Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MAAF


__ADS_3

"Selamat pagi pak Arif" Sapa Irma masuk ke ruang kerja Arif


"Selamat pagi" jawab Arif singkat


"Pak Arif ini pasti sibuk sekali ya doble job"


"Alhamdulillah disyukuri saja bu Irma, rejeki anak istri"


"Kenapa seperti itu?" Irma heran dengan jawaban Arif


"Iya bu, seorang laki-laki kalau sudah menikah rejekinya yang di dapat juga milik istri dan anak. lebih tepatnya rejeki istri dan anak yang dititipkan lewat suami" jelas Arif


"Sepertinya pak Arif ini sayang banget ya sama istrinya. memang seperti apa istri pak Arif"Irma berusaha memancing


"Iya bu, istri saya wanita yang sangat luar biasa. tidak pernah mengeluh dan sangat sayang sama orang tua saya tentunya"


"Oow pak Arif ini ternyata mengutamakan orang tuanya" batin Irma


"Oow maaf malah membicarakan keluarga saya. jadi gimana bu Irma, ada hal mendesak apa yang membawa bu Irma kemari? karena sepertinya masalah kontrak kerja sudah tidak ada masalah. barang juga sudah on proses dan waktunya juga masih lama kan?"


"Iya, masalah pekerjaan memang sepertinya sudah tidak ada masalah. saya ingin tau sudah sejauh mana pengerjaan proyeknya?"


"Sampai saat ini baru 30% mungkin, tapi bu Irma tenang saja InsyaAlloh sebelum jatuh tempo waktu yang ditentukan pengerjaannya sudah rampung digarap. jadi ibu Irma tenang saja"


"Tentu saya sangat percaya, tapi saya ingin melihat secara langsung proses pengerjaannya. bagaimana kalau pak Arif temani saya untuk mengecek secara langsung digudang bapak"


"Sebelumnya saya mohon maaf sama bu Irma, sekali lagi saya mohon maaf. bukan maksud saya tidak mau mengantarkan bu Irma berkeliling gudang. tapi siang ini saya ada meeting yang tidak bisa saya tinggalkan. tapi bu Irma jangan khawatir, sekertaris saya akan mengantarkan bu Irma berkeliling gudang"


"Tapi saya tidak percaya dengan orang lain, saya hanya percaya sama pak Arif" ucap Irma


"Kalau begitu saya mohon maaf sekali lagi, untuk sekarang saya tidak bisa mengantarkan bu Irma. mungkin lain kali. ini saya sudah ditunggu untuk meeting bu" Arif melihat jam ditangannya


"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu, next time saya akan kembali lagi" ucap Irma.


Melihat Irma pergi Arif menghembuskan nafas lega dan menggelengkan kepalanya


***


Dirumah sakit

__ADS_1


"Kak sakit.. sakit kak, Sasa gak kuat" tangis Sasa


"Sabar ya dek, kamu kuat. pasti kuat jangan bicara seperti itu"


Sasa menggelengkan kepalanya mengisyaratkan tidak kuat. keringat bercucuran menahan sakit


Saka dengan sabar mengusap keringat adiknya sembari mengecup kening Sasa.


"Kuat ya dek, kuat. kamu kuat"


"Mama mana kak? mama mana?" rengek Sasa


"Mama, mama ada dirumah. sudah tidak usah pikirkan mama. kamu fokus pada anak dalam kandungan kamu" ucap Saka


"Tidak kak, tidak. Sasa mau ketemu mama. Sasa mohon. Sasa harus ketemu mama kak" rengek Sasa menahan kesakitan


"Kamu yang tenang ya, baiklah. kakak akan menghubungi mama dulu. kamu sabar ya!" ucaoy Saka keluar ruangan


beberapa kali mencoba menghubungi bu Irma namun tidak pernah dianggat.


Saka tidak pernah menyerah dan terus menghubungi, hingga terdengar suara Bu Risma menjawab Salam


"Ada apa lagi kamu menghubungi mama? bukankah mama sudah mengatakan, mama tidak mau tau lagi soal Sasa. percuma kamu mau ngomong apa pun tidak akan mama dengar kan!"


"Itu akibat dari ulahnya sendiri. jadi biar saja dia tanggung akibatnya. lagian kalian ini kenapa sih selalu saja menyusahkan mama? kenapa tidak ada satupun anak Mama yang benar. kenapa kalian ini membuat mama malu. dimana letak kesalahan mama dalam mendidik kalian?" teriak bu Risma


Saat ini Saka terdiam. sebenarnya jauh dilubuk hati Saka menyadari kenapa mamanya bisa semarah itu. dirinya sudah membuat bu Risma malu ditambah lagu sekarang Sasa. sudah pasti itu menjadi pukulan berat untuk bu Risma


"Ma, Saka tau. mama sakit hati, mama kecewa. setelah Saka sekarang Sasa membuat mama kecewa. tapi sebaiknya, mama kesampingkan dulu amarah mama. kasian Sasa ma, temu Sasa sebentar saja ma. Saka mohon ma" ucap Saka


"Tidak akan, sekali mama bilang tidak ya tidak! jangan paksa mama" bu Risma mematikan telponnya


Saka mengacak-acak rambutnya tampak frustasi dengan keadaan ini. begitu sulit untuk membujuk mamanya melihat sasa. tapi disisi lain Sasa sangat membutuhkan Mamanya.


"Agh... " Teriak Saka


Tak lama Nia menghampiri Saka


"Saka dokter mau bicara" ucap Nia

__ADS_1


"Ada apa?" Saka dengan perasaan cemas


"Biar dokter saja yang menyampaikan" jawab Nia membuat Saka semakin cemas


Setelah sampai diruang Dokter, dokter meminta Saka untuk menandatangani surat persetujuan operasi.


"Kenapa harus Sesar dok?" tanya Saka


"Begini pak Saka, setelah tadi sempat dilakukan induksi. sepertinya induksi juga tidak berhasil dan terpaksa jalan terakhir yang harus kita lakukan adalah dengan operasi Sesar. tapi bapak tidak perlu cemas! sekarang ini ilmu kedokteran sudah semakin maju, dan Sesar sudah hal biasa yang dilakukan." Terang dokter


"Baik dok, tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya" ucap Saka sudah merasa frustasi dengan tangisan Sasa yang semakin menjadi


Dokter menyodorkan berkas persetujuan operasi Sesar dan Saka segera menandatangani setelah membaca kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam proses operasi Sesar tersebut.


Setelah surat persetujuan operasi ditandatangani, Sasa yang sebelumnya sudah disuruh puasa kini dipersiapkan untuk dibawa ke ruang operasi. Selama Sasa diruang operasi mulutnya tidak berhenti berdzikir dan beristighfar mendoakan keberhasilan Sasa.


Sementara dirumah bu Risma yang mendengar Sasa menjalani operasi karena proses persalinannya tidak bisa dilakukan secara normal menangis mengutuk dirinya sendiri.


"Kenapa anak-anakku berbuat seperti ini. aku gagal, aku sudah gagal" gumam bu Risma dan memukul-mukul dadanya


"Dosa apa yang sudah aku lakukan dimasa lalu? hingga anak-anakku melakukan ini semua" kembali tangis bu Risma pecah


Tika yang mendengar mertuanya histeris megetuk pintu dan mencemaskan mertuanya


Beruntunglah bu Risma mempunyai menantu yang sangat baik.


Tika masuk dan memeluk bu Risma


"Ma, tenang ya ma, jangan seperti ini. sebaiknya mama segera ke rumah sakit, maafkan Sasa" Tika berusaha membuka pikiran mertuanya


Namun lagi-lagi bu Risma tak bergeming. memikirkan Sasa dioperasi memang membuat bu Risma khawatir tapi amarahnya membutakan mata hatinya.


"Ma, tolong maafkan Sasa ma, dan doakan Sasa untuk operasi yang dijalaninya." bujuk Tika


"Untuk apa mama harus mendoakan anak seperti itu?" Ucap bu Risma dengan air mata yang membasahi pipi dan tatapan mata yang kosong


"Ma.jangan sampai menyesal" ucap Tika


Setelah 50 menit didalam ruang operasi, tampak Dokter dan seorang perawat keluar dari ruang operasi. dengan cepet Saka menanyakan perihal Sasa adiknya.

__ADS_1


^Happy Reading^


Terimakasih dukunganya sayang 🙏🙏🥰😘


__ADS_2