Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 186


__ADS_3

"Be-begini yah, ayah kan sudah mengetahui kalau Nia dan Mas Sigit saat ini kesulitan untuk mencari pekerjaan karena mantan istri Mas Sigit membujuk seluruh pihak rumah sakit untuk tidak memperkerjakan kami. jalan satu-satunya bagi kami adalah mendirikan klinik. dan itu butuh modal yang lumayan besar yah."


"Lalu apa hubungannya dengan sawah kita?" tanya pak Karsa


"Kami butuh model yah" ucap Nia


"Bukankah itu tanggung jawab Dia sebagai laki-laki?"


"Masalahnya Mas Sigit sekarang ini sudah tidak punya apa-apa lagi yah, semua hartanya sudah diatas namakan anaknya"


Pak Karsa yang tidak ingin menanggung malau lantaran kelakuan anaknya terpaksa menuruti permintaan Nia dengan syarat, mereka harus segera menikah lebih dulu.


Hal ini pun disampaikan kepada Dokter Sigit, perihal persyaratan pak Karsa yang akan memberikan mereka modal membuka klinik dengan syarat harus segera menikah.


Akhirnya Dokter Sigit bersedia menikah dengan Nia. dengan persyaratan dibuatkan klinik bersalian.


Selama acara pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan mereka, Dokter Sigit yang kesana ditemani kedua orang taunya yang sangat terlihat tidak menyukai Nia sebagai menantu menggantikan Dokter Anggun.


"Silakan Bapak, ibu diminum dulu tehnya" ucap Bu Iin terhadap orang tua Dokter Sigit


Tapi kedua orang tua Dokter Sigit hanya diam tak menjawab. bahkan tidak berniat untuk meminum minuman yang telah mereka suguhkan


"Jadi demi wanita seperti ini kamu meninggalkan istri seorang Dokter, cantik dan kaya seperti Anggun? bagaimana aku bisa melahirkan anak sebodoh kamu" ucap Ibu Sigit didepan Nia dan calon besannya


Nia hanya diam tak menanggapi, meskipun hatinya terasa sakit

__ADS_1


"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" ucap pak Karsa mengalihkan pembicaraan


"Secepatnya" jawab Dokter Sigit singkat


"Beruntung sekali kamu, bisa menikah anak saya seorang Dokter spesialis kandungan yang pastinya tidak mungkin bisa kamu dapatkan tanpa cara yang licik" sahut mamanya Dokter Sigit


"Maaf bu, dari tadi saya mencoba diam. saya mencoba menahan sakit hati saya. tapi kami ini juga punya harga diri. saya sebenarnya juga tidak menginginkan kejadiannya seperti ini. saya tidak begitu saja bangga karena akan punya menantu seorang Dokter. kalau bukan kebodohan anak kami, kami juga tidak menginginkan semua ini. tapi sebenarnya bukan hanya anak kami yang salah. anak kami ini tidak melakukannya sendiri tapi dengan anak ibu" ucap Pak Karsa


"Itu saya yakin karena Sigit dijebak sama anak bapak. bapak taukan menantu kami sebelumnya seperti apa? dia begitu cantik, seorang Dokter, anak pemilik rumah sakit dan dari keluarga terpandang. bagaimana bisa jatuh ke tangan anak bapak kalau tidak dijebak. apa hebatnya anak bapak sehingga bisa membuat anak kami meninggalkan istri yang begitu sempurna?"


"Tapi saya tidak pernah menjebak mas Sigit tante, kami melakukan atas kesadaran kami. yang tante katakan tidak benar. saya tidak pernah menjebak mas Sigit" Nia terisak


"Nak Sigit apa benar anak kami menjebak kamu?" tanya pak Karsa


"Mas, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu di hadapan orang tuaku?"


"Hua.. Hua.. " tangis bu Iin pecah


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? apa kamu tidak mencintai anak kami?" tanya Pak Karsa


"Tidak Pak, saya memang tidak mencintai anak bapak. saya terpaksa menikah dengan Nia karena anak yang ada dalam kandungan Nia." terang Dokter Sigit


Pak Karsa mengepalkan tangannya menahan emosi, seandainya putri semata wayangnya tidak hamil mungkin dia akan menendang Dokter Sigit dari rumahnya


Pak Karsa menghela nafas kasar dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. tampak jelas guratan kesedihan diwajah Pak Karsa. sedangkan Bu Iin terus saja menangis, Bu Iin tidak bisa membayangkan kehidupan rumah tangga seperti apa yang nanti akan dijalani putrinya setelah menikah dengan Dokter Sigit, jika mertua dan suaminya tidak menghendaki pernikahan ini terjadi.

__ADS_1


Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, pil pahit pun terpaksa harus ditelan karena tidak mungkin baginya untuk membatalkan pernikahan putrinya meskipun hatinya ingin.


Bu Iin dan pak Karsa hanya bisa menerima penyesalan akibat ulah putrinya sendiri. Laki-laki sebaik Alan harus ditukarkan dengan laki-laki tak punya hati seperti Dokter Sigit.


Tampak jelas diingatkan pak Karsa dan Bu Iin awal pertama Alan mendatangi rumahnya dan meminta putrinya untuk dijadikan seorang istri. begitu sopan dan santun bahkan setelah pernikahan mereka Alan selalu memperlakukan Pak Karsa dan Bu Iin seperti orang tua sendiri. hampir setiap hari menghubungi untuk menanyakan kabar.


Begitu juga dengan papa dan mama Alan yang sangat menghargai keluarganya. tidak pernah memandang rendah keluarga pak Karsa meski mereka hanya orang biasa. sangat berbanding terbalik dengan keluarga Dokter Sigit yang memandang rendah mereka.


"Saya pegang janji kalian, setelah mereka menikah kalian sudah berjanji akan membangunkan klinik untuk putra Kami" ucap mama Dokter Sigit sebelum kembali pulang


****


"Nia.. Nia pernikahan apa yang akan kamu jalani dengan keluarga seperti itu? tidak ada satu pun diantara mereka yang menginginkanmu. kenapa kamu ini sangat bodoh. suami sebaik Alan kamu buang untuk laki-laki tua tidak tau sopan santun seperti itu" teriak bu Iin


"Maaf Bu, maaf. Nia yakin setelah nanti kami menikah semuanya akan baik-baik saja. ini hanya wujud syok sementara buk. tolong percaya sama Nia!"


"Percaya kamu bilang? bagaimana kami bisa percaya kalau kamu saja sebodoh itu. bahkan kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita. apa kamu tidak bisa melihat bagaimana sombongnya keluarga itu. entahlah nduk kehidupan seperti apa yang akan kamu jalani setelah ini." ucap Bu Iin


"Bagaimana bisa tanpa malu mereka meminta sebuah klinik, kamu tau kan sawah itu harta satu-satunya keluarga kita. jika memang kamu tetap mau menjualnya dan memberikan pada laki-laki seperti itu, ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi. kamu bukan anak kecil yang pasti bisa berpikir. setelah sawah itu nanti terjual kita sudah tidak punya apa-apa lagi" ucap Pak Karsa memberi penekanan pada putrinya


"Ayah, percaya ya kali ini semua akan baik-baik saja."


"Nia, Nia kenapa kamu bisa menjadi seperti ini. dulu kamu itu anak yang penurut dan manis. apa yang membuat kamu berubah seperti ini nak? sakit hati ibu nak melihat kamu seperti ini. jika kamu bukan anak ibu satu-satunya mungkin ibu udah tidak mau lagi mengakui kamu sebagai anak ibu. malu rasa nduk diperlakukan seperti ini" ucap Bu Iin dengan mata menerawang


^ Happy Reading ^

__ADS_1


__ADS_2