
Melihat yang terjadi pada anak dan menantunya tentu saja membuat Bu Retno dan pak Bagas bingung
"Ada apa sebanrnya, mereka masih pengantin batu tepi kenapa Papa dari awal melihat sepertinya Nina tidak bahagia dengan pernikahannya?" ucap Pak Bagas
"Iya Pa, sebanrnya dari awal Mama juga merasa ada yang tidak beres, mereka terkesan menikah buru - buru, terus dihari pertama mereka setelah menikah, Nina langsung meninggalkan suaminya bekerja. sebenarnya ada apa dengan mereka?" ucap Bu Retno
"Coba Mama dekati Nina, tanyakan baik - baik apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Pak Bagas
"Iya Pa, biar Mama coba bicara sama Nina" Bu Retno patuh
Tok..tok..
"Nina, Mama masuk ya" ucap Bu Retno membuka pintu kamar Nina
"Iya Ma" jawab Nina yang sedang bersandar dikasur melihat - lihat hapenya
"Kamu ada apa sebarnya sama Gilang?" tanya Bu Retno dudul disamping Nina
"Tidak ada apa - apa Ma" jawab Nina santai
"Lalu apa yang kamu lakukan disini, kamu ini sudah menikah. tempat kamu bukan disini lagi, tapi disisi suami kamu. surga kamu ada pada Rodho suami kamu Nin. ingat itu!" nasehat Bu Retno
"Mama ngusir Nina?" tanya Nina kesal
"Bukan ngusir, tapi harusnya kamu tau tempat kamu setelah kamu menikah dimana? jangan sampai Alloh murka Nin. kamu sendiri yang memilih Gilang untuk jadi suami kami. kenapa sekarang sikap kamu seperti ini. ini salah, apa yang kamu lakukan tidak lah benar anakku" Bu Retno berusaha merubah pemikiran Nina agar menyadari posisinya sebagai seorang istri.
"Nina juga terpaksa memulihnya sebagai suami" gumam Nina lirih tapi masih terdengar ditelinga Bu Retno
"Apa maksud kamu?" Bu Retno kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan putrinya.
"Iya Ma, Nina tidak mencintai Gilang, Nina terpaksa menikah dengannya karena umur Nina dan gosib - gosib dikantor yang tidak enak. karnanya Nina mau menikah dengan Gilang" jelas Nina
"Apapun alasan kamu menikah, itu semua tetap tidak merubah kewajiban kamu sebagai seorang istri. jangan sampai Alloh murka, lakukan tugasmu sebagai istri, hormati suamimu." nasehat Bu Retno
"Nina tidak mencintai Gilang Ma"
"Entah kamu cinta, entah tidak. dia itu sekarang suami yang harus kamu hormati. dan surgamu ada pada Gilang" ucap Bu Retno memperingatkan
"Sekarang kemasi barang - barangmu pergi kerumah suami kamu! perintah Bu Retno
" Tidak, Nina tidak akan kemana - mana, Nina akan tetap disini bersama Mama dan Papa." ucao Nina
"Tapi Mama dan Papa akan berdosa kalau membiarkan kamu tetap disini disaat suami kamu mengajakmu untuk tinggal bersama dirumahnya." ucap Bu Retno berdiri mengambil koper dan memasukan barang - barang Nina kedalamnya
"Ma, maksud Mama apa? Mama benar - benar mau ngusir Nina?" Nina beranjak dari kasurnya dan mengeluarkan isi kopernya. tapi kembali dimasukan kedalam koper Bu Retno dan membawa koper Nina keluar
__ADS_1
"Ma, jangan seprti ini Ma" Teriak Nina berusaha mengambil koper dari tangan Mamanya
"Sekarang kamu pergi kerumah Gilang" ucap Bu Retno meletakan koper diteras rumahnya
"Mama benar - benar tega mengusir Nina. Nina tidak akan pulang kesini lagi kalau Mama tetap menginginkan Nina pergi" Nina mengancam
"Ya sudah, ingat ya! jangan kembali kesini kalau tidak sama Gilang" Bu Retno masuk kerumah mengunci pintu dari dalam
"Ma, buka Ma!" teriak Nina tidak diperdulikan Bu Retno
"Ma, apa Mama tidak terlalu keras sama Nina?" ucap Pak Bagas
"Tidak Pa, Nina salah kita harus meluruskan jalannya" ucap Bu Retno
****
Nina yang terpaksa dengan hati kesal menuju rumah Gilang.
Tok...tok...
Nina mengetuk rumah Gilang
Saat pintu dibuka Tanpa salam Nina langsung masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikim" Ucap Gilang menyindir istrinya
"Biasakan salam ya kalau masuk rumah" ucap Gilang tapi Nina tidak menjawab
"Alhamdulillah kamu mau pindah kesini, aku senang. setidaknya kamu tau rumah suami kamu" ucap Gilang
"Ini juga terpaksa karena diusir Mana" ucap Nina kesal dan Gilang tertawa
"Kenapa tertawa? kamu senang lihat aku diusir dari rumahku sendiri?" ucap Nina kesal
"Bukan begitu, aku yakin maksud Mama bukan mengusir kamu, tapi memang sudah sepatutnya kamu disini bersamaku" ucap Gilang
"Nin, aku ingin kamu jujur, sebenarnya ada apa dengan kamu? kamu sendiri yang meminta aku buat menikahi kamu tapi kenapa setelah menikah sikap kamu seperti ini? aku tidak pernah memaksa kamu untuk menikah denganku lho" ucap Gilang duduk disamping Nina
"Iya, memang aku yang meminta kamu menikah denganku, tapi aku tidak mencintai kamu" ucap Nina
"Hufft... "Gilang menarik nafas mencoba tenang mendengar kata - kata yang keluar dari mulut istrinya.
"Aku sudah merasakan ada yang aneh dari pertama kali kamu tiba - tiba mengajak aku menikah. Apa kareana laki - laki itu? laki - laki yang membuat kemu menangis dihari pernikahan kita?" ucap Gilang menatap tajam mata Nina
"Sudah lah tidak usah membahas ini, yang penting sekarang kamu sudah tau aku tidak mencintai kamu. jadi jangan meminta aku untuk menjadi istri buat kamu" ucap Nina ketus
__ADS_1
"Astagfirulloh.." Gilang mengelus dadanya. tidak menyangka pernikahan yang selama ini dinanti dan baru saja dimulai seraya akan karam diterjang ombak.
***
Dret....dret...
Panggilan masuk dihape Ane dan segera di geser tomol jawab
"Assalamualikum" Ane menjawab salam
"Walaikumsalam" jawab Arif
"Bagaimana Bang disana baik - baik saja kan?" tanya Ane yang selalu kawatir setiap kali suaminya menjalankan tugas
"Alhamdulillah semua lancar, tersangka sudah berhasil kami amankan." ucap Arif mengabari istrinya
"Alhamdulillah, terus Abang kapan pulangnya?" tanya Ane
"Kenapa sudah kangen ya?" goda Arif
"Gak kok, cuma tanya aja"
"Benerna gak kangen?" tanya Arif lagi
"Hehehe..iya pastilah kangen, Abang ini paling bisa godain Ane."
"Abang juga sudah kangen, insyaalloh jika semua lancar besok pagi sudah sampai Semarang. kamu baik - baik diperhatikan makannya biar adik didalam perut sehat - sehat" ucap Arif
"Iya Bang, Abang juga hati - hati ya" ucap Ane menutup panggilan telphonnya
Ane yang semenjak hamil merasa sering laper mencari makanan didapur tapi tidak menemukan makanan.
"Cari apa sayang" ucap Bu Imah melihat Ane terlihat membuka kulkas
"Ane lapar Ma, pangen makan yang seger tapi udah malam gini" ucap Ane
"Ane mau sup jagung?" tanya Bu Imah
"Memang ada Ma?" tanya Ane
"Sebentar Mama buatin buat Ane" ucap Bu Imah segera membuka kulkas dan memgeluarkan bahan - bahannya
"Terimakasih ya Ma, maaf Ane merepotkan Mama" Ane merasa tidak enak
"Kamu ini bilang apa sayang, Mama senang malah kamu bisa makan dengan lahap. Mama itu sedih kalau kamu sudah makannya" ucap Bu Imah senyum
__ADS_1
"Ane itu merasa beruntung banget punya mertua seperti Mama. banyak cerita diluaran sana kalau mertua itu begini lah begitulah, tapi ternyata itu semua tidak benar. terimakasih ya Ma" ucap Ane memeluk mertuanya
Mohon dukungan dari teman - teman semua ya, dengan Like, coment dan Vote jika ada. dukungan kalian sangat berarti bagi Author terimakasih