
Brem.. brem...
Suara moge berhenti tepat didepan Didepan Dokter Anggun
"Hai Lan" ucap Dokter Anggun senyum
"Tasya, mama sepertinya harus pergi dulu" ucap Dokter Anggun
"Ma, Tasya mohon jangan ma. Tasya tidak mau Mama pergi sama om ini" ucap Tasya melihat Alan
"Om, Tasya mohon jangan pergi sama mama Tasya. jangan ambil mama Tasya" ucap Tasya dengan wajah memelas
"Om tidak mengambil mama Tasya, justru papa Tasya yang mengambil Istri dan mama dari anaknya Om" jawab Alan menatap sinis Dokter Sigit
"Ma-maksud om apa? apa, apa Om ini mantan suaminya tente Nia?"
"Kamu bisa coba tanya sama papa kamu" jawab Alan
"Pa, apa bener Om Alan ini mantan suaminya tante Nia?"
"Tasya sayang, papa kamu, memang benar merebut istrinya om Alan. seperti yang tasya tau. om Alan ini mantan suami dari mamanya Tasya yang sekarang. tapi kalau masalah mama dan om Alan tidak ada hubungannya dengan kejadian itu. kami bertemu secara tidak sengaja. dan Alhamdulillah kami merasa cocok. Tasya selama mama sayang Tasya, dan sampai kapanpun Tasya adalah anak mama, tapi jangan minta mama untuk kembali dekat dengan papa kamu. itu semua tak mungkin karena papa kamu sudah memiliki istri dan tante, tante juga sudah dekat dengan om Alan. bener kan Lan" ucap Dokter Anggun melihat kearah Alan
"Iya itu benar" jawab Alan senyum
"Maaf mas Sigit tapi saya harus pergi" ucap Dokter Anggun mendekat moge Alan, Alan segera mengambil helm cadangan dan memakaikannya pada Dokter Anggun
Dokter Sigit mengepalkan tangannya menahan emosi.
***
Dirumah makan
Setelah memesan beberapa menu makanan, Alan dan Dokter Anggun menikmati beberapa hidangan yang bersedia
"Em.. Lan, maaf ya sebelumnya. tadi, tadi aku terpaksa bilang kalau kita dekat karena aku tidak mau terus-terusan mas Sigit mengganggku lagi" ucap Dokter Anggun memainkan sendoknya
"Hahaha.. kamu ini, gitu aja pakek acara minta maaf segala. santai aja lagi. beneran pun juga tidak masalah" ucap Alan tertawa
"Tadi kamu bilang apa?" Dokter Anggun takut salah dengar
"E.. tidak, tidak bilang apa-apa, dimakan nanti dingin makanannya" ucap Alan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Alan hanya masih belum yakin dengan perasaan Anggun, Alan sadar diri siapa dirinya. yang hanya seorang anggota bintara polri, sedangkan Dokter Anggun pewaris tunggal sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar dan kekayaannya sudah tidak perlu diragukan.
"Oya kamu itu ternyata sepupunya Fahmi?" tanya Alan
"Kamu kenal sama Fahmi?" dokter Anggun tanya balik
"Ya kenal lah, dia kan pacaran sama adikku"
"Fahmi pacaran sama adik kamu? setau aku pacar Fahmi itu Riri" ucap Dokter Anggun mengerutkan dahinya
"Iya Riri itu adikku" jawab Alan sambil memasukkan sendok ke mulutnya
"What? serius? jadi Riri itu adik kamu? kenapa baru bilang sekarang?" Dokter Anggun membulatkan matanya
"Jadi aku itu membawa Nana kerumah sakit kamu saat itu, karena rekomendasi dari si Riri. Riri bilang ada dokter gigi yang sangat bagus dan disukai anak-anak. makanya aku kesana" ucap Alan
"Hahahaha.. Riri bilang gitu? kalau sangat bagus, ya aku sama lah seperti dokter gigi pada umumnya. tapi kalau disukai anak-anak sepertinya memang benar. jadi kebanyakan pasienku itu anak-anak, dan rata-rata mereka itu suka sama aku, gak tau kenapa. sampai ada yang bilang kalau aku ini bisa menghipnotis anak-anak" ucap Dokter Anggun tertawa
"Mungkin karena jiwa keibuan kamu dan sikap kamu yang lembut" jawab Alan menatap mata dokter Anggun membuat dokter Anggun salah tingkah.
***
"Apa maksud kamu? kamu pikir papa tidak ganteng?"
"Papa ganteng tapi sebenarnya lebih ganteng om itu, mungkin sekarang peluang papa untuk bisa kembali dengan mama Anggun sudah tidak ada lagi. mana mungkin mama Anggun mau kembali sama papa kalau ada laki-laki yang jauh lebih muda dan ganteng kayak om itu. papa sih diberi istri cantik, muda, kaya bukannya dijaga malah dicampakkan" gerutu Tasya melipat kedua tangannya didada
Dokter Sigit yang sedang menyetir mobilnya menjadi kesal mendengar apa yang barusan Tasya katakan.
Setelah mengantarkan Tasya pulang, Dokter Sigit kembali ke kliniknya
"Bagaimana apa tadi ada pasien yang datang?" tanya Dokter Sigit
"Mana ada mas, wanita hamil mana yang mau datang ke klinik seperti ini?" jawab Nia
"Kamu itu bisanya apa sih? mengeluh terus. padahal aku ini dokter kandungan terkenal, seharusnya kemana pun aku praktek pasien akan datang mencariku. tapi ini satu pasienpun tidak ada yang datang. semenjak sama kamu sepertinya aku ini menjadi sial. beda saat aku masih bersama Anggun. karirku bersinar, semua orang menghormati aku! tapi lihat apa sekarang? aku jadi sial karena kamu" ucap Sigit dengan nada tinggi
"Cukup mas, cukup" teriak Nia menggebrak meja
"Kenapa? kamu tidak terima? memang itu kan kenyataannya? kamu itu pembawa sial dalam hidupku. hidupku jadi susah semenjak kamu masuk dalam hidupku" teriak Dokter Sigit
Nia mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah memuncak.
__ADS_1
"Aku ingin kita berpisah. aku sudah tidak tahan hidup bersama kamu" ucap Dokter Sigit
"Tidak mas, sampai mati pun aku tidak akan pernah mau bercerai dari kamu" jawab Nia datar seolah tidak sakit hati
"Aku tidak perduli, aku akan segera mengurus perpisahan kita. mulai saat ini aku talak kamu" ucap Dokter Sigit berlaku
Mendengar kata "Talak" dunia Nia terasa runtuh, tangannya mengepal, matanya marah, nafasnya terasa berat.
Dengan cepet Nia mengambil gunting yang ada dimeja depannya. menggenggam erat gunting itu dan menatap gunting itu dengan nafas naik turun
Nia berjalan cepat dan "Jleb"
Dokter Sigit jatuh tersungkur, punggungnya bersimpuh darah dan tak sadarkan diri
Nia masih berdiri memegang gunting dan melihatnya tanpa ada rasa penyesalan telah menusukkan gunting dipunggung suaminya.
"Hahaha" Nia tertawa dan tiba-tiba meneteskan air mata menjatuhkan gunting dilantai dan menjatuhkan tubunya disamping Dokter Sigit
Nia tersenyum dan menangis secara bersamaan.
Perasaan benci yang selama ini dipendam seolah terlampiaskan dengan melihat Dokter Sigit yang terkapar tak berdaya. tapi dirinya juga bingung harus berbuat apa.
"Astaghfirullah, tolong..tolong.." teriak salah satu warga yang melihat Dokter Sigit bersimpuh darah didepan teras kliniknya dan Nia yang hanya terdiam duduk disamping Dokter Sigit dengan tangan bersimpuh darah.
Warga berbondong-bondong datang dan memangil ambulance serta menelpon polisi.
Betapa terkejutnya Alan dan Arif saat mendatangi TKP melihat Nia dan Dokter Sigit dalam keadaan seperti itu.
Alan sendiri yang memasangkan borgol ditangan Nia mantan istri yang sudah menghianati dirinya.
Tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya harus bertemu dengan mantan istrinya dengan kondisi seperti ini.
Dan Nia menyerahkan dirinya tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Kini hidupnya hancur, kata talak yang keluar dari mulut Sigit berhasil membuatnya gelap mata.
Berawal dari sebuah perselingkuhan membuat Nia kehilangan segalanya.
Dikantor Polisi, Alan memasukkan Nia kedalam sel tahanan bersama dengan tahanan wanita yang lain.
^Happy Reading^
__ADS_1