Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 251


__ADS_3

Hari ini Nia dan Dokter Sigit mendatangi Tasya dan mereka bertiga makan bersama disebuah rumah makan, Nia dan Dokter Sigit sengaja mengajak Tasya bertemu untuk meminta maaf, meskipun Tasya masih keberatan dengan kembalinya papanya dan juga Nia, tapi akhirnya Tasya bisa menerima hubungan papanya dengan Nia. karena sebagai seorang wanita Tasya kini juga tau. mempertahankan suatu hubungan rumah tangga itu memang bukan hal yang mudah. Karena saat ini rumah tangga Tasya sendiri sudah diambang kehancuran.


"Tasya memang tidak menyukai tante Nia, tapi Tasya akan mencoba untuk bisa menerima tante sebagai Mama Tasya" ucap Tasya


"Terimakasih Tasya, terimakasih kamu sudah mau menerima tante sebagai mama kamu. mama harap sekarang kita bisa membuka lembaran baru, hidup dengan rukun" ucap Nia


"Iya ma, sekarang Tasya tau, mempertahankan hubungan rumah tangga memang bukan hal yang mudah" keluh Tasya


"Tasya, apa kamu dan suami kamu tidak ada harapan untuk kembali?" tanya Nia


"Tidak ma, gugatan perceraian sudah didaftarkan dan tinggal menunggu ketok palu saja dari pengadilan. Tasya pun sepertinya akan kehilangan hak asuh anak Tasya. mereka tidak akan membiarkan Tasya mendapatkan hak asuh itu."


"Kamu yang sabar ya, tapi kamu kan ibunya. kamu berhak mendapatkan hak asuh anak kamu" ucap Nia


"Percuma, mereka itu orang kuat. melawan mereka sama halnya buang-buang waktu, tenaga dan pikiran. mereka tidak akan mungkin membiarkan Tasya mendapatkan hak asuh anak Tasya"


"Kita bisa sewa pengacara kan untuk memperjuangkan hak asuh anak kamu?" Sahut Dokter Sigit


"Papa belum tau bagaimana kekuatan mereka, melawan orang yang memiliki uang seperti mereka itu bukan hal yang mudah" jawab Tasya


"Lalu kamu akan menyerah begitu saja?" kembali Nia bertanya


"Aku bukan menyerah, tapi aku lebih belajar mengikhlaskan. aku yakin walaupun aku tidak mendapatkan hak asuh anakku, tapi suatu saat nanti anakku pasti akan tetap mencariku. biar bagaimana darah lebih kental dari air. mau mereka coba pisahkan kami seperti apa, yang namanya anak tetaplah anak. suatu saat nanti pasti kami akan kembali bersama"ucap Tasya yang kini sudah mulai tabah menghadapi kehidupan.


Nur, Ustaz Guntur dan adiknya burhan kebetulan juga sedang berada di rumah makan yang sama dengan Nia


"Itu sepertinya Nia sama suaminya ya mas?" tanya Nur yang melihat Nur dari kejauhan


"Coba saja kesana, sepertinya memang itu teman kamu" ucap Ustadz Guntur


Nur mendatangi Nia yang sudah ada di rumah makan lebih dulu


"Nia, ternyata benaran kamu? tadi pas baru masuk aku dari jauh udah lihat kamu tapi ragu mau negur, ee.. ternyata benar itu kamu" ucap Nur


"Hai.. Nur, ya Alloh aku tidak menyangka bertemu dengan kamu disini" ucap Nia senang bertemu dengan sahabatnya


"Iya, aku juga tidak menyangka. ini tadi aku habis nganter adikku cari rumah disekitar sini. karena dek Burhan sekarang ngajak dikampus dekat sini" ucap Nur


"Oow.. ini adik kamu?" ucap Nia menujuk Burhan


"Iya ini adiknya mas Guntur" jawab Nur


"Oya kenalin ini anakku Tasya dan ini suamiku Mas Sigit" ucap Nia memperkenalkan

__ADS_1


Nur hanya mengangguk tersenyum dan Ustadz Guntur serta Burhan berjabat tangan dengan Dokter Sigit


Burhan memandang sekilas kearah Tasya yang matanya sembab karena habis menangis


***


Dikantor


Setelah libur dua hari Arif kembali dengan rutinitasnya.


Dan baru masuk kantor Arif sudah disodori begitu banyak kasus yang harus segera diselesaikan.


Tok.. tok..


"Masuk, ada apa Lan?" tanya Arif


"Tidak ada apa-apa sih bang, hanya ingin ngobrol" ucap Alan


"Duduk, gimana apa ada yang mau dibicarakan?" tanya Arif


"Lagi sibuk ya bang?" kembali Alan bertanya


"Iya Lan, lumayan banyak pekerjaan hari ini. kamu tau kan, semua kasus yang kita tangani saat ini sudah harus segera disidangkan. pengadilan meminta kita untuk segera melengkapi bukti dan berkas-berkas penyidikan. jadi gimana mau bicara apa?" tanya Arif


"Ya sudah lain kali saja bang. ini bukan masalah penting juga kok" ucap Alan


"Ini tentang anak-anak kita bang" ucap Alan


"Tentang anak-anak? ada apa dengan anak-anak kita?" Arif melihat Alan tak mengerti arah pembicaraan Alan


"Be-begini bang, saya tau sebenarnya ini terlalu dini untuk saya membicarakan semua ini. tapi sebagai seorang ayah yang dimintai tolong anak. Alan akhirnya juga tidak tega untuk membiarkan begitu saja. jadi begini bang, Nana mengatakan pada saya kalau mencintai Amar. bahkan Nana nekat sampai pindah ke Surabaya untuk mendekati Amar. saya juga tau kalau Amar tidak mencintai Nana, tapi sebagai seorang ayah Alan tidak sampai hati untuk menolak keinginannya. Nana meminta Alan untuk membicarakan ini sama bang Arif."


"Apa hubungannya dengan saya?" tanya Arif


"Nana ingin kita mengatur perjodohan untuk anak-anak kita bang" jawab Alan


"Begini Lan, aku harap kamu jangan salah sangka. bukan aku tidak mau berbesan dengan kamu. aku senang malah bisa berbesan dengan kamu, tapi aku tidak bisa jika harus mengatur perjodohan untuk anak-anak kita. kita sebagai orang tua sebaiknya jangan terlalu ikut campur dengan urusan anak muda. kita pantau saja! biarlah mereka tumbuh sesuai dengan keinginan mereka sendiri. aku tau perasaan kamu sebagai orang tua, tapi kalau boleh aku memberi saran, jangan selalu membenarkan dan jangan selalu menuruti apa keinginan anak. kita harus timbang-timbang, sebelum mengambil keputusan. takutnya anak menjadi peribadi manja dan akan selalu mengandalkan orang tuanya" ucap Arif


"Maaf Lan, aku tidak ada maksud untuk menyalahkan cara mendidik kamu, hanya saja menurutku tidak baik. Kalau kamu selalu mengabulkan apa yang diinginkan Nana tanpa menimbang dulu efeknya. seperti pindah kuliah hanya untuk mendekati laki-laki yang dicintainya misalnya. menurutku kurang tepat kalau kamu menuruti begitu saja. takutnya kalau nanti itu menjadikan Nana peribadi yang kurang baik. maaf ya Lan kalau aku harus bicara seperti ini. aku harap kamu tidak sakit hati dengan apanl yang aku katakan. aku mengatakan seperti ini karena aku sudah menganggap kamu seperti keluargaku sendiri." ucap Arif lagi


"Aku paham apa maksud bang Arif. tapi aku melakukan semua ini karena aku ingin membahagiakan Nana. dari kecil Nana sudah harus hidup tanpa ibu kandungnya. sejak kecil Nana harus menerima kenyataan yang menyakitkan terkait ibu kandungnya. karena itu, Alan ingin Nana mendapatkan kebahagiaan walaupun harus hidup tanpa ibu kandungnya" jelas Alan


"Lalu dengan alasan itu kamu akan selalu mengabulkan apapun yang diinginkan Nana? walaupun keinginan itu pada akhirnya akan menyakiti anak kamu yang lain sekalipun?" tanya Arif

__ADS_1


"Menyakiti anak yang lain? apa maksud abang?" Alan tidak mengerti dengan pertanyaan Arif


"Kamu tidak sadar kan? rasa sayang kamu pada Nana, dan rasa ketakutan kamu kalau Nana tidak bahagia karena hidup tanpa Ibu kandungnya membuat kamu lupa, kalau anak kamu bukan hanya Nana. kamu punya anak lain yang sekarang harus merasakan sepi jauh dari mama dan papanya demi melihat harapan kalian untuk membahagiakan Nana terwujud" jelas Arif


"Dan satu lagi, kamu lupa. Nana sejak kecil tidak kurang kasih sayang. istri kamu Anggun merawatnya dengan baik layaknya anak sendiri. hanya saja ketakutan kamu. sendiri lah yang mengira kalau Nana kurang kasih sayang. padahal Nana sama sekali tidak kekurangan kasih sayang. kamu tidak tau kan, putrimu Rara sampai harus mengorbankan diri sekolah di Surabaya demi kebahagiaan Nana. padahal Rara itu sebenarnya juga tidak ingin jauh dari kalian. hanya saja sikap Nana yang selalu merasa iri karena Rara anak kandung Anggun membuat Rara lebih baik pergi biar Nana tidak perpikir seperti itu lagi. Rara ke Surabaya demi Nana. tapi kamu malah sekarang membiarkan Nana kesana dengan alasan yang tidak masuk akal" ucap Arif


"Dari mana bang Arif mengetahui semua itu? kenapa Alan tidak mengetahui semua itu?" kembali Alan bertanya


"Karena kamu terlalu fokus dengan kebahagiaan Nana, sampai kamu lupa dengan kebahagiaan putri kamu yang lain. kamu selalu menganggap Rara sudah bahagia karena ditengah-tengah keluarga yang lengkap. padahal disini justru Rara lah sebenarnya yang paling menderita. diusianya yang sekecil itu harus mengalah dan berusaha mengerti ego kalian semua" ucap Arif


"Astaghfirullah, Alan tidak pernah berpikir kearah sana bang" ucap Alan


"Karena itulah berhentilah menganggap Nana yang paling menderita. terkadang apa yang kita anggap benar itu belum tentu benar. sebagai orang tua sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk menyayangi anak kita, tapi sebagai orang tua kita juga harus dan wajib mengingatkan jika anak kita salah. jangan hanya selalu berpikir sempit dalam mendidik anak, pikirkan aspek-aspek yang lain, dampaknya bagaimana jika kita terlalu memanjakan anak" ucap Arif


***


Alan termenung memikirkan semua perkataan Arif barusan, bahkan saat ini Alan sampai tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.


"Apa benar kalau selama ini, kau hanya memikirkan kebahagiaan Nana?" gumam Alan lirih


Alan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rara


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Rara dari sebrang telpon


"Anak papa lagi apa?" tanya Alan


"ini lagi dikantin pa, ada apa pah? papa mau menanyakan keadaan kak Nana ya? keadaan kak Nana baik kok pah" ucap Rara


"Kenapa kamu bilang begitu sayang? papa telpon kamu tentu saja, karena papa ingin tau kabar kamu" ucap Alan


"Keadaan Rara baik pah, Rara kira papa mau menanyakan keadaan kak Nana. karena biasanya papa kalau telpon Rara pasti untuk menanyakan keadaan kak Nana karena ponselnya tidak bisa dihubungi"


"Benarkah papa seperti itu Ra?"


"Iya, tapi ada apa sih pa? kok tumben papa bicara seperti ini?"


"Maafkan papa ya Ra, papa minta maaf. papa bukan papa yang baik untuk Rara" ucap Alan


"Pa, ini sebenarnya ada apa sih pa? papa baik-baik saja kan?" Rara yang bingung dengan sikap ayahnya yang tiba-tiba berubah


^Happy Reading^

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan Vote ya🙏


Dan maaf banget jarang up, karena kesibukan thor didunia nyata yang lagi banyak🙏


__ADS_2