
Di hutan barat kekaisaran Xili.
Sesosok pria tengah bergulat dangan belasan binatang liar penghuni di sana.
Dari setiap gerakan yang tampak, pria tersebut solah tengah mempermainkan hidupnya sendiri.
Sosok yang tak lain adalah kaisar Awan Murongxu tersebut, tiba disana hanya dalam hitungan kerling mata setelah melesat dari Nancang.
Di sela kemarahan, serta perasaan terluka atas keadaan yang tengah dialami sekarang.
Sebuah rasa sakit atas kehilangan seseorang yang sangat dicintai melebihi dirinya sendiri.
Kecewa, marah, benci, serta tak berdaya yang hebat, seolah tengah menyayat serta menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
Sebuah kesetiaan yang ia jaga dengan segala upaya terbaik, nyatanya tak berbuah manis.
Sebuah pemikiran dengan penekanan perasaan serta tanggapan pribadi, telah menyeluruh menutup pikiran serta kesadaran Murongxu.
Penghianatan dengan alasan sebuah keharusan dan keterpaksaan di balik nama "takdir", telah membenarkan sang istri tercinta menikah dengan pria lain.
Bahkan, jika dia merasa hancur dan terpuruk dengan rasa sakit, tetap saja tak dapat membela diri.
Bukan hanya itu saja, bahkan dirinya tetap menjadi pusat ujung tudingan jari, sebagai orang yang patut dipersalahkan.
Sebuah kebenaran tentang keadaan yang sekarang, pada kenyataannya adalah akibat dari perbuatan serta keegoisannya, akan cinta yang terlalu menjaga.
Perasaan takut kehilangan yang berlebihan, menyebabkan kurangnya kepercayaan terhadap kesetiaan, serta ketulusan cinta sang istri.
Dibalik pikiran berontak, atas ketidak adilan sang takdir(versinya), Murongxu semakin dirundung kepedihan dan kemarahan, manakala mengetahui bahwa wanita itu kini tengah mengandung.
Ibarat sebuah sambaran petir dengan gelegar yang maha dahsyat di tengah cerahnya mentari, yang menghantam tubuhnya dengan serta-merta tanpa memberikan sebuah pertanda apapun.
Murongxu bersimpuh di atas semak belukar, ketika mendengar percakapan keempat orang didalam kediaman Yun yang berada di kota Diwei, melalui indra pendengaran Ziaruo.
Dengan gejolak yang hampir tak dapat ia deskripsikan di dalam hati, Murongxu tak lagi menghiraukan apapun disekitarnya.
Bahkan, beberapa pasang mata tajam dengan aura kebuasan, yang tengah lekat mengawasi setiap pergerakannya, tak bisa mengusik kesenduan didalam hati pria tersebut.
''Bagaimana mungkin kau lakukan ini?.'' Ratapnya lirih berulang kali, sembari mencengkram rerumputan di bawah telapak tangan.
Entah ia bergumam disana untuk siapa, namun yang jelas mereka para pemilik pasang mata yang telah terfokus kepada sosoknya, tak memahami apapun dan dengan siapa sang pria berucap.
Mereka hanya tertarik dengan daging yang melekat di tubuh itu, serta rasa lapar dari perut saja.
''Apa kalian mentertawakan ku?, apakah menurut kalian aku sangat menyedihkan huh?.'' Ucapnya lagi.
Akan tetapi, kali ini pria tersebut mendongak menatap langit yang memayungi hutan.
Suara itu terasa kental dengan kemarahan dan juga ketidakpuasan.
__ADS_1
Sesungguhnya Murongxu menyadari, segalanya bersumber dari dirinya.
Baik kehadiran sang istri serta dirinya didunia ini, pernikahan Ziaruo dengan Jing, bahkan hingga kehamilan sang wanita tercinta, atas kasih sayang pria lain adalah berawal dari dirinya.
Terlebih lagi ketika melakukan kesalahan itu, ia belum memahami perasaan tentang kepedulian, dan kesetaraan diantara semua mahkluk di sekitarnya.
Yang dia tahu, dirinya adalah keturunan agung dari klan phoenix, dengan hak, kekuasaan, kekuatan, kewibawaan, dan juga pemilik segala di atas negri Awan.
Baginya, menikahi Ziaruo serta memiliki segalanya saat itu, adalah sebagian dari keistimewaannya.
Bahkan, disaat melakukan apapun baik itu keburukan ataupun ketidak adilan, tak pernah ada satu orangpun yang akan mencegah, serta mengingatkan.
Karena hal inilah, Murongxu semakin mengukuhkan diri, bahwa segalanya adalah benar, apapun itu.
Selama ia yang melakukannya maka sah-sah saja.
Dan dengan cinta kasih yang besar di dalam hati untuk Ziaruo, ia tak ingin melihat, serta membuat sang istri bersedih, atas keinginan memiliki putra.
Murongxu merasa tak ada yang salah disaat itu, dengan menerobos paksa masuk kedalam gua penyucian.
Ia ingin mengambil mutiara jiwa pemilik takdir emas, yang tersegel disana untuk di berikan kepada Ziaruo.
Bukankah segala yang disana adalah miliknya?, hal tersebutlah yang terpikirkan disaat itu.
Dan mengingat hal tersebut, hatinya semakin di penuhi penyesalan, yang bercampur dengan kemarahan.
Atas kebisuan semua orang-orang terpercaya, disaat melihat dirinya melakukan kesalahan, serta tindakan buruk.
Di dalam penyesalan, serta keterpurukannya saat ini, Murongxu juga menyalahkan semua pendahulunya, yang memuja, serta memperlakukannya, layaknya seseorang dengan segala ketidakterbatasan.
Terlebih lagi, disaat semuanya berlarut-larut, serta pada akhirnya menyebabkan ia terpuruk hingga seperti sekarang.
Kebencian kian merambat, membesar didalam hati.
Bahkan, Murongxu semakin terpancing saat menyadari dirinya kini tengah menjadi pusat incaran disana.
Sebuah kecamuk yang tengah bergelora hebat, dan seakan hendak membakarnya habis, kini akan ia lampiaskan kepada mereka.
Karena bagi Murongxu, pasang-pasang mata itu, sama buruknya dengan mereka, yang telah menyebabkan luka di hatinya saat ini.
Dengan seringaian tipis, serta suara dan pikiran yang dipenuhi kegeraman, aura membunuh dari tubuh Murongxu mulai terpancar kuat.
Sementara itu menyaksikan hal tersebut, pemilik pasang-pasang mata di balik rimbunnya pepohonan, kini mulai enggan bergerak, serta menunjukan ketakutan.
Tentu saja, pergerakan tersebut tak luput dari sorot tajam miliknya. Sebuah senyum sinis tersembul tipis pada bibir Murongxu. Perlahan namun pasti, pria tersebut berdiri dan kembali mengumbar kemarahan, melalui intonasi suara.
''Kalian ingin memakan ku?, ayo datanglah.''
Murongxu berjalan perlahan, mendekati pemilik mata yang paling dominan.
__ADS_1
''Apakah kau tidak tertarik dengan darah dan dagingku?.'' Lanjutnya lagi, sembari terus melangkahkan kaki mendekati binatang besar, dengan lengking lolongan paling depan.
Melihat binatang tersebut tampak meringsekkan tubuh kebelakang, Murongxu kembali mengukir seringai tipis.
''Kalian akan menyesal jika tak menginginkan tubuhku sekarang.'' Lanjut Murong, sembari menggerakkan tangan kiri, perlahan di atas pergelangan tangan kanannya.
Dan....
''Sreeeet...tes tes..'' Murongxu tak segan melukai pergelangan tangan itu.
Darah merah segar mengalir, jatuh menetes di atas dedaunan kering, yang berserakan di tanah.
Entah apa yang tengah direncanakannya. Dengan tangan yang tergores, serta mengeluarkan darah, Murong justru semakin membuat para mahkluk jelmaan ingin kembali menyerangnya.
Dan tak membutuhkan waktu yang lama, dari cairan merah tersebut, menyeruakkan aroma khas di udara.
Sebuah sensasi aroma, yang sangat menggiurkan bagi semua mahkluk-mahkluk tersebut.
Ditengah rasa takut yang terpancar, ada kehausan, serta kebuasan, bercampur lekat pada sorot mata-mata tajam disana.
Lagi lagi senyum menyeringai dengan tatapan tajam, tercetak di wajah sang pria.
''Datang dan makanlah, maka kalian akan abadi dan tak terkalahkan.'' Ucap Murong lagi.
Mendengar Ucapan sang pria, mahkluk yang paling dominan di sana, tampak goyah dan ingin mencoba.
Di sela pikiran takut yang tengah menyeruak, serta memenuhi insting mereka. Serigala yang paling dominan bergerak dengan penuh perhitungan, ke arah Murongxu.
''Baguuus....Hahahaha''
Murongxu menyambut kedatangan sang serigala jelmaan, dengan suara tawa yang semakin menitik beratkan, ketakutan mereka.
Sementara bagi sang serigala dominan, seolah ia tengah bertaruh dengan kehidupan, untuk sebuah keabadian yang diimpikan, oleh setiap ras seperti dirinya.
''Baik..!, mati atau berjaya selamanya.'' Pekik sang Serigala dominan, mengambil keputusan.
Bagaimanapun, dengan tapa yang sudah hampir dua ratus tahun, tubuh fana serta keturunan kasta rendahnya, ia masih kesulitan untuk mencapai ranah tinggi dunia Awan.
Dan di depan sana, ada sebuah jalan pintas yang akan langsung membawanya, naik ke dunia yang selama ini ia impikan.
Perlahan, serigala itu berjalan mendekat mengambil jarak tempur terbaik.
Meskipun, dengan jelas ia tahu bahwa pria di depan sana, bukanlah sesuatu yang dapat dipandang mudah.
''Ada apa?, Apa kau menolak kesempatan ini?.'' Tanya Murongxu, dengan tatapan yang tampak merendahkan.
Sementara, mendapat intimidasi tatapan yang buruk kepadanya, Sang dominan menjadi geram, darahnya seolah tengah di rebus di atas bara api.
Dengan suara yang penuh penekan ia menjawab. ''Bagaimanapun sebuah kejayaan adalah patut di perjuangkan, dan aku akan memakanmu tanpa menyisakan sepotong tulang pun.''
__ADS_1