Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 232


__ADS_3

"Amar sini sayang, bunda mau bicara" panggil Ane


"Ada apa bun?" Amar duduk disamping bundanya


"Hari ini kamu tidak kerumah sakit? kok tumben jam segini masih dirumah?" tanya Ane


"Hari ini Amar tidak kerumah sakit bun, nanti jam 10 mau seminar di hotel HZ" jawab Amar


"Begini Amar, masalah kemarin bunda mau minta maaf. Sebenarnya bunda juga terkejut ada Nana disana. Bunda juga tidak menyangka kalau tante Nia akan mengajak Nana kesana. Karena setau bunda hubungan antara tante Nia dan Nana juga tidak sedekat itu" jelas Ane


"Iya bun, Amar paham. Amar tidak menyalahkan bunda kok" jawab Amar


"Tapi kemarin tiba-tiba kamu pulang karena ada Nana kan disana?" tanya Ane


"Jujur saja memang Amar masih males bertemu dengan Nana sih ma" Jawab Amar


"Tapi sayang, mulai sekarang, kamu harus bisa berdamai juga dengan Nana. Apa lagi sebentar lagi Nana itu akan jadi kakak ipar kamu, tidak lucu kan kalau kamu tidak akur sama kakak ipar, apa lagi kamu tau, Rara itu menyayangi kakaknya" ucap Ane


"Sebentar lagi? bunda lupa ya? Amar dan Rara kan sudah berakhir. tidak ada lagi sebentar lagi dan tidak ada lagi jadi adik ipar Nana" ucap Amar


"Ayah belum kasih tau kamu?" tanya Ane


"Kasih tau apa Bun?" tanya Amar mengerutkan keningnya


"Jadi kamu benar-benar belum tau? kamu dan Rara tidak saling menghubungi?"


"Ini bunda sebenarnya mau bilang apa sih bun? kok Amar jadi bingung gini?"


"Ayah kamu ini gimana sih, hal sepenting ini tidak segera kasih tau kamu. Ya sudah bunda aja yang cerita. Mungkin ayah lupa. Jadi kemarin Om Alan telpon telpon ayah. Dan bilang kalau Rara menerima lamaran kamu dan bersedia menikah dengan kamu setelah wisudanya"ucap Ane


"Apa bun? Amar tidak salah dengar kan bun? bunda tidak lagi bercanda kan?" cerca Amar bahagia dan tersenyum


"Tentu saja bunda tidak bohong, untuk apa juga bunda bohong" ujar Ane

__ADS_1


"Ya Alloh, ini Amar tidak mimpi kan? Rara benaran mau nikah sama Amar bun?" tanya Amar seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya


"Iya sayang, itu semua benar. Sebentar lagi kamu dan Rara akan menikah. Dan kalian akan menjadi suami istri, sepertinya kamu sayang banget ya sama Rara?" tanya Ane


"I-Iya bun" jawab Amar malu-malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kamu ini Mar, persis kayak ayah kamu. Seperti pesan bunda tadi sebaiknya kamu jangan terlalu membenci Nana juga. menikah dengan Rara adalah pilihan kamu, jadi sudah pasti kamu tau resikonya. Mau tidak mau kamu harus bisa menerima kalau Nana akan jadi keluarga kamu. Tidak baik kan kalau kamu sesama anggota keluarga bermusuhan?" ucap Ane


"Amar tidak bermusuhan bun, Amar hanya menjaga jarak agar Nana tidak kembali menyukai Amar. Jujur saja entah kenapa tapi Amar merasa kalau Nana itu belum sepenuhnya berubah. Bukan Amar suudzon, tapi dari cara Nana menatap Amar, itu membuat Amar tidak nyaman" jelas Amar


"Iya sih sayang, kemarin tante Yeni juga bilang seperti itu. Kalau cara Nana memandang kamu seperti masih menyimpan perasaan untuk kamu"


"Karena itu bun, Amar memilih untuk menjaga jarak dengan Nana. Jujur saja bun, Amar ini males dengan Nana karena setiap kali Amar ada masalah dengan Rara itu kayak semua karana Nana. Dan Nana ini selalu saja menjadi pahlawan untuk Rara."


"Terus gimana nanti kalau kalian sudah berumah tangga? Amar kamu harus membicarakan masalah ini sama Rara, Rara harus tau jika nanti dia menjadi seorang istri. Apapun masalah yang ada didalam rumah tangga itu, jangan sampai ada orang luar yang tau. Walaupun itu kakaknya sendiri. Didalam seuatu rumah tangga, pasti konflik akan ada, tapi sebisa mungkin jangan pernah melibatkan pihak ke tiga. Kecuali kalau memang sudah benar-benar tidak ada jalan lagi dan membutuhkan orang ketiga untuk menjadi penengah. Itu pun harus orang yang bisa dipercaya, seperti orang tua misalnya. Itu pesan bunda!" ucap Ane


"Iya bun, akan Amar ingat semua pesan bunda." jawab Amar


"Dan satu lagi, Jika kamu jadi menikah dengan Rara tahun depan, berhubung Rara masih harus menjalani koas dirumah sakit, kamu sebagai suami harus mengerti, dan jangan teralu banyak menuntut. Apalagi kamu juga seorang Dokter, kamu tau bagaimana sibuknya menjadi dokter koas. Pasti tidak mudah, apalagi ditambah harus mengurus suami pasti tidak mudah. Jadi kamu harus bisa mengerti semua itu"


"Oya kamu segera siap-siap udah jam 9. Sekalian antarin bunda ke kantor ayah ya nak, bunda ada bakti sosial sama arisan rutin bhayangkari"


"Iya bun" jawab Amar


Sesampainya Dikantor Amar yang semula ingin langsung pergi setelah mengantarkan bund ke kantor ayahnya, mengurungkan niatnya saat melihat ayahnya sedang berada di depan kantor terlihat sedang ngobrol bersama rekan kerjanya.


"Bun, Amar temui ayah dulu" ucap Amar


"Ya udah sana, itu ayah lagi sama om Toni. Anaknya juga naksir berat tu sama kamu hehehe" goda Ane


"Bunda ini bisa saja"


"Ya udah sana temui ayah, bunda mau kesana dulu" ucap Ane menunjuk gedung pertemuan bhayangkari

__ADS_1


Amar berjalan mendekati ayahnya


"Assalamu'alaikum yah" ucap Amar mencium tangan Arif


"Walaikumsalam" jawab Arif dan pak Toni.


"Hai.. Mar, kok ada disini?" tanya Arif


"Iya yah, tadi bunda minta diantar. Ayah lagi sibuk Amar mau bicara sebentar"


"Ya sudah, tunggu ayah diruanan ayah sebentar" ucap Arif


"Baik yah, Amar ke ruangan ayah dulu, permisi om" ucap Amar sedikit menundukkan kepalanya pada pak Toni


"Sudah jadi pak Dokter ya sekarang anaknya pak Arif?" tanya pak Toni


"Alhamdulillah Pak, saya bicara sama anak saya sebentar dulu ya pak Toni?" ucap Arif


"Oo.. iya Pak, silahkan" ucap pak Toni


"Anaknya pak Arif ini ganteng dan sopan, coba jadi menantu saya, pasti saya akan bangga sekali" gumam pak Toni tersenyum melihat Amar dan Arif pergi


***


"Jadi bagaimana Mar, mau bicara apa sama ayah?" tanya Arif yang baru masuk ruangan nya dan duduk disamping Amar


"Bunda cerita kalau Rara menerima lamaran Amar dan bersedia menikah dengan Amar itu benar yah?" tanya Amar


"Oo itu, bunda sudah cerita sama kamu? iya itu benar. Awalnya ayah ingin kasih kamu kejutan malah bunda udah cerita"


"Alhamdulillah, Amar lega sekarang yah"


"Yakin saja, jodoh tidak akan kemana. Dulu ayah menungu bunda kamu dari bunda masih SMP sampai bunda kuliah, sama sekali tidak pernah ketemu lagi setelah bertahun-tahun, tapi karena memang jodoh Alloh mempertemukan kami kembali. Itulah uniknya jodoh. Jadi kamu tidak perlu risau. Kalau memang Rara jodoh kamu pasti akan dipersatukan" ucap Arif

__ADS_1


^ Happy Reading^


__ADS_2