
"Sayang, Sigit tidak pernah menalak kamu. sampai saat ini Sigit masih suami kamu" ucap pak Karsa
"Ini" Ibu Iin memberikan amplop coklat berisi uang yang barusan diambil dari kamar
"Apa ini bu?" tanya Nia heran mengambil amplop tersebut
"Bukalah" ucap bu Iin menganggukkan kepala dan memandang Nia untuk menyuruh membuka amplop tersebut
Nia membuka amplop putih dan begitu terkejut saat melihat ternyata isinya berupa uang
"U-uang apa ini bu? kenapa banyak sekali?" tanya Nia
"Itu uang kamu dari Sigit. setelah kamu dipenjara dan setelah Sigit sembuh. dia datang kesini untuk memberikan uang itu untuk kamu. dia juga setiap bulan selalu mengirimi uang nafkah untuk kamu" ucap bu Iin
Betapa terkejutnya Nia mengetahui kalau ternyata Dokter Sigit tidak pernah menjatuhkan talaknya pada dirinya. Nia berpikir setelah apa yang dilakukannya pasti Dokter Sigit langsung menceraikan dirinya. tapi ternyata itu tidak terjadi. sampai saat ini bahkan setiap bulan. Dokter Sigit selalu mengirim uang nafkah untuk dirinya dan dititipkan pada orang tuanya.
"Apa ayah tau sekarang Mas Sigit ada dimana?"
"Tau, karena Sigit dan ayah selalu bertukar kabar" Jawab Pak Karsa
"Apa Nia bisa bertemu dengan mas Sigit yah? tanya Nia
"Bisa, ini" ucap pak Karsa memberikan sebuah kartu nama pada Nia
Dengan ijin ayah dan ibunya Nia pergi mencari Dokter Sigit sesuai dengan alamat yang diberikan oleh ayahnya.
Hingga tiba pada suatu klinik sederhana disebuah desa terpencil. banyak pasien yang mengantri dan yang membuat Nia bertanya-tanya diantara pasien-pasien yang datang banyak yang membawa pisang, jagung dan juga beras
Hingga akhirnya Nia memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu pasien untuk mengurai rasa penasaran yang saat ini menyelimuti hatinya
"Maaf Bu, apa ibu mau periksa disini?" tanya Nia
"Iya bu, saya mau memeriksakan kehamilan saya" jawabnya
"Tapi kenapa ibu membawa pisang?" tanya Nia
"Karena saya tidak mempunyai uang untuk membayar, jadi saya bayar dengan pisang ini" jawabnya
"Bayar dengan pisang?" Nia membulatkan matanya tak percaya
"Iya bu, Alhamdulillah Dokter Sigit sangat baik membantu kami orang-orang yang kesusahan. dokter Sigit juga tidak pernah memberikan tarif pada kami. siapapun boleh periksa disini. tidak harus bayar. jika memang tidak punya uang. dokter Sigit tetep melayani kami dengan baik"
Pernyataan beberapa pasien disana membuat Nia kagum sekaligus merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa mungkin sekarang Mas Sigit benar-benar sudah berubah?" batin Nia
Setelah menunggu semua pasien selesai diperiksa, Nia mengetuk pintu dan berdiri didepan ruang praktek dokter Sigit
"Nia" gumam Dokter Sigit membuka mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
Nia perlahan berjalan mendekat dan mencoba tersenyum dengan air mata membasahi pipinya
Dokter Sigit pun berjalan mendekat, tiba-tiba Nia menjatuhkan dirinya dan bersimpuh di kaki Dokter Sigit
"Maafkan aku mas" ucap Nia lirih
"Berdirilah Nia, tidak perlu meminta maaf. aku yang banyak salah sama kamu. aku yang seharusnya minta maaf padamu Nia" ucap dokter Sigit menyeka air mata yang membasahi pipi Nia
"Aku hampir membunuhmu mas, maafkan aku" tangis Nia pecah memeluk dokter Sigit
"Kamu tidak salah sayang, kamu tidak akan melakukan itu jika aku memperlakukan kamu layaknya seorang istri. justru apa yang sudah kamu lakukan. membuat aku sadar. kalau selama ini aku salah, aku sudah sangat keterlaluan. maafkan aku Nia" ucap Dokter Sigit mencium kening Nia lama dan mereka saling berpelukan hangat.
Saling memaafkan dan mereka pun saling sepakat untuk memulai lembaran baru bernama. menjadi pribadi yang lebih baik.
***
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, mau mencari siapa ya?" tanya Ane
"Tante pasti mamanya Amar ya?" tanya Vita
"Iya saya mamnya Amar kamu temannya Amar?" tanya Ane
__ADS_1
"Siapa yang datang bun?" tanya Amar yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk berwarna putih
"Vita, kamu ngapain disini?" tanya Amar
"Amar, ada teman yang datang bukannya disuruh duduk dulu, malah dikasih pertanyaan kayak gitu" ucap Ane
"Tidak apa-apa tante" sahut Vita
"Ayo duduk dulu" ucap Ane mempersilahkan Vita duduk diteras depan kos
"Kamu temannya Amar kuliah?" tanya Ane
"Iya kami kebetulan teman satu kelas dan satu angkatan tante. Oya ini untuk tante" Vita memberikan oleh-oleh khas Surabaya untuk Ane
"Apa ini?" tanya Ane melihat isi paper bag
"Ini makanan khas Surabaya tante, semoga tante suka" ucap Vita
"Oow iya terimakasih ya nak_" ucap Ane terputus
"Vita tente. nama saya Vita" ucap Vita mengulurkan tangan memperkenalkan diri
"Iya terimakasih nak Vita"
**
"Bunda ngapain sih nanggapi orang itu" gumam Amar
"Kamu ini kayak gak kenal bunda kamu saja" sahut Arif yang sedang melihat siaran di televisi
Amar keluar dan ingin mengembalikan oleh-oleh yang diberikan pada bundanya
"Amar aku hanya ingin memberikan oleh-oleh buat bunda kamu saja kok, apa tidak boleh?" ucap Vita
"Dari mana kamu tau, kalau orang tuaku ada disini?" tanya Amar dengan wajah datarnya
"Em.. Ranu yang bilang kalau bunda kamu sedang ada disini" jawab Vita ragu-ragu
"Sudah Amar, tidak apa-apa. lagian apa salahnya kalau Vita kesini dan menemui bunda. bunda justru senang bisa kenal dengan teman-teman kamu" sahut Ane
"Assalamu'alaikum"
"Ini datang satu lagi" gumam Amar lirih
"Tente, Amar" ucap Nana mencium tangan Ane dan pandangannya tertuju pada Vita yang sedang berada disamping Ane
"Dia siapa tante? tanya Vita menunjuk Nana
"Oow.. ini namanya Nana. anak teman tente. kebetulan adiknya sekolah disini juga. jadi kemarin kita kesini bersama. karena Nana dan orang tuanya mau menemui adiknya, sedangkan tante dan om mau menemui Amar" terang Ane
Viita mengulurkan tangannya dan Nana hanya membalasnya sekilas. dadanya seakan bergemuruh. melihat gelagat wanita di depannya ini ada rasa dengan Amar
"Vita temannya Amar" ucap Vita memperkenalkan diri
"Nana" jawab Nana singkat dan kembali meliput tangannya di depan dadanya
"Maaf ya tidak ada yang bisa tante suguhkan disini. maklumlah ya kos cowok tidak ada apa-apanya" ucap Ane
"Iya tidak apa-apa tante" jawab Vita
Cukup lama mereka berbincang namun Amar justru tidak lagi keluar kamar
"Maaf ya nak Vita. dari dulu memang sikapnya Amar seperti itu. bukan hanya pada nak Vita. dengan semua orang Amar itu ya kayak gitu itu" ucap Ane menggelengkan kepala
"Iya tante, Vita faham. Amar memang terlihat cuek seperti itu orangnya, tapi sebenarnya hatinya sangat baik dan hangat" ucap Vita.
"Sok tau banget sih ni orang, aku yakin. ini cewek pasti suka sama Amar" batin Nana
***
Setelah Vita pergi Nana meminta Amar untuk memberikannya waktu berbicaralah. Amar dengan malas menuruti keinginan Nana untuk berbicara empat mata. tentu saja hal ini dilakukan Nana karena tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Nana ingin Amar mengetahui perasaannya yang sebenarnya meskipun Nana tau kemungkinan ditolak sangat besar. lantaran selama ini. Amar memang tidak pernah melihatnya sebagai wanita. Amar hanya melihat Nana sebagai teman dari orang tuanya.
"Amar, aku tau kamu pasti tau kenapa aku ingin berbicara dengan kamu saat ini?" ucap Nana
__ADS_1
"Tidak usah berbelit katakan saja ada apa? aku harus segera pergi" ucap Amar
"Amar aku, aku.. " ucapan Nana terpuruk
"Kenapa? kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan aku akan pergi" ucap Amar segera berlalu
"Amar.. aku mencintai kamu" ucap Nana menghentikan langkah Amar yg baru tiga langkah.
"Sebaiknya kamu lupakan semua itu" ucap Amar tanpa melihat kearah Nana
"Kenapa Amar? apa aku salah mencintai kamu?"
"Sudah ada seseorang yang ada didalam hatiku?"
"Amar, apa kamu mencintai wanita yang tadi itu?" tanya Nana tapi Amar tidak menjawab dan langsung pergi
"Apa kamu mencintai Rara" teriak Nana dan menghentikan langkah Amar sesaat namun Amar segera berlalu tidak mau menanggapi apa yang Nana katakan
Nana hanya bisa menangis dan cintanya ditolak oleh Amar. Nana kembali ke rumah kakek dengan mata sambabnya dan wajah ditekuk.
"Nana kamu kenapa sayang?" tanya Dokter Anggun namun Nana hanya diam tak menjawab.
"Sayang itu Nana kenapa kok matanya sembab seperti habis menangis? ucap Dokter Anggun pada Alan
"Biar aku lihat Nana dulu" jawab Alan berdiri dan pergi kekamar Nana
"Ada apa lagi dengan Nana Anggun?" tanya kakek yang baru masuk ruang keluarga
"Itu Pi, tadi pamit kekos Amar, tidak tau kenapa kok pulang-pulang mata sembab seperti habis menangis.
"Sudah tidak usah terlalu kamu pikirkan. itu hanya masalah anak muda" ucap kakek
"Bgaimana rumah sakit yang disana apa semuanya baik?" tanya kakek yang sudah lama tidak mengecek keadaan rumah sakit
"Alhamdulillah baik pi, Anggun baru memperbarui beberapa peralatan medis dan menambah beberapa Dokter spesialis. Anggun ingin meningkatkan kwalitas rumah sakit kita pi. Anggun juga ini sedang mempersiapkan penambahan ruang baru untuk pasien" terang Anggun
"Bagus Anggun, papi tau. kamu memang bisa diandalkan" ucap kakek tersenyum
***
Dikamar Nana
"Nana, kamu kenapa sayang?" ucy Alan menghampiri Nana
"Papa" gumam Nana menangis dipelukan Alan
"Iya sayang kamu kenapa?" Alan mengusap punggung Nana
"Untuk pertama kalinya Nana merasakan apa itu cinta dan saat Nana mengungkapkan perasaan Nana. tapi orang itu menolak cinta Nana" tangis Nana pecah
"Maksud kamu kamu mencintai Amar lalu kamu mengungkapkan perasaan kamu dan Amar menolak cinta kamu?" tanya Alan
"Iya pi, Amar menolak cinta Nana" Jawab Nana terisak
"Sayang, kamu tau kan. Amar itu tidak pernah bermain-main dengan pendidikannya. mungkin Amar ingin fokus kuliah dan tidak ingin diganggu. lagian kalian ini baru masuk kuliah kenapa harus buru- buru mengungkapkan perasaan" ucap Alan
"Bukan pa, Amar menolak cinta Nana bukan karena ingin fokus kuliah. tapi karena Amar bilang di hatinya sudah ada seseorang yang Amar cintai" terang Nana
"Amar berkata seperti itu?" tanya Alan
"Iya Pa, Alan sendiri yang mengatakan seperti itu"
"Sayang sini papa kasih tau, Mencintai seseorang itu memang anugrah tapi kita juga tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintai kita. jika Amar sudah mengatakan ada wanita lain dihatinya, berarti Nana harus iklas menerima kenyataan itu. cinta itu tidak boleh egois Nana. cinta itu mendoakan agar orang yang kita cintai bisa mendapatkan kebahagiaan"
"Walaupun kita menderita?" tanya Nana menengadagkan wajahnya keatas
"Sayang, cinta itu datangnya dari Alloh. maka berdoa sama Alloh untuk bisa menerima kenyataan apapun itu, dan jika memang Amar jodoh kamu pasti Alloh Akan dekatkan, jika bukan maka Alloh pasti akan memberikan pengganti yang jauh lebih baik dari Amar. percayalah ketetapan Alloh itu yang terbaik" jawab Alan memberikan pengertian pada Nana
"Tapi Nana mencintai Amar pah, Nana gak bisa melihat Amar dengan yang lain" tangis Nana pecah dan Alan segera memeluk putrinya
"Nana tidak boleh seperti ini. anak papa harus ingat jodoh itu Alloh sudah mengatur dan Alloh sudah menetapkan dengan siapa kita akan berjodoh" ucap Alan
Setelah dua hari di surabaya kini mereka kembali ke. Semarang untuk memulai aktivitasnya kembali.
__ADS_1
Setelah apa yang dikatakan Amar saat disurabaya. Kini Nana setiap siang sudah tidak lagi bermain kerumah Ane. Nana sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dikampus walapun tidak benar-benar memperhatikan dosen. tapi setidaknya Nana sudah tidak lagi meninggalkan kampus disaat jam perkuliahan.