Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 227


__ADS_3

Dirumah Arif


"Amar sini nakal, Bunda mau bicara" ucap Ane setelah menjawab salam dari Amar


"Amar kan baru pulang bun, biar mandi dan makan dulu saja" sahut Arif


"Ada apa bun?" Amar penasaran dan duduk disofa depan Ane


"Begini Mar, kamu kan sekarang sudah jadi Dokter. Kamu pacaran dengan Rara juga sudah cukup lama, apa kalian berdua belum membahas hal yang serius tentang hubungan kalian? jujur ya nak sebenarnya bunda ini agak kurang setuju kalau kalian pacaran" ucap Ane


"Tidak setuju? kenapa bun? apa bunda tidak suka dengan Rara?" Amar melihat Ane dengan sejuta kekhawatiran


"Bukan, bukan bunda tidak suka. Tentu saja bunda suka dengan Rara. Rara anak yang baik, hanya saja pacaran dalam islam itu tidak boleh nak. Amar pasti tau dengan itu" ucap Ane


"Bun, benar kami memang pacaran. Tapi kami tidak pernah melakukan hal diluar batas. Amar juga tidak akan melakukan hal yang agama larang bun" jelas Amar


"Bunda tentu saja percaya, bunda tau anak bunda seperti apa. Tapi bagaimana dengan pandangan orang lain?"


"Amar, apa yang dibilang bunda ini benar. dulu ayah sama bunda juga tidak pacaran, kami kenal langsung nikah. Saat itu bundamu juga belum selesai kuliahnya" sahut Arif


"Tapi Yah, sepertinya Rara pasti tidak mau kalau harus menikah dulu sedangkan dia masih kuliah"


"Coba saja dibicarakan dulu, tidak baik juga kan pacaran terlalu lama tanpa kejelasan"


Kembali Arif menyakinkan putranya. Karena memang Amar dan Rara saling mencintai sudah cukup lama


"Iya yah nanti Amar akan coba bicarakan masalah ini dengan Rara. Amar ke kamar dulu ya yah" Amar berlalu ke kamar meletakkan tasnya dan memikirkan apa yang ayahnya katakan.


Amar mengambil ponsel yang ada diatas meja dan menghubungi Rara


"Assalamu'alaikum kak" jawab Rara dari sebrang telpon


"Walaikumsalam, Ra.. ada yang mau kakak bicarakan sama kamu! apa boleh kakak bicara disini?" tanya Amar sedikit ragu

__ADS_1


"Mau bicara soal apa kak? kenapa harus ijin dulu? bicara aja kak? kenapa terdengar seperti serius gini ya?" ucap Rara


"Ra, tadi Ayah dan bunda bicara sama kakak dan menanyakan tentang hubungan kita berdua" ucap Amar


"Menanyakan hubungan kita? memang ada apa dengan hubungan kita kak?" Rara sedikit tak mengerti tapi feeling Rara mulai tidak enak


"Begini Ra, Ayah dan Bunda menanyakan keseriusan hubungan kita" ucap Amar


"KeseriusanKeseriusan hubungi kita? ini maksudnya gimana ya kak? kok kayaknya Rara jadi deg.. deg.. kan gini" ucap Rara


"Iya, jadi.. Ayah dan Bunda ingin kita menikah. Ayah dan Bunda tidak mau kita pacaran terlalu lama" ucap Amar


"What? menikah? kakak gak bercanda kan? mana mungkin kita menikah sekarang kak, Rara kan belum selesai kuliahnya" ucap Rara


"Ya gak sekarang juga, tapi Ayah dan Bunda tidak mau kita pacaran teralu lama takutnya ada setan"


"Tapi kita pacaran juga jarang ketemu kan kak? kakak di Semarang dan Rara di Surabaya. Apa lagi sebagai Dokter residen kakak juga sibuk banget, kita juga jarang komunikasi. Terus yang mau ditakutkan apa kak?" protes Rara


"Ra, namanya orang tua bilang seperti itu juga bukan tanpa alasan. Ayah dan Bunda hanya ingin kita menjalani hubungan yang sehat saja. Karena didalam agama kita, bukankah pacaran itu tidak boleh ya?" tanya Amar


"Apa Ra, putus? kamu mau kita putus? kamu gak ingin memperjuangkan hubungan kita Ra?" tanya Amar menggelengkan kepala dan sedikit kecewa dengan keputusan Rara


Amar tidak menyangka dibandingkan dengan menikah Rara lebih memilih untuk putus


"Bukan Rara tidak ingin mempertahankan hubungan kita, tapi Rara rasa ini yang terbaik. Agar kita tidak di desak untuk menikah kak" jelas Rara


"Jadi kamu lebih memilih putus dari pada harus menikah denganku Ra? semisal pun kita menikah, aku juga tidak akan meminta kamu untuk melakukan tugas seorang istri kok Ra, karena aku menyadari kamu masih kuliah. Yang penting kita sudah terikat pernikahan saja Ra, agar tidak menimbulkan fitnah. Kamu masih tetep bisa menjalani hari-hari seperti biasa, tidak akan ada yang berubah Ra" ucap Amar menyakinkan


"Kak, tolong ngertiin Rara. Rara belum siap untuk menikah. Tolong kakak mengerti! " pintar Rara


"Ya sudah Ra, tapi kakak berharap kamu pikirkan kembali tentang hubungan kita ini. Kakak serius Ra, Kakak tidak ingin kehilangan kamu. Kakak harap kamu mau mempertimbangkan kembali hubungan kita. Assalamu'alaikum" ucap Amar menutup telpon dan mengusap wajahnya dengan kasar


Amar tidak menyangka kalau Rara justru memilih putus ketimbang harus menikah dengannya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya Ane bertanya pada Amar tentang keputusannya


"Maaf bun, Tapi sepertinya Rara belum siap untuk menikah. Sebenarnya Amar memahami sikap Rara yang seperti itu bun, karena saat ini Rara masih kuliah. Pasti dia ingin fokus dengan kuliah. Lagian bun, kita pacaran kan juga beda kota. Kita juga jarang bertemu apa itu masih membuka ayah dan Bunda tidak tenang?" tanya Amar


"Amar, maksud Bunda kamu ini bukan tidak percaya dengan kamu, ayah dan Bunda tentu saja sangat percaya denganmu. Hanya saja maksud kami ini untuk menghindari fitnah. Lagian kalau kalian saling sayang, salahnya dimana untuk menikah? bukankah lebih bagus pacaran setelah menikah?" sahut Arif memberi pengertian


"Iya Amar paham maksud Ayah. Tapi Rara masih kecil yah, pikirannya belum sedewasa itu. Begini saja yah. Boleh tidak kalau beri waktu Rara samapai wisuda S1 kedokterannya?" nanti setelah wisuda Amar akan mencoba membujuk Rara untuk menikah." bujuk Amar menyakinkan Arif dan Ane


"Baiklah nak, intinya Bunda ini hanya takut kalau sampai kalian salah pergaulan dan menjadi fitnah." ucap Ane


"Ra, kamu kenapa terlihat sedih gitu?" tanya Nana saat melihat Rara tidak semangat pagi ini


"Rara bingung kak" jawab Rara singkat


"Bingung? bingung kenapa?" tanya Nana memicingkan matanya


"Rara bingung, karena semalam Amar telpon dan mengatakan kalau Ayah dan bundanya meminta kita segera menikah" jelas Rara


"Uhuk.. uhuk.. " Nana tersedak, apa yang dikatakan Rara membuatnya tercengang.


"Kamu serius? apa tidak terlalu buru-buru memikirkan pernikahan. kuliah kamu belum selesai, dan nanti masih harus koas juga kan kalau dokter?" Nana berusaha bersikap tenang


"Iya kak, tapi kak Amar bilang walaupun kita menikah tidak akan mempengaruhi kuliah Rara" ucap Rara


"Mana bisa menikah seperti itu Ra? itu ma bisa-bisanya Amar. Kalau sudah menikah tentu semua akan berbeda Ra, kamu punya tanggungjawab mengurus suami dan pastinya juga rasa nya akan berbeda ketika suami disana dan istri disini" ujar Nana


"Iya juga sih kak" ucap Rara sedih


"Lalu kamu jawab apa? waktu Amar bilang mau menikah?" tanya Nana


"Aku bilang saja kalau lebih baik putus dulu, nanti setelah Rara lulus kuliah baru bahas hubungan kami lagi. Tapi setelah Rara pikir-pikir kenapa sepertinya Rara kejam gini ya kak? Rara jadi gak enak hati sama Amar" ucap Rara

__ADS_1


"Kamu tidak kejam Ra, kakak rasa justru itu yang terbaik. Jadi kalian bisa saling introspeksi diri" ucap Nana


Nana melihat Rara yang sedang tertunduk sedih. Dan ada kelegaan dihatinya karena hubungan Amar dan Rara tidak semulus yang dibayangkan.


__ADS_2