
Dirumah Arif
"Arif, papa senang perusahaan maju pesat semenjak kamu yang memimpin. banyak klien yang mengatakan puas bekerja sama dengan perusahaan kita. papa bangga sama kamu Rif, padahal tugas kamu sebagai seorang anggota Polri saja sudah sangat sibuk. tapi kamu mampu memajukan perusahaan kita" ucap papa Arif di taman belakang rumah
"Arif akan berusaha sebaik mungkin pah, Arif tau perusahaan itu sangat berarti bagi papa. Arif tidak akan mengecewakan papa"
"Bagaimana luka kamu apa sudah baikan?"
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik pah, ini hanya luka kecil kok pah" jawab Arif memegang lengan yang terluka
"Jujur papa itu sebenarnya khawatir dengan pekerjaan kamu setiap kali harus berhadapan dengan tindak kejahatan. tapi papa tau menjadi polisi sudah menjadi cita-cita kamu sejak kecil dan papa tidak bisa melarang kamu untuk menjadi anggota polisi. papa hanya bisa mendoakan semoga dimanapun kamu berada Alloh selalu melindungi kamu"
"Amiin, terimakasih pa. papa selalu mengerti Arif"
"Ini diminum tehnya pa, Bang Arif" ucap Ane memberikan teh dan pisang goreng
"Wah ada pisang goreng juga. pisang goreng buatan menantu papa ini yang terenak"
"Terimakasih pa, Ane senang kalau papa suka"
"Duduk disini sayang" ucap Arif menyuruh Ane duduk disampingnya
"Bunda, Ayah" panggil Amar berlari
"Hati-hati sayang, jangan lari" ucap Ane dan menggendong Amar
"Amar dari mana?"
"Ikut nenek pengajian bun, tadi Amar dicubit pipinya sama tante disana. terus Amar nangis"
"Hehehe.. itu mungkin karena tantenya gemas dengan Amar, soalnya anak bunda ini kan ganteng banget."
"Tapi Amar gak suka bun dicubit-cubit"
"Hahahaha... cucu kakek memang ganteng banget, wajar kalau setiap orang yang ketemu pasti ingin mencubit pipinya yang menggemaskan ini"
"Iya ini tadi teman-teman pengajian mama pada heboh gemes banget sama Amar" sahut bu Imah
"Ayah, apa ayah masih sakit?" tanya Amar
"Iya ayah masih sakit, tapi kalau dicium Amar sakitnya pasti akan sembuh"
"Muach.. muach.. " Amar mencium Arif
__ADS_1
"Bunda juga mau dong dicium"
"Muach.." Amar mencium Ane
Semakin hari Amar tumbuh semakin pintar, sikapnya yang mengemaskan membuat keluarga Ane semakin bahagia.
Ane yang sekarang lebih fokus sebagai ibu rumah tangga dan anggota bhayangkari untuk mendukung karir suaminya. Ane juga memiliki mertua yang sangat menyayangi dirinya. tidak henti-hentinya Ane bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang.
Dret... dret..
"Bang Ane angkat telpon dari Nur dulu ya" pamit Ane
"Iya sayang"
Sesampainya dikamar Ane mengangkat panggilan masuk dari sahabatnya Nur yang mengabari kalau dirinya saat ini sedang hamil.
Ane tentu saja sangat senang mendengar kabar dari sahabatnya yang dulu pernah mengalami ujian dalam hidupnya.
"Alhamdulillah Nur, aku senang kebahagiaan akhirnya datang padamu.dijaga baik-baik ya kehamilannya. jangan capek-capek!" ucap Ane
"Iya Ne, oya kamu udah tau belum bulan depan Yeni pulang. suaminya dapat cuti satu bulan katanya. kita meetup yuk, udah kangen banget pengen ngumpul sama kalian"
"Iya, Yeni udah ngabari aku juga sih, kalau bulan depan dia mau pulang. okay atur aja kapan dan dimana aku pasti datang. aku juga kangen bisa kumpul. tapi kira-kira Nia ikut kumpul kita gak ya?"
"Siap bu Ustadzah"
"Apaan sih Ne, godain mulu perasaan"
"Lho bener kan? kan istrinya pak ustadz"
"Iya, iya. eh.. udah dulu ya. suamiku sudah datang Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Ane memetikan telpon.
****
"Habis telpon siapa dek" tanya Ustadz Guntur
"Ini mas, barusan ngabari Ane kalau bukan depan Yeni mau pulang dan kita mau ngadain reunian di Semarang. boleh ya mas!" ucap Nur
"Boleh nanti biar mas yang antar ya!"
"Iya mas"
__ADS_1
"Seharian ngapain aja tadi? kalau bosan dirumah kamu bisa ikut kegiatan anak pesantren"
"Iya mas, oya mas bagaimana kalau di pesantren kita dibuatkan klinik. biar kalau ada yang membutuhkan obat atau luka ringan bisa langsung dibawa ke klinik pesantren tidak perlu jauh-jauh kelaur. nanti biar Nur yang mengurus kliniknya"
"Ide kamu bagus sih dek, nanti coba mas bicarakan sama Abah ya! tapi apa nanti tidak membuat adik kecapekan? mas gak mau kalau kamu sampai kecapekan. nanti berpengaruh dengan anak kita" ucap Ustadz Guntur memegang perut Nur yang masih rata
"Sayang, anak ayah seharian ini diajak bunda ngapain aja? nakal gak tadi ditinggal ayah kerja?" ucap Ustadz Guntur pada anak yang masih dalam kandungan Nur
Ustadz Guntur mencium perut Nur lembut, berusaha mengajak komunikasi anaknya seolah anaknya sudah faham dengan apa yang dibicarakan ayahnya.
Kini kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehamilan Nur.
Abah pun sekarang sangat perhatian dengan Nur semenjak mengetahui kehamilan Nur.
Setiap hari Abah selalu mengingatkan Nur agar mengkonsumsi Madu, kurma, minyak zaitun dan kacang almond. bahkan Abah tak segan menyiapkan sendiri agar Nur tidak melewatkan mengkonsumsi semua itu karena madu, kurma dan minyak zaitun sangat bagus dikonsumsi oleh ibu hamil. begitu juga dengan kacang almond. semua itu makanan kesukaan Rosululloh dan sangat bagus untuk pertumbuhan janin dalam kandungan.
"Terimakasih ya dek, karena kamu sudah mau susah payah hamil anakku, setiap hari harus merasakan mual dan pusing."
"Iya mas, kan memang sudah kodratnya seorang wanita hamil, melahirkan dan menyusui. bukankah pahalanya banyak ya mas"
"Iya dek, pahala wanita yang hamil itu sangat besar salah satunya diampuni dosa-dosanya. dan selama hamil dianjurkan untuk banyak-banyak berdoa, karena doa ibu hamil itu mustajab lholho sayang!"
"Iya bang, InsyaAlloh Nur akan lebih sering mengajak anak kita untuk tadarus dan bersholawat. biar nanti kalau sudah lahir jadi anak yang sholih dan pintar agama seperti ayahnya" ucap Nur mengelus perutnya yang masih rata
"Amin" Ustadz Guntur mengaminkan dan mencium kening Nur.
***
Dirumah Dokter Sigit
Tasya merasa keputusan papanya untuk menikah dengan Nia itu tidak benar, tapi Tasya tidak mampu menolak pernikahan ayahnya karena saat ini Nia sedang mengandung anak ayahnya yang juga berarti adiknya. Tasya selama ini memang berharap memiliki seorang adik, tapi adik yang terlahir dari mamanya Anggun bukan wanita lain.
"Sayang, sudah ya jangan marah lagi sama papa. kamu anak kesayangan papa. papa akan sedih kalau kamu mendiamkan papa terus seperti ini"
"Tasya kecewa sama papa, kenapa papa harus menyakiti mama Anggun. sekarang Tasya harus merasakan kehilangan mama untuk yang kedua kalinya karena papa"
"Sayang tante Nia pasti nanti juga akan menjadi mama yang baik untuk Tasya"
"Tasya tidak mau pa, silahkan papa menikah dengan wanita perusak rumah tangga orang itu tapi Tasya tidak akan pernah mau. menganggap wanita itu sebagai mama Tasya." tegas Tasya
"Maafkan papa sayang, papa menyesal dengan apa yang sudah papa lakukan. papa harap Tasya mau memafkan papa dan papa juga tidak akan memaksa Tasya untuk bisa menerima tante Nia sebagai mama Tasya. papa hanya berharap Tasya mau memaafkan papa"
^ Happy Reading ^
__ADS_1