Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 182


__ADS_3

"Tidak ayah, mas Alan tidak akan mungkin menjemput Nia. semua berkas perceraian sudah masuk ke pengadilan"


"Ayah tidak akan membiarkan putri ayah diperlakukan seperti ini"


Nia masih terdiam belum berani menyampaikan kebenarannya. malam ini Nia ingin tidur dirumahnya dengan tenang. sebelum dirinya mungkin besok akan diusir oleh orang tuanya. inilah yang ada didalam pikiran ibu muda yang sebentar lagi akan memiliki dua anak tersebut.


Malam ini hati Nia sangat gusar memikirkan kekecewaan yang akan dirasakan orang tuanya. matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya, menghembuskan nafas dengan berat. hingga tetesan bening bak kristal yang ada di sudut matanya pecah dan membasahi bantalnya.


Mengingat kata-kata Dokter Sigit tadi siang seakan menusuk relung hatinya.


Pagi hari matahari mulai menampakan cahaya jingganya Nia yang semalam tidak bisa memejamkan matanya membuka matanya perlahan yang masih terasa sangat berat. namun dirinya memaksakan diri untuk segera bangun agar bisa berbicara dengan ayahnya. Nia berniat memberitahu ayahnya cerita yang sesungguhnya sebelum ayahnya pergi menemui Alan.


"Sudah bangun nduk? ini teh hangat diminum dulu" ucap Bu Iin


"Iya Bu" jawab Nia menyeruput teh yang baru dibuat Bu Iin


"Ayah dimana bu? kok tumben jam segini belum kelihatan"


"Ayahmu sudah berangkat ke Semarang sejak habis subuh tadi"


"Uhuk.. uhuk.. " Nia tersedak


"Nia kamu ini kenapa? Hati-hati kalau minum nduk" Bu Iin mengusap lembut punggung Nia


"Ja-jadi ayah sudah kesana ma?" Nia panik


"Iya mungkin sekarang sudah hampir sampai. klo berangkat masih gelap kan jalan gak macet. kamu kenapa jadi pucet gitu nduk?"


Nia panik dan takut kalau ayahnya akan membuat keributan dirumah Alan.


***


Dirumah Alan


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam pak Karsa" ucap Bu Indah


"Mari pak silahkan masuk, pah ada pak Karsa" Bu Indah memanggil pak Sandi


Pak Sandi dan Alan pun keluar menemui pak Karsa, sementara bu Indah membuatkan minum untuk besannya.


"Ayah sepagi ini sudah sampai sini dari rumah jam brp yah?" tanya Alan sambil mengulurkan tangannya dan pak Karsa membalas uluran tangan laki-laki yang saat ini masih menjadi menantunya

__ADS_1


"Saya langsung saja pada inti permasalahannya. saya yakin kalian pasti tau maksud dan tujuan saya kesini karena Nia kemarin pulang dan mengatakan Alan menggugat Nia bercerai. sebagai ayah saya hanya ingin menanyakan apa kesalahan putri saya sehingga nak Alan tega menceraikan Nia disaat Nia sedang mengandung anak nak Alan"


"Mengandung" pak Sandi terkejut dengan apa yang dikatakan besannya. karena pak Sandi tidak tau perihal Nia hamil begitu juga bisa Indah yang terkejut saat mendengarnya


"Apa maksud pak Karsa, saat ini Nia hamil?" tanya Bu Indah menaruk teh dimeja pak Karsa


"Iya Bu, apa kalian tidak tau kalau saat ini Nia sedang hami?" tanya Pak Karsa menatap kedua besannya berganti


"Tidak, kami tidak tau kalau Nia hamil." Jawab Bu Indah


"Alan sudah tau soal kehamilan Nia" sahut Alan


"Kenapa kamu tidak cerita Lang? dan kalau Nia hamil kenapa kamu masih melanjutkan gugatan cerai kalian? bukankah istri yang hami tidak bisa diceraikan ya?" tanya Bu Indah


"Pengacara Alan akan mengurus itu semua" jawab Alan singkat


"Nak Alan, bagaimana bisa kamu tetap mau menceraikan Nia disaat Nia sedang hamil? apa sebenarnya kesalahan anak saya, hingga nak Alan ingin menceraikan anak ayah?" tanya pak Karsa dengan mata sayunya.


"Ayah, sebelumnya Alan minta maaf. mungkin selama menjadi menantu Ayah, Alan belum bisa menjadi menantu yang baik dan mungkin Alan juga bukan suami yang baik untuk Nia. tapi Alan sudah berusaha itu Ayah. Alan tau Nia hamil. tapi bukan anak Alan"


"Nak Alan hati-hati bicaranya! jika memang nak Alan sudah tidak menginginkannya anak ayah, baiklah ayah terima tapi jangan mengatakan hal yang buruk tentang anak ayah. ayah sendiri yang membesarkan Nia. ayah tau seperti apa putri ayah tidak mungkin Nia akan melakukan hal yang akan mencoreng nama keluarga!"


"Tenang pak Karsa, tenang dulu. kita bicarakan semua ini baik-baik" ucap pak Sandi mencoba menenangkan besannya yang sudah dikuasai amarah.


"Apa Nia tidak menceritakan hal yang sebenarnya?" tanya Bu Indah


"Hal yang sebenarnya? apa maksud Bu Indah?"


"Nia memang berselingkuh pak Karsa, bahkan Alan sendiri dan suami Ane teman bapak yang langsung menangkap mereka di apartemen selingkuhan Nia. tapi saya tidak tahu kalau Nia sampai hamil. apa itu anak selingkuhan Nia apa ada kemungkinan anak Alan"


Jleb...


Seperti tertusuk benda tajam. itu yang dirasakan pak Karsa mendengar penuturan besannya


"Itu anak Selingkuhan Nia. anak yang saat ini dikandung Nia bukan anak Alan" sahut Alan.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu Lan?" tanya pak Sandi


"Sudah empat bulan, Nia tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. dan Nia selalu saja menjauh setiap saya mendekat. sedangkan saat ini usia kehamilan Nia baru empat minggu. bagaimana bisa itu anak Alan, jika kami sudah empat bulan tidak pernah berhubungan suami istri?" Alan melihat orang tua dan mertuanya bergantian


"Astaghfirullah" pak Karsa memegang dadanya.


"Ayah, ayah tidak apa-apa?" tanya Alan cemas

__ADS_1


"Apa bener putri ayah seperti itu?" mata pak Karsa beekaca-kaca dan pamit pulang.


Sepanjang perjalanan, hatinya terasa sakit, saat ini pikirannya ingin segera sampai rumah untuk bertanya secara langsung dengan putrinya. pak Karsa berharap apa yang dikatakan menantunya itu tidak benar.


Sebenarnya Alan menawarkan diri untuk mengantar pak Karsa pulang kerumahnya. namun pak Karsa yang merasa malu kerena putri menolak tawaran Alan. bahkan pak Karsa belum sempat bertemu dengan cucunya karena emosi dan ingin segera kembali ke rumah.


***


Sesampainya dirumah, Bu Iin segera menyambut suaminya dan menayangkan hasil pembicaraan pak Karsa dengan menantunya.


untuk sesaat pak Karsa hanya diam berusaha menahan emosi yang seakan ingin meledak.


"Tolong panggilkan Nia bu!"


Tanpa membantah Bu Indah segera memanggil putrinya


Nia wajahnya. sudah tampak pucat, badannya gemetar karena takut dengan tatapan mata ayahnya.


"Sepertinya ayah sudah mengetahui semuanya, ya Alloh semoga Ayah memaafkan aku" batin Nia


"Ayah maafkan Nia" Nia menjatuhkan dirinya dilantai dan bersimpuh dikaki pak Karsa


Sementara pak Karsa masih diam dan tanpa disadari air matanya pecah jatuh ditangan Nia.


"Yah, maafkan Nia ayah. maafkan Nia"


Bu Iin masih belum mengerti dengan kondisi yang saat ini dilihatnya


"Yah, ada apa ini? kenapa ayah diam saja? dan kenapa Nia yang minta maaf terus. sebenarnya bagaimana hasil pertemuan ayah dan Alan?"


"Tanya anakmu bu, kenapa tega mempermalukan kita seperti ini" jawab pak Karsa


"Yah, maaf yah, maafka Nia. Nia salah ayah, Nia taubat yah, Nia menyesal" tangis Nia


"Sebenarnya ada apa ini? ceritakan yang sebenarnya yah! ibu tidak mengerti dengan kalian"


"Anakmu ini sudah membuat murkanya Alloh. dia menghianati suaminya dan anak yang saat ini dikandung bukan anak suaminya" ucap pak Karsa berat


"Astaghfirullah, apa bener yang ayah katakan Nia?"


"Maafkan Nia ibuk, Nia minta maaf"


Mendengar permintaan maaf dari Nia dan tidak ada sanggahan darinya, menguatkan perkataan suaminya tentang perselingkuhan Putrinya.

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2