
Sesampainya di Surabaya, Arif dan Ane mengantarkan Rara kerumah sang kakek. disana Arif dan Ane serta Amar disambut hangat oleh sang kakak.
"Kita makan dulu, kalian pasti capek. menempuh perjalanan yang begitu jauh" ucap Kakek Rara
"Terimakasih kek, tapi kami mau segera mengantarkan anak kami ke kosnya" jawab Arif
"Sebentar saja, makan tidak butuh waktu lama kok" ucap kakek
Ane dan Arif saling pandang dan menerima ajakkan sang kakek untuk makan bersama. kakek sangat senang cucu kesayangannya Rara mau tinggal bersama dengan dirinya. dan kakek juga senang dengan keluarga Arif yang sangat sopan dan terlihat keluarga yang hangat.
"Jadi Nak Amar kuliah Kedokteran?" tanya kakek
"Iya kek, Minta doanya ya kek. biar bisa jadi Dokter yang hebat seperti kakek dan tante Anggun" jawab Amar
"Pasti. kakek yakin kelak kamu pasti bisa jadi Dokter yang hebat. kakek percaya kamu ini sepertinya anak yang pintar" puji kakek
"Benar tu kek, kata mama juga gitu. mama bilang kalau kak Amar ini dari SD selalu juara kelas." sahut Rara
"Benarkah? wah hebat kamu Mar. generasi seperti kamu lah yang bangsa ini butuhkan. tapi ingat tetap jaga attitude yang baik. dan jangan sombong. jadi seorang Dokter itu kuncinya rendah hati dan sabar. berbagai macam watak pasien kita harus bisa menyelami. bisa memposisikan bagaimana perasaan pasien. jadi jangan mudah terpancing emosi. dan satu lagi jangan bawa masalah pribadi saat berhadapan dengan pasien" pesan kakek Rara
"Tu Mar, dengerin pesan kakek" sahut Ane
"Siap. InsyaAlloh Amar akan selalu mengingat pesan pesan kakek." jawab Amar
"Sering-sering kunjungi kakek ya, disini kakek cuma berdua sama Rara. kakek senang kalau kamu sering kesini. Rara juga ada temannya." ucap kakek
"Siap kek, Amar akan sering-sering kesini" jawab Amar tersenyum
"Tantenya Rara, Riri sama Fahmi juga tinggal disini kan kek?" tanya Ane
"Tidak, mereka dirumah mereka sendiri tapi jarak rumah mereka tidak terlalu jauh dari sini. dan satu minggu sekali mereka mengunjungi kakek disini"
Setelah berbincang cukup lama Ane dan Arif pamit untuk mengantarkan Amar ke kosnya.
Kos Amar yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus dan juga tidak terlalu jauh dari rumah kakeknya Rara.
__ADS_1
"Bagaimana menurut kamu, apa kamu suka dengan kosnya Mar?" tanya Arif
"Suka, sepertinya cukup nyama, luas, lingkungannya bersih dan letaknya tidak terlalu jauh dari kampus" jawab Amar
"Okey, nanti motor kamu biar ayah paket kan saja kesini ya" ucap Arif
"Terimakasih ayah" jawab Amar memeluk Amar
"Ayah aja ni yang dipeluk. bunda gak dipeluk?" ucap Ane manyun
"Bunda juga dong. terimakasih ya bun selalu mendukung Amar. muach.. muach.. " Amar mencium pipi kanan dan kiri Ane.
"Iya sayang, bunda dan ayah ingin yang terbaik untuk kamu. baik-baik disini! kuliah yang rajin, jadi Dokter yang bersahaja" pesan Ane
***
Dikantor
"Bang terimakasih ya kemarin sudah mengantarkan Rara sampai rumah kakeknya. semalam Papi telpon. senang banget sama Amar katanya. mengingatkan Papi saat masih muda" ucap Alan
"Siap bang"
"Kamu tau gak, aku itu suka sama anak kamu Rara. anaknya ceria banget, sopan juga" ucap Arif
"Terimakasih bang, tapi memang iya sih bang. secara usia memang Rara masih muda. tp secara sifat dia lebih dewasa ketimbang Nana. sepertinya Alan yang terlalu memanjakan Nana saat dia masih kecil. karena itu sekarang Nana ini justru jadi keras kepala. Alan kira dengan memanjakan Nana itu bisa membuat Nana lupa dengan ibunya. tapi Alan lupa justru apa yang Alan lakukan malah membuat Nana jadi pribadi manja dan selalu minta diutamakan. tapi untungnya adiknya sangat mengerti sifat Nana dan mau mengalah. Alan sebenarnya tau yang menjadikan alasan Rara sekolah ke Surabaya. itu semua karena Rara tidak ingin kakaknya merasa kalau dibandingkan dengan dirinya."
"Jadi Nana merasa dibandingkan dengan Rara gitu?" tanya Arif
"Iya bang, Jadi Nana ini sering bilang kalau kami lebih condong ke Rara. padahl menurut kami justru sebaliknya. justru kami ini lebih menjaga hati Nana. apalagi Anggun. biarpun Anggun hanya ibu sambung tapi caranya menyayangi dan mendidik tidak ada bedanya dengan menyayangi anak sendiri. bahkan kadang Nana lebih diutamakan ketimbang Rara. karena menjaga agar Nana tidak marah. karena Nana ini gampang emosi. beda sama Rara yang cenderung ngalah" terang Alan
"Kamu yang sabar, setiap anak itu sifatnya masing-masing. tidak bisa dibandingkan. yang penting sebagai orang tua harus bisa menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah" ucap Arif.
***
Satu bulan sudah Nana kuliah di kebidanan. tapi pikirnya sedang tidak fokus. lantaran harapannya untuk bisa dekat dengan Amar sepertinya semakin jauh.
__ADS_1
"Na, aku perhatikan sepertinya kamu tidak pernah serius dengan kuliah kamu" ucap Resti teman kuliah Nana
"Iya, sepertinya kali ini aku salah ambil jurusan" ucap Nana
"Terus kenapa dulu kamu kuliah disini?"
"Karena berharap dapat perhatian dari cowok yang aku suka, tapi ternyata aku salah memprediksi"
"Hahaha.. gila kamu, kuliah kok demi cowok. mentang-mentang orang kaya. mau apa aja bebas ya kayaknya. gak kayak aku, mau kuliah ini aja mesti jual kebun dulu ayah dan Ibukku" sahut Freya
"Benar kamu Fre, sama kayak aku. beda sama Nana yang mau apa aja pasti gampang. gak kuliah pasti juga gak apa-apa secara, mamanya pemilik rumah sakit terbesar disini. eh.. Na. nanti kalau aku udah lulus, boleh ya aku kerja dirumah sakit mama kamu" ucap Resti
"Aku juga ya Na hehe." sahut Freya
"Gampang kalau soal itu, asal kalian berdua ngerjain tugas-tugasku gimana?" ucap Nana
"Siap, gak masalah yang penting janji ya. begitu kami nanti lulus, pekerjaan kami dirumah sakit mama kamu" jawab Resti
"Okey" jawab Nana tersenyum
Semenjak itu, ulah Nana semakin menjadi. tidak pernah mengerjakan tugas karena semua dikerjakan oleh Resti dan Freya. bahkan Terkadang Nana tidak masuk kuliah dan bermain kerumah Ane dengan alasan tidak ada kuliah. tapi lagi-lagi kedua sahabatnya ini membantunya mengisi absen hadir.
Hingga suatu ketika saat ujian Nana sama sekali tidak bisa mengerjakan soal ujian yang ada di hadapannya. tentu saja ini mengundang kecurigaan para dosen-dosen disana. dan saat praktek Nana pun banyak sekali melakukan kesalahan.
"Nana, apa sebenarnya yang terjadi? kenapa nilai ujian kamu seperti ini? perasaan selama ini setiap ada tugas kamu selalu menyelesaikannya dengan baik. tapi kenapa hasil dari ujian tertulis dan praktek kamu seperti ini? ini sangat jauh dibawah rata-rata Nana" ucap Bu Helen dosen pembimbing Nana.
"Maaf Bu" jawab Nana santai
"Nana ibu sangat kecewa dengan hasil ujian kamu. ibu harap ujian berikutnya nilai kamu lebih baik. jika seperti ini lagi, terpaksa ibu akan panggil mama kamu. apa kamu tidak malu jika sampai ibu panggil mama kamu? ibu kenal baik dengan mama kamu. beliau pasti akan sangat kecewa jika tau nilai kamu seperti ini"
"Iya bu maaf. akan saya perbaiki"
"Ya sudah, silahkan pergi. ingat ya harus lebih baik." tegas bu Helen
^ Happy Reading ^
__ADS_1
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya terimakasih 🥰😘🙏