Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 178


__ADS_3

Ziaruo tersenyum untuk pemikirannya sendiri, ketika ia mengingat setiap tindakan keji, yang dilakukan oleh Canzuo terhadap para wanitanya.


Mengingat hal itu, Ziaruo sempat merasa jijik, dengan pria di depannya tersebut.


Namun, dengan tujuan kedatangan sebagai wakil perundingan, Ia harus menambahkan ekstra kesabaran, serta kembali menampilkan sebuah senyum di bibir.


''Bagaimana, apakah anda masih ingin melanjutkan kekonyol ini, Yang mulia?.'' Tanya Ziaruo lagi.


Tempat itu secara cepat berubah hening, setelah Ziaruo menyelesaikan ucapan.


Tak ada respon, ataupun ekspresi perubahan dari Canzuo yang berarti.


Ia hanya menatap lekat kearah mata Ziaruo, seolah menelisik sesuatu dari ucapan yang baru di dengar.


Setelah beberapa saat, kaisar muda Tang itu berdiri.


Ia berjalan perlahan kembali menjauh dari Ziaruo, dan berhenti pada tepian pembatas teras.


Mata tenang Canzuo, menatap kearah taman di kejauhan, dan berkata. ''Bagaimana jika pria ini dapat menerimanya(bayi Jing dan Ziaruo)?, apakah Anda dapat menerima kaisar ini juga?.''


Sebuah ucapan pelan, mengalir tanpa ragu dari bibir Canzuo.


Tak ada keterkejutan, pada wajahnya, ketika Ziaruo menyampaikan kabar kehamilan saat ini.


Dan entah mengapa, Ziaruo merasa ada sedikit kejujuran, di sela deretan perkataan Canzuo.


Ragu mulai menyelimuti hati wanita cantik tersebut.


Dengan jaraknya saat ini, ia tidak dapat menembus, pemikiran Canzuo.


Ziaruo berpikir, bahwa Canzuo sengaja menjaga jarak diantara keduanya.


Bahkan, ia juga yakin bahwa Canzuo sudah mengetahui, perihal kehamilannya sebelum ia mengatakannya tadi.


Dan itu semua karena campur tangan, sang saudara seperguruannya Biyi.


Dengan kehamilannya sekarang, Ziaruo semakin kehilangan kemampuan yang ia miliki, untuk membaca pikiran orang lain.


Padahal usia kehamilan itu masih dini, ia sudah tak dapat lagi mengetahui pemikiran orang lain dengan jelas, atau tanpa menyentuh mereka.


Ziaruo menghela nafas, ia menjadi sedikit frustasi, dan ingin segera menyudahi perundingan sekarang.


Akan tetapi, demi kelancaran rencana mereka.


Ziaruo harus kembali, menambahkan extra kesabaran.


''Apakah kaisar juga bersedia, meski nantinya memiliki putra dari selir di kekaisaran yang lain.


Namun, hanya putra yang terlahir dari rahim wanita ini saja, yang akan menjadi penerus negri Tang?.'' Ziaruo.


Mendengar hal itu, mata Canzuo bersinar cerah. Ia tidak menyangka bahwa segalanya, akan berjalan semudah ini.


Benarkah, Ziaruo akan menerimanya hanya dengan perjanjian ini?, dan benarkah ini kenyataan?.


Akan tetapi, mengingat bahwa wanita disana, adalah seseorang dengan welas asih besar, yang bahkan bersedia merawat anak terbuang milik orang lain.


Canzuo kembali meyakinkan hati, bahwa segalanya adalah mungkin.


Bagi wanita itu, adalah sepadan mengorbankan diri, untuk ribuan nyawa tak bersalah.


''Selama Anda menerima sepenuh hati, maka tidak akan ada putra yang terlahir dari selir lain di kekaisaran Tang, dan pria ini akan pastikan itu.'' Jawab Canzuo penuh antusias.


Ia berpikir, waktu masihlah panjang.


Dan ia yakin bahwa nantinya (Canzuo dan Ziaruo), akan memiliki putra-putra mereka sendiri.


Dan ketika hal tersebut terwujud, banyak cara, serta alasan untuk menyingkirkan putra Jing, dari jalan diantara mereka.


Sementara mendengar Jawaban tersebut, Ziaruo menyembulkan raut wajah datar.


Namun, karena gerakan yang hanya sekilas, serta posisi Canzuo yang berjarak beberapa langkah, senyum itu tidak terlihat.


''Baiklah...saya akan berpindah, ke negri Tang dalam waktu 7 hari kedepan.


Saya harap, Yang mulia segera menghentikan pergerakan pasukan, serta memberikan penawar kepada mereka(para penguasa dari tiga kekaisaran lain).''


Mendengar perkataan Ziaruo, Canzuo membelalakan mata tak percaya.


Pria penguasa tersebut, berjalan mendekat, dan dengan cepat meraih kedua tangan Ziaruo, seraya berkata. ''Benarkah?.''


Dan...


''Benarkah semudah itu?, apakah ia tidak berbohong?.'' Gumam dalam hati Canzuo, yang terbaca oleh Ziaruo, ketika ia menyentuh tangan wanita tersebut.


Sementara, pada tampilkan luar Ziaruo tampak masih tenang.

__ADS_1


Seolah, tak mengetahui pemikiran Canzuo sekarang.


Wanita itu justru tersenyum, dan menganggukkan kepala sejenak, sebagai jawaban atas pertanyaan kaisar Tang.


''Jika demikian, wanita ini akan datang 7 hari kedepan, setelah segalanya terselesaikan.'' Lanjutnya lagi, mengulang serta sengaja menekankan ucapan, pada hari kedatangannya di negri Tang.


Wanita itu hendak berdiri dari duduk, dan tak ingin berlama-lama lagi disana.


Baginya waktu amatlah berharga saat ini, terlebih ia juga belum mengatakan tentang batas waktu, yang ia miliki sebelum pergi ke Yincang.


Di sisi lain, Canzuo ingin menahannya, serta berharap wanita itu akan memberinya sedikit waktu lagi, untuk mereka berbincang sejenak.


Akan tetapi, hal itu di tolak secara halus oleh Ziaruo.


Permaisuri Zing tersebut, buru-buru menunduk memberi hormat, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruanganan.


Dan tentu saja, Canzuo mengikutinya dari belakang.


Meski, ada kekecewaan dengan waktu singkat yang mereka lalui saat ini.


Namun, ia kembali antusias ketika mengingat, bahwa 7 hari kedepan ia akan datang kepadanya.


''Aku akan langsung mengirim perintah sekarang juga.'' Ucap Canzuo, ketika Ziaruo hendak melangkah keluar dari pintu utama ruang kerjanya.


''Wanita ini pecaya, anda akan menepati janji.'' Ziaruo.


''Baiklah hamba undur diri Yang Mulia.'' Lanjutnya lagi.


Ziaruo membungkuk sejenak, sebelum berbalik.


Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki keluar dari pintu utama, sebuah bayangan dengan tiba-tiba melesat kearahnya.


Sosok itu mengenakan tutup kepala, dan hanya menampilkan mata saja yang terbuka.


Dan dengan gerakan cepat, sang penyusup tersebut menyerang kearah Ziaruo.


Sebuah bilah pedang panjang, bergerak sangat cepat, dan tanpa terprediksi.


Melihat hal itu, Canzuo dengan reflek melesat kearah Ziaruo.


Ia berusaha menangkis serangan, dari sosok bayangan disana, dan membawa tubuh Ziaruo di balik tubuhnya.


Akan tetapi, dengan jarak yang beberapa langkah, serta tubuh Ziaruo yang belum siap.


''Aaahhk...'' Pekik Ziaruo terkejut.


Sebuah teriakan yang diiringan suara sayatan benda tajam, nyatanya telah melukis sebuah torehan pada pundak Ziaruo.


Senjata itu telah mampu merobek baju atas, yang menutup pundak kiri wanita tersebut.


Canzuo sangat terkejut akan hal itu.


Wajahnya berunah menjadi lebih gelap.


Sebuah perasaan cemas, serta amarah berbaur menjadi satu disana.


Pria tersebut, mengingat perkataan sang tabib agung, bahwa saat ini untuk menjaga kehamilan.


Ziaruo tidak mungkin akan mudah untuk menggunakan ilmu beladiri, kemampuan magisnya, ataupun bergerak secara sembrono.


''Pengawal...pengawal.'' Teriak Canzuo, dengan suara keras.


Ia merasa cemas akan keadaan Ziaruo, dan sekaligus merasa di permalukan, atas kehadiran penyusup, ketika ia bersama dengan wanita itu.


''Bagaimana mungkin, ada penyusup di istana milikku?.'' Gumam dalam hati Kaisar Tang.


Dan karena saat ini, Canzuo tengah memegang tangan Ziaruo. Wanita itu mampu mengerti pemikirannya.


Tanpa sepengetahuan canzuo, sebuah senyum tipis tercetak di bibir Ziaruo.


Sebuah senyum syarat makna, yang seolah menampilkan kepuasan tersembunyi, di dalam hati.


Sementara, mendengar derap langkah prajurit yang datang mendekat, sosok bayangan tersebut tampak panik, dan secepat kilat melesat pergi.


Tak sampai hitungkan detik, di sana puluhan prajurit, dan beberapa penjaga bayangan sampai.


''Cepat tutup pintu gerbang istana, temukan dia!, aku ingin dia di tangkap hidup, ataupun mati.'' Perintah Canzuo, penuh kemarahan.


Dan tanpa menunggu perintah kedua kalinya, para prajurit dan penjaga bayangan, melesat kearah dimana sosok tersebut menghilang.


Mengikuti prajurit lain, yang telah lebih dulu mengejar sang penyusup.


''Dimana Biyi?, mengapa disaat sekarang dia justru menghilang?.'' Gerutu Canzuo dalam diamnya.


Lagi-lagi ia di buat kesal oleh sang tabib agung, penyelamatnya tersebut.

__ADS_1


Terlebih lagi, saat ini yang terluka adalah Ziaruo.


Dengan wajah panik, serta kemarahan yang masih hinggap di hati, Canzuo melihat wanita, yang kini berada di dalam kungkungan perlindungannya.


''Panggil tabib...cepat panggil tabib.'' Sambung Canzuo lagi.


Pria itu, di liputi kecemasan yang nyata.


Sejak wanita itu menyetujui perundingan, ia telah menganggapnya sebagai Permaisuri.


Canzuo membopong Ziaruo, dengan cepat, dan mbawanya masuk kembali kedalam ruang kerja.


Ia membaringkan Ziaruo, pada sebuah ranjang kecil, yang biasa ia gunakan ketika melepas lelah, di sela pekerjaan yang tengah di lakukan.


Selang beberapa saat kemudiaan, seorang tabib datang dengan tergesa-gesa.


''Tak perlu formalitas, cepat periksa periksa lukanya!.'' Perintah Canzuo, ketika melihat sang tabib, hendak memberi hormat.


''Baik Yang mulia.'' Jawab tabib, dengan penuh penghormatan.


Ia adalah asisten tabib, yang berada langsung dibawah sang tabib agung Biyi.


Oleh karenanya, ketika tabib agung tidak berada di sana, dirinyalah yang harus menggantikan.


''Ampun Yang mulia.'' Ucap tabib dengan wajah canggung.


''Ada apa?, lakukan cepat!, periksa dan obati dengan baik.'' Sahut canzuo, masih dengan penuh kecemasan.


''Ampun...ampuni hamba yang mulai, untuk memeriksa lukanya, kita harus membuka sedikit pakaian di sekitar pundak.'' Jawab Tabib lagi.


Ia merasa, bahwa mata miliknya mungkin akan sulit bertahan, tetap berada pada rongganya.


Meski ia tidak mengetahui siapa wanita disana.


Akan tetapi, dengan hanya melihat kecemasan kaisar Canzuo, ia telah dapat menduga, bahwa wanita tersebut tidak sama seperti selir yang lain.


Dan tentu saja, kaisar Canzuo tuannya, tidak akan membiarkan ia bertindak sejauh itu.


Namun, jika ia tidak mengatakan apa-apa, bagaimana dapat membersihkan luka dari sang wanita.


''Apa katamu, beraninya kau.'' Bentak Canzuo, dengan mata yang sedikit membulat.


Ia ingin menghabisi pria itu saat ini juga.


Namun, ketika ia mendengar suara khas dari belakang tubuhnya, ia berbalik.


''Yang mulia, biarkan dia melakukan tugasnya.'' Ziaruo.


Mendengar perkataan wanita tersebut, Canzuo diam sejenak, sebelum akhirnya berucap kembali '' Apakah hanya di bersihkan?, biar aku yang melakukannya.''


Pria tersebut, tak ingin tabib melihat tubuh Ziaruo, bahkan jika ia harus merawatnya sendiri.


''Benar Yang mulia, dan hanya perlu menaburkan obat untuk luka saja.'' Jawab sang tabib, dengan nada ketakutan.


Mendengar hal tersebut, Canzuo mendekat kearah Ziaruo.


Ia menggerakan tangan perlahan, tepat kearah pundak wanita tersebut.


Tangannya bergetar, seolah tak terkontrol.


Padahal, baginya kali ini bukanlah yang pertama, ia berdekatan dengan seorang wanita.


Akan tetapi, entah mengapa hati, pikiran, serta tubuhnya bereaksi tak seperti semestinya.


''Maafkan aku, pakaian ini sudah rusak, dan aku harus sedikit merobeknya.'' Ucap Canzuo pelan, sebagai bahasa lain meminta izin, untuk memperlebar robekan pada baju Ziaruo.


''Silakan.'' Jawabnya singkat.


Mendengar jawaban tersebut, Canzuo kembali menggerakan tangan.


''Krataak...kraaaak...kratak.''


Suara sobekan baju memang tak seberapa keras.


Akan tetapi, nyatanya hal itu mampu membuat jantung Canzuo semakin berdegub hebat.


Layaknya sebuah genderang perang, yang di tabuh berulang kali.


''Lub..dub...lub..dub..lub..dub..''


Terlebih lagi, ketika ia melihat kulit putih pundak Ziaruo.


Hati, pikiran, serta jantungnya, semakin berkolaborasi dengan baik.


''Aaahk..aku bisa gila.'' Pekiknya dalam kebisuan.

__ADS_1


__ADS_2