
Sementara Nia masih bertanya-tanya dengan keinginan Dokter Sigit yang mendadak memintanya untuk bertemu. setelah beberapa hari begitu sulit untuk menemuinya.
"Apa mungkin sekarang mas Sigit sudah berubah pikiran? apa mungkin mas Sigit akan bertanggung jawab dengan anak ini?" Gumam Nia memegangi perutnya yang masih rata
Nia segera bergegas menemui Dokter Sigit. dengan langkah gontai Nia menuju cafe green tempat dimana Dokter Sigit sudah menunggunya
"Mas Sigit, aku senang akhirnya mas Sigit mau bertemu denganku" ucap Nia duduk didepan Dokter Sigit
"Aku tidak ingin berbasa-basi dengan kamu, kamu yakin kalau anak yang saat ini kamu kandung adalah anakku?"
"Aku yakin mas, karena setelah kita dekat aku tidak pernah mau melakukan itu dengan mas Alan."
"Baiklah jika memang itu adalah anakku, aku akan bertanggung jawab. aku akan membiaya semua keperluannya. tapi aku tidak mau menikahi kamu"
"Apa maksud kamu mas? bagaimana bisa kamu tidak mau menikahi aku? apa kamu mau anak kita lahir diluar nikah? dan apa yang akan orang katakan tentang diriku"
"Sejujurnya aku masih tidak yakin jika anak yang saat ini kamu kandang adalah anakku. kita tunggu sampai anak itu lahir dan aku akan melakukan tes DNA pada anak itu"
"Tega kamu berkata seperti itu?" tak terasa cairan bening mulai membasahi pipi Nia
"Dimana salahku meragukan pengakuan dari wanita yang jelas-jelas bisa membohongi suaminya? tidak menutup kemungkinan kan kalau kamu juga akan membohongi aku"
"Mas tolong jangan bicara seperti itu, aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu dan aku kira kamu juga mencintaiku" Nia terisak
"Cinta? Huh.. " Dokter Sigit mengangkat sebelah bibirnya
"Apakah benar kamu tidak mencintai aku mas?"
"Mana mungkin aku mencintai kamu, aku mencintai istriku. tapi karena kecerobohan kamu sekarang aku harus kehilangan istriku dan aku juga dibenci anakku sendiri"
Mendengar pernyataan Dokter Sigit bagaikan mendapat hantaman yang sangat keras. sakit, iya sangat sakit itu yang Nia rasakan. begitu bodoh dirinya meninggalkan orang-orang yang mencintainya dengan tulus untuk orang yang hanya ingin bermain-main.
Tapi Nia segera tersadar, menyesal saat ini percuma. yang dibutuhkan hanya tanggung jawab dari Dokter Sigit agar anak dalam kandungannya tidak terlahir tanpa seorang ayah.
"Aku ingin kamu menikahi aku mas" ucap Nia
"Tapi tidak mencintai kamu" kilah Dokter Sigit
"Aku tidak perduli, bagiku saat ini bukan cinta yang terpenting, tapi status untuk anak yang saat ini aku kandung" jelasnya
__ADS_1
"Oke jika itu yang kamu inginkan, aku akan menikahi kamu. tapi jangan terlalu banyak berharap dari pernikahan kita" ucap Dokter Sigit berdiri dan berlalu
Nia yang merasa hatinya sakit hanya mampu menangis meratapi nasibnya saat ini.
***
Dengan perasaan gundah Nia memberanikan diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui orang tuanya. entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat nanti orang tuanya tau kesalahan yang dirinya lakukan.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam Nia, kok tumben pulang gak ngabarin ibuk dulu? Nana mana? Akan juga mana? kok tidak terlihat" ucap Bu Iin celingukan berusaha mencari keberadaan cucu dan menantunya. "Apa kamu kesini sendiri?" tanya Bu IIn kembali
"Iya buk, Nia sendiri" jawabannya lesu dan melangkah masuk
"Yah, Ayah" panggil Bu IIn
"Ada apa bu? kenapa teriak-teriak" jawab pak Karsa
"Ini lihat putri kita datang"
Mendengar putri semata wayangnya datang pak Karsa yang sedang membuat kandang burung dibelakang rumah segera keluar
"Iya yah" Nia mencium punggung tangan ayahnya
"Cucu ayah yang cantik mana? ayah sudah kangen, Nana ada diluar ya?" tanya pak Karsa segera melangkah keluar
"Anakmu datang sendiri pak" ucapan Bu IIn menghentikan langkah pak Karsa dan kembali melihat Nia yang tampak pucat
"Datang sendiri?" Pak Karsa yang merasa ada yang tidak benar dengan kedatangan putrinya tanpa anak dan suaminya segera mendekat
"Lihat Ayah nduk, sebenarnya ada apa? apa kamu sedang bertengkar dengan suami kamu?" tanya pak Karsa menatap mata putrinya yang sudah tampak dibanjiri air mata
"Duduk dulu Nia" ucap Bu Iin yang melihat wajah Nia begitu pucat
"Katakan ada apa yang sebenarnya? Pak Karsa menunggu putrinya membuka mulut
"Maafkan Nia yah, maafkan Nia buk" Nia bersimpuh dikaki ayahnya
"Maafkan Nia ayah, maafkan Nia" ucap Nia lirih badannya terasa lemah
__ADS_1
"Nduk kamu sakit?" Pak Karsa memegang kening putri kesayangannya
"Tidak ayah, Nia tidak sakit tapi Nia.. Nia hamil yah"
"Alhamdulillah, ayah mau punya cucu lagi?" pak Karsa tersenyum
"Bu kita mau nambah cucu" pak Karsa senyum melihat istrinya
"Iya yah" jawab Bu IIn tapi merasa ada yang aneh
"Kalau kamu hamil, kenapa Alan membiarkan kamu pulang kesini sendiri dalam keadaan lemah seperti ini?" tanya Bu Iin menyelidik
"Nia akan bercerai dengan Mas Alan" ucap Nia menunduk tidak berani menatap kedua orang tuanya
"Cerai? apa maksud kamu nduk? kenapa kalian akan bercerai? apalagi kamu sedang hamil. bagaimana bisa kalian bercerai dalam keadaan kamu yang sedang hamil?" Pak Karsa mulai geram
"Benar apa yang Ayah katakan. kalian tidak bisa bercerai. kamu lagi hamil nduk. sebenarnya apa yang membuat kalian ingin bercerai?" Bu Iin memegang tangan Nia
Nia hanya diam tak menjawab, tangisnya pecah dipelukan sang ibu.
"Ayah akan kerumah Alan besok pagi nduk, kamu istirahat dulu saja dikamar. biar ayah yang bicara dengan Alan. dia tidak bisa menceraikan putri ayah begitu saja. apa karena dia Polisi bisa seenaknya saja menceraikan putri ayah?" ucap Pak Karsa yang merasa marah dengan menantunya
"Ayah, ini bukan salah mas Alan" ucap Nia lirih hampir membuat pak Karsa tidak mendengar
"Apa maksud kamu? kamu mau bilang kalau kamu yang salah?" Pak Karsa menatap putrinya
"Memangnya kesalahan apa yang kamu lakukan sehingga Alan punya pikiran bercerai nduk? ibu tidak yakin anak ibu ini mampu melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga tidak bisa diperbaiki. yang namanya berumah tangga bertengkar itu biasa. rumah tangga mana yang tidak pernah bertengkar. dan yang namanya manusia wajar jika melakukan sedikit kesalahan. tapi bukan berarti bisa dengan mudah mengatakan cerai. apalagi saat istri sedang hamil seperti ini" ucap Bu Iin merasa kalau tindakan Alan sudah sangat keterlaluan.
"Benar apa yang ibu kamu katanya Nia, kamu tenangkan saja diri kamu disini untuk sementara waktu. biar ayah yang bicara sama Alan. dan meminta Alan untuk menjemput kamu disini"
"Tidak ayah, mas Alan tidak akan mungkin menjemput Nia. semua berkas perceraian sudah masuk ke pengadilan"
"Ayah tidak akan membiarkan putri ayah diperlakukan seperti ini"
Terimakasih Readers semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita ini ya, agar tidak mempermainkan ikatan suci pernikahan.
Jika. kalian senang dengan cerita ini mohon dukungannya dengan Like, coment dan Vote ya🙏 dukungan kalian sangat berarti bagi Author, 🙏 Love you readers 😍😘
"
__ADS_1