Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 255


__ADS_3

"Nana papa mau bicara" ucap Alan yang sudah menunggu Nana diteras rumah kakek


"Papa, kok papa bisa ada disini? kenapa tidak bilang kalau papa mau kesini?" tanya Nana yang terkejut dengan kedatangan papanya dan berlari memeluk papanya


"Papa mau bicara sama kamu, kita bicara disana" ucap Alan berjalan menuju gasebo yang ada di depan rumah kakek


Nana bingung dengan papanya yang tampak begitu serius dan tidak membalas saat dirinya memeluk.


"Papa kenapa sih pah? kok terlihat serius sekali? lagian papa kenapa kesini tidak kasih kabar? papa kesini sama siapa? mama Anggun mana?" tanya Nana yang belum menyadari papanya sedang marah


"Nana, mau sampai kapan kamu seperti ini? papa kecewa sama kamu, papa ngijinin kamu kuliah disini bukan untuk mempermalukan diri kamu di depan laki-laki yang jelas-jelas tidak menyukai kamu. Kamu ini kenapa sih Na bikin malu papa saja, kenapa kamu tidak bisa mencontoh adik kamu. Fokus pada kuliah kamu!" ucap Alan dengan nada tinggi karena emosi dan merasa malu dengan apa yang telah Nana lakukan


"Papa ini kenapa sih? datang-datang marah, pakek banding-bandingkan Nana sama Rara segala" protes Nana merasa sakit hati karena papanya membandingkan dirinya dengan Rara


"Papa kanapa kamu bilang? papa malu dengan sikap kamu, apa kamu tau? baru saja Amar menemui papa dan mengatakan kalau kamu mengaku sebagai tunangan Amar dikampus. Bahkan Amar mengatakan pada papa u untuk menasehati kamu agar tidak mendekati-Nya lagi. Kamu tau bagaimana malunya papa di depan om Arif atasan papa? sadar Nana, sadar kamu itu wanita bagaimana mungkin kamu mempermalukan diri kamu seperti itu? bagaimana bisa kamu tidak malu merendahkan harga diri kamu di depan laki-laki?"


"Pa, Nana melakukan ini karena Nana mencintai Amar pa, Nana hanya ingin mendapatkan Amar dan Nana satu-satunya wanita yang boleh dekat dengan Amar" tangis Nana pecah


"Astaghfirullah, ternyata benar yang dikatakan orang-orang. Papa sepertinya salah mendidik kamu, papa terlalu memanjakan kamu" gumam. Alan mengusap wajahnya kasar karena sikap Rara yang sudah diluar kendali


"Dimana salahnya kalau Nana mencintai Amar pa?" kembali Nana menangis


"Semakin kamu seperti ini, semakin itu akan membuat Amar risih dengan kamu, kamu itu wanita harus punya harga diri. Tidak ada satu laki-laki didunia ini yang menyukai wanita seperti itu. Semakin kamu kejar Amar akan semakin membenci kamu" jelas Alan


"Lalu Nana harus bagaimana pah? Nana gak mau kehilangan Amar" rengek Nana dengan derai air mata yang membasahi pipinya

__ADS_1


"Sebaiknya kamu ikut papa pulang ke Semarang. Disini bukan tempat kamu. untuk apa kamu jauh-jauh kesini kalau yang ada dipikirkan kamu hanya laki-laki. seharusnya kamu itu fokus dengan kuliah kamu. lihat Rara selalu juara kelas karena dia fokus belajar tidak memikirkan yang bukan-bukan seperti kamu Nana" teriak Alan sudah habis kesabaran


"Rara? papa membandingkan Nana dengan Rara lagi? kenapa sih pah selalu Rara? kenapa selalu saja Rara yang selalu kalian puji-puji. Apa papa tau aku seperti ini karena siapa? karena Rara pah. karena kalian lebih menyayangi Rara dibandingkan aku, karena masa lalu mama kandungku kan? kalian hanya pura-pura baik saja kan sama Nana? aku tau dihati kalian sebenarnya cuma ada Rara. iya kan pa? aku benci Rara, aku benci Rara pah" teriak Nana histeris


Plak..


Alan menampar Nana


"Hah.. Papa nampar Nana? wow.. sekarang papa mengakui kan kalau papa tidak pernah menyayangi Nana? hanya Rara yang papa sayangi karena Rara anak mama Anggun kan?" Ucap Nana memegangi pipinya dan tersenyum sinis


"Na, bukan itu maksud papa. Papa hanya mau kamu sadar, kalau Amar tidak mencintai kamu. dan apa yang kamu bilang itu tadi tidak benar. papa menyayangi kamu, bahkan papa dan mama Anggun samapai tidak pernah memperhatikan perasaan Rara karena kami lebih memperhatikan kamu, kami tidak mau kamu salah faham dengan kami"ucap Alan


"Jadi sekarang papa mau bilang? gara-gara Nana, kalian mengabaikan Rara? jadi Rara salah lagi. Seperti itu pah? salahin aja Nana terus pah" ucap Nana berlalu memegangi pipinya yang terasa panas lantaran ditampar Alan cukup keras.


"Papa? kok papa ada disini? itu kak Nana kenapa pah?" tanya Rara memegangi bahunya yang sakit ditabrak Nana


"Kamu baru pulang sekolah Ra?" tanya Alan mengalihkan pembicaraan dan mencoba tersenyum dengan Rara


"Iya pa, Rara ada jam tambahan" jawab Rara mencium tangan Alan


"Bagaimana sekolah kamu?" tanya Alan


"Alhamdulillah baik pah, tapi itu tadi kaka Nana kenapa pah? sepertinya kakak nangis ya? ada apa sebenarnya pah?" kembali Rara bertanya karena penasaran dengan kakaknya yang tiba-tiba menangis


"Biasa kakak kamu salah faham, sudah tidak usah kamu pikirkan" jawab Alan

__ADS_1


"Pasti karena Rara ya pah? apa kak Nana salah faham lagi dengan Nana?" tanya Rara tampak sedih. terkadang Rara ingin bisa akur dan baik dengan kakaknya layaknya kakak dan adik lainnya, bisa saling menyayangi dan berbagai keluh kesah, tapi harapan tinggal harapan karena Nana selalu membatasi diri dan lebih menganggap Rara sebagai saingannya. padahal Rara selalu menganggap sebagai kakak yang disayanginya dengan tulus.


"Bukan sayang, jangan pernah merasa seperti itu. Ini semua tidak ada hubungannya dengan kamu. Kamu anak yang baik, dari dulu kamu selalu mengalah dengan kakak kamu, hanya saja Nana yang belum bisa berpikir dewasa seperti kamu. Papa minta maaf ya Ra, selama ini papa salah sama kamu. Papa hanya fokus dengan kebahagiaan Nana sampai papa lupa kalau kamu juga membutuhkan kasih sayang yang sama" ucap Alan menyesal dan menggenggam tangan Rara


"Tidak apa-apa pah, Rara paham. ini bukan hal yang mudah untuk papa dan mama" Jawab Rara tersendiri


"Ternyata kamu memang jauh lebih dewasa ketimbang kakak kamu Ra" ucap Alan tersenyum


"Sebenarnya kakek sudah mengamati apa yang terjadi antara Nana dan Rara, disini Nana memang terlihat seperti selalu menyudutkan Rara. sebenarnya kakek sempat khawatir dengan Rara, tapi ternyata jauh diluar dugaan kakek. Rara tumbuh dewasa dengan cepat, mampu memahami sifat kakanya" sahut kakek yang baru keluar dari dalam rumah


"Papi, Assalamu'alaikum pi" ucap Alan mencium tangan kakek


"Walaikumsalam, Alhamdulillah kakek baik. kamu dan Anggun bagaimana?" tanya kakek


"Alhamdulillah kami juga baik pi, sebenarnya Alan ke Surabaya juga tidak sengaja pi, karena menangkap buronan yang lari kesini. Karena tersangka sudah tertangkap dan dibawa kembali ke Semarang, jadi Alan dan bang Arif mampir di surabaya" jelas Alan


"Jadi Arif ada di Surabaya!" tanya kakek


"Iya pi, Bang Arif ada dikos Amar" jawab Alan


"Alan, sebenarnya Papi tidak ingin menyalahkan kamu, tapi sepertinya kamu memang harus lebih tegas dengan Nana. Kalau dibiarkan seperti ini terus papi takut, Lama-lama benih kebencian didalam hati Nana suatu saat nanti akan semakin besar dan akan selalu menyalahkan Rara disetiap kesalahan yang dia lakukan. Maafkan papi bicara seperti ini, tapi papi bicara seperti ini karena papi juga sayang dengan Nana dan sudah menganggap Nana cucu papi sendiri, selama ini kamu juga tau, mana pernah papi membedakan antara Nana dan Rara, hanya saja kali ini papi merasa Nana sudah keterlaluan" ucap kakek menghela nafas


^ Happy Reading ^


Jangan lupa, like, coment dan Vote serta kasih poin ya. maaf jika Thor upnya tidak bisa maksimal 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2