Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 196


__ADS_3

Langit terlihat cerah, bunga terlihat bermekaran, seolah alam memahami hatinya. tidak seperti biasanya Alan yang selalu terlihat bermuram durjana, pagi ini Alan terlihat sangat bersemangat memulai aktivitas paginya.


Alan yang sudah rapi berpamitan kepada kedua orang tuanya dan mencium kening putri kecilnya.


Mengendarai moge dengan kecepatan stabil terlihat bibirnya selalu melengkung keatas menggambarkan hatinya yang sedang berbunga-bunga.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Arif


"Wuih.. pagi ini terlihat berbeda, roman-romannya ada aroma jatuh cinta" goda Arif


"Apaan sih bang, Alan kan memang harus semangat bang, masak iya harus terpuruk terus. sudah waktunya Alan bangkit. dari pada mikir yang gak guna lebih baik Alan mikir kerjaan yang ternyata numpuk hehehe" ucap Alan tertawa


"Baguslah kalau kamu sadar, yang sudah membuat kita terluka lupakan, yakin pasti akan ada yang jauh lebih baik yang Alloh kirimkan nantinya" ucap Arif menepuk pundak Alan


"Siap bang, Insyaalloh Alan sudah iklaskan. mungkin Nia memang bukan jodoh yang terbaik buat Alan. bagi Alan sekarang adalah kebahagiaan Nana."


"Tapi Nana sudah tidak rewel mencari ibunya kan?"


"Namanya anak kecil bang, kalau sesekali rewel itu wajar sih bang, cuma terkadang Alan menyadari kalau alam bawah sadar Nana sangat merindukan mamanya. terkadang Nana tidur sambil mengigau menyebutkan mamanya."


"Kamu yang sabar, sebenarnya apa yang dialami Nana saat ini wajar sih Lan, anak mana pun pasti akan merindukan mamanya. tapi suatu saat semoga Nana mengerti maksud kamu memisahkan Nana dan mamanya"


"Iya bang, terimakasih ya bang. atas pengertiannya"


***


Pagi ini Ane di sibukan dengan kegiatan bhayangkari. dan kembali bertemu dengan ibu Toni yang selalu update tentang pergosiban.


"Bu Arif, kabarnya teman Bu Arif sudah menikah ya sama selingkuhannya?" tanya bu Toni


"Nia maksud bu Toni?"


"Iya siapa lagi bu, teman bu Arif yang doyan selingkuh kalau bukan mantan istrinya pak Alan. saya dengar kalau sekarang dia sudah menikah sama Dokter yang jadi selingkuhannya. tapi kabarnya juga kasihan juga bu nasibnya sekarang"


"Kenapa memang bu?"


"Apa bu Arif tidak tau?" tanya BU Toni


"Tidak bu, saya tidak tau. sudah lama kami tidak saling memberi kabar"


"Oalah.. bener bu, jangan berteman dengan perempuan seperti itu. kabarnya mereka berdua, sudah tidak bisa bekerja lagi diseluruh rumah sakit sini. jadi mereka sekarang pengangguran"


"Ibu tau semua itu dari mana?" tanya Ane


"Kabarnya di seluruh nakes sudah tersebar bu, dan yang lebih menghebohkan. ada yang bilang kalau mantan istri dari Dokter selingkuh Nia itu sekarang dekat dengan pak Alan"


"Pak Alan? jadi mantan istri Dokter Sigit sekarang dekat dengan pak Alan?" tanya Ane


"Iya bu, kabar yang berhembus dirumah sakit seperti itu, kalau Pak Alan sekarang dekat dengan istri selingkuh mantan istri pak Alan. eh.. gimana sih, jadi belepotan gini ngomongnya. ya intinya itulah bu, hehehe.. " ucap Bu Toni tertawa


"Kok malah jadi tukeran pasangan gini ya" Gumam Ane


"Iya bu, tapi ya gak papa juga bu, Pak Alan dan istri selingkuhan, istri pak Alan kan sama-sama korban yang tersakiti. Aduh ribet banget ya menyebutkannya" Bu Toni tertawa Ane pun ikut tertawa dengan cara ngomong bu Toni


"Tapi bu, kalau dipikir-pikir mungkin ini yang terbaik. kasian pak Alan sudah dihianati istrinya seperti itu, begitu juga sebaliknya. mungkin dengan cara mereka bersama bisa membuat mereka saling mengobati rasa sakit yang pernah diberikan oleh pasangan mereka terdahulu. apalagi perempuan yang ini bukan orang sembarangan bu, keluarganya orang terpandang. dia juga pemilik rumah sakit. yang pasti kaya raya lah bu, beruntung banget pak Alan kalau bisa sama mantan istrinya si Dokter yang berselingkuh dengan Nia itu" ucap Bu Toni


***


Dirumah


"Bunda"


"Iya sayang, bunda ganti baju dulu ya. kan bunda dari luar masih kotor" ucap Ane


"Iya bunda, setelah ganti baju. bunda main sama Amar ya bun"


"Iya sayang, habis ganti baju bunda akan segera keluar, kita main ditaman ya nanti sambil nunggu Ayah pulang"


"Iya bunda" jawab Amar mengangguk


Dikamar Ane mengganti bajunya dan mengambil ponsel menghubungi Nia


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Walaikumsalam ada apa Ne?"


"Tidak ada apa-apa hanya mau tau bagaimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah baik, jauh lebih baik dari sebelumnya malah" ucap Nia


"Alhamdulillah, aku ikut senang kalau semua baik-baik saja" jawab Ane


"Iya Ne, terimakasih ya kamu sudah menghubungi aku" ucap Nia


"Iya, oya kamu sekarang kerja apa jadi ibu rumah tangga seperti aku?"Ane membuka pembicaraan soal pekerjaan, lantaran terpikirkan dengan apa yang barusan dibicarakan bu Toni


"Sementara kami masih dirumah saja, karena persiapan membuka klinik sendiri. karena dipikir-pikir lebih enak punya klinik sendiri kan dari pada kerja ikut orang"


"Baguslah kalau seperti itu. aku ikut senang kalau kamu baik-baik saja. ya sudah aku tutup telpon dulu ya, Amar sudah memanggil"


"Ane tunggu sebentar" ucap Nia ragu


"Iya ada apa Ni?"


"Apa kamu tau kabar tentang Nana?" tanya Nia


"Ya tau lah, Nana sering kok main kesini sama Amar"


"Apa Nana pernah menanyakan aku?"


"Kamu ini bicara apa? tentu saja Nana pernah menanyakan kamu, kamu itu kan ibunya. tapi Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih pintar tidak rewel seperti awal-awal dulu" jawab Ane


"Kalau Alan, apa dia baik-baik saja?" tanya Nia ragu dan menggigit bibir bawahnya


"Alan Alhamdulillah juga baik. sudah bisa move on sepertinya. alhamdulilah sekarang aku bisa melihat kalian berdua bahagia lagi, aku benar-benar ikut senang"


"Alan sudah move on? apa dia sedang dekat dengan cewek lagi?"


"Kabarnya seperti itu, tapi aku juga belum tanya pastinya sih" jawab Ane


"Secepat itu dia dapat penggantiku? aku kira dia benar-benar sayang dan cinta sama aku, nyatanya baru juga pisah udh secepat itu dapat pengganti yang lain"


"Kalau menurutku apa yang dilakukan Alan tidak salah. karena selain Alan memang membutuhkan pendamping hidup Nana juga butuh sosok ibu untuk menjaganya"


"Iya itu berarti, dia gak beneran cinta dong sama aku, nyatanya dengan mudah dia mendapatkan penggantian"


"Kenapa aku harus menyesal jika aku sekarang jauh lebih bahagia dari pada dulu? aku hanya tidak ingin Nana mendapatkan ibu tiri yang tidak baik. kalau masalah Alannya aku tidak perduli"


"InsyaAlloh, aku yakin kali ini Alan akan lebih berhati-hati mencari calon istri, apalagi sekarang selain untuk dirinya sendiri Alan juga harus memikirkan Nana. jadi aku rasa Alan akan lebih selektif"


"Nia..Nia..Dimana makanannya? kenapa belum siap juga Nia" panggil mama Dokter Sigit


"Itu siapa yang memanggil kamu Ni? kenapa sepertinya tidak sopan gitu nyuruhnya" tanya Ane


"Oow.. itu, itu bukan siapa-siapa. nanti aku telpon lagi, udah dulu ya" ucap Nia memutus sambung telpon


"Iya ma, ada apa?" tanya Nia keluar


"Ada apa kamu bilang? kenapa makanan belum siap? dari tadi kamu ngapain saja?"


"Ma, Nia kan sedang hamil. Nia istirahat sebentar ma" jawab Nia


"Istirahat kamu bilang? makanan belum siap kamu enak-enakan istirahat? dasar istri pemalas kamu. lihat saja Sigit pulang, habis kamu dimarahi Sigit" ucap Mama Dokter Sigit berlalu


Nia berjalan gontai kedapur, menyiapkan makanan dengan derai air mata.


Hidupnya serasa dineraka semenjak menginjakkan kaki dirumah ini.


Malam hari menjelang tidur, Nia mencoba membicarakan masalah ini dengan suaminya. berharap Dokter Sigit akan mengerti. namun harapan hanyalah harapan, Dokter Sigit tidak pernah perduli dengan dirinya.


"Mas, kita pindah ke apartemen mas Sigit yang di semarang saja gimana?"


"Pindah apartemen? kamu pikir itu apartemenku?"


"Kalau bukan punya Mas Sigit, Lalu punya siapa?"


"Punya mantan istriku, semua itu punya Anggun" jawab Dokter Sigit


"Punya mbak Anggun? tapi sebagai Dokter kandungan seharusnya tabungan kamu kan banyak mas? apa iya setelah cerai kamu tidak punya apa-apa?" Nia merasa tidak percaya

__ADS_1


"Setelah bercerai semua aset hasil kerjaku dibagi dua dengan Anggun dan apa yang aku miliki semua sudah aku berikan kepada Tasya sebagai permohonan maafku untuk Tasya"


"Berarti mas Sigit ini benar-benar tidak punya apa-apa?"


"Iya seperti yang kamu tau" ucap Dokter Sigit


Hati Nia benar-benar hancur, angan-angan ingin hidup enak tinggalah angan-angan. karena realita nya hidupnya bak di neraka, disakiti anak tiri dan mertuanya. bahkan setelah menikah suaminya tidak pernah lagi mau menyentuhnya.


"Mas, kamu tidak sedang main gila dengan perempuan lain diluar sana kan?"


"Kamu kesambet apa? tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?"


"Kenapa setelah kita menikah, justru mas Sigit tidak pernah menyentuhku?"


"Entahlah, aku merasa tidak ada gairah" jawab Dokter Sigit singkat dan segera menarik selimut bersiap tidur


"Tidak ada gairah? tadi kamu berkata seperti itu mas? bagaimana bisa kamu berkata seperti itu mas?"


Dokter Sigit tidak merespon dan memejamkan matanya


"Mas, Bangun. kita harus bicara. mas bangun" Nia berusaha membangunkan suaminya namun tetep tak direspon.


"Mas, bangun mas"


"Kamu ini kenapa sih? berisik sekali" jawab Dokter Sigit dengan suara meninggi


"Nia mau penjelasan, apa maksudnya mas Sigit bilang seperti tadi?"


"Sudahlah Nia, aku mau istirahat. tolong jangan berisik atau aku lempar kamu keluar mau?' bentak Dokter Sigit membuat air mata Nia jatuh membasahi pipinya


***


Ane yang sedang bermanja dengan Arif dikamarnya teringat Nia yang sepertinya diperlukan tidak baik oleh keluarga Dokter Sigit


"Hai.. istri Abang kenapa tiba-tiba melamun?" tanya Arif


"Bang tadi siang kan Ane ketemu bu Toni saat giat bhayangkari"


"Iya terus kenapa?"


"Bu Toni menceritakan kalau Nia dan suaminya yang sekarang tidak bisa lagi bekerja diseluruh rumah sakit yang ada disini, karena Ane kepikiran Nia, akhirnya Ane mencoba menghubungi Nia. awalnya dia bercerita seolah baik-baik saja. sampai akhirnya Ane mendengar ada yang memangil Nia dan menyuruhnya membutakan makanan. tapi dari caranya menyuruh entah kenapa Ane merasa Sepertinya Nia ini diperlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya yang baru"


"Benerkan?"


"Iya bang, meskipun Nia berusaha menutupi tapi Ane tau dia tidak bahagia"


"Ya sudah, tidak perlu kamu pikirkan itu sudah menjadi pilihannya sendiri"


"Ada kabar yang tak kalah heboh lagi bang"


"kabar apa lagi? perasaan Bu Toni ini kenapa sepertinya selalu saja punya kabar terbaru ya?" Arif terkekeh


"Iya bang, aku juga sempat mikir gitu hehe.."


"Okey jadi apa kabarnya?"


"Kalau kabar yang ini soal Akan bang"


"Alan? kenapa dengan Alan?"


"Katanya Bu Toni, Alan saat ini sedang dekat dengan mantan istri Dokter Sigit?"


"Mantan istri Dokter Sigit? Maksudnya Alan dekat dengan Dokter Anggun" tanya Arif


"Dokter Anggun itu nama mantan istrinya Dokter Sigit?" tanya Ane


"Iya, namanya Dokter Anggun. tapi jika memang itu benar juga bagus, Dokter Anggun sepertinya juga baik kok"


"Tapi apa tidak terlalu tua bang?"


"Kata siapa tua? Dokter Anggun masih muda kok, pantas saja akhir-akhir ini Alan terlihat ceria dan seperti menemukan semangat hidup yang baru. jadi karena dia sedang jatuh cinta dengan Dokter Anggun"


"


***

__ADS_1


Keesokan harinya dikantor saat jam istirahat, Arif yang sedang makan siang bersama Alan mencoba bertanya tentang kedekatannya dengan Dokter Anggun.


Alan yang sbenernya masih belum yakin dan masih menganggap semuanya hanya karena perasaan senasib akhirnya menceritakan semuanya pada Arif.


__ADS_2