Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 220


__ADS_3

Itu tadi Dokter Anggun yang mantan istrinya Sigit bukan yah?" tanya bu Iin


"Iya bu, dia mantan istri dari Sigit. selain dia dokter dirumah sakit ini, dia juga anak pemilik rumah sakit ini." jawab pak Karsa


"Pantas saja saya melihat ada penyesalan dimata Sigit dan mamanya saat mau menikah dengan Nia. karena ternyata mantan istri Sigit terlihat sangat sempurna sebagai seorang wanita."


"Itulah bu, bahkan Dokter Anggun ini orangnya sangat sopan santun terhadap orang tua. walaupun anak kita sudah merebut suaminya tapi melihat kita, dokter Anggun masih menyapa dan tidak terlihat marah dengan kita" ucap pak Karsa


"Iya yah, tapi bagaimana dengan nasib anak kita sekarang? kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meringankan hukuman Nia. kasian Nia yah. ibu tidak sampai hati melihat anak kita satu-satunya seperti itu"


"Bu, sebagai orang tua kita sudah melakukan tugas dan tanggung jawab kita. anak kita sudah dewasa dia sudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. jika sekarang sampai seperti ini, sebagai orang tua kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak kita." ucap pak Karsa mengela nafas berat


***


"Alan kamu kenapa disini?" tanya Bu Iin melihat Alan yang berada diparkiran


"Ayah, ibu. kalian baru menjenguk suami Nia?" tanya Alan dan mencium kedua tangan mantan mertuanya


"Iya Nak. kami barusan menjenguk Sigit dan meminta maaf atas nama Nia. berharap mereka bisa memaafkan Nia. tapi kami faham kalau mereka tidak bisa memaafkan Nia. kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan" ucap bu Iin dengan mata berkaca-kaca


"Assalamu'alaikum Lan" ucap Dokter Anggun semua pandangan mengarah padanya


"Kalian?" Bu Iin melihat Dokter Anggun dan Alan secara bergantian


"Iya ayah, ibu. kami sekarang bersama. dan jika Alloh mengijinkan InsyaAlloh Alan ingin menjalin hubungan yang serius dengan Anggun" jawab Alan


Pak Karsa dan Bu Iin tampak terdiam tak percaya, dengan apa yang dilihat dan didengarkan nya.


"Ta-tapi kenapa harus dengan mantan istri suami Nia? bukan karena ingin balas dendam dengan Nia kan?" tanya Bu Iin


"Astaghfirullah, Sedikitpun Alan Tidak pernah berpikir seperti ini Bu, Alan dan Anggun bersamamu juga suatu hal yang tidak kami sengaja. sepertinya ini takdir dari Alloh yang sebelumnya kami juga tidak pernah menyangka kalau kami dipertemukan dan bisa sedekat ini." terang Alan


"Benar apa yang dikatakan Alan, kami bersama tidak ada hubungannya dengan apa yang pasangan kami lakukan dimasa lalu, pertemuan kami juga bukan karena mereka. ini lebih tepatnya seperti takdir" timpal Dokter Anggun


"Ayah dan ibu sebenarnya masih belum pecaya dengan semua ini, tapi ayah dan ibu akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. dan tolong maafkan semua kesalahan putri kami. Alloh sudah memberikan ganti yang lebih baik untuk kamu Alan. ayah harap kamu bahagia" ucap pak Karsa


"Terimakasih ayah, ibu" ucap Alan memeluk pak Karsa.


****


*Flashback*


Hari itu saat Alan mengungkapkan perasaan pada Dokter Anggun, Dokter Anggun tidak serta merta langsung menerimanya. kali ini Dokter Anggun tidak mau mengulangi kesalahan menikah tanpa restu dari papinya.


"Alan kalau boleh aku bicara jujur, aku juga memiliki perasaan yang sama seperti kamu, aku merasa nyaman saat bersama dengan kamu, merasa dihargai sebagai wanita dan banyak hal baru yang aku pelajari selama aku bersama kamu. banyak pengalaman baru dalam hidupku selama bersama kamu. tapi sekarang ini jika aku menjalin suatu hubungan, aku ingin semua atas restu papiku. aku tidak ingin melukai hatinya lagi. karena itu jika kamu mau mencoba dekat denganku, mintalah restu dari papiku dulu" ucap Dokter Anggun


"Alhamdulillah justru aku senang jika kamu mau segera mempertemukan aku dan papi kamu, semakin cepat semakin baik menurutku. tapi sebelum kita melangkah sejauh itu, ada yang harus kita bicarakan mengenai profesi kita Masing-masing. aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti pernikahanku sebelumnya. kamu tau kan dulu Nia menghianati aku karena alasan aku yang sibuk dan jarang ada waktu untuk dia atau pun liburan keluarga. waktu seperti itu pasti ada tapi tentu saja tidak bisa sering seperti pekerjaan orang lain. polisi itu pekerjaannya dua puluh empat jam, bahkan tidak kenal pagi, siang ataupun malam, dimana kedinasan membutuhkan kehadiran kami kami kapanpun itu kami harus siap. seperti itulah tugas kami. kira-kira kalau kamu mau menjadi bhayangkariku, apa kamu tidak akan mempermasalahkan waktu dinasku yang seperti itu?"tanya Alan


"Kalau masalah itu, InsyaAlloh aku bisa memahami. kamu tau kan mantan suamiku yang dulu malah jarang sekali punya waktu, karena kami terpisah jarak dan waktu" ucap Dokter Anggun


"Dan satu lagi sebenarnya ada hal yang membuat aku minder untuk mengakui perasaan aku sama kamu, kamu tau kan, aku ini hanya seorang Bintara Polri. gajiku tidak seberapa dan tidak sebanding dengan kamu, jujur aku merasa tidak pantas untuk kamu." ucap Alan

__ADS_1


"Kenapa bicara seperti itu? aku menghargai seseorang bukan berdasarkan seberapa besar penghasilannya. tapi seberapa niat dan usahanya untuk bertanggung jawab pada keluarga. dan yang utama laki-laki yang bisa menjadi imam menuntunku ke surga Alloh. masalah kekayaannya yang aku miliki, ini semua hanya titipan dari Alloh." jawab Dokter Anggun


Setelah membicarakan semua yang perlu dibicarakan, keesokan harinya Alan menemui papi dari Dokter Anggun dan mengutarakan apa yang menjadi isi hatinya. awalnya papi dokter Anggun juga sempat merasa aneh dan menganggap seperti balas dendam. hingga akhirnya Alan menceritakan kembali kisah bertemu dengan Dokter Anggun, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan masa lalu mereka. tapi melihat Alan yang sopan, kalem juga terlihat penyabar dan usianya yang sepantaran dengan dokter Anggun membuat papi Dokter Anggun pun akhirnya memberikan restu. mengingat Pipinya sadar saat ini Dokter Anggun juga membutuhkan sosok yang bisa mengobati luka dalam hatinya. penghianatan yang dilakukan Dokter Sigit pasti menimbulkan sakit yang dalam bagi Dokter Anggun, tapi di depan semua orang Dokter Anggun tidak pernah mau memperlihatkan kesedihannya.


*Flashback off*


Hari ini pak Karsa dan bu Iin menjumpai Nia tahanan.


Dengan derai air mata bu Iin menyaksikan anak perempuan satu-satunya, mengenakan pakaian tahanan. sakit, sangat sakit itulah yang dirasakan bu Iin saat ini. hatinya sakit harus menyaksikan putri kesayangannya seperti itu.


"Maafkan Nia yah, maafkan Nia ibu" tangis Nia pecah


"Ayah sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi Nia. dan ayah sama ibu juga sudah berupaya untuk mencari pengacara yang terbaik agar bisa meringankan hukuman kamu, tapi sepertinya kasus ini tidak semudah itu, apalagi keluarga Sigit tidak mau mencabut laporan mereka dan bersikeras akan melanjutkan proses hukum ini" ucap pak Karsa


"Ini memang salah Nia yah, Nia akan menanggung semua ini. Nia pantas mendapatkan hukuman ini" ucap Nia


"Hua.. Hua.. " Ibu Iin menangis sejadi-jadinya


"Bu tenang bu, tenang ini kantor polisi" ucap pak Karsa menenangkan bu Iin


"Anak kita kenapa jadi seperti ini pak" tangis bu Iin


"Huft.. Nia kadang ayah berpikir, dimana letak kesalahan ayah, ayah merasa sudah sangat baik mendidik kamu, mengenalkan kamu pada agama. tapi kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Tidak ayah, tidak. ayah tidak salah. Nia yang salah ayah. Nia tidak pantas mendapatkan maaf dari kalian. Nia sudah membuat kecewa dan malu keluarga kita."


"Ini hasil dari kamu menyakiti suami sebaik Alan. apa kamu tau Alan suami yang kamu sia-siakan sekarang mendapat pengganti yang jauh lebih baik dari pada kamu" ucap bu Iin meluapkan kekesalannya


"Bu sabar bu, sabar" ucap pak Karsa memegang bahu bu Iin


"Alan sekarang bersama mantan istri Sigit pemilik rumah sakit tempat dimana kamu dulu bekerja. kamu lihat kan? laki-laki yang kamu sia-siakan justru sekarang diambil wanita yang kaya, cantik dan baik. ibu sudah bertemu dengan Dokter Anggun, orangnya Sangat sopan. bahkan dengan kami pun dia sangat sopan, padahal dokter Anggun tau kami ini orang tua dari wanita yang merebut suaminya. tapi dia masih bisa hormat sama kita." ucap Bu Iin


"Maksud ibu sekarang Alan benar-benar bersama dokter Anggun?" ucap Nia dengan mata berkaca-kaca


"Iya Alan bersama dengan dokter itu. dan lihat apa yang kamu dapat? seperti inikah hasil kamu menyia-nyiakan suami yang sudah mengangkat derajat keluarga kita? belum cukupkah seorang polisi mengangkat derajat kita, masih kamu ingin mendapatkan seorang dokter? apa yang ada didalam pikiran kamu Nia? apa kamu pikir dengan menikah dengan Dokter, hidup kamu akan semakin lebih baik?"


"Bu sudah bu, sudah" pak Karsa menenangkan bu Iin


"Lihat apa yang kamu dapatkan? hidup seperti ini kah yang kamu inginkan?" ucap Bu Iin yang masih kesal


"Nia, sekarang semua sudah terjadi. ayah harap disini kamu bisa merenungi kesalahan kamu dan mau bertaubat minta ampun sama Alloh nak. ayah dan ibu tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa untuk kamu" ucap pak Karsa


***


Nur yang sekarang perutnya sudah membuncit berkunjung ke rumah. Ane ditemani suaminya, mendengar berita tentang Nia membuatnya terkejut, tidak disangka Nia harus mengalami semua ini.


"Astaghfirullah, kenapa Nia seperti ini? apa yang merasuki hati dan pikirannya? mas nanti mau tidak kalau kita menjenguk Nia ditahanan?"


"Ya baiklah nanti kita akan mampir menjenguk Nia, tapi sekarang kita harus menemui Almira dulu. aku sudah kangen sama Almira" ucap ustadz Guntur yang menyayangi Alamin seperti anaknya sendiri


"Ane kita pulang dulu ya, mau menemui Almira dan menjenguk Nia" ucap Nur pamit

__ADS_1


"Iya, terimakasih sudah menyempatkan diri main kesini. salam untuk Tika dan Nia ya" ucap Ane


Kini Nur dan Ustadz Guntur menuju kediaman bu Risma


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam Nur, ustaz Guntur" sapa bu Risma yang membuka pintu


"Ayo masuk, tante panggil Almira" ucap bu Risma masuk


"Nur" ucap Saka keluar melihat siapa tamu yang datang


"Saka, kamu bukannya berlayar?"


"Iya kemarin aku baru pulang. ini_" ucap Saka melihat Ustadz Guntur


"Kenalkan ini suamiku mas Guntur. mas ini ayahnya Almira Saka" ucap Nur memperkenalkan


Ustadz Guntur dan Saka saling berjabat tangan.


entah kenapa ada perasaan aneh dihati Saka melihat Nur dengan ustadz Guntur. tapi Saka tau Nur berhak hidup bahasa dengan laki-laki yang baik seperti ustadz Guntur


"Mama" teriak Almira memeluk Nur


"Almira, anak mama yang cantik. apa kabar sayang?" tanya Nur memeluk dan mencium Almira


"Almira baik ma, ini perut mama besar apa karena adik Almira sudah besar ma?" tanya Almira memegang perut Nur


"Iya sayang, adik Almira sudah tambah besar makanya perut mama besar"


"Berat ya ma?" tanya Almira polos?"


"Tidak sayang, karena mama menjalaninya iklas jadi tidak terasa berat" jawab Nur tersenyum


"Dulu waktu mama hamil Almira, Almira nyusahin mama tidak?"


"Kenapa tanya seperti itu? tentu saja Almira tidak pernah menyusahkan Almira itu anak yang sangat pintar" jawab Nur


Almira tidak kangen sama papa?" tanya ustadz Guntur


"Kangen pa, kalau kangen sini peluk papa juga" Almira berjalan menuju ustadz Guntur dan memeluknya. Saka tidak menyangka kalau ternyata Almira juga sedekat itu dengan Ustadz Guntur


"Mbak Nur, wah perutnya sudah besar ya?" tanya Tika yang baru saja keluar menggendong Farhan


"Iya sudah mulai capek kalau berdiri terlalu lama" Jawab Nur


"Hahaha... ya sudah ayo duduk. bumilnya sudah kecapekan berdiri terus" ucap Tika


Nur dan ustadz Guntur tampak bahagia dengan pernikahan mereka. Saka yang melihatnya tampak merasakan bahagia walaupun ada perasaan seperti tidak rela tapi Saka juga bersyukur setidaknya dengan melihat Nur sekarang bahagia. sedikit mengurangi rasa bersalah setelah penderitaan yang pernah Nur terima karena ulahnya yang saat itu terlalu pengecut.


^Happy Reading^

__ADS_1


jangan lupa like, coment dan vote ya Terimakasih 🥰😘🙏🙏


__ADS_2