Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 10 Hanya ..maaf ..1.


__ADS_3

¤ Mungkin bagi sebagian orang gelap menakutkan, namun pernahkah terfikir, saat berada dalam gelaplah, kita mampu melihat jelas setitik cahaya mendekat ¤


Hari hari berlalu, semenjak pertemuan antara Rasya dan Rahartika, chit chat antara 2 Gembul legend Giodion dan Rahartika.


Detik, menit, jam, bahkan hari demi hari mengalir terlewati, dengan kegiatan rutinitas masing masing.


Meskipun, waktu yang berlalu setiap harinya tidaklah selalu sama, kadang sedih, kadang bahagia, kadang berkumpul bersenda gurau dengan sahabat, bahkan terkadang ada sebuah kejutan dengan kedatangan orang, orang yang tidak terduga.


Seperti saat ini, keluaga Ika memperoleh kunjungan, dari salah satu anggota keluarga wijaya, yaitu Rasya wijaya diningrat.


Namun, karena hari ini jadwal Rahartika untuk memeriksakan kesehatanya kerumah sakit bersama sang ibu, Rasya tidak bertemu dengan gadis itu.


Ia hanya bertemu dengan bibi Yun, asisten rumah tangga keluarga Rahmawan, bibi Yun menjelaskan bahwa nonanya bersama sang ibu, sedang keluar dan tidak tahu kapan akan pulang.


Mendengar hal tersebut, ada rasa kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan wanita yang memikat hatinya tersebut.


Namun, pemuda itu juga merasa lega, karena kekhawatirannya beberapa saat yang lalu tidak beralasan. Rasya memutuskan untuk pulang, dan akan berkunjung lagi lain waktu.


Ini adalah kedua kalinya, ia kembali pulang, saat datang berkunjung kerumah keluarga Rahmawan, tanpa bertemu dengan sang tuan rumah. Karena memang ia datang berkunjung, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Hal ini bukan tanpa alasan. Namun, karena disebabkan oleh rasa cemas dalam hatinya, ketika Rahartika tidak merespon, ataupun mengangkat telepon panggilan yang ia lakukan.


Seperti waktu itu, saat seharian chat WAnya, serta panggilan phonselnya tidak ada respon, Rasya jadi kalut serta kesal sekaligus khawatir.


Di dalam fikirannya terlalu banyak imajinasi horor(terjadi hal hal buruk) kepada sang gadis.


Layaknya, seorang suami menunggu sang istri, yang pergi keluar tanpa kabar, dan belum pulang kerumah.


Jadi ia memutuskan untuk datang kerumah Rahartika, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan hasilnya, ia tidak bertemu dengan gadis tersebut.


Memang semenjak, perkenalanya dengan Rahartika dirumah sakit, Rasya sering mencari-cari alasan, untuk bertemu dengan Rahartika, apalagi dengan dukungan sang ayah, yang notabene adalah sahabat dekat ayah sang gadis.


Banyak hal dan alasan, yang dapat membawanya datang ke rumah keluarga Rahmawan,


ataupun sekedar menemui gadis itu, atau ikut nimbrung ( bergabung) saat tanpa sengaja, bertemu Rahartika di suatu tempat.


Baik saat gadis tersebut sendiri, ataupun sedang berkumpul bersama sahabat sahabatnya, hal tersebut berani (nekat) ia lakukan.


Sejak Rasya, melihat jelas wajah dari wanita dalam mimpi yang sering ia alami, ia semakin memantapkan hati, atas diri gadis itu.


Meskipun, didalam mimpinya tersebut, Rahartika mengenakan perhiasan perhiasan, serta pakaian layaknya seorang putri, dengan mahkota bertahtahkan permata.


Hal inilah, yang membuat Rasya serta kedua orang tuanya seolah mempercayai, bahwa pertemuannya dengan Rahartika adalah salah satu bagian dari takdir, serta menjadi penjelasan, atau pertanda atas kejadian itu(mimpi) selama ini.

__ADS_1


Sejak saat itu, ia tak lagi memusingkan tentang perbedaan usia atau apapun,


karena dengan ketertarikanya, perasaanya, serta mimpinya, Rasya meyakini bahwa Rahartika adalah istrinya.


Baik di kehidupan terdahulu, sekarang ataupun di kehidupan mendatang, gadis itu harus selalu menjadi istrinya.


Seolah waktu merambat dengan cepat, 6 bulan terasa singkat.


Namun seiring berjalannya waktu, mimpi-mimpi yang sama, semakin sering datang di malam-malam Rahartika, sehingga hal tersebut mempengaruhi fisik dan emosinya, seolah setiap mimpi yang ia lihat dalam tidur tersebut, mengambil energi kehidupan dari tubuhnya.


*Dugaan Ranti dan Adi, karena memang mimpi sang putrilah yang terasa janggal dan aneh dari Rahartika *


Karena sudah bebera pakali, nyonya Ranti dan tuan Adi, memeriksakanya kerumah sakit, bahkan pemeriksaan secara menyeluruhpun dilakukan.


Namun tetap saja, tidak ditemukan kondisi aneh apapun, hanya di nyatakan kecapean, atau kurang istirahat.


Sedangkan kondisi sang putri selalu bertambah buruk setiap kali seusai mengalami mimpi mimpi tersebut.


Bahkan hal itu terus berlanjut di setiap harinya, seolah gadis itu tengah menderuta suatu penyakit yang serius.


Oleh karena itu, dalam acara wisuda kelulusan, atau pelepasan siswa siswi usai menyelesaikan masa belajar 3 tahun/lulus, yang akan diselenggarakan dua hari lagi, Rahartika tidak di izinkan oleh keluarganya, untuk ikut mengisi acara pagelaran dan pentas seni pendukung acara utama (wisuda ).


Untuk menyambut, serta menghibur para tamu undangan serta orang tua wali murid,


ia hanya akan menampilkan pidato perpisahan mewakili teman temanya.


Sebenarnya ia kecewa, dengan keputusan keluarga, karena di saat saat terakhir masa belajarnya, justru ia tidak dapat menikmati kebersamaan, dengan sahabat-sahabatnya secara leluasa.


Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tahu, semua hal tersebut demi kebaikannya.


Sementara itu...


Ditempat lain, di sebuah rumah besar nampak Seorang pemuda tengah berkemas, memasukan pakaian kesukaanya, jam tangan, sepatu, topi serta barang Uniknya.


Pemuda tersebut yang tak lain adalah Giodion atmadja, cucu tunggal sekaligus pewaris satu satunya keluarga Atmadja.


Dion tengah bersiap siap kembali ke kota B, untuk mengurus cabang hotel di sana. Wajahnya tampak berbinar cerah, dengan senyum sesekali terlihat jelas.


Namun sang kakek yang sedari tadi melihatnya, justru nampak cemas.


Dengan langkah pelan, tuan Atmadja berjalan menuju tempat tidur, yang berada di dalam ruangan tersebut, beberapa kali terdengar helaan nafas panjang dari pria yang usianya, sudah lebih dari setengah Abad tersebut. Seolah ia enggan melepaskan cucunya itu pergi ke kota B.


Kota dengan kenangan buruk dirinya( Dion), bersama sang ibu beberapa tahun silam, sebelum bertemu tuan Mahes atmadja sang kakek.

__ADS_1


"Sepertinya kamu benar benar bahagia Yon." Ucap sang kakek dengan nada pelan, sebenarnya ia tidak ingin melepas sang cucu, jika bukan karena kalah dengan janji yang dia buat -+ 10 bulan yang lalu.


"He..he..tentu saja Dion bahagia kek jawabnya tegas, dengan di selingi senyuman yang mewakili perasaan hati, sembari melanjutkan berkemas.


"Tika ..akhirnya ..aku bisa kembali, akan kukembalikan semua yang kau berikan untukku dan ibuku dulu berkali kali lipat, aku sekarang memiliki semuanya Tika, besok kita akan bertemu, aku ingin memberikanmu kejutan." Gumamnya dalam hati, dengan bias rona kebahagiaan terpancar dari matanya.


º flash back on º


Siang itu, Seorang gadis berusia 11 tahun tengah berdiri di luar pagar gerbang sekolah, ia sengaja berlari keluar, dari gerbang untuk menunggu sang ibu, yang datang menjeputnya.


Gadis itu tak lain adalah Rahartika kecil, yang masih duduk di bangku sekolah dasar.


Saat di depan gerbang, ia melihat tak jauh darinya, seorang pria muda tengah di pukuli hingga babak belur, oleh 3 orang pemuda lain.


Entah mengapa, dia tidak takut melihat kejadian tersebut,


justru perlahan lahan kaki kecilnya, melangkah mendekati kerumunan tersebut.


Ketika mata coklatnya, melihat ada bercak darah mengalir, dari pemuda yang di pukuli itu hatinya tergerak, pemuda itu hanya menutupi bagian kepalanya saja dengan kedua tangannya, tanpa melakulan perlawanan sama sekali.


'' Kak...kak...."


Panggilnya lirih, kepada salah satu pemuda, yang memberikan pukulan, dengan tangan agak bergetar, sejujurnya ia merasa ngeri serta tidak tega, melihat pemuda yang kini meringkuk di atas tanah tersebut.


''Kak..kakak, hixs...hixss..mengapa kakak memukul kakak itu?, dia pasti kesakitan kak." Ucapnya lagi, kali ini dengan suara tangisan.


"Heh..siapa ini, kenapa dia menagis ..?." Tanya salah satu pemuda yang memukuli, kepada pemuda yang lain, karena tiba tiba saja, ada gadis kecil menangis disana.


Sementara itu, Rahartika duduk berjongkok mendekati pemuda yang di pukuli tadi, tanpa menghiraukan ke 3 pemuda tersebut, yang tengah kebingungan.


"Kak...minumlah dulu, nanti aku antar kakak berobat" Ucap Rahartika, sambil menyerahkan botol air mineral, yang sudah ia buka tutupnya, meskipun dari bibirnya sesekali terdengar sesenggukan, ia tetap menyodorkan botol air tersebut.


Pemuda itu, perlahan mengangkat wajahnya, serta melihat kearah sumber suara.


Di sana, tepat di depannya ia melihat gadis kecil cantik, dengan memegang botol air mineral, terulur ke arahnya.


"Pasti sakit ya kak, ..hixs..hixs..matamu juga di pukul mereka ..hixs..hixs..., mengapa mereka jahat sekali hixs..hixs?." Ucapnya terbata, karena isak tangis yang semakin keras terdengar.


Gadis itu, semakin keras menangis, ketika melihat darah dari bibir, serta mata pemuda itu tampak membengkak dengan warna kebiru biruan.


"Kami tidak jahat dik, justru kakakmulah yang jahat, dia telah mencuri phonsel kami dan menjualnya." Jelas salah satu pemuda.


"Tanyakan saja padanya, kami tidak berbohong." Lanjut pemuda lainya, menegaskan ucapan temannya tadi.

__ADS_1


Mendengar penjelasan, dari ketiga pria yang memukuli pemuda itu, Rahartika kecil bergegas membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah phonsel dari sana.


"Jangan pukuli dia lagi, ini buat kakak saja." Ucap Rahartika kecil, sambil menyerahkan sebuah phonsel, kearah ketiga pemuda yang tadi memukuli.


__ADS_2