
"Dipeluknya tubuh mungil, yang kini terkulai tak berdaya di dalam dekapannya tersebut, matanya menajam, bibirnya bergetar, seolah menahan amarah yang membuncah dalam hatinya.
Seorang wanita, dengan hiasan kristal kristal tiara pernikahan, terpasang diatas kepalanya, berjalan mengangkat tubuh mungil putranya, berkali kali ia menggumamkan nama bocah kecil tersebut, ia tak dapat membangunkannya, namun ia juga tak ingin menyudahi gumaman bibirnya.
Mata tajamnya tetap basah, dengan air mata .
"Tingye .., lihat Yanyan ...., Tingye cepat tolong Yanyan, Tingye kemana kamu!.'' panggil wanita itu, dengan nada serak, akibat teriakan teriakannya sedari tadi, yang di sertai dengan isak tangisan, entah sudah berapa kali, ia memnggil manggil nama Tingye suaminya, entah berapa kali mengucapkan kalimat kalimat yang sama,
Namun, orang yang ia panggil tetap tak datang menghampirinya.
Ziaruo semakin mempercepat, langkah kakinya, ia hanya ingin mencari seauatu atau seseorang, ditengah ketegangan yang terjadi di kediaman tersebut, ia merasa kebingungan dan tertekan, bahkan ia tak lagi memperdulikan, batas kemampuan kakinya, yang masih dalam masa penyembuhan.
Bagaimanapun juga, saat ini ia, hanya wanita biasa yang lemah, hanya dapat mencoba dan berusaha sebaik mungkin.
"Tingye ....Gutingye ...''panggilnya terus menerus, sembari mengedarkan pandangannya pada setiap tempat yang ia lewati, memilah milah wajah setiap orang, untuk menemukan sang suami.
Hingga akhirnya, ia melihat sebuah tubuh yang terbaring di atas tanah, dengan kepungan prajurit mengitari tubuhnya, disana juga ada beberapa sosok yang ia kenali.
namun, ia fokus pada sesosok tubuh yang kini terbaring di tanah.
Dari mulutnya, menyebut nama seseorang yang berharga baginya, tangannya juga menjulur kearah sang istri, yang baru saja ia nikahiy beberapa saat yang lalu.
"Ziaruo, Ziaruo ....''panggil Gutingye, ketika melihat sang istri dengan membopong tubuh kecil putranya, sembari mengulurkan tangannya kearah wanita tersebut.
Hatinya sakit, melihat linangan air mata dipipi sang istri.
Lebih lebih, ia juga melihat bocah kecil yang terkulai ditangan wanita tersebut.
namun, ia tetap ingin menampilkan senyuman untuk wanita tersebut.
"Kemarilah ...uhuuuk.. uhuk....( batuk batuk)''
pinta gutingye, sembari mengulirkan tangannya kearah Ziaruo, dengan senyum yang ia paksakan, Gutingye berusaha menepis, dan menahan rasa sakit di tubuhnya.
Dengan langkah gontainya, Ziaruo mendekat kearah sang suami, ia menjatuhkan kasar tubuhnya di samping tubuh Gutingye, namun tetap kuat memegang tubuh Yanyan, tubuh bocah tersebut, akhirnya ia letakkan diatas pangkuannya, tangan kirinya, menopang kepala dan tangan kananya ia letakan di bawah kedua kaki bocah tersebut.
Ia menundukan wajahnya, mendekat menyambut tangan sang suami dengan kedua pipinya, karena ia tahu Gutingye suka menangkup pipinya, ia juga tak dapat menyambut tangan tersebut, dengan tangan miliknya, karena masih erat memegangi tubuh kecil Yanyan.
__ADS_1
Kedua tangan Gutingye berlumuran d*rah, sehingga darah itu berpindah menempel dikedua pipi putih ziaruo.
"Jangan menangis, ini hari bahagia kita, tersenyumlah untukku lagi.'' ucap Gutingye lembut, dengan menahan sakit didada dan juga perutnya, serta sesekali menghapus buliran air mata Ziaruo.
Memang benar, bulir bening yang menetes, dipipi tersebut terhapus sesaat, akan tetapi beberapa detik kemudian kembali mengalir lagi, justru diwajah tersebut, berganti dengan torehan, warna merah d*rah, yang menutupi putih wajah Ziaruo, bahkan dapat dikatakan hampir seluruh, wajah Ziaruo tertutup warna d*rah Gutingye.
Perlahan, ia membaringkan tubuh Yanyan disamping tubuhnya, ia ingin lebih dekat, dengan suami yang baru saja resmi menjadi pasangannya tersebut.
"Kami akan menunggumu, tersenyumlah.''bucap Gutingye lagi disela erangan sakitnya.
Mendengar ucapan tersebut, Ziaruo mengangkat kepala Gutingye, keatas pangkuanya, ia tak memperdulikan ucapan dan perkataan semua orang yang disana.
Ucapan para prajurit, pangeran Murongyu, pangeran Muronghui serta orang orang yang ia rasa tidak perlu, dan tidak penting untuk ia perhatikan saat ini.
Disana, seolah hanya ada dirinya, suaminya serta tubuh Yanyan putranya.
"Aku tidak ingin kalian menungguku, bawa aku bersama kalian hixs...jika tidak hixs... ( terhenti sejenak ) jika tidak ..., maka segalanya, diantara kita berakhir disini, aku akan mencari orang lain sebagai penggantimu.''
( *T*entu saja ucapan tersebut bermaksud sebaliknya )
Jawab Ziaruo, dengan isak tangis yang terus terdengar, ucapannya terdengar putus asa, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Kami akan bahagia melihatmu bahagia.'' ucap Gutingye dengan tangan yang menggenggam erat tangan Ziaruo, dan membawanya diatas dada, yang kini terus mengalirkan da*rah dari tubuh kekar miliknya.
"Hentikan!, kata katamu menyakitkan, mengapa kau tak membawaku, aku sendirian, bisakah kau membawaku?.''pinta Ziaruo, dengan tangisan serta tak dapat mengontrol emosinya.
Ia merasa sedih atas kematian Yanyan, ia juga merasa bersalah, atas kejadian yang menimpa, Gutingye suaminya.
Ziaruo merasa bertanggung jawab, atas kem*tian hampir 200 orang perkampungan Merah, ia ingin Gutingye menyalahkannya, dan membencinya, sehingga ia akan memb*nuh dirinya, untuk membalaskan seluruh kematian pengikutnya, yang sudah seperti saudara bagi Gutingye.
"Ruoer, bisakah kau menc**m dan tersenyum padaku sekali lagi.'' pinta Gutingye, dengan tatapan mengibanya.
Gutingye tahu, bahwa untuk melihat istrinya itu tersenyum, saat ini adalah hal yang sangat sulit, namun entah mengapa ia begitu ingin istrinya tersebut, mengantar kepergiannya dengan sebuah senyuman.
Mendengar permintaan tersebut, dengan derai air matanya, Ziaruo membungkukan tubuhnya, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Gutingye.
ia mulai menc**m lembut b*bir pria tersebut, b*bir yang memerah akibat munt*han dar*h dari dalam tubuh sang suami, ia juga menci*m kening, kedua mata, serta hidung Gutingye.
__ADS_1
Lelehan air matanya, terus mengucur, hingga ada beberapa tetes bersarang diwajah sang suami.
Perlahan, ia menyapu bulir bulir bening itu, dengan ujung gaun pengantinnya, ia ingin membersihkan apapun, yang ada di wajah cantiknya, yang kini tampak pucat.
Meskipun begitu, masih nampak bayak noda merah, disetiap lekuk wajah itu, Ziaruo perlahan lahan menampilkan senyum manisnya.
Senyum, ketika ia melihat Yanyan dan Gutinye berdebat memperebutkan dirinya.
Senyum saat melihat, pria dingin Gutingye bertingkah aneh, didekatnya serta kadang kekanakan seperti Yanyan.
Serta senyum bahagia, ketika mengingat Yanyan dan gutingye bersama sama memeluknya, pagi tadi.
Nnamun, senyum tersebut tiba tiba sirna, mana kala, pegangan tangan Gutingye yang menggenggam erat tangan dan jari jari lentiknya, mulai mengendur dan melemah,
senyuman Ziaruo memudar, berubah menjadi buliran buliran deras, air bening kembali ,
"Kau benar benar tidak ingin membawaku, kau meninggalkan aku Tingye, hixs ...hixxss..''ucap Ziaruo keras, dengan tangisan kesediaan yang tak lagi ia tahan.
Pria itu, Gutingye yang berjanji akan menemaninya, hingga akhir hayatnya,
dalam sekilas saja, ia mampu membuktikan semua janjinya.
bahwa tidak akan ada, yang mampu memisahkan mereka kecuali maut.
Gubuh gutingye, terbujur di atas tanah, dengan luka lebar didadanya, serta luka diperutnya, membuatnya tak dapat melakukan apapun lagi, pakaian pengantin yang masih ia kenakan, tampak terk*yak oleh s*betan pedangy serta warna merah bajunya, lebih pekat lagi, warna merah yang bercampur dengan kreasi warna merah dari lukanya.
Disamping tubuh yang tak lagi bernafas itu, seorang wanita cantik, yang baru beberapa saat lalu dinikahinya, bahkan belum sempat menikmati kebersamaan, untuk malam pengantin mereka, kini dirinya sudah menjadi janda.
Wanita itu tengah bersimpuh dan mematung, matanya terpejam, wajahnya menengadah ke atas lagit senja itu, bulir bulir bening air matanya, masih mengalir deras pada pipi putih, bersemu merah akibat darah sang suami.
Sepi, tanpa suara orang berbicara, yang terdengar hanya langkah kaki, serta gerak gerak tubuh senyap para prajurit, yang menyiapkan lubang lubang tanah, untuk mengubur jenazah teman teman mereka, serta tubuh orang orang dari perkampungan Merah perkumpulan King.
Flash back on
Pagi itu, keadaan di perkampungan merah milik King, di hutan barat kekaisaran Xili, tengah sibuk memepersiapkan acara pernikahan untuk tuan besar mereka, Gutingye dan Ziaruo.
Seluruh kediaman dihias, dan dipasang ornamen oranamen cantik dengan warna merah mendominasi, sebagai simbol simbol kebahagiaan di hari itu , semua orang nampak bahagia , terutama mereka berdua yang kini, tengah berlomba berjalan cepat, saling mendahului untuk sampai di bilik utama kediaman tersebut.
__ADS_1
"Ha.ha.ha.ha...aku menang ayah, jadi yang menikah dengan kakak cantik adalah aku.'' teriak Yanyan sembari berlari kedalam bilik dan menyeruak masuk kedalam pelukan Ziaruo.
"Mulai sekarang, panggil ibu jangan kakak cantik Yanyan.''ucap sang ayah, yang mengikutinya masuk kedalam bilik tersebut.'' lanjut Gutingye dengan rona bahagia miliknya.