
Dokter Anggun yang sebenarnya ragu dan tidak percaya akhirnya hatinya mulai terusik.
"Sebaiknya aku kesana saja, tidak ada salahnya juga untuk kesana. tapi aku yakin suamiku tidak mungkin seperti itu" gumam Dokter Anggun
Dokter Anggun bersiap dan memanggil sopir untuk mengantarkannya ke Semarang.
"Tasya mama pergi dulu ya, nanti berangkat sekolah pesan taxi online gak papa kan?"
"Gak papa mah, tapi mamah mau kemana pergi sepagi ini" jawab Tasya yang masih berada di tempat tidur
"Mana ada pekerjaan mendadak sayang, mama harus segera kerumah sakit" ucap Dokter Anggun bohong dan mencium kening Tasya anak Dokter Sigit yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Tidak bisa dipungkiri Tasya pun sangat menyayangi mama tirinya tersebut, tapi tak jarang orang lebih menganggap mereka adalah kakak dan adik. karena Tasya juga sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, Namun Dokter Anggun bisa menempatkan dirinya sebagai mama dan sahabat bagi Tasya. Tasya pun sangat menyayangi ibu sambungnya ini, ditengah kesibukan papanya yang bekerja sebagai Dokter diluar kota tak heran jika Tasya sering merasa kesepian, karena ditinggal sendirian dengan asisten rumah tangga. beruntung Dokter Sigit menikah dengan Dokter Anggun yang rela terpisah jarak dari suaminya demi menjaga Tasya, iya Tasya tidak pernah mau diajak pindah bersamamu Papanya ke Semarang. lantaran dirumah yang sekarang ditempati begitu banyak menyimpan kenangan bersama Almarhumah mamanya. dan Tasya juga enggan pindah sekolah.
Ini yang menjadi bahan pertimbangan Dokter Anggun untuk tidak ikut suaminya bertugas di Semarang.
Siapa sangka, niatnya baiknya yang ingin menjaga anaknya justru disalah gunakan oleh Dokter Sigit.
Hingga Pagi itu akhirnya Dokter Anggun mencoba membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang yang barusan menelpon itu tidak benar.
"Pak kita ke apartemen bapak sekarang" ucap Anggun pada Sopirnya
"Baik buk" jawab pak sopir
Sepanjang perjalanan Dokter Anggun berusaha menyakinkan hatinya, bahwa suaminya adalah orang baik dan tidak mungkin menghianatinya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, akhirnya Dokter Anggun sampai di apartemen suaminya. saat baru turun dari mobil Arif, Alan dan Diky langsung menghampiri
"Dokter Anggun?" ucap Arif
"Iya, anda_?" Dokter Anggun melihat Arif
"Bukan, yang barusan menelpon anda adalah Alan, dia suami dari wanita yang saat ini sedang didalam bersama suami anda" ucap Arif menjelaskan
__ADS_1
"Jadi anda yang tadi menyuruh saya datang kemari?" tanya Dokter Anggun
"Iya saya yang menelpon anda. sebaiknya sekarang kita masuk kedalam" ucap Alan
"Bagaimana kamu yakin istri anda sedang bersama dengan suami saya?" Dokter Anggun yang kini hatinya semakin berdebar takut jika hal itu benar adanya
"Saya sangat yakin, karena saya sudah banyak persiapan untuk bisa datang kesini. saya tidak mungkin gegabah menghubungi anda jika saya tidak memastikannya dulu. karena saya juga sangat terluka." ucap Alan
Kini keduanya melangkah masuk menuju kamar apartemen Dokter Sigit yang terletak di lantai lima.
*FLASHBACK OFF*
Nia seperti orang yang kehilangan arah, Suaminya meninggalkan, begitu juga dengan Dokter Sigit. tidak pernah menyangka kisahnya akan menjadi seperti ini. selama ini Nia berpikir hidupnya akan jauh lebih baik dengan Dokter Sigit. Seorang Dokter kandungan sekaligus bisa menjabat Direktur diusianya yang tergolong muda untuk usianya.
Siapa sangka jika ternyata apa yang diperoleh Dokter Sigit saat ini adalah karena dirinya merupakan menantu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
Nia berjalan sepanjang trotoar, tidak tau hendak melangkahkan kakinya kemana. pulang kerumah rasanya tidak mungkin, kerumah sakit juga rasanya dirinya malu harus bekerja dirumah sakit milik istri dokter Sigit.
Setelah cukup lama berjalan, Nia mulai merasa capek. matahari mulai berada tepat diatas kepalanya. saat melihat bangku kosong di pinggir jalan akhirnya Nia mendudukkan tubuhnya dibangku tersebut. kepalanya terasa sangat pening
Nia segera memanggil taxi dan kembali lagi ke apartemen Dokter Sigit.
Namun tampaknya yang tunggu tak kunjung kembali. Nia tidak menyerah dan saat ini duduk di depan apartemen Dokter Sigit menunggu kepulangannya. hingga waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB.
"Apa mungkin saat ini mas Sigit bersama istrinya? lalu bagaimana denganku? kemana aku harus pergi?" gumam Nia meneteskan air matanya.
***
Dirumah Alan
"Alan ada ini? kenapa kamu memasukkan pakaian Nia kedalam koper" tanya Bu Indah
"Alan akan berpisah dengan Nia ma" ucap Nia sambil terus memasukkan semua pakaian Nia kedalam koper secara acak.
__ADS_1
"Berpisah? kenapa tiba-tiba seperti ini? ada apa ini sebenarnya Lan?" Bu Indah bingung dengan sikap Alan
Sementara Alan tidak menjawab dan terus memasukkan pakaian Nia kedalam koper dan melempar koper-koper itu di depan pintu, bertepatan dengan Nia yang baru saja pulang.
Nia melihat kopernya dilempar begitu saja dilantai. hatinya merasa sakit melihat Alan seperti ini
"Mas maafkan aku" Nia menjatuhkan tubuhnya dan memohon dikaki Alan
"Semuanya sudah aku masukan, pergilah! ini sudah malam tidak usah membuat keributan. pergilah dengan tenang tidak usah bertemu dengan Nana. jangan sampai Nana mengetahui kelakuan mamanya yang tidak bermoral. lebih baik Nana tidak usah mengingat punya mama seperti kamu" ucap Alan tanpa melihat Nia
"Ini sebenarnya ada apa? Nia berdirilah katakan ada apa nak?" bu Indah memegang bahu Nia menyuruhnya berdiri.
"Sebaiknya kita bicarakan semua didalam, jangan sampai permasalahan rumah tangga kalian dilihat oleh warga disini. masuklah" ucap Pak Sandi
"Tidak pa, Alan tidak akan membiarkan wanita kotor seperti ini menginjakkan kakinya didalam rumah kita. sebaiknya kamu pergi sekarang. aku akan segera menguras perceraian kita" ucap Alan
Pak Sandi dan Bu Indah saling berpandangan tidak mengerti
"Mas, baiklah aku akan pergi, tapi sebelum aku pergi. aku ingin bertanya. apakah mas Alan yang memberitahu istrinya mas Sigit?" Nia yang masih memegang kaki Alan, menengadahkan kepalanya
"Iya aku yang melakukan" jawab Alan singkat
"Kamu jahat mas, kenapa kamu lakukan ini semua? jika kamu ingin menceraikan aku, aku akan menerimanya. tapi kenapa kamu hancurkan hubunganku dengan mas Sigit? aku tau aku bersalah mas, tapi kenapa kamu melakukan ini semua?" Nia berdiri menatap mata Alan
"Apakah benar kamu sudah tidak punya malu? bagaimana bisa kamu menanyakan semau ini? apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana rasanya hatiku melihat istrinya tidur dengan laki-laki lain" ucap Alan
"Astaghfirullah" Bu Indah dan pak Sandi tercengang
Plak..
Bu Indah menampar Nia
"Wanita tidak tau diri kamu Nia. begitu tega kamu menghianati suami kamu" teriak bu Indah
__ADS_1
^Happy Reading^