Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MASIH SAMA


__ADS_3

Satu bulan sudah Arif koma, semua orang seakan sudah merasa pupus harapan. tapi Ane yakin suaminya pasti akan sadar.


dari mulai matahari menampakan cahaya nya sampai matahari tak terlihat lagi cahaya nya, Ane tidak lelah untuk terus menunggu suaminya yang entah kapan mau membuka matanya.


Alan pun selalu menjaga Ane, mengingatkan Ane untuk makan. setiap pulang kerja Alan selalu menyempatkan diri untuk kerumah sakit. menengok Arif dan membawakan makan untuk Ane.


"Kak Ane makan ya!! kalau kakak tidak makan bagaimana kakak bisa menjaga bang Arif, dan kalau kakak tidak mau makan, saat nanti bang Arif sadar pasti sedih, melihat orang yang di cintai nya tidak mau makan. makan ya kak !!" pinta Alan


"Iya Lan, makasih ya" ucap Ane


"Lan...kenapa nasib aku gini banget ya Lan??dulu saat aku menemani mantan pacarku berjuang dari nol sampai dia jadi polisi, setelah dia jadi polisi dia ninggalin aku.


Sekarang aku bertemu dengan laki - laki yang sangat baik, berjanji menjaga dan melindungiku tapi sekarang kamu lihat..." Ane meneteskan air mata nya


"Kak Ane maafin Alan kak" Alan menundukan wajah nya merasa bersalah


"Bang Arif tolong bangun bang, kasiahan kak Ane" batin Alan


"Alan jangan salahkan diri kamu terus, ini memang takdirku Alan." ucap Ane


***


"Ane....Alan..." sapa Bu Imah yang baru datang


"ma.... pa" jawan Ane


"Ane, istirahat lah nak, biar mama yang gantiin jaga" kamu pulang dulu ya nak. tidur di kamar Arif, mama gak tega Ne, sudah satu bulan kamu gak pernah mau pulang. istirahat lah nak, mama yakin itu juga yang diinginkan Arif. ucap Bu Imah


Semenjak menikah Ane yang belum pernah tidur dirumah suaminya merasa belum nyaman kalau sendiri di sana.


"Ma...pa...biar Ane tidur di kos saja, barang - barang Ane masih di kos." jawab Ane


"Kenapa gak di rumah saja Ne...??" tanya bu Imah


"Ane belum terbiasa ma" jawab Ane


"Ya sudah senyaman nya Ane saja"jawab Bu Imah


"Bu.., biar Alan antar kak Ane pulang ya" ucap Alan

__ADS_1


"Iya sebaiknya begitu nak, sudah malam gak baik juga kalau Ane pulang sendiri" jawab Bu Imah


Ane yang awalnya enggan pulang akhirnya pulang di antar Alan. sesampainya di kos, kos masih sepi lantara Siska yang kebetulan selama satu bulan sedang praktik dan tidur di Rumah sakit bahkan Siska yang juga menyukai Arif belum tau kalau Arif kini sudah menjadi suami Ane.


Entah seperti apa reaksinya kalau sampai dia tau, Ane sudah menikah dengan laki - laki pujaan hatinya.


Sementara Alan yang merasa bersalah hampir setiap malam juga tidak bisa memejamkan matanya pikirannya di penuhi rasa bersalah. apa lagi memikirkan kondisi Ane istri dari atasannya yang baru saja dinikahi.


"Kasian kak Ane, karena Bang Arif menyelamatkan hidupku,sekarang justru kak Ane juga harus menderita." gumam Alan


Dan alan berjanji selama Arif belum sadar dia akan selalu ada buat Ane, Bu Imah dan papa nya.


***


Keesokan hari Siska yang sudah selesai dengan praktiknya kembali ke kos dan berniat ingin menemui Arif tapi melihat rumah Arif kosong. Siska segera pulang dan bertanya pada Ane


"Kak Ane, bang Arif dan bu Imah kemana ya kok rumah nya sepi" tanya Siska


"Di rumah sakit" jawab Ane


"Rumah sakit?? siapa yang sakit??" tanya Siska


"Rumah sakit mana?? sakit apa Bang Arif?" tanya Siska bertubi - tubi


Belum sempat menjawab Alan yang sudah datang menjemput Ane untuk ke rumah sakit mengucapkan Salam.


Setelah menjawab salam kedua nya berlalu


"Kak Ane jawab dulu" teriak Siska


"Aku buru - buru" Jawab Ane yang sebenarnya malas menjawab.


Sesampai dirumah sakit, Ane kembali sedih melihat keadaan suaminya yang tak kunjung membaik, semua upaya sudah dilakuakan dokter tapi tubuh Arif belum mau merespon.


tanpa disadari Ane meneteskan Air mata.


Bu Imah segera memeluk Ane


"Sabar ya Nak, kita semua berdoa yang terbaik, semoga Arif bisa melewati semua ini." ucap Bu Imah

__ADS_1


Hingga seorang Dokter masuk dan menyampaikan hasil pemeriksaan , dan dokter meminta keluarga untuk mengiklaskan.


"Begini Pak, Bu.. saya harus menyampaikan kondisi pasien yang sebenarnya, dimana kondisi pasien saat ini sebenarnya, hidupnya hanya bergantung pada Alat - alat yang saat ini menempel di tubuhnya dan sepertinya saat ini kita hanya menunggu keajaiban itu datang." jelas Dokter yang sepertiny sudah ragu Arif bisa kembali sadar


"Tapi masih ada harapan kan Dok?? " Ane menangis dan menutup mulut nya dengan tanagan nya.


"Kalau secara medis terpaksa saya katakan, harapan selalu ada tapi kecil, dan sebenarnya yang ingin saya sampaikan, sebaiknya pihak keluarga mengiklaskan pasien. kondisi seperti ini sebenarnya kasian pasien kalau tidak segera sadar, karena terlau lama pasien memakai ventilator (alat bantu nafas) itu juga tidak baik pasien." jelas dokter lagi meminta keluarga mengiklaskan


"Tidak Dok...tidak...., jangan lepas, saya yakin pasti keajaiban itu ada, Bang Arif sudah janji sama Ane akan selalu menjaga Ane, Bang Arif gak mumgkin meninggalkan Ane" tangis Ane menghampiri Dokter, Bu Imah,papa Arif dan Alan


"Kalian percaya sama Ane, Bang Arif akan sadar, kalian jangan menyerah." Ane histeris


Ane yang berusaha menyakinkan orang - orang kalau suaminya pasti akan sadar kembali


"Ma...Ane....mohon jangan tanda tangani apapun, biarkan Bang Arif berjuang lagi, jangan menyerah ya ma, Ane mohon ma...jangan menyerah .." rengek Ane ke Bu Imah, menyatukan kedua tangan nya seraya memohon


Bu Imah yang juga berat untuk melepaskan Arif


memandangi Ane, menyentuh pipi Ane lembut dan mengangguk.


"iya nak"


Bu Ane yang berusaha tabah akhirnya pun tak kuasa menahan air matanya.


"Dok...jangan lakukan dulu, kita tunggu dulu keajaiban itu datang, saya yakin Arif akan berjuang untuk kembali" ucap Bu Imah pada Dokter dan kembali menatap menantunya senyum.


Dokter pun mengangguk dan pamit keluar


"Ma...terimakasih, mama mau memberi bang Arif kesempatan" ucap Ane menangis


"Nak apapun yang terjadi pada Arif kita harus menyiapkan mental, dan apa pun yang terjadi Ane tetap anak papa dan mama" ucap papa Arif yang lebih tabah menghadapi situasi ini. sebenarnya sebagai seorang ayah hati nya juga berat mengatakan ini. tapi sebagai seorang kepala keluarga dia harus kuat untuk menguatkan istri dan menantunya.


Ane hanya mampu menangis di pelukan Bu Imah.


Melihat kondisi ini hati Alan seperti di hujani pisau, perasaan bersalah semakin dalam Alan rasakan.


Ane mendekati suaminya, memegang tangan nya


"Bang Arif...bangun ya bang, Ane yakin Abang pasti akan bangun, Ane tau Abang pasti gak mau meliahat Ane sedih kan???" ucap Ane memandangi wajah suaminya dan mencium tangan Arif, meletakan tangan Arif pada pipinya yang di banjiri air mata

__ADS_1


__ADS_2