Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
TERTARIK


__ADS_3

Mendapat ajakan dari Irma sebenarnya Arif merasa malas, tapi Arif juga sadar kalau dalam bisnis makan malam bersama klien bukan hal yang aneh.


Dengan berat hati Arif menerima ajakan Irma umur makan malam bersama.


sekedar untuk menghargai ajakan dari PT. Sinar Jaya grup.


Di sebuah restoran setelah mereka memesan beberapa makanan mereka mulai membiarkan arah bisnis yang akan meraka jalankan.


"Pak Arif ini masih muda tapi hebat ya sudah menjabat sebagai Direktur Utama" ucap Irma yang terus menatap Arif


"Hanya kebetulan saja" jawab Arif


"Oya.. pak Arif ini selain bekerja ada hobby lain apa ya?"


"Tidak ada, pekerjaan sudah cukup menyita waktu jadi tidak ada waktu untuk memikirkan hobby"


"Tapi orang juga butuh hiburan lho pak, bekerja terus sepertinya juga tidak baik" ucap Irm


"Hiburan saya paling... "


"Ini pesanannya sudah siap pak" timpal Pelayanan memotong pembicaraan Arif


"Terimakasih" ucap Irma dan Arif


Sambil makan sesekali mereka berbincang ringan tentang pekerjaan.


Selesai makan Arif segera hergegas masuk kedalam mobil.


Tok.. tok..


Irma mengetuk kaca mobil Arif


"Apa apa ya?" tanya Arif membuka kaca mobilnya


"Begini pak Arif, saya bisa minta tumpangan tidak pak? gak tau kenapa mobilku tiba-tiba mogok "


"Bagaimana ya, saya buru-buru ini, kenapa tidak panggil taxi saja?"


Ditengah perjalanan hujan turun dengan sangat derasnya.


Irma menangkup kan


"Tolong sekali ini saja pak Arif, saya tidak terbiasa naik kendaraan umum soalnya pak"


"Ya sudah, silahkan masuk" ucap Arif yang terpaksa memberikan tumpangan pada Irma mengangkupkan tangannya kedinginan


"Hacih.. hacih... " Irma bersin


"Bu Irma kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saya alergi dingin"


"Itu dibelakang ada jaket kalau mau dipakai dulu"


Irma menoleh kebelakang dan mengambil jaket Arif. namun karena letaknya agak jauh, tangan Irma sulit untuk mengambil jaket yang ada dijok belakang.


Dan dengan sengaja Irma menempelkan dadanya pada tanggal Arif

__ADS_1


"Astaghfirullah" batin Arif


"Maaf saya tidak sengaja"


Arif hanya diam tak menjawab. pandangannya fokus menatap jalan yang hampir tak terlihat. karena derasnya air hujan


"Apa masih jauh rumah bu Irma?"


"Tidak kok pak, sudah dekat. sebentar lagi sampai" jawab Irma


"Biar lebih akrab bagaimana kalau panggil saya Irma saja pak"


"Maaf tapi lebih baik saya tetap pengobatan Irma karena tidak sopan kalau hanya memanggil dengan sebutan nama" jawab Arif yang sebenarnya sudah mulai risi dengan Irma yang terlihat jelas ingin menggodanya


"Ayolah pak, ini bukan dikantor. kita tidak perlu se formal itu kan?" Irma senyum


Arif tidak kembali tidak menjawab


"Itu didepan belok kanan pak rumah saya" Irma menunjuk sebuah rumah


"Yang ini" ucap Arif


"Iya"


Arif memasukkan mobilnya ke halaman rumah yang cukup luas dan terlihat bangunan tiga lantai yang cukup megah. menandakan pemiliknya adalah orang yang cukup kaya.


"Bagaimana Kalau mampir dulu pak? ngopi mungkin?"


"Maaf tapi saya benar-benar harus segera pulang. mungkin lain kali" jawab Arif


"Baiklah, semoga benar lain kali mau mampir ya" ucap Irma senyum.


***


"Assalamu'alaikum ma, pa" ucap Irma terlihat bahagia


"Walaikumsalam, anak mama baru pulang?"


"Iya ma, tadi makan malam dulu sama pak Arif Direktur utama PT. Anugerah


"Pak Arif? Oo iya papa ingat sekarang PT. Anugerah Direktur nya sudah berganti pada anaknya ya" timpal pak cahyo papanya Irma


"Papa kenal sama pemilik PT. Anugerah itu?"


"Ya lumayan kenal tapi tidak terlalu dekat, hanya pernah beberapa kali bertemu"


"Anaknya itu masih single atau tidak pah?" Irma penasaran


"Mana papa tau, tadi kan kalian makan malam bersama. kenapa tidak sekalian tanya"


"Malu lah pa" Ucap Irma senyum


"Kenapa tanya-tanya seperti itu? apa jangan-jangan kamu suka sama pak Arif itu?"


"Gimana ya pa, tapi pak Arif itu memang cukup tampan dan berwibawa. meskipun pembawaannya sedikit dingin tapi justru itu yang menjadi daya tariknya" Irma menceritakan dengan antusias


"Kalau kamu suka papa bisa mencarikan informasi"

__ADS_1


"Tidak usah pa, biar Irma sendiri yang berusaha. kayak Irma gak bisa usaha sendiri saja, sampai harus papa yang turun tangan" ucap Irma


"Tentu saja tidak seperti itu, tentu saja anak papa cukup bisa mendapatkan pujaan hatinya. laki-laki mana yang akan menolak perempuan secantik putri papa ini"


"Mama senang mendengar kamu mulai bisa membuka hati kamu lagi nak, setelah kepergian Dito beberapa tahun lalu sepertinya kamu tidak pernah membicarakan laki-laki dirumah."


Dito adalah kekasih Irma yang meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu akibat kecelakaan. Kepergian Dito yang terjadi secara tiba-tiba dihari pernikahannya membuat Irma sempat depresi dan tidak pernah lagi membuka hatinya untuk laki-laki lain. tapi hari ini melihat Arif yang sekilas mirip dengan Dito membuat hati Irma kembali bergetar.


***


Dirumah Arif


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam Bang" Ane mencium punggung tangan Arif


"Amar mana?"


"Sudah tidur bang, pulangnya malam banget bang?"


"Iya maaf ya, harusnya sudah pulang dari tadi. cuma tadi setelah penandatanganan kontrak, ada acara makan malam. abang mau nolak juga tidak enak" ucap Arif sembari membuka kancing kemeja dan melepas jam tangan nya.


"Berarti abang sudah makan malam?" Ane cemberut


"Iya, kanapa? kamu belum makan ya?" Arif melihat Ane


Dan Ane mengangguk mengiyakan


"Maafkan abang ya, harusnya tadi abang ngabarin kalau malam ini abang makan diluar" sesal Arif dan memeluk pinggang istrinya dari belakang.


"Ya gak papa Bang" Ane senyum memegang tangan Arif


"Ya sudah, biar abang temani Ane makan ya! Abang yang suapin deh"


"Benar ya, disuapin?"


Arif mengambilkan Ane makan dan menyuapinya. sesekali tampak mereka tertawa dan bercanda bersama.


"Bang.. boleh Ane tanya?"


"Iya, mau tanya apa?" Arif memperhatikan istrinya


"Begini, Ane percaya sama abang. tapi Ane ingin bertanya hanya untuk menyakinkan hati Ane agar Ane tidak berprasangka buruk"


Arif mengerutkan dahinya, belum memahami arah pembicaraan istrinya.


"Tadi saat Abang meluk Ane, kenapa Ane mencium bau parfum wa.. wanita?" ucap Ane ragu


"Masak sih?" Arif terkejut


"Abang tidak lagi bersama dengan wanita kan tadi?"


"Tadi abang memang makan malam dengan bu Irma. perwakilan dari PT. sinar Jaya grup yang tadi menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan kita. tapi sumpah sayang, abang tidak ngapa-ngapain" ucap Arif


Ane hanya terdiam dan kembali mengunyah makan yang ada di mulutnya.


"Ane, Ane percaya abang kan? tidak sedang berpikir macam-macam kan?" Arif melihat istrinya

__ADS_1


"Tidak abang, Ane hanya berpikir bagaimana caranya hanya dengan makan bersama, bau parfumnya bisa pindah ke baju abang"


^Happy Reading^


__ADS_2