Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MASIH ADA HARAPAN


__ADS_3

Ruangan tempat Arif di rawat penuh dengan isakan tangis dari semua keluarga yang akan melepaskan kepergian Arif.


Ane yang tadi nya menangis kini hanya diam pasrah seakan air mata nya mengering. sekuat hati mengiklaskan orang yang baru saja menjadi suaminya itu.


Bu Vina dan Pak Edi memeluk Ane, mengutkan putrinya. sementara Dokter dan perawat berjalan mendekati Arif bersiap melepaskan alat bantu yang selama enam bulan ini terpasang ditubuh Arif.


"Masyaallloh...." ucapan Dokter membuat keluarga mendekat


"Ada apa Dok??" tanya Bu Imah


"Seperinya pasien masih ingin bertahan, tadi sewaktu saya hendak melepas Ventilator nya pasien menggerakan tangan nya." ucap Dokter


Mendengar ucapan Dokter, Ane bangkit dan berlari mendekti suaminya.


"Abang...Ane tau bang, Abang pasti gak tega kan ninggalin Ane?" ucap Ane memegang tangan Arif


Semua keluarga menangis, berharap Arif benar - benar sadar.


"Bagaimana kalau kita tunggu beberapa hari lagi, semoga pasien bisa sadar kembali" ucap Dokter


"Amin...baik Dok, semoga keajaiban itu datang" ucap Bu Imah


"Ane yakin, Abang pasti sadar, Abang pasti kembali." ucap Ane penuh kenyakinan


Bu Vina mendekat dan kembali memeluk putrinya.


***


"Tia, kamu tau gak kak Ane sebenarnya dimana?? kok gak pernah pulang ke kos?? tanaya Siska yang merasa heran Ane tidak pulang


"Dirumah nya mungkin, kan sudah tidak ada kuliah kak Ane ke kampus cuma kalau pas ada bimbingan aja kan?" jawab Tia


"Iya bener juga sih...padahal aku mau tanya Bang Arif di rawat dirumah sakit mana" ucap Siska


"Telphon aja atau kirim pesan kan bisa" jawab Tia cuek


"Udah aku coba kalau itu" ucap Siska


"Terus...???" Tia melihat Siska


"Terus apa nya gak dibalas yang ada" gerutu Siska


"Wkwkwk....." Tia ketawa


"Kok kamu malah ketawa??" ucap Siska


"Gimana gak aku ketawa, kamu nya lucu. biarpun mereka gak pacaran bukan berarti mereka gak ada rasa" ucap Tia


"Maksud kamu?? Kak Ane suka sama Bang Arif" Siska melihat Tia

__ADS_1


"Kan sudah sangat jelas Sis kalau mereka saling suka, masak gitu aja kamu gak ngerti" ucap Tia


"Gak...gak boleh, aku yang duluan menyatakan suka sama Bang Arif, Kak Ane gak boleh merebutnya." ucap Siska kesal


"Siska, jauh sebelum kita disini mereka sudah kenal lebih dulu, dan sepertinya malah Bang Arif yang memgejar kak Ane" ucap Tia


"Gak mungkin, Bang Arif pasti akan jadi milikku. walaupun mereka kenal duluan tapi aku yang duluan terang - terangan menyatakan cinta." Siska yang tak mudah menyerah untuk mendapatkan cinta Arif


"Ya sudah, tapi ingat ya aku sebagai teman kamu, sudah memgingatkan" ucap Tia


Tia hanya bisa geleng - geleng kepala melihat teman nya benar - benar bucin sama Bang Arif, sampai gak bisa bedain mana cinta mana tidak.


Terdengar suara mobil Bu Imah memasuki pekarangan rumah nya, mendengar suara mobil Bu Imah, Siska segera berlari menghampiri Bu Imah


"Assalamualaikum tante...." sapa Siska


"Walaikumsalam Siska" jawab Bu Imah


"Bu...saya dengar Bang Arif sedanh dirawat di rumah sakit??" tanya Siska


"Iya Nak Sika" jawab Bu Imah


"Dirumah sakit mana ya bu?? kalau boleh Siska mau jenguk??" ucap Siska


"Maaf ya Nak siska bukan nya tidak boleh, tapi keadaan Arif belum memungkinkan untuk di jenguk. nanti saja ya kalau sudah memungkinkan" jelas Bu Imah


"Memangnya Bang Arif sakit apa ya Bu??" Siska yang kecewa tidak bisa menjenguk Bang Arif


Siska yang kaget mendengar Arif kecelakaan merengek ingin tau Arif di rawat dimana. tapi lagi - lagi bu Imah tidak mau memberitahu meninggalkan Siska d laur.


"Kenapa lagi kamu datang - datang cemberut gitu" tanya Tia


"Bu Imah sepertinya menyembunyikan kondisi Bang Arif, aku tanya dia dirawat dimana tapi Bu Imah tidak menjawab. aku kan jadi kesel. gerutu Siska


"Apa kondisinya serius ya? sampai di rahasiakan gitu?" sahut Tia


" Semoga aja tidak, aku gak mau Bang Arif kenapa - napa?" ucap Siska penuh harap


****


"Kak Ane...." sapa Alan


"Kamu disini Lan" jawab Ane


"Iya kak, ini Alan bawakan makanan buat Kak Ane sama Bu Imah." ucap Alan memberikan makanan.


"Terimakasih ya Lan, tapi mama sudah pulang tadi." ucap Ane


"Malam ini Kakak menani Bang Arif sendiri?" tanya Alan

__ADS_1


"Iya" Ane mengangguk


"Alan temani ya Kak, Alan tidak tega Kak Ane sendiri menjaga Bang Arif" ucap Alan


"Gak usah Lan, Kak Ane bisa kok, lagian besok kamu kerja kan?? udah kamu pulang aja gak papa" jawab Ane


"Gak kak, malam ini Alan temani Kak Ane di sini." tegas Alan


"Ya sudah kalau itu mau kamu" jawab Ane


"Sebenarnya, Alan dirumah pun percuma Kak, pikiran Alan disini." ucap Alan


"Alan....berhenti menyalahkan diri kamu sendiri, ini sudah Takdir. dan saat Bang Arif memutuskan untuk menyelamatkan kamu, pasti Bang Arif ingin kamu hidup dengan baik. jadi lupakan perasaan bersalah itu" nasehat Ane


Walaupun hati Ane sebenarnya juga rapuh tapi dia berusaha menasehati Alan agar tidak larut dalam penyesalan.


Ane tau seperti apa suaminya. suaminya pasti akan menolong siapa pun orang yang membutuhkan pertolongan nya termasuk memilih mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi Alan.


Ya, Arif adalah Polisi Goodboy, selalu mengutamakan orang lain di atas kepentingan pribadinya. seperti itu lah keseharian Arif dalam bertugas.


***


"Viko..."


"Norma??" jawab Viko lirih


"Vik...beberapa hari ini aku mencoba menghubungi Arif kenapa tidak bisa?? apa sekarang dia ada di kantor??" tanya Norma


"Ada perlu apa memcari Arif" Viko balik tanya


"Vik aku mohon, panggilkan Arif. ada yang mau aku bicarakan dengan Arif" ucap Norma


"Arif sudah menikah, sebaik nya kamu lupakan Arif" nasehat Viko


"Iya aku tau, tolong panggilkan dulu aja Vik. cuma bentar aja. tolong pertemukan aku dengan Arif" mohon Norma menyatukan kedua tangannya.


"Arif gak dikantor" jawab Viko singkat


"Arif dimana?? Apa dirumah nya?? kalau aku kesana gimana ya??" ucap Norma


"Aku sarankan jangan, Arif sudah punya istri hargai perasaan istrinya" tegas Viko


"Aku hanya mau bicara sebentar, aku gak akan macem - macem kok" ucap Norma menyakinkan


"Apa yang mau kamu sampaikan pada Arif, katakan saja padaku nanti akan aku sampaikan kalau bertemu Arif." ucap Viko


"Aku harus langsung bicara sendiri dengan Arif Vik, tolong aku Vik" rengek Norma


"Percuma Arif tidak bisa kamu temui" ucap Viko

__ADS_1


"Tolong aku sekali ini saja Vik" Norma menyatukan kedua tangan nya


"Arif tidak bisa kamu temui, dia sedang ada dirumah sakit" ucap Viko


__ADS_2