
Setelah apa yang dikatakan Amar saat disurabaya. Kini Nana setiap siang sudah tidak lagi bermain kerumah Ane. Nana sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dikampus walapun tidak benar-benar memperhatikan dosen. tapi setidaknya Nana sudah tidak lagi meninggalkan kampus disaat jam perkuliahan
Sepulang kuliah Nana sengaja tidak langsung pulang melainkan bermain dulu ditaman sekedar untuk menghilangkan rasa penatnya.
"Nana, apa kabar? beberapa tidak pernah kelihatan kemana saja?" sapa Nia
"Eh tante.. iya Nana baru pulang dari Surabaya terus ada kuliah terus tante. jadi jarang ada waktu santai" terang Nana
"Oow.. gitu, tapi kenapa wajahnya ditekuk gitu!? Nia melihat wajah Nana yang sepertinya tidak bahagia
"Cinta Nana ditolak tante"Jawab Nana singkat
"Apa maksud kamu, laki-laki anaknya pak Arif yang kamu ceritakan tempo hari yang menolak cinta kamu Na?" tanya Nia dan Nana mengangguk mengiyakan
"Jangan sedih dulu, mungkin saja kan saat ini anaknya pak Arif ingin fokus kuliah tidak mau pacaran" Nia mencoba menghibur Nana
"Kalau memang seperti itu, Amar tidak mungkin mengatakan jika sudah ada wanita lain dihatinya kan tante?"
"Amar mengatakan semua itu?" tanya Nia dan lagi-lagi Nana mengangguk meneteskan air mata. sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan Nana tentu hatinya sakit melihat putrinya menangis
Nia dengan perasaan gundah melangkahkan kakinya kerumah Ane sahabatnya yang sudah lama tidak pernah ia temui sejak dirinya keluar dari lapas.
"Assalamu'alaikum" sudah berkali-kali Nia mengucapkan salam tapi tak ada jawaban.
"Mungkin saat ini Ane sedang tidak ada di rumah" gumam Nia membalik badan handak pulang
Tapi ternyata saat dirinya mau kembali ada sebuah mobil sedang berwarna merah berhenti tetap didepannya.
"Nia" gumam Ane segera mematikan mobilnya dan keluar dari dalam mobilnya. Ane yang baru saja mengikuti rangkaian kegiatan bhayangkari menghampiri Nia dengan menggunakan seragam berwarna pink yang dulu juga pernah dimilikinya. Nia menatap Ane dari atas hingga bawah melihat seragam yang melekat pada tubuh Ane.
"Nia kamu apa kabar? kemana saja selama ini?" cerca Ane
"Aku, aku tidak kemana-mana. aku ada dideket sini. hanya saja, aku malu bertemu dengan kalian" jawab Nia
"Ya sudah, kita masuk dulu yuk" ucap Ane memegang bahu Nia
"Mertua kamu kemana Ne, kenapa rumah sepi? tanya Nia
"Oow.. papa sama mama sedang berada dirumah saudara yang ada dijakarta. menjenguk saudara papa yang ada diana" jawab Ane sambil membuka pintu
"Ayo masuk, silahkan duduk" Ane meletakkan tas dan duduk berhadapan dengan Nia
"Mau minum apa? aku buatkan minum ya" ucap Ane lagi
"Tidak, tidak perlu Ne. aku sudah minum tadi sebelum kesini" jawab Nia
"Beneran gak mau minum?" tanya Ane
"Iya bener Ne" jawab Nia tersenyum
"Ane, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu" ucap Nia menggenggam tangan Ane
"Mau bicara sama aku? tentang apa? kenapa terlihat serius sekali?" Ane membalas genggaman tangan Nia
"Ane, kamu dekat kan dengan Nana?"
"Iya kami cukup dekat, ada apa? apa kamu ingin bertemu dengan Nana?" tanya Ane
"Bukan, bukan itu ne"
"Bukan? lalu apa?" Ane menatap Nia
__ADS_1
"Itu, aku sebenarnya kesini untuk, untuk membicarakan tentang anak-anak kita" ucap Nia
"Ada apa dengan anak-anak kita?" Ane masih belum mengerti
"Apa kamu tau, kenapa Nana sering kerumah kamu? tanya Nia
"Iya aku tau" jawab Ane
"Berarti kamu tau, kalau Nana menyukai A-Amar anak kamu?" tanya Nia ragu
Ane melepaskan genggaman tangan Nia dan menghela nafas kasar
"Sepertinya aku tau arah pembicaraan kamu kemana, tapi Nia. kita ini orang tua. kita sebaiknya biarkan anak-anak kita memilih dan menentukan sendiri nantinya mereka akan berjodoh dengan siapa. lagipula ini masih terlalu dini, untuk membicarakan masalah seperti ini.kamu tidak mengenal putraku seperti apa Nia" ucap Ane
"Ane aku mohon Ne, apa kamu tau? Nana sangat terluka karena Amar menolak Nana. kamu tau kan Ne, aku ini sejak kecil belum bisa melakukan apa-apa untuk bisa membahagiakan Nana. sebagai seorang ibu, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk dirinya. dan kali ini dia bersedih karena cintanya ditolak oleh anak kamu, karena itu aku mohon kalau bisa bujuklah Amar untuk mau menerima Nana. aku tau, Amar sangat menurut dengan kamu. aku mohon Ne. kali ini saja! aku ingin bisa berguna sebagai mamanya. aku ingin Nana bahagia" ucap Nia menyatukan kedua tangannya memohon dan meneteskan air mata
"Maaf Nia, untuk kesekian kalinya saat kita bertemu lagi, aku harus kembali meminta maaf. karena aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu. aku tidak mungkin melakukan semua itu. aku tidak akan menjodohkan putraku dengan siapapun, karena masalah jodoh aku menyerahkan semuanya kepada Amar. Amar berhak hidup bahagia bersama dengan wanita pilihan hatinya sendiri. bukan karena terpaksa menuruti kelingan bundanya. kamu pasti sadar Nia, pernikahan itu bukan suatu mainan. karena didalam suatu pernikahan itu harus ada cinta, agar bisa bersama selamanya. apalagi kamu sendiri sudah mengatakan kalau Amar sudah menolak Nana. itu berarti Amar tidak mencintai Nana." jawab Ane
"Ane, aku tau mungkin kamu berpikir aku ini tidak tau diri. siapa aku menginginkan anakmu sebagai menantuku. aku janji Nia, jika kamu mau menerima Nana sebuah menantu kamu, aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah mengakui Nia sebagai anakku. biar tidak ada yang tau seperti apa mamanya Nana"
"Nia kenapa kamu belum juga mengerti, aku bukan tidak mau menerima Nana sebagai menantu karena masa lalu ibu kandungnya. hanya saja aku tidak mau ikut campur masalah jodohnya Amar. kenapa kamu tidak mengerti juga Nia" ucap Ane kesal
"Maafkan aku Nia, aku memang orang yang tidak tau diri. baiklah aku tidak akan memaksa kamu. aku cukup tau diri siapa aku. aku pulang dulu, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Ane dan menggelengkan kepala saat Nia sudah berlalu
"Nia, Nia kenapa kamu belum juga berubah" gumam Ane dan masuk kedalam kamarnya
Nia pulang dengan wajah ditekuk dan merasa lagi-lagi sebagai seorang ini dirinya tidak berguna dan tidak bisa membuat Nana bahagia.
"Sayang ada apa?" tanya Dokter Sigit
"Aku memikirkan Nana mas"
"Kamu tau kan mas, sejak aku bersama dengan kamu. aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Nana, dan Nana juga tidak mengenal aku sebagai ibunya. rasanya sebagai ibu aku ini seperti tidak bisa berbuat apa-apa untuk anak yang sudah aku lahirkan. dan saat ini Nana mencintai anak temanku Amar namanya. tapi sepertinya Amar mencintai wanita lain dan dia menolak Nana. tadi aku menemui Ane untuk membicarakan masalah ini, namun Ane tidak mau untuk menjodohkan anak-anak kami. Mungkin karena masa laluku mas" ucap Nia
"Sayang, jangan punya pikiran seperti itu. apa yang kamu bicarakan tidak benar. mungkin yang dimaksud teman kamu itu, karena tidak mau mencampuri jodoh anaknya. anak jaman sekarang mana bisa dijodoh-jodohkan seperti itu." ucap Dokter Sigit
"Iya sih mas, kamu memang benar. tapi aku sedih mas, melihat Nana sedih. aku ingin setidaknya walaupun hanya satu kali, aku bisa membantu Nana untuk mendapatkan apa yang dia mau. tapi sepertinya aku memang tidak bisa melakukan apapun untuk Nana" ucap Nia sedih dan Dokter Sigit memeluknya
"Jangan pernah berpikir seperti itu" ucap Dokter Sigit mengusap kepala Nia lembut
Tak lama setelah itu Tasya pulang keruDokter Sigit dan disana Tasya melihat Nia.
"Tante, kenapa tante ada disini?" tanya Tasya
"Tasya tante Nia ini istri papa. dan sudah sepantasnya tante Nia tinggal disini sama papa" ucap Dokter Sigit
"Tapi pa itu sudah dulu, apa papa masih menganggapnya istri setelah dia hampir menghilangkan nyawa papa?"
"Sampai saat ini Nia tetep istri sah papa, karena papa tidak pernah menceraikan tante Nia. jadi suka tidak suka kamu harus bisa menerima tante Nia sebagai mama kamu" tegas Dokter Sigit
Tasya merasa kesal dan pergi meninggalkan rumah lagi.
"Mas, Tasya masih belum bisa memaafkan aku ya?" tanya Nia
"Aku harap kamu sabar ya. saat ini Tasya mungkin belum bisa menerima kamu. tapi aku yakin suatu saat Tasya akan faham. apalagi saat ini rumah tangganya juga sedang diujung tanduk. jadi saat ini Tasya belum bisa berpikir jernih" terang Dokter Sigit
"Semoga ada solusi terbaik untuk rumah tangga Tasya ya mas, saat mas Sigit kemarin menceritakan masalah rumah tangga Tasya. jujur sebenarnya sebagai seorang wanita aku tau bagaimana perasaannya tapi yang bisa aku lakukan saat ini hanya mendoakan Tasya. karena sampai saat ini Tasya masih begitu membenciku" ucap Nia
"Iya sayang, kamu yang sabar ya" ucap Dokter Sigit
__ADS_1
***
Hari ini pak Karsa dan bu Iin pergi untuk berkunjung ke rumah Alan bertemu dengan Nana cucunya. hal itu memang sering dilakukan sejak dulu, entah tiga bulan, entah empat bulan sekali mereka pasti menyempatkan diri untuk menemui Nana.
"Kakek, Nenek" teriak Nana berlari memeluk Bu Iin dan pak Karsa.
"Cucu Nenek apa kabar sayang? nenek kangen sama Nana"
"Baik Nek, Nenek kon tumben lama baru kesini? nenek dan kakek sehat kan?" tanya Nana
"Alhamdulillah kami sehat, maaf ya. nenek dan kakek baru ada waktu untuk kesini"
"Eh.. ada pak Karsa dan Bu Iin ayo masuk duduk dulu" ucap bu Indah
"Terimakasih bu" jawab pak Karsa dan bu Iin
"Alan sama Anggun lagi keluar. tapi sebentar lagi mereka pasti datang kok. lagi ada acara sebentar gitu tadi pamitnya" ucap Bu Indah
"Iya tidak apa-apa bu" jawab Bu Indah
Saat bu Indah sedang pergi kedapur Nana memberanikan diri untuk bertanya pada pak Karsa dan bu Iin.
"Nenek, Kakek. boleh Nana bertanya sesuatu pada kalian?" Nana melihat nenek dan kakeknya bergantian
"Iya ada apa Na? kamu mau tanya apa?" tanya balik bu Iin
"Begini nek, kek, sebenarnya kalian ini nenek dan kakek Nana dari siapa? jujur Nana itu bingung. orang tua papa, kekek sandy dan nenek Indah. orang tua dari mama Anggun. kekek yang di Surabaya. kalau begitu, apa kakek dan nenek ini orang tua dari mama kandung Nan?" tanya Nana menatap nenek dan kakeknya. pertanyaan yang diajukan Nana sontak membuat pak Karsa dan bu Iin tercengang. menyadari Nana sekarang sudah besar tidak heran kalau pertanyaan itu terlontar dari mulut cucunya. pak Karsa dan iin saling pandang seakan memberitahu kalau keduanya bingung harus menjawab apa.
"Nek, kek. kenapa tidak dijawab?" tanya Nana
"Biar papa yang menjawab pertanyaan kamu Nana" sahut Alan yang baru saja masuk rumah
"Papa" gumam Nana
"Nak Alan" gumam pak Karsa dan bu Iin
"Ayah, ibu" ucap Alan dan Dokter Anggun mencium tangan pak Karsa dan bu Iin
"Maaf nak Alan kami datang tidak mengabari dulu sebelumnya" ucap Pak Karsa
"Iya yah, tidak apa-apa. kami mengerti kalian pasti merindukan Nana. dan mengenai pertanyaan Nana. Alan tau, suatu saat pertanyaan ini pasti akan terlontar dari Nana. tidak mungkin juga Nana akan menyembunyikan terus kebenarannya. mungkin memang ini saatnya Nana tau yang sebenarnya!" ucap Alan
Nana kini semakin bertanya-tanya kesalahan apa yang membuat mama kandungan sendiri tidak pernah boleh disebut di rumah ini.
Alan dan Dokter Anggun duduk disamping Nana dan mulai menceritakan asal mulai kenapa Nana sampai tidak diijinkan bertemu dengan namanya.
"Ja-jadi maksud papa, mama kandung Nana meninggalkan papa dan Nana karena berselingkuh dengan suaminya mama Anggun?" ucap Nana menggelengkan kepalanya
"Itulah kenapa papa sebenarnya tidak pernah ingin menceritakan yang sebenarnya. papa takut kamu akan terluka jika mengetahui kebenarannya. papa hanya tidak ingin hati kamu terluka sayang" ucap Alan
"Tidak mungkin, mama kandung Nana seperti itu? nek, kek, apa benar apa yang barusan papa katakan? apa benar mama kandung Nana meninggalkan Nana dan papa untuk berselingkuh dengan suaminya mama Anggun?" tanya Nana pada pak Karsa dan bu Iin
Pak Karsa menghela nafas kasar dan menganggukkan kepala sebagai jawaban
"Ja-jadi benar apa yang papa katakan? jadi mama benar-benar meninggalkan kami karena berselingkuh dengan laki-laki lain. tapi kenapa mama setega itu nek?" ucap Nana terisak dan Dokter Anggun segera memeluknya.
"Nana, sekarang mama kandung kamu sudah membayar untuk semua kesalahan yang pernah dilakukan pada kalian."
"Apa maksud nenek dan kakek, kalau mama sudah menebus kesalahannya, kenapa mama tidak pernah berusaha menemui Nana? memang dimana mama selama ini?" tanya Nana dengan mata berkaca-kaca
^Happy Reading^
__ADS_1
Jangan Lupa, like, coment dan Vote ya sayang2 ku. terimakasih untuk dukungan kalian. dukungan yang kalian berikan sangat berarti bagi Author 🙏🙏😍🥰😘