
Nia, aku dari tadi sudah berusaha menahan mulutku untuk tidak ikut campur urusan kamu. tapi kenapa rasanya mulutku gatel banget ya pengen ngomong. aku heran sama kamu, apa sih yang kamu lihat dari suami kamu ini, sampai kamu rela meninggalkan anak dan suami kamu yang muda dan gantengnya gak ketulungan untuk laki-laki tua dan sombong kayak gitu"ucap Yeni
"Jujur aku juga bertanya-tanya sama seperti Yeni, aku kira suami kamu ini lebih ganteng dan lebih kaya dari Alan. tapi kalau melihat, maaf banget ya bukan aku merendahkan. tapi klinik kamu ini_" Wawa matanya melihat sekeliling
"Apa sih yang ada diotak kamu sebenarnya?" timpal Yeni lagi
Ane hanya diam mendengarkan Yeni dan Wawa mencerca berbagai pertanyaan
"Kalau boleh aku jujur, sebenarnya aku menyesalinya semua kebodohanku. aku juga tidak tau entah setan apa yang merasuki aku saat itu, aku membuang berlian untuk batu kerikil yang tidak ada artinya sama sekali. andai waktu bisa diulang, aku akan menjaga baik-baik semua yang aku miliki saat ini. aku tidak akan pernah menyia-nyiakan seperti ini" ucap Nia menerawang
"Jadi kamu menyesal?" tanya Yeni
"Kalau aku bilang tidak menyesal bohong banget, tapi untuk menyesalinya aku juga tidak berhak. aku terima apa yang saat ini terjadi dalam hidupku. dan aku anggap mungkin ini salah satu caraku untuk menebus semua dosa-dosaku" jawab Nia
"Aku tidak menyangka ini semua terjadi sama kamu, aku pikir sekarang kamu bahagia karena bersama dengan laki-laki yang sepertinya sangat kamu inginkan. aku tidak menyangka jika ternyata kenyataannya sepertinya ini" ucap Wawa
"Mungkin saat ini kalian mentertawakan aku, untuk apa yang sudah aku lakukan dan takdir yang saat ini aku jalani. tapi aku tidak marah. kalian pantas mentertawakan aku. aku memang wanita bodoh yang terpeleset dalam kesalahan yang berujung panjang dan penderitaan seperti saat ini" ucap Nia
"Seharusnya semua itu tidak perlu terjadi, karena dari awal aku mendengar berita kamu selingkuh. aku sudah berusaha mencegah itu semua terjadi" sahut Ane yang dari tadi hanya diam mendengarkan
"Iya Ne, aku menyesalinya. aku menyesal kenapa saat itu aku tidak mendengarkan kata-kata kamu. padahal dari awal kamu sudah mengingtkan aku. Ne andai saja aku punya kesempatan balik sama Alan. aku pasti tidak akan pernah mengulangi kesalahanku. aku akan belajar dari kesalahan yang sudah pernah aku lakukan" ucap Nia berharap Ane akan menyampaikan ucapannya pada Alan.
"Nia, sebenarnya seseorang itu belajar sesuatu tidak harus dari kesalahan yang kita lakukan. kita bisa belajar dari lingkungan kita, semisal kejadian yang pernah Nur alami. seharusnya itu sudah menjadikan kita cukup untuk pembelajaran dalam hidup agar jangan sampai kita melakukan hal serupa. tidak perlu kita sendiri yang mengalaminya. cukup kejadian yang menimpa orang lain yang kita jadikan sebagai pembelajaran" ucap Ane
"Iya Ne, aku salah. dan aku akui itu" jawab Nia
"Terus apa rencana kamu sekarang? maaf Nia tapi menurutku membuka klinik disini dan dengan bangun yang seperti ini dikota besar, sangat tidak menguntungkan." ucap Nia
__ADS_1
"Iya aku tau, dan aku faham tapi mau gimana lagi? kami tidak punya cukup modal" jawab Nia
"Kenapa tidak bangun di desa saja. mungkin kalau di desa masih mendinglah karena saingannya tidak terlalu banyak" sahut Wawa
"Entahlah aku juga tidak faham apa maksudnya. ini semua mas Sigit yang mengurus" ucap Nia mengangkat kedua pundaknya.
***
Dokter Sigit dan Tasya saat ini sedang berdiri di depan rumah sakit, sengaja menunggu Dokter Anggun selesai praktek.
"Pah, itu mama sudah keluar" ucap Tasya senyum dan segara keluar dari mobil
"Mama" ucap Tasya berlari menghampiri Dokter Anggun
"Tasya, kamu kenapa ada disini?" tanya Dokter Anggun
"Maaf Anggun, aku terpaksa mengantarkan Tasya kesini. kamu tau kan Tasya kalau sudah ada maunya gimana?" ucap Dokter Sigit
"Ma, kita pergi makan bersama yuk" ucap Tasya
"Maaf sayang, mama tidak bisa" jawab Dokter Anggun
"Kenapa ma? mama tidak kangen sama Tasya?" ucap Tasya memanyunkan bibirnya
"Tasya, jangan seperti ini ya sayang. mama sayang sama Tasya. tapi kamu harus mengerti, kalau itu tidak mungkin. mama tidak mungkin lagi pergi dengan papa kamu" ucap Dokter Anggun mencoba memberi pengertian
"Iya tapi kenapa ma? kita kn hanya makan bersama?" protes Tasya
__ADS_1
"Tasya, kamu kan sudah bukan anak kecil lagi. mama yakin kamu pasti tau jawabannya kenapa mama tidak mungkin lagi pergi sama papa kamu, sekarang mama tanya sama Tasya, menurut Tasya, bagaimana pandangan Tasya tentang wanita yang merebut suami orang?" Dokter Anggun menatap Tasya
"Wanita murahan yang tidak punya harga diri" jawab Tasya
"Lalu apa Tasya mau, melihat mama seperti itu? menjadi wanita murahan yang telah punya harga diri?" Dokter Anggun memegang tangan Tasya dan menatap mata Tasya sontak membuat Tasya menggelengkan kepalanya
"Tidak kan? Tasya tidak mau mau seperti itu kan? kalau begitu jangan mencoba untuk menyuruh mama dan papa kamu pergi bersama lagi. karena kalau kamu lakukan itu sama halnya kamu menyuruh mama untuk manjadi wanita murahan dan tidak punya harga diri karena saat ini papa kamu sudah memiliki seorang istri sya" jelas Dokter Anggun
"Anggun, aku tidak mencintai Nia tolong Anggun. beri aku kesempatan aku akan menceraikan Nia" sahut Dokter Sigit
"Cerai? kalain baru saja memulai pernikahan tapi sekarang kamu sudah membahas soal perceraian mas? kenapa sepertinya pernikahan itu suatu hal yang bisa dengan seenaknya kamu jadikan mainan ya mas?" ucap Dokter Anggun melipat kedua tangannya di dada.
"Bukan, bukan seperti itu, tapi aku masih mencintai kamu. tolong Anggun beri aku kesempatan. kalau tidak untukku setidaknya untuk Tasya. Tasya sangat membutuhkan kamu, Nia bukan ibu yang baik untuk Tasya" jelas Dokter Sigit
"Masih cinta? bagaimana bisa kamu bilang masih cinta mas? kalau masih cinta tidak akan mungkin kamu berkhianat mas" ucap Dokter Anggun
Brem.. brem...
Suara moge berhenti tepat didepan Didepan Dokter Anggun
"Hai Lan" ucap Dokter Anggun senyum
"Tasya, mama sepertinya harus pergi dulu" ucap Dokter Anggun
"Ma, Tasya mohon jangan ma. Tasya tidak mau Mama pergi sama om ini" ucap Tasya melihat Alan
"Om, Tasya mohon jangan pergi sama mama Tasya. jangan ambil mama Tasya" ucap Tasya dengan wajah memelas
__ADS_1
"Om tidak mengambil mama Tasya, justru papa Tasya yang mengambil Istri dan mama dari anaknya Om" jawab Alan menatap sinis Dokter Sigit
^Happy Reading ^