
*Flashback*
Beberapa bulan yang lalu saat Nia makan malam dengan Saka merayakan annyversarynya yang ke dua.
"Saka bukankah kita pacaran sudah cukup lama? aku juga sekarang sudah lulus kuliah sudah bekerja juga, lalu kapan kamu mau membawa hubungan ini ketahap yang lebih serius?" tanya Nia pada Saka kekasih Nia
"Sayang, bukan aku tidak mau serius. tapi untuk saat ini maaf aku belum bisa jika harus menikah. aku masih punya adik yang saat ini masih sekolah dan aku harus membantu membiayai sekolah adikku. kamu berharap kamu bisa lebih sabar ya, kita seperti ini dulu. lagian banyak kok orang yang pacaran bertahun - tahun" terang Saka
"Kamu itu mau pacaran apa kridit motor?" Nia memanyunkan mulutnya
"Wkwkwk... kenapa kamu bicara seperti itu?" Saka tertawa
"Benerkan? kalau kamu kridit motor, mungkin motor itu udah lunas tapi aku nya belum kamu nikahi juga. logika aja ya Ka, adik kamu itu masih SMA. apa nanti aku juga harus nunggu adik kamu lulus kuliah juga, baru kita menikah?" Nia mulai kesal
"Ya gimana, aku anak pertama yang harus membantu Adikku dan Mamaku juga belum mengijinkan aku nikah. aku sendiri menyadari aku belum membahagiakan Mamaku kalau aku nikah kapan aku bisa membahagian Mamaku?" ucap Saka
"Masalahnya dimana? saat seseorang menikah bukan berarti sudah tidak bisa berkati sama orang tua. kamu bisa kok tetep membantu biaya sekolah adik kamu, kamu juga bisa tetap membahagiakan Mama kamu. Aku tidak keberatan dengan semua itu" ucap Nia
"Aku percaya sama kamu, tapi Mamaku tidak akan mengijinkan. usiaku baru dua puluh empat, Mama sudah pernah bilang kalau setidaknya nanti kalau usiaku sudah 28 aku baru boleh menikah" ucap Saka
"Kamu terlalu banyak alasan Ka, aku tidak melihat ada keseriusan dari kamu. aku perempuan Ka, menjalani hubungan tanpa kepastian seperti ini rasanya seperti digantungin" ucap Nia
"Siapa yang gantungin? tidak ada yang menggantung, nanti pasti kita akan menikah tapi aku minta kamu sabar dulu ya, biar aku membahagiakan keluargaku dulu. kamu sabar ya" bujuk Saka sembari menggenggam tangan Nia dan Nia buru - buru menepisnya
Nia yang sudah mulai bosan dengan sikap Saka yang seolah tidak bisa memberi kejelasan dalam hubungan mereka.
Nia memang tidak langsung mengatan minta putus tapi Nia lebih memilih mengabaikan Saka dan mulai membuka hati untuk laki - laki lain yang sekiranya mau diajak serius. termasuk Alan misalnya.
__ADS_1
Nia tau Alan juga bisa dikatakan playboy tapi seandainya Alan mau serius dalam menjalalin hungungannya dengan Nia, tentu saja Nia tidak akan menolaknya. karena Nia juga percaya seplayboy - playboy cowok saat masih pacaran dia bisa berubah hanya mencintai satu wanita jika sudah bertemu dengan wanita yang tepat pastinya.
*Flashback off*
Diluar rumah Arif, Alan yang tadi datang bersama Nia salah tingkah melihat Tia yang sepertinya baru pulang kuliah masih mengenakan seragam putih - putihnya lengkap dengan jilbab putihnya dan memegang buku didadanya.
Tia yang sedang berjalan bersama Siska, melihat kearah Nia yang hendak naik kemotor Alan yang mesinnya sudah dinyalakan dan tersenyum.
Alan senyum canggung pada Tia
"Tu kan, apa aku bilang jangan percaya sama model kayak gitu, makan ati kan? belum juga apa - apa dah main gandeng yang lain" sindir Siska pada Alan
Alan yang merasa canggung dengan keadaan ini segera melajukan kendaraannya melewati Tia dan Siska. tentu saja Alan juga tersenyum dan mengangguk didepan Tia saat melewati mereka walaupum dengan hati berkecamuk.
"Itu tadi gebetan kamu?" ucap Nia yang membonceng Alan
"Aku sebenarnya sudah tau kamu lagi pedekate kan sama gadis tadi? Ane sudah pernah cerita soal kamu dan gadis itu" ucap Nia
"Q sendiri sudah pernah bilang kan? saat ini aku masih mencari wanita yang bisa aku istri. aku sebenarnya juga sudah malas pacar - pacaran saja. cuma aku sendiri belum tau kira - kira siapa wanita yang bisa aku jadikan istri, wanita yang sholehah pastinya" ucap Alan
Mendengar apa yang dikatakan Alan, rasanya juga tidak mungkin jika dirinya bisa masuk kedalam kriteria istri idaman Alan. wanita sholehah! bahkan saat ini saja dirinya belum menggunakan jilbab, mungkin yang dimaksud Alan wanita sholehah salah satunya yang berhijab.
Sampai dikos Nia, dirinya dikagetkan sosok tinggi dan tampan yang sudah menunggu duduk didepan kosnya.
"Saka" ucap Nia
"Kamu dari mana?" ucap Saka pandangannya mengarah ke Alan seakan penuh kecurigaan
__ADS_1
"Dari rumah Ane tadi" jawab Nia canggung
"Bukannya kamu sedang berlayar? kapan kamu pulang? tanyanya lagi
"Siapa Dia?" bukannya menjawab pertanyaan Nia justru Saka menanyakan keberadaan Alan
"Alan" ucap Alan mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya. tapi tidak dibalas oleh Saka yang sedang dimakan api cemburu. dan Alan menarik tangannya kembali seraya tersenyum
"Dia teman Nia" ucap Nia
"Jadi seperti ini kelakuan kamu, setiap kali aku pergi berlayar" ucap Saka meninggikan suara
"Tidak usah ngegas ya, kita juga belum ada kepastian apa - apa. jadi aku rasa, aku masih bebas dong jalan sama siapa saja." ucap Nia santai
"Apa maksud kamu bicara seperti itu, kita itu pacaran, kenapa kamu bisa dengan mudah jalan sama laki - laki ini" ucap Saka menunjuk Alan
"Pacaran? aku sudah bilang kan sama kamu, aku sudah jenuh pacaran - pacaran. aku mau kamu kasih kepastian. kalau kamu tidak bisa kasih aku kepastian tentang hubungan kita lebih baik kita putus" ucap Nia dan matanya mulai berkaca - kaca. dirinya tidak menyangka setelah dua tahun pacaran dirinya harus mengucapkan kata itu.
"Putus? segampang itu kamu ngomong putus? aku yakin itu hanya alasan kamu saja kan? minta kepastian yang kamu jadikan alasan padahal kamu sudah menghianatinaku dengan cowok ini" ucap Saka murka
"Maaf sebelumnya Bang, aku memang tidak ada hubungan apa - apa sama Nia, Nia tidak menghianati kamu. wajar sebagai perempuan dirinya ingin kepastian" ucap Alan
"Diam kamu! ada hak apa kamu bicara seperti itu saka aku?" ucap Saka dan Alan senyum mengangkat tangannya.
"Sudah - sudah sebaiknya kamu kalian pulang saja" ucap Nia meninggalkan mereka masuk dalam kosnya.
Dikos Nia menangis sebenarnya dirinya juga masih cinta sama Saka tapi ketidak pastian dalam hubungan mereka membuat Nia ingin mencari laki - laki yang mau segera menghalalkannya. Nia sendiri sebenarnya usianya masih Tergolong muda tapi memang dirinya ingin segera menikah muda seperti sahabatnya Ane. selain itu menikah juga menghindarkan dirinya dari potensi dosa. jadi wajar baginya untuk ingin segera menikah.
__ADS_1
Mohon dukungan dari teman - teman ya dengan cara Like, coment dan Vote terimaksih