
Bahkan, kaisar Murong yang berada di atas sana, terduduk pada singgasana dengan kasar.
''Bruuughk...''
Reflek tersebut bukan suatu tanpa alasan.
Sebab beberapa hari yang lalu ketika terjadi fonomena alam, panatua suci berkata bahwa telah hadir di kekaisaran mereka, seorang pemilik takdir phoenix sejati dari dunia langit.
Dimana, sosok itu akan membawa kemakmuran untuk negri yang berbudi, dan akan membalikan karma keburukan berkali kali-lipat, untuk suatu wilayah dengan orang-orang yang berkelakuan angkara (asusila), serta tak menghargai sang dewi.
Panatua suci juga menjelaskan, bahwa phoenix sejati singgah di hutan barat.
Adapun ciri-cirinya adalah, ia memiliki aura bulan(kecantikan sang dewi) pada wajahnya, suka menyembunyikan diri (berkamuflase/ menyamar/bercadar), serta memiliki kemampuan diluar nalar akal serta pikiran manusia( seperti sekarang memunculkan, atau menciptakan sebuah cadar dengan tangan kosong).
Dan entah itu kebetulan, atau memang sang pembawa takdir Phoenix tengah berdiri di hadapan mereka, pada kenyataannya hampir semua ciri-ciri yang disebutkan oleh orang suci tersebut, sesuai dengan kriteria yang dimiliki oleh Ziaruo saat ini.
Sejenak aula perjamuan hening, dengan pemikiran serta rasa takut mereka.
Namun belum sempat keterkejutan itu menghilang, wanita di sana kembali berkata dengan sikap yang masih bersahaja, serta penuh penghormatan.
''Ampuni wanita hina ini yang mulia kaisar, dan khususnya untuk paduka permaisuri.''
''Dibkarenakan, Yang mulia permaisuri begitu menyukai kebenaran berainar (membuka tabir orang lain), maka tak ada salahnya wanita ini memberikan apresiasi tinggi untuk Yang mulia.''
Suara itu memang masih terdengar tenang, tak sedikitpun terlintas sebuah amarah ataupun rasa kecewa yang mewarnainya.
Namun yang tak di ketahui orang lain adalah, begitu Ziaruo membuka mulut untuk berbicara kembali, ia juga mengerakkan tangannya pelan 2 kali.
Dan tanpa di sadari oleh orang lain, sebuah cahaya putih kecil melesat masuk ke tubuh permaisuri.
Dan secercah cahaya lain berwarna keemasan, melesat menempel tepat pada sebuah pilar utama penyanggah aula ruangan disana.
Maka, tak ayal semua mata melihat kearah penyanggah ruangan itu.
Dari cahaya emas yang sempat menyilaukan mata semua orang, sebuah kuncup bunga dengan warna merah keunguan, menyembul di atas kayu pilar.
Melihat kejadian tersebut, beberapa orang berucap dengan reflek. "Bunga kristal ungu.''
Dan bagi mereka yang menyadari makna bunga tersebut, serta memiliki kemampuan tinggi, maka akan segera membentengi diri dengan cepat.
Seolah, kecantikan bunga yang melekat di sana bukanlah sebuah keindahan, melainkan sesuatu yang harus ia hindari dengan segera.
Dan benar saja, dalam waktu singkat bunga tersebut tiba-tiba membuka kelopaknya, dan menyemburkan aroma wangi serta putik sari ke seluruh ruangan.
Sebuah aroma keharuman yang sangat lembut, serta elegan membuat semua orang terbuai dengan sensasi keharumannya.
''Apakah itu hadiah yang kau berikan untukku nona Ziaruo?.'' Tanya kaisar, dengan nada di buat setenang mungkin.
Mendengar pertanyaan yang di rasa signifikan bagi Ziaruo, wanita tersebut tersenyum, dengan tenang menjawab. "Maafkan hamba yang mulia. Namun.... hadiahnya akan di berikan untuk Yang mulia, dua hari mendatang."
Setelah mengatakan hal itu, Ziaruo menunduk sejenak dan meminta izin untuk undur dari sana.
Tubuh itu melangkah perlahan dari tempat tersebut, sembari menggumamkan sebuah ucapan lembut serta nyaring.
"Dan berbahagialah mereka yang berbudi pekerti, di atas petaka bagi mereka yang berbangga diri."
* flash back off *
......................
Di manapun dan kapanpun kaki ini melangkah, ku yakin itu adalah jalan terbaik serta waktu yang tepat, dan tak akan ada penyesalan.
Setelah meninggalkan acara pesta perjamuan, Ziaruo kembali ke kediamannya bersama sang kakak.
Keduanya diantar kembali, dengan kereta kuda milik mansion pangeran ke-2 Murongyu.
__ADS_1
Sebenarnya, banyak dari para pemuda bangsawan menawarkan diri, untuk mengantarnya kembali kekediaman.
Tentu saja dengan berbagai alasan, dan cara yang berbeda-beda.
Namun, Ziaruo tahu hal tersebut tidak lagi penting bagi dirinya.
Sebab saat ini, wanita itu memiliki rasa kesalnya sendiri, atau lebih tepatnya sebuah kekesalan dengan berbalut kecewa.
Bahkan mungkin, entah itu kereta kencana atau hanya kereta gerobak milik rakyat jelata, ia tak akan ambil pusing.
Asalkan cepat bisa pergi dari sana, baginya sudah lebih dari cukup.
Didalam kereta Ziaruo hanya diam saja, ia mendengarkan setiap ucapan sang kakak, dengan nada kesal untuk dirinya.
''Ini semua salahmu, sudah kukatakan jangan hadir. Tapi kamu tetap saja keras kepala.''
Yongyu benar-benar marah kali ini, dan itu terbukti dengan kegeraman yang tidak lagi ia tahan.
"Kau lihat kan tadi, wanita itu...''
''Bukan, maksudku si permaisuri seolah ingin menelan mu hidup-hidup.'' Lanjutnya lagi, dengan nada masih kesal kepada Ziaruo.
Namun bagi wanita di sana menjadi berbeda makna.
Mendengar kritikan serta amarah dari Yongyu, Ziaruo merasa tersentuh di dalam hati.
Dengan kecemasan serta perhatian pemuda tersebut, Ziaruo merasa memiliki kasih sayang kehangat layaknya keluarga.
"Aku tahu, tapi kau sungguh sangat menyebalkan. Kata-katamu semakin membuat kepalaku serasa akan pecah.'' Ziaruo.
''Dan sekarang kau membuatku semakin ingin melompat turun, dari kereta ini.'' Lanjutnya lagi dengan gerakan semangat, seolah ia akan melompat.
Ziaruo melakukan itu sekedar untuk bercanda, ia hanya ingin menghentikan kemarahan Yongyu.
Akan tetapi, apa yang ia pikirkan dan apa yang berada di benak Yongyu jelaslah berbeda.
"Apa yang akan kau lakukan?.'' Ucap Yongyu cemas, ketika melihat sang adik hendak turun dari kereta, yang tengah berjalan lumayan cepat.
Melihat keterkejutan serta kecemasan dimata pria tersebut, Ziaruo kembali tersenyum.
''Aku tahu, tadi telah membuatmu cemas. Maafkan aku kak.'' Ziaruo.
''Tapi percayalah, aku pernah melewati yang lebih menyakitkan dari kejadian hari ini.'' Lanjut Ziaruo lagi, yang tampak yakin dengan sinkronisasi kondisi ke duanya.
Namun sebaik apapun Ziaruo berkelit, pemuda itu tetap mampu melihat sebuah kesenduan yang dalam.
Yongyu tak dapat berbuat banyak, ia menghela nafas sejenak sebelum kembali membuka suara. ''Apa yang telah kau lalui selama ini?.
Pemuda itu mengusap pucuk kepala Ziaruo dengan lembut.
Dengan tangan yang sama, ia beralih menepuk tangan sang adik pelan.
''Siapapun dirimu?, ingatlah sekarang bukan hanya kau ataupun aku, tapi kita. Dan kita akan saling menjaga, serta melindungi apa kau mengerti?.''
"Aku tahu....'' jawab ziaruo singkat, sembari mengangguk tegas, serta senyum terpasang cantik dibalik cadar.
Senyum itu, mereka indah dibalik penutup wajah rapat di sana.
Namun entah karena apa, meski di balik tutup wajah, Yongyu tetap bisa menebak hal tersebut.
''Iihhhkkk..heerr....''
Suara sang kusir, menghentikan kereta dengan tiba-tiba.
"Maaf nona, tuan....ada seseorang menghalangi kereta kita di depan.'' Ucap sang kusir, dengan sopan menjelaskan.
Karena memang saat itu hari sudah gelap, kusir tersebut tidak berharap Ziaruo untuk ikut turun.
__ADS_1
"Siapa pak?, bisakah anda menanyakan ada keperluan apa?,'' Pinta Ziaruo tenang.
Sementara itu, Yongyu masih diam duduk, didepan sang adik, tatapannya tak pernah benar-benar menjauh dari wajah cantik itu.
"Baik nona,'' Jawab kusir, sebelum melangkah menuju kearah dua orang, yang kini tengah duduk di atas punggung kuda, menghalangi jalan kereta mereka.
Tak membutuhkan waktu lama, sang kusir sudah kembali, dengan langkah setengah berlari-lari kecil.
"Maaf nona, disana ada pangeran pertama, Yang mulia putra mahkota Muronghui.''
''Beliau berkata, ingin menyampaikan sesuatu sebentar kepada anda.'' Lanjut kusir dengan nada khawatir, serta bermaksud menjelaskan.
Mendengar hal tersebut, Yongyu menjadi kesal. Ia tahu dengan benar, bahwa pangeran Muronghui, adalah putra kandung dari permaisuri Sujin.
Kebencian untuk sang ibu, sudah sepantasnya sang putra ikut menanggungnya, itulah isi pikiran pemuda Yongyu.
Ia hendak turun dan membuat perhitungan dengannya.
Akan tetapi, dicegah oleh Ziaruo.
Sang adik menahan lengan Yongyu, dan tak ingin pemuda tersebut turun dari kereta.
"Pak tolong tanyakan, hal apakah yang membuatnya berpikir serta membenarkan dirinya, untuk menghentikan kereta kuda seorang wanita ditengah jalan, saat malam seperti ini?.'' Pinta Ziaruo dengan nada tenang.
Akan tetapi jelas dari ucapan itu, ia enggan untuk menemui ataupun menyanggupi permintaan pertemuan, sang putra mahkota.
"Baik nona, saya akan sampaikan.'' Jawab sang kusir, sebelum berlari-lari kecil kembali, kearah dua orang yang berada tak jauh dari kereta mereka.
Namun, belum sampai sang kusir kembali datang, dari samping kereta terdengar beberapa derap langkah kuda mendekat.
Mengetahui hal tersebut, Yongyu melompat turun dari kereta. Ia tidak marah, namun juga tidak ramah.
''Hormat saya yang mulia.'' Sapanya sambil membungkuk.
Meski ia menyapa serta memberi hormat untuk Muronghui, namun Yongyu tidak menunggu jawaban dari putra mahkota, pemuda itu sudah mengangakat kembali tubuhnya.
Disisi lain, Pangeran Muronghui juga tidak menanggapi pemuda tersebut, ia melangkah langsung menuju kearah kereta begitu turun dari kudanya.
Hal ini membuktikan bahwa, keberadaan Yongyulah tidak penting.
Dan tentu saja wajah pemuda Yongyu semakin menggelembung dengan kekesalan.
"Maaf mengganggu perjalanan anda nona, tapi bisakah kita berbicara sebentar ?.'' Ucap sopan pangeran Muronghui.
Sesopan apapun, nyatanya mendengar hal itu Ziaruo menjadi lebih kesal kepadanya.
Ibarat percikan api yang hendak padam, dan kembali menyala terang akibat di terpa semilir angin.
Menyala...menyala..terang...terang dan kembali membara.
"Apakah permasalahan tersebut, jauh lebih penting, dari kehormatan wanita ini, yang hanya tersisa sedikit yang mulia pangeran?.'' Ucap Ziaruo, dengan penekanan pada beberapa bagian kata.
Mendengar jawaban tersebut, putra mahkota tahu, bahwa gadis didalam kereta, tengah mengingatkan akan sikap sang ibundanya.
Dan dengan alasan tersebut juga, ia berinisiatif untuk datang kepada wanita itu malam ini.
"Jika mamang teramat penting, maka saya akan keluar sekarang.'' Sambung Ziaruo lagi.
''Tidak nona, silahkan anda lanjutkan perjalanan, saya akan meminta waktu kepada Ayahanda kaisar, untuk berkunjung kekediaman anda.''
Sahut cepat pangeran mahkota, setelah mendengar jawaban Ziaruo, yang sejak kejadian tadi siang terus berada di dalam fikirannya.
"Maafkan saya telah lancang, menggangu perjalanan anda.'' Lanjut Muronghui lagi.
Meskipun Muronghui telah menduga, bahwa ia tak akan memperoleh jawaban, serta respon dari dalam kereta, pria no dua setelah kaisar tersebut, masih ringan membuka mulut.
Dan benar saja, setelah Yongyu naik kembali, kereta itu langsung melesat pergi, tanpa ada sepatah katapun terdengar.
__ADS_1
Pangeran Muronghui menghela nafas panjang, menatap langit malam sebentar, sebelum akhirnya mengajak sang penjaga bayangan, pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke istana.