Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
NYIDAM


__ADS_3

Dret....dret...


Panggilan masuk dari Alan


"Assalamualaikum"


"Walikumsalam" jawab Nia


"Maaf ya, karena aku, kamu jadi ribut sama cowok kamu" ucap Alan


"Bukan karna kamu kok Lan, memang hubunganku sama Saka sebenarnya sudah tidak jelas" jawab Nia


"Tidak jelas gimana maksudnya" Alan mengerutkan dahinya


"Ya seperti yang kamu dengar tadi, sebelum Saka berlayar aku sudah meminta kepastian dan bertanya kapan dia mau membawa hubungan kita ini ketahap yang lebih serius. aku pacaran sudah dua tahun lamanya, tapi ya gitu. hubungan yang gak ada kejelasannya. bahkan aku belum pernah diajak ketemu orangtuanya." ucap Nia


"Mungkin cowok kamu belum siap" ucap Alan


"Setelah aku pikir - pikir yang dikatakn Ane benar cowok kayak gitu antara memang belum siap atau sebenrnya cuma mau main - main saja"


"Kamu sudah ingin menikah ya?" tanya Alan


"Bukan masalah ingin menikah atau tidaknya, tapi bukankah di agama kita dilarang pacaran ya? dan lagi aku juga sudah lulus, sudah kerja mau nunggu apa lagi?" ucap Nia


Setelah percakapannya dengan Nia, Alan juga berpikir hal sama, kalau hanya mikir seneng - seneng terus. kapan dirinya akan belajar tanggung jawab? lagian dirinya juga sudah bekerja, apa lagi yang mau ditunggu?


Tapi mau menikah sengan siapa dirinya? jika hatinya belum menemukan yang sesuai dengan kriterianya yaitu wanita sholehah.


"Aku mengharap dapat istri wanita sholehah tapi aku sendiri, apa sudah jadi laki - laki yang sholih?" gumam Alan


"Nia, cantik apa adanya.cukup berprinsip tapi sayangnya belum berhijab. Tia, cantik juga, kalem pembawaannya, pendiam dan juga berhijab. tapi kenapa hati ini rasanya belum terlalu yakin ya" giumam Alan sambil tiduran merebahkan tubuhnya memandang langit - langit kamarnya.


***


Dikantor pagi ini ada berita cukup menghebohkan, Nina pagi ini melakukan sidang nikah kantor, tentu saja itu membuat banyak orang terkejut karena dirasa terlalau mendadak. hampir semua orang dikantor tau kalau Nina dari dulu susah didekati laki - laki lantara mencintai Arif. hal ini seperti bukan lagi rahasia umum.

__ADS_1


Banyak yang bergosib, mungkin calon suami Bu Nina hanya dijadikan pelampiasan sakit hatinya lantara Arif lebih memilih wanita yang jauh lebih muda darinya. seolah tidak mau kalah Bu Nina pun mencari suami brondong. itu lah kabar yang tersebar dikantor.


Nina yang mendengar desas desus orang bergosib tidak terlalu memperdulikannya. karena apapun yang dilakukan sepertinya selalu saja jadi bahan gosib yang mungkin menarik buat mereka perbincangkan.


"Nin, selamat ya. akhirnya kamu menemukan jodohmu" ucap Viko mengulurkan tangan pada Nina yang sedang duduk di depan meja kerjanya.


"Terimaksih Vik" ucap Nina membalas uluran tangan Viko


"Ganteng lho calon suamimu, semoga kali ini kamu akan bahagia bersamanya" goda Viko


Nina hanya mengangkat kedua bahunya


"Kok ekspresimu gitu? gosib - gosib itu tidak benar kan?" Viko menyelidik


"Entah lah, yang penting aku menikah." jawab Nina santai


"Wah, gila kamu Nin, kasian suami kamu. berusahalah mencintai suami


kamu. lakukan apa yang menjadi tugas seorang istri" Viko mencoba menasehati sahabatnya


"Aku tidak yakin bisa Vik, kamu tau selama ini penantianku seperti apa? andai aku bisa mencintai yang lain. aku tidak mungkin menyia - nyiakan masa mudaku seprti ini. tapi setelah penantian panjangku, ini lah yang aku dapatkan" ucap Nina dengan mata mulai berkaca - kaca


Arif yang mendengar kabar Nina akan menikah menghampiri Nina dan Viko untuk mengucapkan selamat pada Nina.


Mendapat ucapan selamat dari Arif justru membuat Nina meneteskan air matanya didepan Arif dan Viko.


Melihat Nina seperti itu Viko menggaruk keningnya.


"Aku bahagia kamu menemukan Imammu dan aku berdoa semoga kalian akan selalu bahagia" ucap Arif


"Kenapa aku harus mengalami semua ini Rif?" ucap Nina dengan air mata yang membanjiri wajahnya


"Nin, apa lagi ini? kenapa seperti ini lagi? ayo lah Nin, tolong jangan seperti ini" ucap Arif


"Maafkan aku Rif, tapi kamu tau bagaimana perasaanku saat ini. mungkin aku bisa menikah dengan orang lain. tapi aku tidak yakin dengan hatiku" ucap Nina

__ADS_1


"Kita sudah sering membahas masalah ini. aku sudah tidak ingin membahasnya lagi. hargai calon suami kamu. aku sudah katakan dari awal, aku hanya nenganggapmu teman dan rekan kerja dari awal sampai sekarang tidak pernah berubah. maaf terpaksa aku katakan seperti ini lagi karena aku tidak ingin kamu terus - terusan larut dalam perasaan kamu" ucap Arif dan bergegas meninggalkan ruangan Nina


"Bro, tunggu" teriak Viko berlari mengejar Arif menuju ruangan Arif


Sampai ruangan Arif menjatuhkan tubuhnya disofa yang ada diruangannya disusul dengan Viko.


"Bro, jangan terlalu keras sama Nina biar bagaimana kita ini kan satu liting. kalau bisa ya dibilangi baik - baik saja nanti lama - lama juga pasti Nina akan mengerti. dia sepertinya masih butuh waktu bro." ucap Viko


"Mau ku juga seperti itu Bro, tapi kamu tau sendiri, setiap bicara sama aku ujung - ujungnya selalu seperti itu" jawab Arif


"Ya gimana, namanya juga cinta. ya wajarlah bro. bertahun - tahun dia menunggu kamu. mencintai kamu secara diam - diam. jadi ya, wajar baginya untuk butuh waktu melupakan kamu" ucap Viko


"Kita ini juga laki - laki yang bergelar suami bro, apakah wajar jika istri kita masih mengharapkan orang lain disaat kita sudah menikahinya? aku lakukan itu pada Nina biar dia sadar dan bisa mencintai suaminya. kasian suaminya nantinya" jelas Arif.


Dret....dret..


Satu pesan masuk dari Ane


"(Sayang nanti pulang tolong belikan rujak ya, yang ada buah delima merahnya ya)" chat Ane


"(Oke sayang)" bales Arif


"Kenapa nyidam nya aneh - aneh saja sih" gumam Arif menggaruk - garuk kepalanya


"Wkwk..Kenapa bro" tanya Viko ketawa


"Lha kamu ketawa kenapa?" tanya Arif


"Lihat kamu lucu aja, emang istri kamu nyidam apa kok kayake berat gitu" ucap Viko


"Sebenarnya mintanya wajar, cuma minta rujak tapi masalahnya yang ada delima merahnya" ucap Arif


"Ya, coba aja dicari di abang - abang pinggir jalan, atau kalau gak ada, diakali aja beli rujak sama delimanya terpisah nanti dijadiin satu sendiri" Viko menyarankan


"Iya masalahnya delima itu kan juga susah - susah gampang nyarinya." ucap Arif

__ADS_1


"Kayaknya aku pernah lihat tapi dimana ya? aku juga lupa, sebentar tak ingat - ingat dulu" ucap Viko memejamkan matanya mencoba menginga - ingat


mohon dukungan dari teman - teman semua ya, dengan cara Like, coment dan Vote jika ada ya. terimaksih. dukungan kalian sangat berarti untuk Author


__ADS_2