
Vita yang merasa penasaran langsung menghampiri Amar dan mengajak Amar untuk pulang bersama. namun Amar menolak dengan alasan akan mengantarkan Rara pulang. sedangkan Rara justru menyuruh Amar untuk pulang bersama Vita. karena Rara masih ingin bersama dengan Teman-temannya.
"Kakak pulang saja sama teman kakak. Rara masih mau disini kak" ucap Rara
"Rara. jangan tawar menawar. ayo kita pulang" ucap Amar
"Amar, apa dia adik kamu?" tanya Vita
"Bukan, aku tidak punya kakak seperti kak Amar" jawab Rara
"Iya memang aku bukan kakak kamu tapi aku" Amar mendekatkan wajahnya
"Kak Amar" Teriak Rara dan Amar tertawa menyeringai
Vita dan Rama merasa ada yang tidak benar.
Sementara Rara dengan malas akhirnya menuruti Amar untuk pulang bareng.
Amar memberikan helm dan memakaikan helm pada Rara. melajukan mogenya dengan kecepatan sedang, sesekali Amar melirik kearah spion untuk melihat Rara. Amar tersenyum melihat wajah Rara yang cemberut.
Sesampainya kediaman kakek Rara, Rara pun turun dari moge Amar dan Amar membantu Rara untuk melepaskan helmnya.
"Lain kali kalau malam itu jangan kluyuran, kamu itu anak cewek terlalu berbahaya kluyuran malam-malam begini. apa lagi sama cowok kayak tadi" ucap Amar
"Rama maksud kakak? dia itu teman satu kelas Rara kak. gak bahaya sama sekali. lagian kan Rara perginya rame-rame" ucap Rara.
"Dari mana kamu tau kalau tidak bahaya, kakak kasih tau ya, sekarang ini banyak cowok yang hanya modus. kamu itu masih kecil belum faham begituan. makanya jangan dekat-dekat dengan cowok. Rara faham"
"Tapi Rama kan teman Rara, masak gak boleh berteman dengan Rama?"
"Sudah kakak bilang jangan berteman dengan cowok" ucap Rama
"Beri satu alasan kenapa Rara harus nurut sama kakak? kakak kan bukan siapa-siapa Rara?"
__ADS_1
"Emm.. e.. itu karena, itu karena tante Anggun dan Om Alan sudah menitipkan Rara sama kakak. mereka berpesan Rara gak boleh dekat sama cowok. dan kakak disuruh mengawasi Rara" ucap Amar yang tentu saja bohong hahaha...
Dasar ni si Amar modus.
"Emang mama dan papa benaran bilang gitu?" Rara menatap Amar tidak percaya
"Tentu saja benar, untuk apa kakak bohong" jawab Amar.
Mendengar ada Rara diluar kakek pun keluar menghampiri. dan menanyakan kenapa sudah pulang, Rara pun menceritakan kalau Amar yang memintanya untuk pulang, Kakak melihat kearah Amar yang terlihat salah tingkah dan sikap Amar justru kakek tertawa, karena sepertinya kakak mengerti apa yang ada dipikirkan anak muda ini.
"Kok kakek malah tertawa? apanya yang lucu, kak Amar itu menyebalkan kek, masak Rara gak boleh pergi sama teman Rara" gerutu Rara
"Mungkin maksud Amar, ini kan sudah malam. teralu berbahaya kalau anak gadis keluar dimalam hari" jawab kakek
"Kakek gak asyik malah membela kak Amar" ucap Rara dan kakek tertawa
"Nak Amar, ayo masuk dulu kita ngobrol di dalam" ajak kakek
Amar pun menurut dan ikut masuk kedalam rumah kakek. disana Amar banyak bertukar pendapat dan menanyakan terkait ilmu kedokteran yang dipelajarinya selama kuliah.
"Dunia kedokteran membutuhkan Dokter seperti kamu, kakek sangat berharap suatu saat nanti kamu bisa bekerja dirumah sakit kakek. karena kakek yakin suatu saat kamu akan jadi Dokter yang hebat." puji kakek karena memang Amar ini orang yang sangat pandai dibidang akademik ataupun non akademik. banyak ketrampilan yang yang dikuasai Amar, mulai dari prestasi olahraga atau pun kecakapannya dalam mengoperasikan komputer.
Didukung parasnya yang ganteng dan sifatnya yang tenang serta sopan membuat banyak orang tua yang ingin anaknya berjodoh dengan Amar.
Sepulang dari rumah kakek Rara, Amar pun segera pulang dan masuk kedalam kamar kosnya. Amar mengambil ponsel dan melihat banyak pesan yang masuk dari bundanya. ya Ane memang sering mengirimi anaknya pesan whatsapp semenjak anak semata wayangnya kuliah diluar kota.
dan akan terus berkirim pesan jika tidak segera dibalas.
Amar tersenyum melihat banyaknya pesan masuk dari bundanya
"Bunda.. bunda" gumam Amar tersenyum
***
__ADS_1
"Sayang, sudah jangan kirim pesan terus. nanti kalau Amar sudah ada waktu juga dibalas. mungkin saat ini Amar sedang sibuk atau bisa jadi sedang tidak bawa hapenya kan?" ucap Arif tersenyum dengan tingkah istrinya yang terlalu mencemaskan putra mereka
"Iya Ane tau bang, tapi udah jam segini kenapa pesan Ane belum dibalas? berarti kemungkinan Amar sedang diluar kan? masak mengerjakan tugas sampai semalam ini?" ucap Ane yang terus melihat ponselnya.
Dret... dret...
Panggilan dari Amar
"Tu lihat, langsung telpon kan Amar" ucap Arif
"Assalamu'alaikum nak"
"Walaikumsalam bunda, maaf ya membuat bunda khawatir karena belum balas pesan bunda. Amar tadi sedang ngobrol sama kakek Rara. hapenya Amar silent gak dengan jadinya pas ada pesan masuk" ucap Amar dari sebrang telpon
"Ngobrol sama kakek Rara? emangnya Amar dari tempat Rara barusan? katanya mo belajar kelompok?" tanya Ane
"Iya bunda, Amar memang tadi belajar kelompok. terus disana ketemu Rara. jadi Amar sekalian antar Rara pulang bunda"
"Oow.. gitu, ya sudah segera istirahat ya Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam bunda" Amar menutup telpon
Ane menceritakan pada Arif kalau Amar baru saja mengantarkan Rara pulang dan mengobrol bersama dengan kakeknya. Amar semakin yakin kalau anaknya memang ada rasa dengan Rara. karena selama ini Amar tidak pernah perduli dengan yang namanya wanita. baru dengan Rara lah Amar sangat perhatian.
"Bang, tumben lho anak kita itu perduli sama orang. abang tau kan tiap kali Nana minta bantuan aja selalu ditolak bahkan kadang diacuhkan begitu saja. tapi ini kok tumben mau mengantarkan Rara pulang" ucap Ane
Tapi Arif yang faham dengan hati anaknya hanya senyum.
"Nana masih sering kesini bun?" tanya Arif mengalihkan pembicaraan
"Masih, itu juga yang membuat Ane suka bingung Bang. dia itu hampir setiap hari kesini padahal setau Ane kuliah kebidanan itu harusnya lumayan sibuk lho bang, Ane ingat dulu waktu Ane masih kuliah hampir setiap hari itu kuliah selalu full. dari jam tujuh pagi sampe jam lima sore itu hampir tidak pernah kosong. cuma jam istirahat lima belas menit aja buat makan dan sholat. tapi Nana itu berjam-jam disini. kadang sampai Ane itu bingung. mau ngusir juga gak enak. dibiarkan juag Ane sebenarnya ngantuk mau tidur siang."
"Bunda gak coba tanya kenapa sering kesini? kuliahnya bagaimana?"
__ADS_1
"Sudah bang, ya paling jawabannya lagi jam kosong lah, gak ada kuliah lah, tapi kalau menurut Ane sebenarnya ini cukup aneh."
^Happy Reading^