Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 132 Xioyu dan Murongyu.


__ADS_3

Masih di dalam perjalanan.


''Kau benar, mungkin usaha kita akan jauh lebih sulit dari yang kita perhitungkan.'' Jawab sang wanita.


Keduanya berjalan masuk kesalah satu bangunan disana. Dengan sesekali, mereka akan kembali melihat rombongan, yang berjalan menjauh.


''Mungkinkah, kebaikannya adalah sebuah rumor saja?.'' Gumam dalam hati wanita tersebut.


...........................


Setelah, ramah tamah serta basa basi sambutan usai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju istana kekaisaran Tang, yang berjarak setengah hari perjalanan.


''Istirahatlah, kita masih akan menempuh perjalanan setengah hari lagi.'' Ucap sang suami dengan lembut.


Ziaruo merasakan ketulusan, serta kepedulian yang besar dari pria tersebut.


Dan ia ingin menikmatinya dengan baik saat ini.


Ditengah kegelisahan dan kegundahan hatinya, ia merasa bahagia serta bersyukur, atas kepedulian pria tersebut.


Dengan perlahan ia merebahkan tubuhnya, dan meletakan kepala diatas pangkuan sang suami, sembari berkata. ''Baiklah..tapi jika memasuki tengah kota nanti, tolong bangunkan saya Yang Mulia.''


Ziaruo ingin menginap di kediaman pribadinya, yang terletak di belakang toko perhiasan keluarga Yun, dan hal itu telah ia bicarakan dengan kaisar Jing sebelumnya.


''Jangan khawatir, aku mengerti.'' Ucap jing kembali, dengan tangan yang masih mengusap lembut, pucuk kepala sang Permaisuri.


Mendengar jawaban tersebut, Ziaruo memejamkan mata, ia tak ingin kebahagiaannya saat ini berlalu dengan cepat.


Bahkan ia tak memperdulikan hiruk pikuk di sepanjang perjalanan kereta mereka.


Hingga, sebuah suara yang keras menarik perhatiannya. ''Dewi..dewi tolong berikan belas kasihmu, berikan kami keadilan.''


Ziaruo bangun dari tidurnya, ia ingin mengetahui apa yang terjadi di luar sana.


Sebuah kejadian yang bahkan, mampu menghentikan kedua rombongan dengan pengawalan ketat.


''Jangan pedulikan, mereka pasti hanya sekedar ingin membuat kegaduhan.'' Ucap kaisar Jing, sembari meraih tubuh wanita itu.


Pri tersebut, merasa kesal kepada wanita diluar sana. Karena suara berisik dari wanita itu, telah membangunkan sang istri dari tidurnya.


''Tidurlah lagi, jangan pikirkan apapun, aku yakin mereka bukan orang orang yang simpel.'' Lanjut sang suami kembali.


Dan benar saja, ketika Ziaruo menajamkan pendengaran, serta memfokuskan pikiran pada titik wanita disana, ia mendapati sebuah kebenaran.


Dengan mengetahui hal itu ia tersenyum, serta kembali merebahkan tubuh, membawa kepalanya diatas pangkuan sang suami.


''Anda benar, mengapa aku harus melewatkan bermanja kepada anda, untuk sesuatu yang tidak penting.'' Jawab Ziaruo dengan nada pelan.


Mendengar hal itu, kaisar Jing terhenyak sesaat, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Seorang Ziaruo mengatakan sesuatu, yang membuat hatinya berdetak tak beraturan, serta membawa angannya melambung tinggi.


Dengan suara yang sedikit ia pelankan juga, pria tersebut menatap kearah sang istri, dan berkata. ''Benarkah?, apakah aku jauh lebih penting dari apapun Permaisuri?.''


Kaisar Jing menundukan kepala semakin rendah, mendekat kearah wajah Ziaruo, yang berada diatas pangkuannya.


Dan tentu saja, Wanita itu mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sang suami.


Oleh karenanya, dengan lembut ia mengalungkan kedua tangannya di leher kaisar Jing, menarik perlahan, serta membawanya mendekat kearah wajahnya hingga hampir tak berjarak.

__ADS_1


''Lup..dup..lup..dup..lup..dup.''


Debaran jantung keduanya seolah saling bersautan, memberikan kelengkapan atas irama, ta*tan b*b*r mereka.


Sebuah momen kebahagian bagi Ziaruo, karena telah dapat memenuhi tanggung jawab sebagai seorang istri, serta sedikit meredakan keinginan sang suami.


Meskipun hanya dengan sebuah ci*man dib*bir saja.


Sementara bagi kaisar Jing, segalanya adalah keindahan, kebahagiaan, bahkan mungkin surga di dunianya sekarang.


Kehangatan perasaan, serta inisiatif dari sang Permaisuri, adalah sesuatu hal yang sangat berharga.


Sehingga hal tersebut, semakin memancing keinginan li*r seorang pria, terhadap lawan jenis. Terlebih lagi wanita itu, adalah sang Permaisuri yang sangat ia kasihi.


Namun, dengan keberadaan mereka yang masih di dalam kereta, sebesar apapun keinginan dihati Jing, ia tetap harus menahannya, pria itu tak ingin sang istri merasa tidak nyaman.


''Yun...kau sengaja melakukan ini, karena kita sedang didalam kereta kan?, kau menggodaku.'' Ucap Jiang jing wei, di sela perasaan menggebu di dalam hati.


Sang kaisar hanya bisa melakukan hal hal yang sebatas berc**man, dan mengexpos tubuh sang istri, dengan indra per*b*nya untuk meredakan rasa gemuruh, yang kini tengah bergelora, menguasai hati serta pikiran.


''Awas kau, Yun....tunggu saja setelah kita tiba di kediaman nanti.'' Gumam lirih pria tersebut.


Dan hal itu, hanya memperoleh tanggapan, sebuah senyumam lembut dari wanita tersebut.


Di tengah tautan kasih, yang tengah dirasakan kedua insan di dalam kereta dengan lambang kekaisaran Zing tersebut. Banyak Kereta lainnya yang berjalan beriringan.


Kereta kereta itu ibarat rentetan binatang melata, yang berjalan meliuk seirama derap kaki kuda.


Karena bagaimanapun, mereka tidak dapat mempercepat gerak kereta sesuai keinginan.


Segalanya membutuhkan kesabaran, atas sebuah kebersamaam.


Baik itu dari rombongan kekaisaran Jing, maupun kekaisaran Xili.


Bahkan hal itu juga belum termasuk, puluhan prajurit penunggang kuda dari ketiga kekaisaran.


Hal inilah yang menyebabkan langkah kereta, serta iring-iringan rombongan, memakan jauh lebih banyak waktu, untuk sampai di tujuan.


Hingga ketika matahari berada tepat diatas kepala, rombongan sampai di tengah kota Diwei. Tepatnya di depan toko perhiasan milik keluarga Yun, Rombongan tebagi menjadi 2 kelompok.


Kaisar Jing dengan sebagaian rombongan kekaisaran Zing, berhenti di kediaman Yun(kaisar Jing, ziaruo, Yongyu dan keempat penjaga bayangan).


Sementara, sebagian rombongan kekaisaran zing yang lain(Wuhan, Guru besar Mengshuo, para cendekiawan serta prajurit elit lainnya), ikut melanjutkan perjalanan bersama rombongan kekaisaran Xili, menuju istana kekaisaran Tang.


Ada beberapa orang yang merasa kecewa, atas terbaginya rombongan tersebut.


Dan salah satunya adalah, seorang wanita muda dengan pakaian simpel, namun masih terkesan elegan, di dalam sebuah kereta kuda dengan lambang kekaisaran Xili.


''Yang Mulia, mengapa anda tidak mengizinkan saya menemui non...Maaf, menemui Yang Mulia permaisuri Yun?.'' Tanya seorang wanita dengan nada pelan.


Mendengar hal tersebut, Murongyu menghela nafas sejenak, dan berkata. ''Apa kau kira, pria itu akan mengizinkan sembarang orang menemuinya?.''


''Bahkan, aku hanya bisa melihatnya sejenak, saat penyerangan di hutan kemarin.'' Lanjut Murongyu lagi.


Wajah wanita itu, berubah menjadi sendu mendengar jawaban dari kasiar Murong. Tampak jelas kegundahan dari sorot mata itu.


Melihat hal tersebut, kaisar Murongyu merasa bersalah. Akan tetapi, kenyataannya itulah yang tengah terjadi saat ini.

__ADS_1


Kaisar Jiang jing wei, seolah berusaha membatasi pergerakan Ziaruo. Setidaknya itu adalah versi Murongyu saat ini.


Dan pada kenyataannya, hal itu bisa dibenarakan, sebab kaisar dari Zing tersebut, memang berusaha sangat keras, agar sang permaisuri tidak bertemu dengan Murongyu.


Akan tetapi, Jing melakukannya dengan cara yang elegan, rapi serta terperinci.


Sehingga perbuatannya tidak menimbulkan kecurigaan, serta rasa tidak nyaman untuk Ziaruo.


Xioyu ikut dalam perjalanan kali ini, untuk bertemu dengan Ziaruo, ia ingin meminta maaf kepada wanita penolongnya tersebut.


Dalam hidup Xioyu tak ada keinginan lain, selain ingin bertemu dengan Permaisuri dari negri Zing.


Sungguhnya Ia ingin mengabdikan diri, kepada wanita tersebut.


Akan tetapi, ia tak pernah memiliki keberanian, untuk mengutarakan keinginannya kepada kaisar Murongyu.


Bagaimanpun juga, pria itulah yang telah banyak membantunya selama ini, bahkan untuk menutupi kehamilannya akibat ulah adik sang kaisar, Murongyu memberikan gelar selir kepadanya.


Kaisar muda itu, juga memberikan namanya untuk sang putra, Oleh karena hal itu, bayi yang ia lahirkan tersebut, memperoleh sebutan sebagai pangeran kecil kekaisaran Xili.


Di sela keinginannya yang besar, ia masih terbebani atas budi baik dari Murongyu.


Xioyu berkali kali memutuskan untuk pergi dari istana, akan tetapi keberadaan sang putra, serta masa depan bocah kecil yang sempat ia tolak tersebut, kini menjadi pertimbangan tersendiri baginya.


Dengan keadaan yang demikian, Wanita itu semakin sulit menentukan pilihan untuk kedepannya.


''Bahkan sekedar bertemu dengannyapun sebuah hal yang sulit sekarang.'' Ucap Murongyu lagi, masih dengan nada lirih.


Kaisar muda tersebut, menatap kearah Xioyu sejenak, sebelum ia kembali memalingkan wajahnya. Menatap kearah tirai kereta yang kini mengayun perlahan, seirama gerak jalan kuda.


Tampak jelas kesenduan pada wajah tampan penguasa itu, dan wanita disana mengetahui dengan jelas apa penyebabnya.


''Anda sangat mencintainya Yang Mulia, namun sepertinya dewa tidak memberikan restu.'' Gumam Xioyu dalam diam.


Ia mengetahui perasaan kaisar Murongyu, bahkan dapat dikatakan pada tahun tahun terakhir ini, dirinyalah saksi ketulusan, kasih sayang sang kaisar untuk nona penyelamatnya.


Dari sekian orang yang ia kenal selama ini, pria di depannya tersebut, adalah orang terbaik yang pernah ia jumpai, dengan ketulusan hati, atas sebuah perasaan untuk seorang wanita.


Namun, segalanya tetap ditangan sang dewa, seberapapun ia berusaha, segala sesuatu yang telah digariskan oleh takdir, adalah Mutlak.


Xioyu menghela nafas dalam, dengan segala apa yang ia ketahui, tetap saja ia tak dapat melakukan apapun, untuk meringankan beban pria itu.


Dirinya hanyalah wanita kasta rendah, yang dapat berjalan beriringan dengan sang kaisar, hanya karena jejak kenangan atas sang penyelamat (Ziaruo).


Jika saja ia tak pernah mengenal, ataupun ditolong oleh wanita itu, mungkin untuk melihatnya saja, kaisar Murongyu tak akan sudi.


Dirinya hanyalah, sebuah amanat bagi pria tersebut dari Ziaruo. Xioyu menyadari, bahwa ia diperlakukan berbeda, oleh kaisar yang dikenal dingin, serta kejam itu, hanya karena sang bayangan Permaisuri Yun saja.


Di dalam perjalanan menuju istana yang hanya kurang beberapa saat saja, wanita itu merasa waktu berjalan sangatlah lama.


Bahkan, jauh lebih lama dari waktunya menunggu datangnya hari ini.


''Yang Mulia, apakah Permaisuri akan bersedia memaafkanku?, ataukah.... Bahkan ia tak ingin bertemu denganku?.'' Ucap Xioyu lirih.


Ada keraguan yang sangat jelas, dari ucapan wanita itu.


''Ia pasti akan menemuimu, mungkin lebih mudah bagimu bertemu dengannya.'' Jawab Murongyu dengan raut wajah tak terbaca.

__ADS_1


''Dibandingkan denganku..'' Lanjut kaisar tersebut, dalam hati.


__ADS_2