
Hari yang dinanti Amar dan Rara pun tiba, hari ini acara pertunangan keduanya akan digelar.
Dirumah Arif, Ane dan kedua orang tuanya juga tampak sibuk menyiapkan apa saja yang harus di bawa.
Sementara Amar di dalam kamar terdiam, seakan tidak percaya. Hari bahagia itu akhirnya datang. Hari ini dirinya akan melangsungkan pertunangan dengan Rara, gadis kecil yang sudah di nantikan sejak lama. Apa lagi, setelah banyaknya drama yang terjadi. Amar tidak menyangka kalau akan sampai pada titik ini.
"Ehem.. dih, yang mau tunangan kok malah bengong gitu," Ane berdeham seraya menggoda Amar.
"Bunda," ucap Amar tersenyum melihat Ane.
"Bagaimana, apa semua sudah siap?" tanya Ane.
"InsyaAlloh sudah Bunda," jawab Amar.
"Cincinnya jangan lupa di bawa, " Ane menginginkan agar Amar tidak melupakan yang seharusnya di bawa karena terlalu grogi dihari bahagianya.
"Sudah bunda, semua sudah siap. Hanya saja, Amar merasa sedikit grogi Bun, "ucap Amar trsenyum.
"Anak bunda grogi? Emm.. menghadapi pasien saja kamu tidak grogi kok, masak ini malah grogi," goda Ane tertawa.
"Bunda kok malah tertawa, Amar beneran grogi banget ini bun, lihat tangan Amar sampai dingin gini bun." ucap Amar menunjukkan tangannya.
Bahkan berkali-kali Amar terlihat menghela nafasnya.
"Banyak-banyak dzikir, biar groginya hilang. InsyaAlloh semua akan berjalan dengan lancar, " ucap Ane
"Bunda," ucap Amar, dengan tatapan mata sendu.
Amar mendekat dan memeluk sangat Bunda, tanpa disadari, Amar yang biasanya selalu terlihat tenang dan jarang bicaranya tiba-tiba meneteskan air mata saat memeluk sangat bunda.
Ane mengusap lembut punggung sangat putra. seraya tersenyum bahagia.
"Terima kasih bunda, Bunda selama ini selalu menyayangi Amar, Bunda begitu sabar mendidik Amar, hingga Amar bisa sampai pada tahap ini. Ini semua karena Bunda dan Ayah"ucap Amar.
"Amar, Bunda tidak menyaka sekarang kamu sudah tumbuh dewasa sayang," Ane mengeratkan pelukkan dan tanpa di sadari Ane juga meneteskan air mata, tapi air mata bahagia tentunya.
__ADS_1
"Lho, ini kok masih disini? bukannya segera persiapan malah peluk-pelukan di sini," goda Arif menghampiri dan ikut memeluk Amar.
"Ayah," Amar memeluk Arif erat.
"Sebenar lagi, kamu akan bertunangan dan InsyaAlloh sebentar lagi akan menikah. Ayah berpesan, jika nanti kamu sudah menikah. Kamu harus bisa menghargai istri kamu, saling mengingatkan dan di dalam suatu hubungan rumah tangga, itu saling terbuka. Jangan sampai ada dusta, seorang istri itu harus dimuliakan dan di bahagiakan," ucap Arif.
Arif bisa mengatakan seperti itu, karena Arif pun sudah menerapkan pada Ane. Arif selalu berdiskusi dengan Ane sebelum mengambang keputusan dan Arif juga selalu menjaga hati Ane.
"Iya Yah, Amar paham. tentu saja, Amar juga ingin seperti ayah yang bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk Amar dan Bunda. Ayah panutan Amar," ucap Amar mengacungkan jempolnya.
"Ya memang laki-laki harus seperti itu. Kita sudah meminta anak perempuan dari ayahnya yang dari kecil di sayang, di rawat dengan baik, lalu tiba-tiba saat besar kita memintanya untuk menjadi istri kita, merawat kita dan menyiapkan segala keperluan kita. Sudah sepantasnya kalau kita juga memperlakukan seorang istri dengan sebaik-baiknya dan sebisa mungkin jangan menyakiti hatinya," ucap Arif menepuk bahu Amar.
***
Sementara di rumah Alan pun, sama. Rara yang sudah berdandan cantik bak putri sedang menerima nasehat dari Mama dan Papa nya.
"Jangan nangis sayang, nanti makeup nya luntur," ucap Anggun seraya melihat wajah Rara memastikan makeup nya tidak luntur.
"Rara bahagia?" tanya Alan mentap Putri kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Mah, kenapa dari pagi Rara tidak melihat kak Nana?" tanya Rara.
"Astaghfirullah, Mama sampai lupa dan tidak menyadari dari pagi sepertinya, Mama juga belum bertemu Nana. Tunggu sebentar Mama akan melihat ke kamar Nana dulu," ucap Anggun berlalu.
"Papa, sudah melihat Kak Nana belum?" tanya Rara melihat Papa nya.
"Iya, Papa juga sepertinya belum melihat Nana dari tadi pagi, karena kita semua sibuk mempersiapkan acara ini, sampai Papa juga kurang memperhatikan Nana, pagi ini," jawab Alan.
Seketika wajah Rara memucat, khawatir tentang kakaknya.
"Sudah jangan berpikir berlebihan, Paling juga ada di kamarnya. Kamu fokus saja dengan acara kamu hari ini! Ini hari bahagia kamu dan Amar, jangan berpikir yang bukan-bukan, okey!" Alan mengatakan seperti ini untuk menenangkan Rara, tapi di dalam hatinya sendiri pun, sebenarnya berkecamuk.
"Mas, Nana tidak ada di kamarnya," ucap Anggun panik masuk ke kamar Rara.
"Apa kamu yakin? sudah kamu cari di kamar mandi? atau mungkin di taman belakang?" tanya. Alan masih berusaha tenangtenang dan menyembunyikan kepanikannya.
__ADS_1
"Sudah mas, Anggun sudah cari kemana-mana tapi Nana tidak ada," jawab Anggun panik.
"Pah, gimana ini? Kakak tidak kenapa-kenapa kan Pah?" ucap Rara panik.
"Apa yang ada dalam pikiran kalian? Nana tidak mungkin aneh-aneh, jangan berpikir berlebihan, Papa yakin saat ini Nana mungkin lagi menyiapkan kejutan buat adiknya atau mungkin lagi ke luar sebentar. Coba hubungi saja ponselnya mah," ucap Alan mencoba menenangkan.
"Sudah berkali-kali Mama coba hubungi Nana Pah, tapi ponselnya sepertinya tidak aktif," jawab Anggun memperlihatkan ponselnya.
"Pah!" Gumam Rara panik.
Alan tersenyum memegang tangan Rara dan mengedipkan mata, seolah memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kalian jangan panik, Mah. tolong di sini saja! temani Rara, biar Papa yang mencari Nana," ucap Alan.
"Baiklah Pah," jawab Anggun.
Alan melangkahkan kakinya dengan cepat dan memanggil-manggil Nana .
"Ada apa Lan?" tanya Bu Indah.
"Apa Mama pagi ini sudah melihat Nana? tanya Alan.
"Pagi ini, sepertinya Mama belum melihat Nana. Sebenarnya ada apa ini Lan? Tadi istri kamu mencari Nana, sekarang kamu. Memangnya Nana tidak ada di rumah?" tanya Bu Indah.
"Belum tau juga mah, ini Alan sedang mencari. karena sepertinya dari tadi pagi tidak ada yang memperhatikan keberadaan Nana." jawab Alan.
"Ada apa Kak? kenapa sepertinya pada panik?" tanya Riri.
"Apa kamu pagi ini sudah melihat Nana? Sepertinya Nana tidak ada di rumah." Alan samakin panik, takut jika kecurigaannya beberapa waktu yang lalu benar.
"Kak, lalu bagaimana ini? sudah hampir waktunya? Acara Rara dan Amar?" Riri terlihat ikut panik.
"Kalian pergi saja dulu ke hotel, Nanti aku akan menyusul. Tolong Rara dan Anggun antarkan dulu ke hotel,' ucap Alan.
^Happy Reading^
__ADS_1