
Hari ini Alan menghubungi Rara dan menyampaikan niat baik Arif untuk menikahkan Rara dan Amar. Rara yang awalnya ragu akhirnya menerima keputusan dari orang tua Arif agar Rara dan Amar bisa segera menikah, setelah Rara menyelesaikan S1 Kedokteran yang saat ini di tempuhnya.
"Iya yah, InsyaAlloh setelah Rara pikir-pikir lagi apa yang Om Arif dan tante Ane katakan memang benar. Rara terima lamaran dari kak Amar. Dan Rara bersedia untuk menikah dengan kak Amar" ucap Rara diseberang telpon
"Alhamdulilah, akhirnya kamu menentukan pilihan yang tepat sayang. Amar adalah laki-laki yang baik. Papa yakin kamu akan bahagia menikah dengan Amar, dari keturunan semua keluarga baik. Papa mengenal dengan baik keluarga om Arif dan tante Ane semuanya orang baik. Papa tenang jika kamu menikah dengan Amar. " ucap Alan
"Iya pah, Rara tau. Kak Amar memang orang yang sangat baik. Karena itu, Rara bersedia menikah dengan kak Amar. Tidak perlu lagi ada yang Rara khawatirkan"
"Baiklah kalau begitu papa akan segera mengabari om Arif tentang berita bahagia ini. Kamu belajar yang rajin biar cepet selesai kuliahnya. Assalamu'alaikum" ucap Alan menutup telpon
"Walaikumsalam pah" jawab Rara menutup telpon dan tersenyum bahagia karena sudah berani mengambil keputusan yang penting dalam hidupnya
"Bagaimana Mas? apa Rara menerima lamaran Amar?" tanya Anggun
"Alhamdulillah setelah aku jelaskan, Rara terbuka pikirannya dan mau menerima lamaran Amar. sesudah wisuda kita akan menikahkan putri kita" jawab Alan
"Apa pah? Rara mau menikah dengan Amar? kenapa tiba-tiba Rara mau menikah? seingat Nana, Rara mengatakan kalau Rara belum siap menikah. Bukan gimana-gimana. Nana senang kalau mereka akan segera menikah, tapi bagaimana dengan kuliah Rara, setelah S1 nya selesai. Rara kan masih harus koas dan itu pasti sibuk banget. Apa Rara bisa membagi waktu?" Tanya Nana
"Kita tidak perlu khawatir, Amar kan juga seorang Dokter. justru akan lebih baik kalau mereka segera menikah. Amar juga bisa membantu belajar Rara dan masalah membagi waktu papa yakin, Amar tidak akan menuntut banyak. Amar mengerti bagaimana sibuknya seorang Dokter koas. Dan dulu Om Arif dan tante Ane pun menikah saat tante Ana masih kuliah. Jadi InsyaAlloh tante Ane juga akan mengerti kalau nanti Rara akan sibuk dengan tugas Dokter koas" terang Alan
"Oow.. jadi dulu Bang Arif dan Ane menikah juga saat Ane masih kuliah mas?" tanya Anggun
"Iya dulu mereka menikah saat kak Ane masih kuliah. Aku tau perjuangan mereka dulu. mereka menikah karena menghindari pacaran. prinsip mereka pacaran setelah menikah itu jauh lebih baik. Karena itu memang sesuai dengan ajaran agama kita." jawab Alan
"Na, apa saat ini kamu sudah dekat dengan seorang cowok?" tanya Dokter Anggun
"Apa ma?" Nana terkejut dengan pertanyaan Anggun
"Kamu juga sudah waktunya menikah kan? sudah punya cowok belum anak mama yang ini?" goda Anggun
__ADS_1
"Iya sayang, anak papa sudah punya pacar belum? kalau bisa jangan pacaran, tapi segera menikah setelah ada cowok yang suka sama kamu, dan kamu merasa cocok dengan dia. Tapi tentu saja papa harus tau dulu, seperti apa latar belakangnya" sahut Alan
"Tentu saja pah, Nana tidak akan pacaran tapi Nana akan segera menikah dengan laki-laki yang Nana cintai" batin Nana
"Kok malah bengong, sepertinya sudah punya pacar ya?" goda Anggun lagi
"Belum kok ma, Nana belum ada pikiran kearah sana. Nana masih ingin fokus berkarir dulu" jawab Nana
"Ya sudah, tapi kalau nanti kamu dekat dengan seseorang bilang ya sama papa, Ingat Nana harus cerita sama papa. Jangan memutuskan sendiri! papa gak mau kalau sampai kamu salah memilih pasangan hidup, jadi sebelum itu terjadi, papa akan menyelidiki dulu latar belakangnya." ucap Alan
"Tu Na, dengar kata-kata papa! karena papa dan mama ingin kamu mendapatkan pasangan yang terbaik untuk kamu." timpal Anggun
"Siap ma, ya sudah Nana kembali ke kamar ya ma, pah. Nana capak banget hari ini pengen segera mandi terus istirahat" ucap Nana
"Kamu tidak makan malam dulu sayang?" tanya Anggun
"Tidak ma, lagi diet. Biar cantik" jawab Nana tersenyum
"Masih cantikan Mama" jawab Nana tersenyum
"Bisa aja ni anak, ya sudah sana" timpal Anggun tersenyum
Setelah Nana ke kamar, Anggun membicarakan masalah Nana yang sepertinya tertutup soal laki-laki sejak kejadian dengan Amar beberapa tahun yang lalu
"Anggun ini hanya takut kalau Nana ada trauma atau semacam takut kembali memulai sebuah hubungan" ujar Anggun
"Masak seperti itu sayang? apa mungkin memang Nana ini belum menemukan laki-laki yang dicintai saja sayang" timpal Alan
"Ya bisa saja kan mas? Soalnya sudah beberapa tahun itu terjadi dan sampai sekarang Nana belum terdengar dekat dengan siapapun. Apa lagi sekarang usia Nana sudah pantas untuk menikah." ucap Anggun
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita jodohkan saja ya sayang?"
"Jodohkan? jodohkan dengan siapa mas? apa kamu punya kenalan yang kira-kira cocok dengan Nana mas?" tanya Anggun
"Em.. siapa ya, coba nanti aku pikir-pikir dulu" jawab Alan
"Aku hubungi Bang Arif dulu ya sayang" ucap Alan lagi
"Iya mas" jawab Anggun
Alan mengambil ponselnya dan menghubungi Arif untuk memberitahu tentang jawaban Rara
"Jadi Rara setuju Lan?" tanya Arif dari sebrang telpon
"Iya bang, tadi Rara sudah menjawab. Setelah Rara pikirkan lagi, Rara setuju untuk menikah dengan Amar setelah nanti Rara wisuda" jawab Alan
"Alhamdulillah, Amar pasti sangat bahagia mendengar berita ini. Kamu tau kan, Amar sangat mencintai Rara. Saat Rara memutuskan untuk memilih putus kemarin dari pada menikah, Amar kehilangan semangat hidupnya. Hari-hari dijalani dengan tidak bahagia" ucap Arif
"Iya bang, Rara juga cerita kalau dia menyesal saat mengatakan itu pada Amar. Saat itu Rara hanya sedang bingung saja dengan permintaan Amar yang tiba-tiba bang" ucap Alan
"Iya aku mengerti wajar menurutku, karena Amar ini orangnya juga tidak pandai basa basi. Kamu tau sendiri kan, Amar itu anaknya suka langsung pada intinya kalau bicara"
"Iya Alan paham itu bang, kan kurang lebih hampir sama seperti bang Alan hehehe" Alan tertawa
"Hahaha... Iya, iya kamu banar, Amar ini memang hampir mirip denganku saat masih muda dulu. Suka apa adanya"
"Alan gak nyangka lho bang, kalau sebentar lagi kita bukan hanya menjadi teman dan rekan kerja saja, tapi sebentar lagi kita juga akan menjadi besan" ucap Alan
"Iya Lan, aku juga tidak menyangka" jawab Arif tersenyum
__ADS_1
^Happy Reading^