
"Amar, kamu mau kemana?" tanya Vita menghampiri
"Pulang" jawab Amar singkat
"Kita pergi makan dulu yuk, aku traktir mau gak?" tanya Vita
"Wah, aku mau dong ditraktir juga" sahut Ranu
"Iya ayo aja, asal Amar mau ikut" jawab Vita
"Ayo Mar, kita makan siang bareng. mumpung ada yang mau traktir" ucap Ranu merangkul bahu Amar
"Kalian pergi saja sendiri. aku tidak bisa! aku ada urusan" jawab Amar.
"Urusan apa sih Mar? sebentar saja kok" bujuk Ranu
"Maaf aku tidak bisa" ucap Amar menuju parkiran dan mengambil mogenya
"Tapi kita jadi makan kan?" tanya Ranu pada Vita
"Makan saja sendiri" jawab Vita ketus dan berlalu
"Yaelah gagal deh, makan siang gratisnya" gumam Ranu menggaruk kepalanya yang tidak gatal
***
Amar melajukan mogenya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Rara.
Di depan sekolah Salah satu SMA Negeri favorit yang ada di Surabaya, Amar memarkirkan mogenya di depan gerbang sekolah menanti Rara bubaran sekolah.
"Jam segini harusnya Rara udah pulang? tapi kenapa belum terlihat ya" gumam Amar melihat jam di tangannya.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, yang ditunggu terlihat sedang berjalan keluar beriringan dengan Rama teman satu sekolahnya.
"Rara" teriak Amar
"Kak Amar" gumam Rara mendekat
"Kak Amar ngapain disini?" tanya Rara
"Kenapa baru pulang? bukankah jam pulang harusnya lima belas menit yang lalu?" tanya Amar tanpa menghiraukan pertanyaan Rara
"Rara tadi sekalian ngerjain tugas bareng teman-teman" jawab Rara
"Ayo pulang" ucap Amar menarik tangan Rara
"Ta-tapi kak, Rara mau diantar pulang Rama" ucap Rara menoleh kebelakang dan melambaikan tangan pada Rama.
Rama pun melambaikan tangan dan hanya diam melihat Amar menarik tangan Rara. karena Rama mengira Amar adalah kakak Rara
"Pulang sama kakak! kamu ingat kan, apa yang pernah kakak katakan, kamu itu tanggung jawab kakak. mama dan papa kamu sudah menitipkan kamu sama kakak. jadi tolong nurut sama kakak jangan pernah pergi sama cowok. nanti kalau terjadi apa-apa kakak yang disalahkan" ucap Amar memakaikan helm untuk Rara
"Ayo naik" ucap Amar
Rara dengan wajah cemberutnya naik ke mogenya Amar. Amar sedikit tersenyum menyeringai dan melajukan moge kesayangannya kesebuah cafe dimana di sana ada berbagai macam es cream dan utamanya ea cream durian pastinya. es cream yang selalu bisa membuat Rara tersenyum.
Rara hanya diam dan mengekori Amar dibelakangnya.
"Awww... " teriak Rara memegang dahinya yang terbentur punggung Amar, lantaran Amar tiba-tiba berhenti.
"Sakit tau kak" gerutu Rara
"Yang salah siapa, yang disalahkan siapa?" jawab Amar sedikit tersenyum
"Kakak ngapain pakek berhenti mendadak?"
"Lha kamu sendiri ngapain, jalan dibelakang kakak terus?" Amar balik tanya
"Kakak" ucap Rara kesal
"Iya Rara" jawab Amar santai dan tersenyum
"Igh.. kakak nyebelin" ucap Rara cemberut
Amar duduk dan Rara ikut duduk di depan Amar sambil menunggu pesanan Amar, tak butuh waktu lama es cream yang mereka pesan pun datang
Rara hanya diam melihat es cream yang ada di depannya tanpa berniat untuk memakannya
"Em.. ternyata es cream durian enak juga ya, terasa banget duriannya" ucap Amar
Rara yang awalnya tak ada niatan untuk makan es cream tersebut, menelan ludah. berusaha untuk tetep tidak makan.
"Kakak mau nyogok Rara dengan es ya?" ucap Rara
__ADS_1
"Siapa juga yang mau nyogok. ini kebetulan saja kakak juga lagi pengen makan es cream. apa lagi cuaca lagi panas banget gini, emailnya paling pas kalau makan es cream durian" jawab Amar seraya menyendok es creamnya.
Lagi-lagi Rara menelan ludah
"Makan gak ya? kok sepertinya enak banget sih, kalau gak dimakan sayang banget. tapi kalau dimakan malu" batin Rara
"Kenapa cuma dilihat? gak mau? ya udah sini biar aku habiskan saja" jawab Amar mengambil es cream di depan Rara
"Tunggu" teriak Rara dan Amar yang masih mengangkat es creamnya terhenti dan kembali meletakkan di meja.
Dengan cepat Rara melahap es cream durian kesukaannya itu. Amar tersenyum melihat tingkah Rara
"Katanya gak mau?" goda Amar
"Siapa bilang gak mau, Rara hanya, hanya belum pengen saja tadi. tapi kalau sekarang sudah pengen" jawab Rara melahap es creamnya
Sementara Amar mengatupkan bibirnya menahan tawa.
"Masih marah sama kakak?" hanya Amar dan Rara menggelengkan kepala sebagai jawaban
Amar mengacak-acak rambut Rara.
"Kakak" gerutu Rara memanyunkan bibirnya
Amar tertawa dan memandangi wajah Rara yang cantik.
"Kamu cantik ra" batin Amar terkesima
Amar mengantarkan Rara pulang kerumah kakek dan meminta maaf karena pulangnya terlalu sore.
Kakek yang sangat percaya dengan Amar tidak mempermasalahkannya. hanya saja, ada sedikit rasa gelisah dihati kakek. karena kakek tau masalah percintaan kedua muda mudi ini tidak akan semudah itu, Amar terlihat sangat mencintai Rara, tapi kakanya mencintai Amar. dengan watak Rara yang selalu mengalah dengan kakanya. pasti suatu saat ini akan menjadi konflik untuk mereka.
"Huft... " kakek menghela nafas kasar
Tapi kakek juga tidak mau terburu-buru mengambil kesimpulan. apalagi saat ini masih terlalu dini untuk berpikir kearah sana. Rara yang baru menginjak SMA dan Amar juga yang baru masuk fakultas kedokteran. sepertinya bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah kekhawatiran kakek. biarlah waktu yang akan menjawab kegelisahan kakek. tapi kakek berdoa semoga hal yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi.
***
Dirumah. Dokter Sigit
"Jadi Nana sudah tau, ka-kalau mama kandungnya meninggalkan dia saat dia masih kecil yah?" tanya Nia saat mendengarkan cerita dari Pak Karsa yang baru saja mengunjungi Nana
"Iya, Nana sudah mengetahui hal itu" jawab pak Karsa
"Anak mana yang bisa menerima kenyataan kalau dirinya ditinggalkan saat masih kecil dengan alasan mencari kebahagiaannya sendir" jawab pak Karsa
"Nana pasti sangat membenci Nana ya yah?" ucap Nana dengan mata berkaca-kaca
"Kamu yang sabar ya nak, untuk menjadi lebih baik. terkadang seseorang memang dicoba terlihat dahulu. karena Alloh ingin melihat. kesungguhan seorang hambanya, apakah dia benar-benar istiqomah dengan tobat yang diucapkan" Bu Iin mencoba menghibur putrinya.
"Iya Bu, Nia faham. jikapun Nana marah, dia tidak salah. Nia memang pantas untuk dibenci" ucap Nia meneteskan air mata.
"Lalu bagaimana dengan suami kamu sekarang? apa kali kalian benar-benar baik?" tanya bu Iin
"Alhamdulillah bu, Rumah tangga kami sekarang baik. walaupun sekarang kami hidup dengan sederhana. tapi itu jauh lebih baik bu" jawab Nia
"Syukurlah, ibu senang mendengarnya" ucap bu Iin.
"Assalamu'alaikum" ucap Dokter Sigit yang baru selesai praktek
"Walaikumsalam" jawab semuanya
"Ada ayah dan ibu disini?" ucap Dokter Sigit
"Iya kami tadi dari rumah Nana dan sekalian mampir kesini" jawab pak Karsa
"Ayah sama ibu apa kabar?" tanya Dokter Sigit duduk disamping Nia
"Alhamdulillah kami baik, ayah dan ibu senang melihat kalian sekarang terlihat baik-baik saja. sebagai orang tua, kami sangat berharap rumah tangga kalian akan baik-baik saja dan jauh dari permasalahan lagi. suami istri itu harus bisa saling menyayangi dan saling memahami satu sama lain."pesan bu Iin
"Iya bu, saat ini kami sedang belajar untuk itu. kami ingin bisa selamanya membina rumah tangga kami hingga maut memisahkan." ucap dokter Sigit menggenggam tangan Nia
***
Dirumah Arif
"Bang, rumah kok rasanya sepi gini ya semenjak Amar kuliah. papa sama mama juga kok lama banget ya di Jakartanya?" ucap Ane yang sedang menonton televisi namun hanya mengganti-ganti Chanel.
"Iya, aku faham sayang. kenapa gak belanja saja sama wawa. biasanya kalian suka jalan-jalan" ucy Arif
"Wawa sekarang kerja bang, tapi besok sih katanya dia libur. besok Ane kerumah wawa ya bang"
"Iya besok main saja kerumah Wawa jika kamu kesepian dirumah sendiri" jawab Arif
__ADS_1
"Coba kita punya anak lagi ya bang, pasti tidak sepi seperti ini" ucap Ane
"Jujur sayang, abang itu masih merasa takut jika membayangkan saat kamu melahirkan Amar, abang tidak tega melihat kamu seperti itu" jawab Arif.
"Iya bang, Ane ngerti kok. lagian sekarang Amar juga sudah besar. masak baru mau punya adik hehehe.. " Ane tertawa dan Arif mencium kening Ane. mengusap lembut tangannya.
***
Keesokan hari Ane dan wawa jalan-jalan untuk menghilangkan kejenuhan
"Untung ada kamu Wa, kalau tidak aku benar-benar akan merasa kebosanan. dirumah sendirian" ucap Ane sambil memilih-milih Baju
"Kamu kenapa gak nyoba bekerja lagi saja?" ucap Wawa
"Bekerja? di usiaku sekarang? ya gak mungkinlah Wa. siapa yang mau memperkerjakan ibu-ibu seperti aku"
"Kalau tidak kamu bisa kan bekerja di perusahaan suami kamu"
"Pernah mikir kayak gitu juga, boleh deh nanti coba aku bicarakan sama bang Arif. aku suka merasa bosen kalau dirumah sendiri"
"O..iya, beberapa hari yang lalu Nia datang kerumahku"
"Nia? kamu serius? seperti apa dia sekarang? bagaimana kabarnya? dia baik-baik saja kan?" cerca Wawa
"Dia sepertinya baik-baik saja, tapi dia belum berubah, setiap bertemu dengan aku pasti ada maunya" ucap Ane
"Haha.. memang apa lagi yang dia mau dari kamu?" Wawa tertawa
"Jadi Nia itu datang menemui aku ingin menjodohkan Nana sama Amar" ucap Ane
"Hah? Kok bisa tiba-tiba berpikir untuk menjodohkan Nana dan Amar?"
"Sebenarnya Nana pun sudah mengatakan langsung kalau dia suka sama Amar, tapi aku bilang kalau aku tidak mau ikut campur dengan urusan percintaan Amar. karena aku menyerahkan sepenuhnya masalah percintaan pada Amar, aku tidak akan ikut campur. lagian Amar itu baru masuk kuliah, aku ingin Amar fokus dulu dengan kuliahnya. aku tidak mau membebani Amar dengan perjodohan-perjodohan seperti itu"ucap Ane
"Iya apa yang kamu katakan memang benar, kuliah kedokteran itu tidak mudah. jangan dibebani dengan hal seperti itu. kasihan Amar malah. dia berhak menentukan siapa wanita yang akan dicintainya" ucap Wawa
"Itulah yang membuat aku heran, bisa-bisanya Nia menemui aku untuk hal seperti itu. Amar itu baru semester awal masih lama untuk berpikir kearah sana
***
"Pa, apa papa punya fotonya mama?" tanya Nana pada Alan
"Papa tidak punya foto mama kamu, hanya saja jika kamu mau tau mama kamu, kamu bisa lihat dimedia sosialnya.
Setelah Alan memberitahu nama sosial media mamanya. Nana mulai mencari dikolom pencaharian. media sosial yang sudah lama tidak aktif. tapi masih sangat terlihat jelas foto-foto yang ada disana adalah jejak digital masa lalu mama kandungnya.
"Ja-jadi wanita ini mama kandung Nana?" Gumam Nana
"Kamu pernah ketemu dengan mama kamu?" tanya Alan
"I-iya pah, dia wanita yang sering menemui Nana saat berada di taman. dan kenapa disini ada foto bareng tante Ane, ada foto semua teman-teman tante Ane juga?" Nana melihat kearah arah dan mulai menerka-nerka
"Apa Tante Ane dan mereka semua itu sahabatnya mama kandung Nana pah?" ucap Nana menujuk Hapenya.
"Iya, Tente Ane dan semua teman tante Ane itu sahabat mama kamu, mereka satu kampus dulu. itu sebabnya kenapa dulu papa melarang kamu kuliah disana. sekarang kamu ngerti kan alasan papa melarang kamu kuliah disana?"
"Ja-jadi Tante Ane tau semua tentang apa yang mama kandung Nana lakukan? termasuk tau soal mama Nana yang seorang mantan narapidana karena mencoba membunuh suaminya?" tanya Nana membuak mulut dan menggelengkan kepalanya.
"Tante Ane dan om Arif saksi kisah perjalanan hidup papa sayang, mulai dari papa kenal mama kamu, papa menikah dengan mama kamu sampai saat mama kamu pergi dengan laki-laki itu, mereka yang selalu ada untuk menguatkan papa" ucap Alan
Nana terlihat gelisah dan mengusap wajahnya kasar dengan keduanya tangannya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Alan
"Hancur sudah semuanya" gumam Nana
"Apanya yang hancur sayang?" Alan tidak mengerti maksud perkataan Nana
"Hancur sudah harapan Nana untuk bisa mendapatkan cinta Amar pah" ucap Nana
"Apa maksud perkataan kamu Na?"
"Nana mencintaimu Amar pah, Nana ingin bisa bersama dengan Amar. tapi dengan kenyataan mama kandung Nana bukan orang baik, apa mungkin Nana masih punya harapan?" tanya Nana lesu
"Sayang, pikiran kamu terlalu jauh. saat ini bukan itu yang seharusnya kamu pikirkan. tapi kamu harus memikirkan tentang kuliah dan masa depan kamu. bukan memikirkan masalah percintaan. kamu belum saatnya memikirkan semua itu Nana" ucap Alan memberikan nasehat
Nana hanya diam kembali ke kamarnya.
Dikamar Nana merasa kesal, kenapa harus memiliki mama yang seperti itu.
^Happy Reading^
Jangan lupa like, coment dan Vote ya. dukungan kalian sangat berarti buat author terimakasih 🙏🥰😘😍
__ADS_1