
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Arif menghampiri Ane kekamarnya
Ane masih diam menatap dirinya dicermin, Arif melihat beberapa pakaian tergeletak diatas kasur.
"Kok masih belum siap, sebentar lagi busnya datang lho. gak enak kan sama yang lain kalau terlamabat hanya karena menunggu kita" ucap Arif melihat istrinya
"Ane gak jadi pergi" ucap Ane ngambek
"Lho kenapa? kok tiba - tiba istri Abang yang cantik ini ngambek tanpa alasan?" Arif berusaha menggoda Ane
"Lihat aja, baju dipakek tidak ada yang muat" Ane melirik baju - baju nya.
"Kenapa tidak dari kemarin kalau dari kemarin kan masih sempat beli yang baru" ucap Arif
"Kok malah nyalahin Ane sih" Ane memanyunkan mulutnya
"Siapa yang marah, tidak ada yang marah sayang. okay coba Abang bantu cari ya" Arif mencari - cari baju Ane yang sekiranya muat
"Ini ada sepertinya muat sayang" Arif melihatkan bajunya
"Gak mau, jelek" ucap Ane
"Ya sudah, ini sepertinya cukup bagus dan besar juga" Arif memperlihatkan bajunya lagi
"Gak mau, tidak senada dengan baju Abang" ucap Ane
"Emang harus senada ya" tanya Arif dengan polosnya
"Iya lah Bang, kita kan suami istri. masak ke kondangan warna bajunya tabrakan gak serasi" gerutu Ane
"Okay - Okay, Abang sepertinya ada kok baju batik yang senada sama baju kamu ini. bentar coba ya Abang cari" Arif membongkar - bongkar bajunya
"Akhirnya ketemu. lihat senada kan?" Arif menunjukan baju batiknya
Ane senyum melihat baju batik Arif yang tampak senada dengan gaun nya.
Mereka berganti pakain. sekarang mereka terlihat serasi dengan pakain yang senada.
"Gimana bisa berangkat sekarang nyonya Arif?" goda Arif
"Em, Okay" Rara mengandeng manja tangan Arif dan keduanya berpamitan pada bu Imah.
Sesampainya didepan kantor,mereka semua sudah bersiap menaiki Busnya. karena mereka memang sudah janjian akan berkumpul didepan kantor.
"Maaf ya, kalian jadi menunggu lama?" ucap Arif yang baru datang.
Sekilas Ane sempat melirik kearah Nina.
wanita yang tampak cantik dengan potongan rambut seleher dan mengenakan dres warna maroon senada dengan kemeja suaminya.
__ADS_1
Didalam bis, semua tampak sibuk bercakap - cakap dengan pasangan masing - masing.
Nina dan Gilang pasangan muda yang sedang dilanda cinta sepertinya juga tak mau kalah dengan pasangan yang lain.
terlihat sekali Gilang begitu mencintai Nina pun sebaliknya.
Gilang juga mudah sekali berbaur dengan rekan - rekan Nina yang lain
"Gilang, kata Nina kamu suka futsal ya, gimana kalau kapan - kapan tim kamu main lawan tim kami dari Polres?" usul Viko
"Boleh Bang, nanti aku coba bilang sama yang lain" jawab Gilang
"Terimaksih ya" bisik Gilang
"Terimakasih? untuk apa?" tanya Nina
"Sudah mengajak aku bersama rekan - rekanmu"
Mungkin terlihat sepele, tapi ini sangat berarti bagi Gilang diajak Nina menghadiri acara kondangan rekan kerjanya.
bisa dibilang ini seperti dirinya diakui didepan publik bahwa dia adalah suaminya.
"Kamu kan suamiku, sudah semestinya kan aku ke kondangan sama kamu" ucap Nina dan Gilang memegang tangan Nina penuh kehangatan.
Ane sekilas melihat Gilang yang memegangi tangan Nina dan melihat senyum yang teruntai dibibir Nina.
Ada perasaan lega menyelimuti hati Ane. ini berarti dirinya sekarang sudah bisa lega suaminya ke kantor. karena sepertinya Nina sudah tidak tertarik pada suaminya lagi. karena terlihat jelas dari pancaran matanya kalau dirinya mencintai Gilang.
"Syukurkah" batinnya
"Kenapa sayang?" tanya Arif
"Tidak apa - apa" Ane senyum
Setelah hampir empat jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai dikediaman Nia.
Susana yang tampak ramai, tamu undangan yang sudah hampir memenuhi rumahnya.
Ane melihat Wawa dan Yeni sudah duduk di sana.
"Haii.."Ane menyapa sahabat - sahabatnya
"Ane, akhirnya kamu sudah datang. tadi Nia nanyain kamu terus" ucap Yeni
"Iya, maaf aku agak telat jauh banget soalnya. jalannya juga lumayan banyak lubang jadi pelan - pelan sopirnya. kalian dari kemarin disini?" tanya Ane
"Iya kami dari kemarin sore udah disini."
"Gimana apa sudah ada kabar soal Nur?" tanya Wawa
__ADS_1
"Iya aku ikut mikir lho sekarang.Nur gimana?" sahut Yeni
"Belum ada, itu anak seperti ditelan bumi. entah bagaimana nasibnya sekarang" jawab Wawa
"Apa pihak kepolisian belum ada titik terang?" tanya Yeni
"Sepertinya keluarga Nur tidak membuat laporan ke kepolisian" ucap Ane
"Kenapa begitu? bukan kah dulu katanya mau buat laporan?" sahut Wawa
"Entahlah, apa mungkin karena akhirnya mereka tau perbuatan Nur. dan mungkin mereka kecewa dengan sikap Nur membuat mereka enggan mencari Nur lagi" ucap Ane
"Tapi kalau dipikir - pikir Nur sbenarnya juga keterlaluan, udah tau Saka pacar sahabatnya masih juga diembat. kayak gak ada cowok lain saja." ucap Wawa kesal
"Entah apa yang saat itu ada dalam pikiran Nur, sampai berani melewati batas seperti itu. tapi Saka juga lebih parah lagi. coba aja ketemu Saka pengen bejek - bejek rasanya" Yeni Emosi
Kekecewaan sahabat - sahabat Nur semakin menjalar, tidak pernah menyangka persahabatan selama tiga tahun akan dinodai seperti itu.
"Sudah - sudah kita doain saja semoga Nur baik - baik saja" ucap Ane
Selesai acara keempat sahabat ini berfoto - foto. harusnya kelima sahabat tapi karena Nur menghilang sekarang mereka tinggal empat sahabat.
"Ane aku mau bicara" Ucap Nia mengajak Ane kemarnya
Dikamar Nia menceritakan kalau dini hari tadi Saka menghubungi nya.
"Lalu apa yang Saka katakan?" tanya Ane
"Dia memohon agar aku tidak menikah dengan Alan dan memintaku menunggu nya"
"Kamu jawab apa?"
"Tentu saja aku menolaknya, aku juga mengatakan kalau saat ini Nur menghilang karena dirinya. aku meminta Saka untuk bertanggung jawab pada Nur. tapi Saka bilang tidak perlu ada yang ditanggung jawabkan. Nur menghilang tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Saka mengakui saat kami pacaran dirinya menghianati aku dengan Nur tapi Saka bilang Nur yang mengejarnya." ucap Nia menceritakan.
"Tapi kemungkinan Nur hamil kira - kira benar tidak?"
"Kalau dari apa yang Saka ceritaka, Dirinya memang sempat ketemu dengan Nur saat ketemu kita juga itu. disitu Nur memohon untuk tidak meninggalkan Nur saat Saka mengatakan ingin kembali sama aku dan memutuskan hubungannya dengan Nur" ucap Nia
"Apa iya hanya karena mau diputus, Nur sampai sefrustasi itu?" Ane heran
"Entah lah, mereka berdua kan sama - sama tidak bisa ditebak. karena sama - sama suka bohong. jadi aku tidak terlalu menganggap serius omongannya.
Ane berpikir apa mungkin Nur seperti itu? apa cinta bener - benar membuat Nur melupakan semua orang yang menyayanginya?
Ane tidak pernah menyangka cinta membodohkan pikiran Nur.
sampai mrninggalkan orang tua yang merawatnya dari kecil.
__ADS_1
^ Happy reading^