
Abah yang awalnya menyetujui hubungan antara ustadz Guntur dan Nur, kini menentang dan menjadikan masa lalu Nur sebagai alasan untuk menolak rencana ustadz Guntur yang akan mengkhitbah Nur.
Acara tinggal menghitung hari tapi sekarang rencana itu belum ada kejelasan apakah bisa terlaksana atau tidak. mengingat Abah belum mau memberi restunya untuk ustadz Guntur dan Nur.
Kali ini seperti menelan pil pahit, Nur harus menerima kenyataan yang cukup menyakitkan. awalnya Nur sudah memupus hatinya untuk tidak menerima pinangan dari ustadz Guntur, tapi dengan dengan penuh pertimbangan Nur kembali membuka hatinya dan menyakini kalau ustadz Guntur adalah jodohnya. namun sekarang saat hatinya sudah mulai terbuka, dirinya harus menghadapi penolakan dari Abah.
"Assalamu'alaikum Nur, Abah berpesan katanya kamu disuruh menemui Abah diruang kerja Abah" ucap santriwati
"Abah? menyuruhku menemuinya?" ucap Nur
"Iya, Abah menyuruhmu segera kesana"
"baiklah, terimakasih ya" ucap Nur segera keruangan Abah
Dengan perasaan gundah, Nur melangkahkan kakinya keruangan Abah, sepertinya kali ini Nur tau kenapa Abah memanggilnya. ini pasti ada kaitannya dengan rencana ustadz Guntur yang akan mengkhitbahnya. karena ustadz Guntur kemarin ustadz Guntur sudah memberitahu dirinya tentang penolakan Abah. meskipun ustadz Guntur tetap menyuruhnya untuk kuat karena ini adalah salah satu ujian yang harus mereka lewati.
Ujian yang pastinya tidak mudah karena masa lalu Nur yang kelam membuatnya harus mengalami semua ini. tapi dirinya juga memaklumi karena sebagai orang tua pastinya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Tok.. tok..
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam"
Nur masuk dan berdiri di depan meja Abah menunggu Abah mempersilahkan duduk
"Duduk Nur" ucap Abah matanya melihat kursi di depannya. mengisyaratkan agar Nur duduk disitu.
"Terimakasih bah" Nur duduk
"Apa kamu tau kenapa Abah menyuruhmu datang ke sini?
"Mungkin saya tau bah, kemarin ustadz Guntur sudah menceritakan kepada saya tentang Abah yang merubah keputusan Abah untuk merestui kami. tapi saya tidak menyalahkan Abah, saya faham dengan keputusan Abah untuk tidak merestui kami" ucap Nur berusaha tegar
"Baguslah kalau kamu mengerti" ucap Abah dan menarik nafas dalam
"Masa lalu saya memang kelam dan masa lalu saya tidak dapat dibenarkan. apapun alasannya masa lalu saya memang salah dan buruk Abah. tapi saya sudah bertaubat Abah, Alloh sudah memberi saya teguran atas dosa-dosa saya dimasa lalu. InsyaAlloh sekarang saya benar-benar sudah berubah Abah" ucap Nur dengan mata berkaca-kaca
"Alhamdulillah kalau kamu memang sudah bertaubat, Abah ikut senang mendengar kamu sudah bertaubat. sebagai sesama muslim dan sebagai seorang guru Abah senang mendengar perubahan kamu, Abah pun melihat selama kamu belajar ilmu agama disini. kamu sangat khusyuk dan sangat patuh tapi sebagai seorang ayah. maaf ndok Abah tidak bisa merestui kalian untuk menikah. jujur saja Abah menginginkan Guntur mempunyai pendamping yang sholihah dan bisa mendukung Guntur dalam berdakwah."
"Saya faham bah, saya memang bukan wanita yang cukup baik untuk mendampingi ustadz Guntur" ucap Nur
"Maafkan Abah ya Nur, bukan maksud Abah untuk tidak mempercayai taubatan yang kamu lakukan. Abah percaya kamu sudah berubah dan Abah mendoakan semoga kamu menemukan jodoh yang baik yang bisa membawamu kedalam kebaikan." ucap Abah
"Iya bah, Nur faham dan Nur mengerti maksud Abah. Abah Nur akan pamit pulang. karena jika Nur disini mungkin akan sulit bagi ustadz Guntur untuk berhenti berharap dari Nur" ucap Nur
"Nur, maafkan Abah ya nduk! Abah benar-benar tidak bermaksud seperti ini. tapi Abah hanyalah seorang ayah yang ingin anak-anaknya mendapatkan jodoh yang terbaik. apalagi kamu tau, Guntur dari kecil tumbuh dewasa tanpa didampingi seorang ibu. karena ibunya sudah lebih dulu dipanggil Alloh. karena itu Guntur sering kali berpikir tidak dewasa" ucap Abah
"Iya Abah, Nur faham dan Nur mengerti. Nur juga seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Abah tidak perlu lagi menjelaskan! Nur sudah tau apa yang harus Nur lakukan. sekali lagi tolong maafkan Nur Abah. Nur pastikan besok pagi Nur sudah tidak ada lagi disini"
Kini air mata yang sedari tadi ditahan sudah tak mampu lagi untuk ditahan, Nur keluar dari ruangan Abah dengan air mata membanjiri pipinya.
Para santriwati melihat Nur keluar dari ruangan Abah dengan deraian air mata.
Hal ini pun sampai ke telinga Fatimah.
__ADS_1
"Apa benar yang kalian katakan? kalau Nur keluar dari ruangan Abah dan menangis?" tanya Fatimah kepada santriwati
"Iya Fat, tadi kami melihat Nur berlari dari ruangan Abah dengan menangis dan kembali ke kamarnya." jawab santriwati
"Kalian tau gak kenapa Nur menangis?" tanya Fatimah
"Kalau itu kami tidak tau, cuma yang pasti tadi kami sempat mendengar Abah menyebut nama ustadz Guntur"
"Bukankah mereka mau menikah ya? sepertinya Abah juga merestui mereka, tapi kenapa tiba-tiba Abah sepertinya berubah pikiran ya" Ucap santriwati
"Sudah-sudah kalian ini malah bergosip saja" ucap Fatimah
Fatimah mencoba mencari tau dengan pergi kekamar Nur
"Assalamu'alaikum" Fatimah masuk kekamar Nur
"Walaikumsalam" Nur menyeka air matanya.
"Nur kamu kenapa?" tanya Fatimah duduk disamping Nur
"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa" jawab Nur mencoba tersenyum
"Tadi anak-anak bilang katanya kamu keluar ruangan Abah dengan menangis, memangnya ada apa? apa ada hubungannya dengan rencana pernikahan kamu dan ustadz Guntur?" tanya Fatimah
"Tidak kok, kamu tidak perlu khawatir. aku baik-baik saja. sungguh aku baik-baij saja" jawab Nur tidak ingin terlalu banyak bicara
Fatimah merasa sedikit kesal dengan Nur yang selalu tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Nur aku hanya penasaran sama kamu, kamu dulu pernah bilang ke aku, kalau kamu tidak tertarik dengan ustadz Guntur. tapi kenapa tiba-tiba kamu mau menerima pinangan dari ustadz Guntur? apa sekarang kamu mulai menyukai ustadz Guntur?" cerca Fatimah
"Nur, kamu kenapa setiap akau berusaha untuk menjadi sahabat kamu sepertinya kamu selalu menolak untuk berteman denganku" ucap Fatimah memasang wajah sedih
"Bukan, bukan seperti itu. hanya saja saat ini aku masih belum terbiasa menceritakan masalahku terhadap orang lain. karena tidak semua masalahku harus diketahui orang kan?" ucap Nur
"Baiklah kalau seperti itu. aku pergi dulu. kalau ada apa-apa kamu bisa cari aku" ucap Fatimah memegang tangan Nur
Nur pun senyum dan mengangguk.
Nur berdiri membuka lemari dan mengambil koper satu persatu Nur mengemas pakaiannya kedalam koper. selesai mengemas pakaian Nur melihat sekeliling kamar dan duduk disamping ranjangnya.
Bayangannya teringat pertama kali dirinya samapai ke pondok pesantren ini. begitu banyak keinginan dan harapan di pesantren ini. salah satunya keinginan untuk bisa hatam Alquran. tapi sekarang lagi-lagi dirinya harus pergi karena laki-laki. tapi kali ini dirinya pergi bukan untuk bersembunyi tapi dirinya pergi untuk memberi kesempatan pada ustadz Guntur agar bisa mendapatkan wanita yang sholihah dan tidak memiliki masa lalu kelam seperti dirinya.
"Huft.... " Nur menarik nafas dalam
"Semangat Nur, ini yang terbaik. sudah saatnya dirinmu kembali menjadi dirimu sendiri yang tentunya lebih baik. ini bukan apa-apa, aku harus menjadi wanita yang kuat demi Almira. iya aku harus sering-sering mengunjungi Almira agar dia bisa merasakan kehadiranku. dan sudah saatnya aku kembali menjadi seorang bidan" Gumam Nur senyum
Tanpa berpamitan dengan teman-teman yang lain Nur pergi meninggalkan pondok pesantren, rencana kepergiannya ini hanya Abah yang mengetahui. karena sengaja tidak ingin membuat yang gaduh dan orang lain bertanya-tanya terutama ustadz Guntur. Nur tidak ingin ustadz Guntur mencegah kepergiannya. biar bagaimana Nur menyadari apa yang diinginkan Abah itu demi kebaikan ustadz Guntur. dirinya memang tidak pantas menjadi istri dari seorang ustadz.
mungkin masa lalunya ini akan selalu menjadi penghalang bagi dirinya untuk membuka lembaran baru. laki-laki mana pun pasti akan berpikir dua kali jika ingin meminangnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang selama kurang lebih hampir enam jam, Nur sekarang sudah sampai kota Semarang, kota yang begitu indah dan penuh kenangan menyenangkan semasa kuliahnya.
Nur memutuskan untuk menetap di kota ini agar bisa sering-sering bertemu dengan Almira.
******
__ADS_1
Pagi ini Nur mencari sebuah rumah untuk dikontrak yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Saka. bukan karena masih berharap dari Saka, tapi semua itu dilakukan demi bisa dekat dengan putrinya Almira. sebagai seorang ibu yang sudah lama terpisah dari anaknya tentu Nur ingin bisa kembali dekat dengan anaknya.
Pagi ini Nur mendatangi rumah Saka
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" ucap Tika membuka pintu
"Mbak Nur" Tika terkejut kemudian segera memeluk Nur
"Maaf ya kalau kedatanganku mengganggu"
"Tidak mbak, tentu saja tidak. mana mungkin mbak Nur mengganggu. Tika malah senang mbak Nur kesini. masuk mbak, saya panggilkan Almira. pasti Almira juga senang lihat mbak Nur disini" ucap Tika mempersilahkan Nur untuk masuk
"Ada siapa Tika" tanya bu Risma yang mendengar ada tamu datang
"Nur.. kamu disini"
"iya maaf tante, kalau kedatangan Nur sudah mengganggu. Nur hanya mau bertemu Almira" Nur gugup
"Sama sekali tidak Nur, kenapa bicara seperti itu? tante senang kamu kesini. Almira tadi lagi dikamar jagain Farhan. Tika ajak Almira kesini" ucap bu Risma
Tika segera mengajak Almira keluar bertemu dengan Nur
"Almira coba lihat siapa yang datang? mama datang sayang" ucap Tika pada Almira.
Nur mendekati Almira dan tersenyum
"Boleh mama peluk Almira?" mata Nur berkaca-kaca
Almira mengangguk mengiyakan
Nur senang dan segera memeluk Almira. akirnya hari yang dinanti sekarang jadi kenyataan. Almira sudah tidak takut dengan Nur dan sepertinya sudah mulai luluh dengan kehadiran Nur.
Mereka duduk di kursi dan berbincang-bincang.
Nur pun menceritakan kalau sekarang dirinya kontrak didaerah yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.
"Jadi sekarang mbak Nur sudah tidak di pondok pesantren lagi?" tanya Tika
"Iya, aku ingin bisa kembali dekat dengan anakku Almira" ucap Nur
"Iya Nur, sudah sepantasnya memang seperti itu" ucap bu Risma
"Tika, aku boleh kan sering-sering mengunjungi Almira?" tanya Nur takut kalau Tika tidak berkenan. karena Tika sudah menganggap Almira sebagai anaknya
"Tentu saja boleh mbak, aku malah senang. mbak Nur bisa sering-sering mengunjungi Almira. lagi pula mas Saka kali ini juga berlayar cukup lama. Almira pasti akan senang kalau mamanya sering-sering kesini." Tika senyum
Terimakasih ya Tik, aku banyak berhutang sama kamu"
"Mbak jangan bicara seperti itu! kita akan besarkan Almira bersama. mbak Nur mamanya Almira dan aku menyayangi Almira seperti anakku sendiri mbak. jadi kita besarkan Almira sama-sama"
"Tika benar Nur, justru mama lah orang yang seharusnya minta maaf. karena mama kamu jadi jauh dari anak kamu. mama tau bagaimana rasanya menahan rindu untuk anak Nur. kepergian Sasa terasa pukulan yang berat untuk Mama.
^Happy Reading^
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya sayanxπ jangan lupa Like, coment dan vote ya. dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author ππππ₯°