
Masih di Gazebo tengah pavilliun istana kekaisaran negri Tang.
Pria tersebut menyesali ucapannya. Dengan suara yang berat, serta pelan ia berkata. ''Maaf....''
Mendengar pria di depannya sedikit menunduk, dan meminta maaf, Ziaruo tersenyum sembari berkata. ''Itu, tidak perlu...Karena aku tak pernah merasa bersalah.''
''Bahkan aku menolak, jika dosa itu di bebankan atas diri wanita ini.'' Tambah Ziaruo lagi, dengan tegas.
Tampak keseriusan dalam ucapan sang wanita. Dengan mimik wajah yang berubah tegas, kecantikan miliknya terlihat semakin meyakinkan.
''Sebagai saudara, wanita ini hanya tak ingin anda melalui hal yang sama.'' Sambungnya kembali.
Ziaruo berdiri dari duduknya setelah menyelesaikan ucapan tersebut. Baginya tak ada lagi yang dapat ia lakukan, ketika sang pria (Biyi), telah menentukan suatu keputusan.
Bagaimanapun, ia mengetahui sifat, serta karakter dari kakak seperguruannya tersebut.
''Jika nanti jalan kita berbeda, saya harap anda masih mengingat, bahwa wanita ini masih mnganggap Biyi sebagai keluarga.'' Ucap Ziaruo lagi, sebelum melangkah meninggalkan Canzuo.
Melihat Permaisuri Yun beranjak, kedua pelayan wanita dan penjaga bayangan, yang berdiri tak jauh dari Gazebo, ikut berlalu pergi.
Canzuo menatap lekat punggung wanita itu, hingga menghilang dari pandangan matanya.
Dalam kecamuk yang hebat di benak, serta hati, ia bergumam lirih. ''Apa aku memiliki pilihan?, bahkan semuanya telah tergaris. Seperti dirimu, aku juga harus melalui semuanya Ruoer.''
Canzuo memejamkan mata sejenak, ia berharap semua adalah mimpi, dan dengan membuka matanya setelah ini, segalanya akan berubah.
Namun, ia tahu dengan pasti, bahwa kenyataan buruk tak pernah berubah, dengan hanya memejamkan mata, dan menyangkalnya.
''Bahkan, aku harus menjadi salah satu, dari mereka yang akan membuatmu menderita, bagaimana itu mungkin....'' Lanjutnya dalam pikiran.
Biyi adalah sosok pria yang paling menyayanyi Ziaruo. Meskipun jarak usia mereka terpaut ratusan ribu tahun, akan tetapi dengan kebijaksanaan serta ketenangan yang ia miliki, dirinya menjadi pria paling muda, dengan gelar sebagai seorang saudara(kakak) bagi wanita itu.
Namun, entah apa maksud dari takdir yang mengharuskannya, menjadi sosok penyebab kekacauan bagi kelima kekaisaran.
Dan bahkan ia mengetahui, bahwa dirinya juga, akan menjadi sumber penderitaan sang adik (Ziaruo).
Canzuo menghela nafas panjang. Perlahan ia mulai membuka kedua mata, dan berucap pelan. ''Apakah istana dalam sudah tenang?.''
Pria tersebut seolah tengah mengatakan hal itu, kepada orang lain. Namun, disana tak terlihat ada siapapun.
Hingga ia telah menyelesaikan ucapan, sebuah bayangan muncul tepat di depannya.
Sosok bayangan tersebut, menunduk sejenak, memberi hormat kepada Canzuo dan menjawab. ''Pavilliun selir Gu sudah kembali tenang.Jendral tua menyerahkan plakat kepada Kaisar. Dan....''
Sang penjaga bayangan menghentikan ucapan, seolah pita suaranya menciut, serta mengkerut, sehingga tak dapat menciptakan suara lagi.
''Dan...'' Sahut Canzuo dengan kernyitan pada dahinya, mengulangi ucapan terakhir, sosok bayangan tersebut.
''Selir Gu di kirim kepavilliun lotus, ia tidak di ijinkan untuk meninggalkan pavilliun.'' Jawab sang penjaga bayangan lagi.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Canzuo tersenyum tipis, sebelum akhirnya kembali berucap. ''Penyesalan selalu akan hadir, setelah segalanya terlambat, dan itu juga berlaku untuknya.'' Jawab Canzuo dengan helaan nafas dalam.
Pria dengan pakaian kemegahan tersebut, seolah tengah menyayangkan sesuatu untuk orang lain.
Namun pada kenyataannya, ia kini tengah dengan wajah, serta nama dari orang, yang ia anggap tidak beruntung tersebut.
Dengan tatapan mata, serta raut wajah datar, ia bergumam lirih. ''Canzuo... Canzuo, kau sungguh buta, tak melihat kemurnian hatinya.''
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan yang tampak tenang, seorang wanita dengan pakaian yang tak lagi terlihat rapi, tersipu di atas ranjang.
Air mata yang telah mengering, menciptakan guratan tipis pada wajah lembutnya.
Ada kemarahan, kepedihan, bahkan juga penyesalan dalam pikiran sang wanita.
Dengan kemarahan yang dimiliki, ia ingin menghancurkan apapun yang terhubung dengan seseorang.
Namun, kepedihan serta kemalangan yang ia miliki mengharuskannya untuk diam.
Baginya sedikit tindakan yang ia lakukan, akan membuat ketidak beruntungan yang mengutuk hidupnya, berimbas dan menyebar kepada keluarga Gu, yang kini tengah di ambang kehancuran.
Wanita Gu merasa segalanya adalah keburukan, atas takdir hidupnya.
Penyesalan yang dulu ia tepis, atas nasib yang memilih dirinya sebagai selir kekaisaran, kini kembali menyeruak, serta memenuhi relung hati.
''Jika pengabdian dan ketulusan tak berharga, lalu apakah kasih sayang hanya sebuah kebohongan?.''
''Mengapa semuanya terjadi kepada keluargaku?, jika aku yang bersalah, bukankah hanya aku yang harus dihukum?.''
Gumam-Gumam lirih wanita Gu.
Ia berucap, seakan disana ada seseorang yang kini tengah ia bayangkan.
Seseorang yang membawanya dengan kehormatan, menuju singgahsana kemulian, serta mengangkat harga diri tinggi keluarganya.
Seseorang yang memberikan keindahan, serta mampu menumbuhkan harapan dan kepercayaan atas dirinya.
Meskipun, segalanya tak berlangsung lama, ia masih berharap sedikit belas kasihan atas kesetiaan dan ketulusan cintanya, untuk keluarga Gu.
Namun, apa yang dapat ia lakukan, pada kenyataannya ia hanya seorang wanita, dengan status selir yang tak lagi murni.
Terlebih lagi, wanita Gu juga memahami, bahwa segalanya kebaikan yang ia terima selama ini, hanyalah siasat serta rencana saja.
Wanita itu dibawa dan dijadikan sebagai selir oleh Canzuo, untuk menekan, dan membatasi kekuasaan sang ayah.
Setelah, plakat militer di dapat. Ia ibarat bidak catur yang tak lagi berguna.
Bahkan, dengan janin sang kaisar di rahimnya, kaisar Tang tetap tak memandangnya sama sekali.
Selir Gu akhirnya memahami, bahwa semuanya sia-sia.
__ADS_1
Didalam ruangan yang hening, perasaan memilukan semakin mencengkeram erat hati wanita tersebut.
Baginya tidaklah lagi penting, ia berpenampilan elegan, ataupun berantakan.
Dengan langkah yang gontai, wanita Gu turun dari ranjang.
Berjalan perlahan kearah meja, dimana sebuah teko air dengan 4 cangkir kecil diatas nampan indah, tertata rapi disana.
Air mata wanita itu, kembali menetes deras, dengan pundak yang bergetar serta sesekali terdengar sesenggukan, ia berucap. ''Ayahanda...Ibunda...semua kebaikan kehidupan ini, akan aku berikan di kemudian nanti.''
Wanita Gu meraih cangkir kecil, memisahkan benda tersebut dari nampan.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia menuangkan isi teko ke dalamnya.
''Jika mungkin....berapa kalipun aku terlahir kedunia ini nantinya, tidak lagi kami di berikan perjumpaan.'' Ucap wanita itu, seraya meneguk cangkir teh, di tangannya.
Selang beberapa saat kemudian, tubuh itu masih diam, tidak menunjukan perubahan yang signifikan.
Entah apa yang tengah wanita itu pikirkan, dan entah apa yang kini ia rasakan.
Pupil mata wanita Gu hanya terlihat lebih membulat beberapa saat.
Namun, di bawah meja ruangan terlihat jelas, tangan yang tengah mencengkeram lutut kuat-kuat.
Tampak seolah ia tengah menahan sesuatu yang menyakitkan. Akan tetapi, wajah itu masih menampilkan hal sama, dengan ekspresi beberapa saat yang lalu.
Hingga, tubuh itu lunglai dan jatuh tertelungkup diatas meja, dengan mulut mengalirkan darah segar.
Darah tersebut mengucur deras diatas lantai ruangan, bahkan sebagian menciptakan guratan pada baju yang tengah ia kenakan.
''Krriiieeettt....'' Suara daun pintu ruangan, di buka dari luar.
Dua orang kasim dengan 4 pelayan wanita masuk kedalam ruangan tersebut.
''Yang Mulia.....'' Seru seorang pelayan wanita, dengan air mata mengalir pada pipinya.
Pelayan wanita itu berlutut di depan meja, dimana tubuh selir Gu kini tak bergerak lagi.
''Ampuni hamba yang mulia...ampuni ketidak mampuan hamba.'' Lanjutnya lagi.
Melihat ratapan, serta kepedihan pelayan itu, kedua kasim muda tersebut saling pandang.
''Kau, bahkan tidak juga kami semua, akan dapat membantunya, ini adalah kehendak dewa atas nasib kita.'' Ucap salah satu pelayan wanita yang lain.
''Kasim bawa tubuh selir Gu, dan serahkan kekediaman Gu, seperti apa yang ia inginkan.'' Perintah pelayan wanita lainya lagi, dengan pakaian yang berbeda.
Mendengar hal tersebut, kedua kasim segera bergerak mengangkat tubuh wanita Gu.
Membawa sosok yang tak lagi mampu bergerak tersebut, menjauh dari pavilliun belakang, dengan keheningan serta jeritan yang tak terdengar.
__ADS_1
''Mengapa harus selir Gu?, dan mengapa harus aku yang melakukan semuanya?.'' Ratap wanita pelayan, dengan kesedihan yang jelas dimatanya.
''Karena kita bukan orang yang memiliki takdir hebat ditangan. Bangunlah, kita tidak akan mengubah apapun dengan menangis disini.'' Ucap wanita lainnya.