Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 177


__ADS_3

"Jadi Nia datang kesekolah kamu?" Dokter Sigit tercengang dan membulatkan matanya tangannya mengepal menahan emosi yang membuncah


"Apa yang wanita itu katakan?"


"Dia bilang ingin bertemu dengan papa karena papa sudah meninggalkan dia dan adik Tasya yang saat ini ada didalam kandungnya" Tasya terisak


"Adik Tasya?" Dokter Sigit membulatkan matanya


"Apa bener yang dikatakan wanita itu pa? apa ini penyebabnya mama pergi dari rumah ini?"


"Sayang, dengarkan papa ya! lain kali kalau dia datang lagi menemui kamu, jangan dihiraukan."


"Jawab dulu pa? apa dia penyebab mama pergi? apa benar dia hamil anak papa?" cerca Tasya


"Tasya maafkan papa nak, papa memang sudah melakukan suatu kesalahan. papa sudah menghianati mama dan sekarang mama minta pisah dari papa"


"Papa, kenapa papa lakukan itu? apa kurangnya mama? kenapa papa tega menyakiti hati mama? apa papa lupa kebaikan yang sudah mama lakukan untuk kita? apa papa lupa bagaimana mama berjuang untuk bisa membuat kakak menerima kita? kenapa pa? kenapa? kenapa papa setega itu sama mama. apa salahnya mama?" tangis Tasya pecah dan berlari keluar


"Nia" Dokter Sigit menggebrak meja didepamnya melampiaskan emosi yang membuncah


Dokter Sigit kembali membuka blokiran. nomer Nia dan menghubungi Nia


"Akirnya kamu menghubungi aku juga mas" ucap Nia saat mengangkat telpon dari Dokter Sigit tanpa berbasa-basi lagi


"Sudah gila kamu ya? kenapa kamu datang kesekolah putriku?" Dokter Sigit dengan suara meninggi


"Iya aku memang susah gila. aku gila karena kamu mas, kamu yang sudah membuat aku gila, kamu yang sudah membuat hidupku hancur, kamu sudah merusak semua apa yang aku miliki" tangis Nia kembali pecah


"Sekarang kamu dmn? kita ketemu sekarang!" ucap Dokter Sigit


"Aku ada dihotel Pelangi kamar nomer 303"


Dokter Sigit segera menutup telpon dan dengan penuh amarah mengarahkan mobilnya menuju hotel tempat dimana Nia berada saat ini


Tok.. tok..


Dokter Sigit mengetuk pintu


Klek


Nia membuka pintu dan tersenyum menyambut Dokter Sigit


Dokter Sigit langsung masuk tanpa membalas senyum dari Nia dan melihat tajam ke arah Nia


"Aku tidak menyangka kamu akan senekat ini, bukankah aku sudah mengatakan jangan pernah temui aku lagi. tapi apa yang kamu lakukan drama apa lagi yang kamu mainkan? dengan mengatakan pada Tasya kalau kamu hamil?"


"Drama mas bilang? aku tidak sedang melakukan sebuah drama tapi aku memang hamil mas! saat ini aku mengandung anak kamu"


"Bagaimana bisa kamu yakin itu anakku, sedangkan kamu masih mempunyai suami. bisa saja kan itu anak suami kamu?"


"Tidak Mas, semenjak aku dekat dengan kamu. aku dan mas Alan tidak pernah lagi berhubungan. cuma dengan kamu aku melakukannya. ini anak kamu. dan kamu harus bertanggung jawab?"

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu pikir aku akan percaya? aku tidak percaya itu anakku, sebaiknya kamu segera pergi dan jangan pernah muncul didepanku lagi!"


"Aku tidak akan pergi, sebelum mas Sigit bertanggung jawab! kamu tidak akan bisa lari dari tanggung jawab mas!"


"Tanggung jawab? huh.. kamu pikir dengan kamu mengatakan kalau anak dalam kandangan kamu anakku, aku mau menikah dengan wanita seperti kamu? tidak Nia. aku tidak mau menikah dengan wanita seperti kamu?"


"Kamu keterlaluan mas, kamu jahat!"


"Bukankah dari awal kita melakukan aku tidak pernah menjanjikan apa-apa sama kamu? kita melakukan atas dasar saling membutuhkan jadi kenapa sekarang aku harus menikah dengan kamu? suatu kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mengenal wanita seperti kamu! karena kamu aku harus kehilangan istri yang sangat aku cintai."


"Aku tidak perduli dengan semua itu, apapun yang mas Sigit katakan aku tetap mau mas Sigit bertanggung jawab, atau aku akan terus mendatangi Tasya ke sekolahnya"


"Wanita jal*ng, tidak tau diri" Dokter Sigit emosi dan memegang kuat rahang Nia hingga Nia kesakitan


"Berani kamu melibatkan Tasya, aku akan_"


"Akan apa? silakan lakukan apapun semau kamu, tapi aku pastikan aku akan terus mengganggu Tasya" ucap Nia membalas tatapan tajam Dokter Sigit dan mencoba melepaskan tangan Dokter Sigit yang masih mencengkram rahangnya


***


Sementara Tasya dengan perasaan gundah menuju rumah kakeknya mencari keberadaan Dokter Anggun


"Kek sebenarnya Mama kemana? kenapa mama juga tidak ada disini?"


"Mamamu sekarang ada di Semarang. rumah sakit yang dulu kakek percayakan pada papamu sekarang dikelola Anggun sebagai anak kakek. dan karena Anggun dan papamu akan berpisah rumah sakit itu sekarang dipegang lagi sama Anggun"


"Tidak kek, Tasya tidak mau papa berpisah dengan mama. Tasya menyayangi mama kek!" tangis Tasya pecah


"Kek maafkan papa ya kek, maafkan papa, Tasya tidak mau kehilangan mama kek, Tasya tidak mau kek"


"Maafkan kakek ya Sya, tapi kakek juga tidak rela anak permainan kakek satu-satunya disakiti oleh papamu"


***


Dengan perasaan gundah Tasya pergi kerumah sakit mamanya dan ingin berupaya untuk membujuknya agar bisa kembali bersama dengan papanya.


"Sus, apa saya bisa bertemu dengan mama saya Dokter Anggun?" tanya Tasya pada seorang perawat


"Oow adik ini anak Dokter Anggun?"


"Iya Sus, apa mama ada?"


"Ada dek , mari saya antarkan keruangan Dokter Anggun"


Tasya berharap dengan dirinya menemui Dokter Anggun bisa merubah keputusan Dokter Anggun untuk berpisah dari papanya.


Namun seperti kesempatan itu sudah tidak mungkin lagi. Dokter Anggun sudah tidak mau memberikan kesempatan kedua untuk papanya.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk"

__ADS_1


"Mama" Tasya berlari memeluk Dokter Anggun


"Tasya sayang, bagaimana bisa kamu sampai sini? Tasya sama siapa?" Dokter Anggun melihat sekeliling


"Tasya sendiri ma"


"Sendiri? kamu kesini sendiri? ini kan jauh Sya, bagaimana bisa kamu kesini sendiri?"


"Tasya kangen sama mama. Tasya ingin bertemu dengan mama. mama sudah lama tidak pernah pulang?"Tasya menengadahkan wajahnya menatap Dokter Anggun dan mengeratkan pelukannya


"Maafkan mama ya sayang, mama salah karena tidak mengubungi kamu. mama hanya ingin berpikir dulu, karena itu mama tidak menghubungi kamu sayang"


"Tasya sudah tau apa yang telah papa lakukan sama mama, Tasya juga marah dan kecewa dengan papa ma. papa sudah keterlaluan" tangis Tasya


"Apa papa sudah menceritakan semuanya pada Tasya?"


Dan Tasya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban, kembali memeluk Dokter Anggun


"Lalu dari mana Tasya mengetahui semuanya?"


"Perempuan itu datang kesekolah Tasya"


"Apa? dia kesekolah kamu?" Dokter Anggun kaget dan melonggarkan pelukan Tasya untuk menatap wajah Tasya


"Iya ma, dia kesekolah dan mengatakan kalau dia hamil anak papa"


"Hamil? ja-jadi dia hamil?" Mata dokter Anggun berkata-kata


"Iya ma, tapi Tasya tidak mau punya adik dari wanita itu ma, Tasya hanya mau mama sebagai mama Tasya" tangis Tasya kembali pecah


"Sayang, papamu sudah sangat melukai hati mama, mama juga sebenarnya tidak ingin berpisah dari kamu Sya, kamu tau kan, mama sangat menyayangi kamu. tapi apa yang sudah papa lakukan tidak bisa mama maafkan. apalagi ada bayi yang tidak berdosa didalam rahim wanita itu. kasian anak yang tidak berdosa itu, jika papa tidak bertanggung jawab Sya" terang Dokter Anggun


"Tapi kalau mama berpisah dari papa, itu sama halnya kita juga akan berpisah ya ma?" tanya Tasya menundukkan kepalanya


"Sayang, maafkan mama ya nak, tapi mama juga tidak punya pilihan lain. papa kamu secara tidak langsung sudah tidak menginginkan mama sebagai istrinya. dengan papa berselingkuh dan mempunyai anak dari wanita lain, itu membuktikan kalau papa tidak menyayangi mama Sya"


"Tapi Tasya menyayangi mama"


"Mama juga sayang sama kamu Sya, tapi ini terlalu rumit untuk mama jelaskan. tapi mama percaya nanti jika Tasya sudah dewasa. Tasya akan mengerti kenapa mama tidak bisa kembali bersama papa" ucap Dokter Anggun membelai pipi Tasya lembut.


Hatinya seperti tersayat harus berpisah dengan Tasya seperti ini. Dokter Anggun memang hanya ibu tiri bagi Tasya. tapi ikatan diantara keduanya sangatlah kuat. dan mereka saling menyayangi.


"Ma, malam ini ijinkan Tasya bermalam dirumah mama ya?"


"Iya sayang, tapi sebaiknya kamu telpon papa dulu. papa pasti kawatir karena kamu pergi tidak pamit"


Dan bener saja, Dokter Sigit saat ini sedang mencari-cari Tasya kerumah teman-teman Tasya, tapi tidak satu pun ada yang mengetahui keberadaan Tasya saat ini.


Dokter Sigit merasa sangat frustasi, Dokter Anggun pergi dan menggutnya cerai sedangkan Nia terus saja menekan untuk dinikahi.


Sekarang Tasya pergi meninggalkan rumah karena marah setelah mengetahui apa yang telah dilakukannya dengan Nia.

__ADS_1


__ADS_2