dokter yang baru masuk
"Dok bagaimana keadaan anak saya? dia baik-baik saja kan? anak saya baik-baik saja kan?" tanya Nia panik dengan mata berkaca-kaca
"Sebelum saya menjawab pertanyaan ibu, saya ingin berbicara dulu dengan keluarga ibu" ucap Dokter
"Bicara langsung dengan saya Dok, keluar saya tidak ada yang perduli dengan saya. Dokter panggil pun percuma. mereka pasti tidak akan datang" jawab Nia dengan mata berkaca-kaca
"Begini bu, saat ibu datang kerumah sakit ini keadaan ibu sangat tidak baik. sudah terlalu banyak darah yang keluar dan dengan terpaksa kami harus mengambil tindakan kuret untuk mengeluarkan janin didalam kandungan ibu yang sudah tidak terselamatkan" terang Dokter
"Tidak Dok, tidak, Dokter bohong. anakku baik-baik saja kan Dok, anakku baik-baik saja kan Dok" Nia menangis sejadi-jadinya
"Darah yang keluar terlalu banyak, dah ibu telat sampai kerumah sakit. itu yang menyebabkan janin dalam kandungan ibu tidak dapat kami selamatkan"
"Hua.. Hua.. " Nia menangis histeris
Kini bayangan akan suaminya dan mertuanya melintas di benaknya. ada kebencian yang mendalam yang saat ini Nia rasakan.
Sementara pagi ini Dokter Sigit bangun dengan kepala yang terasa berat akibat efek alkohol yang semalam dirinya konsumsi.
Dokter Sigit pergi kedapur untuk mencari Nia agar membuatkannya air madu untuk menghilangkan efek alkoholnya.
"Nia.. Nia.. kemana sih ni orang kalau dicari gak pernah ada" gerutu Dokter Sigit
"Istri kamu kan semalam pergi, apa kamu tidak tau?" sahut mamanya
"Pergi? pergi kemana ma?" Dokter Sigit tidak ingat dengan kejadian tadi malam
"Entahlah sepertinya kerumah sakit" ucap mamanya tak perduli
Keesokan harinya Nia datang dengan mata sebab karena habis menangis melihat suami dan mertuanya sedang asyik ngobrol diruang keluarga.
"Pulang juga kamu" ucap Mama Dokter Sigit saat melihat Nia berjalan kearahnya
"Mas Sigit, ma. apa kalian tau, kemarin Nia berjuang sendiri untuk menyelamatkan anakku. bahkan aku hampir mati tergeletak dipinggir jalan untung ada orang baik yang mau menolongku, membawaku kerumah sakit. jika tidak mungkin saat ini aku sudah mati. tapi kalian bisa-bisanya berkata seperti itu dan kamu mas? bagaimana kamu tidak mencari istri kamu saat istri kamu tidak ada dirumah" Nia terisak
Tapi sekarang sudah dirumah kan dan kamu sudah baik-baik saja kan? lalu apa lagi sih yang kamu ributkan? setiap aku dirumah selalu saja kamu ribut. itu yang membuat aku males dirumah. kamu terlalu berisik" ucap Dokter Sigit
"Mas, aku habis kehilangan anakku, anak kita mas, aku keguguran mas" ucap Nia terisak
"Jadi anak itu sudah tidak ada?" tanya Dokter Sigit datar
"Astaghfirullah mas Sigit, bagaimana kamu bisa setenang itu? bahkan saat anak kita sudah tidak ada lagi. bagaimana kamu tidak terlihat sedih sama sekali?" Nia memegangi dadanya yang terasa sesak melihat tingkah suaminya
"Terus kamu mau aku seperti apa? kalau sudah tidak ada lagi ya suda, mau diapakan lagi? berarti Tuhan tidak mengijinkan dia ada. terus kamu mau aku bagaimana? mau melimpahkan kesalahan itu padaku? biar seolah aku yang salah? padahal kamu sendiri yang tidak becus menjaga anak."
"Ini memang salah kamu dan mama mas, kalau kamu tidak mendorongku tadi malam, dan kalau mama mau mengantarkan aku kerumah sakit tadi malam. mungkin sampai saat ini anak kita masih baik-baik saja" teriak Nia
"Kenapa bawa-bawa mama? kamu yang tidak bisa menjaga anak, malah menyalahkan orang lain. kamu itu memang bukan ibu yang baik, terbukti kan, anak kamu dari suami pertama kamu saja tidak merasa kehilangan kamu setelah kamu meninggalkan nya"
"Ma, aku sudah mengorbankan semuanya untuk keluraga ini. tapi kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini. aku rela meninggalkan anak dan suami yang selalu menyayangiku demi kamu mas Sigit, kenapa kamu tidak bisa melihat semua itu" Nia menangis menjatuhkan tubuhnya dilantai
"Sudahlah tidak perlu drama lagi, sana kembali kekamar" ucap Dokter Sigit berlalu
"Mas mau kemana?" panggil Nia menghentikan langkah Dokter Sigit
"Mau pergi, dirumah berisik. aku tidak bisa istirahat" jawabnya ketus
"Tapi mas, mas.. aku masih sakit mas, jangan pergi mas" teriak Nia
__ADS_1
^Happy Reading^
Terimakasih dukungannya ya sayangku 🥰😘🙏jangan lupa Like, koment, dan Vote😘