Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 67 Kerelaan Yongyu.


__ADS_3

Sebuah kereta memasuki halaman balai pengobatan istana, seorang pria gagah turun dari kereta tersebut, dan diikuti seorang wanita dengan cadar pada wajahnya.


sebuah kain penutup wajah, dengan pola bordir lily putih pada garis pelipis pipi kiri, serta warna senada dengan gaunnya, yang menampilkan birunya laut dalam, seolah penuh dengan keanggunan yang tenang.


Dengan langkah beriringan, keduanya berjalan memasuki Balai pengobatan tersebut.


''Maafkan saya tuan, nyonya, apakah bisa anda memperkenalkan diri, dan siapakah yang ingin anda kunjungi?.'' tanya sopan penjaga balai pengobatan tersebut.


''Kami dari keluarga Yun, dan datang kemari atas izin dari akademi kekaisaran, untuk mengunjungi tuan muda keluarga Yun.'' jawab Yongyu dengan sopan.


Ia tahu benar bahwa, pria didepannya tersebut bukanlah pelayan biasa, melainkan seorang yang sengaja ditempatkan oleh sang kakak, untuk menunggu kedatangan mereka berdua.


''Ternyata anda keluarga daru tuan Muda Yunsang, silahkan saya akan menunjukan ruangan beliau.'' jawab sang pelayan dengan penuh hormat.


''Jadi, mereka yang di tunggu oleh yang mulia kaisar.'' gumam pelayan tersebut dalam hatinya, sambil berjalan menuju sebuah bilik, dengan ukuran yang lumayan besar.


''Silahkan tuan, nyonya, tuan muda ada di dalam ruangan ini, saya mohon undur diri dulu.'' ucapnya lagi dengan sedikit membungkuk tanda hormat kepada Yongyu dan nyonya Yun.


''kriiiieeeetttt...'' suara pintu kamar terbuka dari luar.


''Ibunda.....,Akhirnya anda datang mengunjungiku, mengapa begitu lama.'' sapa seorang bocah kecil dengan nada manja kearah keduanya.


Mendengar hal tersebut, hati Ziaruo melemah, layaknya lilin yang terkena nyala api (meleleh), dengan langkah cepat ia menghampiri ranjang, dimana sang putra kecilnya tengah berbaring.


''Maafkan ibunda sayang, karena baru datang mengunjungimu.'' ucap wanita itu, seraya memeluknya erat.


''Apakah kau merindukan ibundamu ini?.'' tanya Nyonya Yun dengan nada lembut, sambil mengusap usap pipi sang putra.


Nyonya yun, mendudukan dirinya, pada pinggiran ranjang tempam tidur, tubuh rampingnya memperoleh pelukan erat dari bocah kecil tersebut.


''Apakah kau tidak merindukan pamanmu ini Yunsang?.'' tanya Yongyu denga suara tenangnya, ia berjalan mendekati pria kecil yang dianggap sebagai putranya tersebut, sambil mengangkat sebuah kursi yang berada didalam ruangan itu, mendekat kearah ranjang, sebagai tempat mendudukan tubuh gagah miliknya.


Mendengar ucapan Yongyu, Yunsang melepaskan pelukannya, ia menggeser serta merebahkan tubuhnya, yang mulai beranjak remaja tersebut, dan meletakan kepala diatas pangkuan Ziaruo.

__ADS_1


''Aku juga merindukan anda paman, tapi jauh lebih besar rinduku kepada ibunda, sampai sampai aku ingin berlari pulang.'' jawab Yunsang dengan polos dan manja.


''Ya.. aku tahu, ibumu adalah yang utama, dan pamanmu ini hanya cadangan saja, bukankah begitu?.'' tanya Yongyu, sambil menyentil pelan, hidung mancung bocah tersebut.


Tampak diruangan itu, seorang wanita duduk ditepian ranjang, dengan seorang putra yang meletakan kepalanya diatas pangkuan wanita tersebut, dan tepat di samping ranjang, ada seorang pria gagah duduk diatas kursi menatap, serta mengusap pipi dan hidung sang putra.


Seolah, sebuah gambaran keluarga yang sangat berbahagia.


Namun, tanpa mereka sadari, ada sebuah hati dari sepasang mata, yang iri melihat hal tersebut, ia ingin berada diposisi sang pria, yang duduk di atas kursi disamping ranjang.


Tentu saja bukan sebagai paman dari sang bocah, melainkan ia ingin menempatkan dirinya sebagai ayah dari bocah kecil tersebut, sekaligus sebagai suami dari wanita cantik yang sangat ia cintai, sejak pertemuan mereka 9 tahun yang lalu.


''Berarti aku juga cadangan untukmu Yunsang?.'' tanya seorang pria, dari arah luar ruangan, sambil melanglahkan kakinya masuk kesana.


''Hormat kami Yang mulia kaisar, semoga anda selalu sejahtera.'' ucap serempak Yongyu dan Ziaruo setelah bangkit dari duduk mereka.


''Bangunlah, jangan terlalu sungkan, ini sudah menjelang malam, aku hanya pria biasa yang tengah mengunjungi putranya.'' ucap sang kaisar, sembari melangkah cepat kearah ranjang, untuk mencegah Yunsang, ketika hendak ikut memberi hormat kepadanya.


''Apakah kalian baru tiba?.'' tanya kaisar Jing, denga lembut kearah kakak beradik tersebut.


''Benar Yang mulia, kami baru saja tiba, terimakasih atas perhatian anda kepada Yunsang, mohon maafkan ketidak sopanan putra hamba.'' ucap Ziaruo kembali, dengan penuh ketenangan.


''Apa maksudmu?, bukankah aku ini ayahnya, dan ketidak sopanan apa yang kau bicarakan?.'' jawab pria itu, dengan nada lembut, dan sesekali mengusap pucuk kepala bocah kecil tersebut.


''Ibunda....jangan pulang, menginaplah disini bersamaku, lihatlah ada dua ranjang didalam kamar ini.'' pinta sang putra kepada Ziaruo dengan sikap manjanya.


Bocah kecil tersebut, menggapai tangan sang ibu, dan menariknya duduk pada tepian ranjang tempat tidurnya.


''Tinggalah disini, sampai aku sembuh ibunda.'' pinta bocah itu kembali, dengan wajah memelasnya.


Melihat expresi itu, kembali hati nyonya Yun meleleh, ia tak dapat menolak permintaan sang putra dengan wajah imut tersebut.


''Baiklah, aku akan tinggal sampai kau sembuh.'' ucap nyonya Yun sembari memeluk sang putra.

__ADS_1


''Aku tahu, kau tak akan bisa menolak, jika Yunsang yang memintanya.'' gumam dalam hati kaisar Jing, penuh kemenangan, hingga tanpa ia sadari, raut wajahnya menunjukan kecerahan dengan senyum tipis diwajah tegas tersebut.


''Aku tahu, ini pasti rencana anda kak..., aku akan senang jika memang Ruoer menikah denganmu.'' ucap Yongyu dalam hatinya.


'' Selalu saja pikiran kalian, tak pernah berubah, semoga saja ini yang terbaik.'' ucap Ziaruo dalam hatinya, ketika ia mendengar isi hati dan pikiran kedua pria dewasa disana.


''Aku akan menunjukan kepada kakak, bahwa akulah yang paling disayang oleh ibunda.'' ucap Yunsang dalam hatinya.


''Baiklah, kalau begitu paman saja yang pulang, untuk menjaga toko dan penginapan, biar ibundamu tetap disini, tapi ingat harus cepat sembuh, kalau tidak.....akan paman culik dan bawa pulang lagi ibumu ini.'' canda Yongyu kepada Yunsang.


''Hahaha...ia paman, aku berjanji akan segera sembuh.'' ucap Yunsang dengan tawa bahagianya.


''Ruoer..jaga dirimu baik baik, aku pergi dulu baik baiklah disini.'' ucap Yongyu lembut, sambil menatap kearah sang adik, dengan penuh perhatian.


Dan ucapannya tersebut, hanya dijawab deheman pelan, serta anggukan kepala oleh sang Ziaruo.


''Hamba mohon undur diri yang mulia.'' ucap Yongyu lagi.


Namun, kali ini ia beralih menghadap kearah kaisar Jing, sambil membungkuk sesaat untuk memberi hormat, sebelum melangkah pergi dari ruangan tersebut.


''Jika anda bisa membujuknya, saya akan dengan senang hati menyetujui hubungan kalian, meskipun ada rasa sakit didalam hati saya.


Namun, setidaknya jika Ziaruo bersama anda, negri ini akan memiliki seorang permaisuri yang baik, tidak seperti wanita wanita anda.'' gumam Yongyu dalam hati, disela langkah kakinya, meninggalkan ruangan tersebut.


''Kakak...ternyata anda menginginkan sebuah hubungan diantara kami, bahkan untuk rakyat Zing, anda mengesampingkan rasa sakit hati terhadap kaisar Jiang jingwei.'' ucap Ziaruo dalam hatinya, saat mengetahui isi hati Yongyu.


''Akhirnya kami memiliki kesempatan untuk bersama, meskipun hanya beberapa saat saja, namun mengapa hatiku merasa ini belumlah cukup.


Aku ingin dia selalu berada disampingku, tersenyum hanya kepadaku, bahkan jikapun mungkin, ingin rasanya aku mengurungnya didalam sebuah sangkar, dan hanya akulah pemilik kunci sangkar tersebut.


Akan tetapi, jika itu kulakukan, pasti senyum indah pada wajah cantik itu akan menghilang, dan aku pasti jauh lebih menderita jika Ia bersedih, apa yang harus aku lakukan?.'' gulat kaisar Jing dalam hatinya, ia diam sesaat dan hanya menatap wajah wanita didepannya tersebut lekat.


''Sampai kapan anda akan menatap saya seperti itu Yang mulia, apakah anda begitu senang melihat saya merasa malu, dan kebingungan dalam bersikap?.'' ucap Ziaruo dengan suara pelan, serta dengan rona wajah yang tersipu karena malu.

__ADS_1


__ADS_2