Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 211


__ADS_3

"Mantan suami Dokter Anggun itu berarti laki-laki bodoh, meninggalkan Dokter Anggun" ucap Riri


"Kamu kenal dengan wanita itu Ri?" tanya Bu Indah


"Kenal ma, kan yang merekomendasikan Dokter Anggun saat Nana sakit gigi juga Riri" ucap Riri menggaruk kepalanya


"Berarti secara tidak langsung kamu dong yang membuat Alan kenal dengan wanita itu?" ucap Bu Indah


"Kalau seperti itu ceritanya, mungkin secara tidak langsung, I-iya emang Riri berarti ma" jawab Riri memperlihatkan gigi putihnya


"Kamu bagaimana bisa tau kalau wanita itu baik?" tanya pak Sandi


"Ya kan Riri kenal baik sama Dokter Anggun, karena Dokter Anggun itu sepupunya mas Fahmi pa" jawab Riri


"Jadi maksud kamu, Anggun sama Fahmi itu sepupuan?" sahut Alan


"Iya kak, jadi Dokter Anggun itu sepupunya Fahmi. dan mereka itu cukup dekat. makanya Riri tau, Fahmi juga cerita kalau dulu sebenarnya pernikahan Dokter Anggun itu sempat ditentang oleh seluruh keluarga. karena kan Dokter Sigit itu duda beranak satu, dan usianya juga jauh lebih tua dari Dokter Anggun. karena itu seluruh keluarga Dokter Anggun menentang hubungan mereka. hanya saja karena rasa kasian Dokter Anggun terhadap anaknya Dokter Sigit yang membutuhkan sosok seorang ibu. membuat Dokter Anggun kekeh mempertahankan hubungannya dengan Dokter Sigit."


"Jadi apa Dokter Anggun itu masih muda?" tanya Bu Indah


"Masih lah ma, masih muda dan cantik. mungkin seumuran sana kak Alan" jawab Riri


"Tidak seumuran juga sih, usia kami terpaut dua tahun. Dokter Anggun lebih tua dari Alan dua tahun" sahut Alan


"Oow lebih tua dokter Anggun ya kak, tapi orangnya masih terlihat muda banget ya kak" ucap Riri


Alan hanya tersenyum mendengar pernyataan Riri yang mengatakan Dokter Anggun masih terlihat sangat muda. karena memang seperti itulah kenyataannya. Dokter Anggun memang terlihat lebih muda dari usianya.


pembawaannya yang ceria dan supel membuatnya begitu menyenangkan saat dipandang dan berbicara.


"Ehem.. " Pak Sandi berdehem


"Kenapa senyum-senyum kamu Lan?" tanya oak Sandi


"Roman-romannya beneran ada yang lagi jatuh cinta ini pa, Alan-Alan, kamu ini nak. Kira-kira apa yang akan dikatakan sama orang kalau tau siapa Dokter Anggun ini" ucap Bu Indah


***


Dirumah Arif


Amar malam ini rewel dan tidak mau tidur sebelum dibacakan dongeng sama Ayahnya.


"Ane, itu kok dari tadi Amar rewel ada apa?" tanya Bu Imah


"Gak tau ma, ini rewel minta dibacakan dongeng sama bang Arif"


"Arif pulang malam hari ini?" tanya Bu Imah

__ADS_1


"Sebentar lagi paling pulang ma bang Arif nyanya" jawab Ane


"Amar sayang, kalau dibacakan dongeng sama nenek dulu mau tidak? sambil nunggu ayah pulang?" bujuk Bu Imah


"Gak mau, maunya sama Ayah" jawab Amar dengan mata sembab karena menangis


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, eh itu ayah pulang" ucap Ane


"Ini jagoan ayah kenapa menangis sayang?" tanya Arif yang baru datang


"Ini lho bang, karena abang kemarin sudah janji mau bacakan Amar dongeng, jadinya nagih deh' ucap Ane


"Ya sudah Rif, kamu ganti baju dulu, segera bacakan dongeng buat Amar, mama ke kamar dulu ya" ucap Bu Imah


"Iya ma" jawab Arif


Arif segera masuk kedalam kamar mandi mengganti pakaian dan menghampiri putra semata wayangnya


"Ayah" ucap Amar memeluk Arif


"Jagoan ayah, maaf ya nunggu ayah lama. tadi ayah sudah buru-buru pulang sebenarnya, tapi karena tadi dijalan ada kecelakaan. jadi ayah berhenti nolong korban kecelakaan dulu. maafin ayah ya. apa Amar masih marah sama ayah?" ucap Arif memberi pengertian


"Tidak ayah, mana mungkin Amar marah kalau Amar tau Ayah sedang menolong orang. nanti kalau Amar sudah besar, Amar juga akan jadi seperti ayah."


"Hehehe.. iya Ayah, Amar janji gak nangis lagi" ucap Amar


"Gitu dong, itu baru namanya jagoan Ayah. jagoan itu gak boleh cengeng. kan kita harus menjaga bunda. kalau kita cengeng bunda pusing dong" ucap Arif ketawa begitu juga dengan Amar yang ikut tertawa


"Amar sayang ayah" ucap Amar memeluk ayahnya


"Jadi gitu, sayangnya cuma cuma sama Ayah, bunda mau ngambek aja kalau gitu" ucap Ane pura-pura ngambek dan membelakangi Amar


"Amar juga sayang sama bunda" ucap Amar


"Kalau sayang bunda kenapa yang dipeluk cuma ayah saja? kenapa bunda tidak dipeluk?" ucap Ane memayunkan bibirnya


"Igh.. bunda iri ni ceritanya?" goda Arif


"Iya, bunda iri ya" ucap Amar


"Kalau gitu bunda sini dong" Arif menarik Ane dan Amar memeluk Ayah dan bundanya.


"Ayah Amar belum dibacakan dongeng" ucap Amar menginginkan


"Oo.. iya ya, kirain sudah lupa. ya sudah sini Amar bobok disamping kiri ayah dan bunda bobok disebelah kanan ayah." ucap Arif

__ADS_1


"Gak mau yah, Amar mau bobok ditengah." jawab Amar membuat Arif tertawa


Kini Amar sudah siap dibacakan dongeng dengan tidur ditengah dan dipeluk bundanya sedangkan Arif mulai membacakan dongeng tentang kisah nabi Musa


"Nabi Musa hidup pada zaman kekejaman penguasa Mesir, Raja Firaun. Salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa adalah kemampuan mengubah tongkat menjadi ular hingga membelah lautan. Musa termasuk Nabi dan Rosul Ulul Azmi, sebab memiliki kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi Firaun." ucap Arif membacakan dongeng


"Udah tidur ya?" tanya Arif melihat buah hatinya sudah terlelap


"Iya bang, Alhamdulillah Amar sudah tidur. dari tadi rewel karena menunggu Abang." ucap Ane


"Abang jadi merasa bersalah"


"Karena itu bang, sebaiknya lain kali jangan janji sama Amar. lebih baik kalau ada waktu langsung dibacakan saja, tidak usah dengan janji. karena Amar ini kalau sudah dijanjikan pasti akan menagih dan akan merasa dibohongi kalau tidak tepat waktu" ucap Ane


"Iya sayang, abang minta maaf ya"


"Iya bang, tidak apa-apa." jawab Ane senyum


***


Hari ini acara pembukaan pertama klinik Dokter Sigit dan Nia. dan keduanya mengadakan acara syukuran atas pembukaan klinik yang baru saja mereka resmikan.


Namun acara pembukaan klinik mereka terlihat sepi hanya ada orang tua Nia dan keluarga Dokter Sigit


"Nia, kenapa kliniknya seperti ini? kalau tempatnya seperti ini apa akan ada yang tau kalau ini klinik tempat pemeriksaan kandungan?" tanya Bu Iin


Nia bingung harus menjawab pertanyaan ibunya karena memang klinik yang dibangun oleh suaminya jauh dari kata kelayakan sebuah klinik. dan tempatnya yang cukup jauh dari jalan raya bahkan tidak ada akses mobil sehingga akan menyusahkan jika ada pasien yang akan berkunjung karena harus berjalan kaki untuk menuju klinik.


"Sebentar ya Bu, Nia mau bicara sama mas Sigit" ucap Nia pamit pada Bu Iin


Nia segera menarik Dokter Sigit ke dalam ruang pemeriksaan


"Mas, apa ini?" ucap Nia


"Apa gimana maksud kamu?"


"Kenapa seperti ini kliniknya? siapa yang akan datang kalau tempatnya seperti ini. dan ini coba lihat, kenapa mesin USG nya masih 2D? kenapa tidak 4D? siapa yang mau datang kalau seperti ini?" cerca Nia


"Kamu pikir uang yang orang tua kamu kasih itu cukup untuk membuka klinik yang lebih baik dari ini? bisa buka ini saja sudah bagus. tidak usah cerewet. kalau tidak suka minta orang tua kamu memberi uang yang lebih banyak" ucap Dokter Sigit


"Iya tapi tidak seperti ini juga kan mas? setidaknya pikirkan juga lokasinya. mana ada orang yang mau berjalan jauh hanya untuk periksa sedangkan banyak rumah sakit yang aksesnya mudah" ucap Nia


"Terserah lah, aku juga pusing. uang yang orang tua kasih itu hanya cukup untuk ini" kembali Dokter Sigit menyakinkan


"Harusnya kamu tambahin dong mas kalau kurang! dari pada harus buka klinik seperti ini, hanya buang-buang uang" ucap Nia


"Aku sudah mengurus pembangunan klinik ini, masalah promosinya, kamu yang urusin. terserah bagaimana cara kamu mendatangkan pasien" ucap Dokter Sigit berlalu

__ADS_1


__ADS_2