
''Yang mulia...Anda dapat mengingat, sebesar apa kasih sayang paduka kaisar untuk hamba bukan?, dan jikapun hal itu telah memudar, bukankah ini terlalu mendadak?.'' Sambung wanita itu lagi.
''Lalu... Apa bedanya jika kau mengetahuinya?, apa yang dapat kau lakukan?, bukankah ia terlalu hebat untuk kita manusia biasa?.'' Lexue.
Lexue tidak ingin menampilkan pemikiran otaknya, secara terus terang.
Dalam ucapan itu, ia seolah memupus harapan Fengjiu dengan ketidak berdayaannya.
Akan tetapi, pada kenyataan ia ingin memancing, serta memperkuat kebencian yang telah bercokol dihati wanita tersebut.
''Jika tak dapat melakukan hingga tuntas, lebih baik diam dan hidup tenang.'' Lanjut Lexue lagi.
Wanita yang pernah berkuasa tersebut, kembali duduk pada bantalan penyanggah di lantai ruangan, dan meraih rangkaian cendana yang tadi ia letakkan.
''Kau pergilah, biarkan kaisar menjalani takdirnya seperti yang tergaris.''
''Jika Dewa mengaharuskan demikian, siapalah kita yang ingin menentang takdir pemberiannya?.''
Lexue memejamkan mata, bernafas tenang. Dari bibirnya, mulai mengucapkan serangkaian bait-bait doa kembali.
Menyaksikan, serta mendengar perkataan ibu dari pria yang ia cintai, seolah pasrah.
Hati Fengjiu kembali di penuhi dengan kekecewaan.
''Yang mulia....'' Panggilnya pelan.
Fengjiu tidak menyangka bahwa akan ada saat, dimana janda Kaisar tak ingin menjaga sang putra, untuk kejayaan kekaisaran Zing yang agung.
Dengan suara yang masih di liputi ketidak puasan, ia kembali berkata. ''Jika anda menyerah, maka silahkan anda bersembunyi disini.
Dan sebagai wanita milik Kaisar, pelayan inilah yang akan berusaha menghilangkan keburukan dari Yang mulia(Jing).''
Fengjiu telah memutuskan untuk membawa kembali Jing-nya, yang telah terkena mantra jahat Ziaruo.
Ia juga menegaskan dalam hati, kelak hanya dirinya sajalah, yang akan menjadi wanita no-1, di kekaisaran Zing ini.
Membayangkan akan hal tersebut, mata Fengjiu kembali bersinar cerah.
Seakan ia telah yakin bahwa segalanya, akan berjalan sesuai rencana miliknya.
''Hamba mohon diri Yang mulia.'' Lanjut Fengjiu lagi, sebelum beranjak keluar dari aula heven.
Meninggalkan wanita Lexue dengan senyum sinis, tercetak pada wajah sinkron, yang tak menunjukan usia senja miliknya.
''Kau masih menipu diri sendiri. Bunga yang telah terbuang, dan berdebu, tak akan di pungut kedua kalinya. Apalagi, untuk di letakkan dalam vas porselen. Sungguh konyaol.'' Ucap sarkas Lexue, setelah kepergian Fengjiu.
__ADS_1
''Apakah sudah ada kabar dari jendral Feng?.'' Lanjut wanita Lexue lagi.
Namun, kali ini ia menoleh kearah kedua pelayan wanita, yang berdiri tak jauh darinya.
''Merpati telah mengirim pesan, beberapa saat sebelum selir Feng masuk, Yang mulia.'' Jawab salah satu dayang, sembari menyerahkan gulungan kecil kepada janda permaisuri.
''Jangan memanggilnya sebagai selir. Bahkan untuk menjadi kain pembersih kaki putraku, ia tidaklah pantas.'' Ucap Lexue, ketika mengambil gulungan, dari tangan pelayan wanita.
Ucapan perkataan itu, seolah menegaskan bahwa dirinya sangat mencintai, serta menjadikan sang putra, sebagai sebuah keistimewaan yang sangat ia jaga, dan tidak ada lagi hal berharga dimatanya selain Jing.
Namun, pada kenyataan yang sebenarnya, wanita Lexue hanya menganggapnya sebagai sebuah aset, untuk Kelangsungan penerus kejayaan kekaisaran Zing saja.
Meski bukan keturunan murni keluarga royal kekaisaran Zing. Setidaknya Jing juga bergelar putra Zing dimata semua orang.
Dan yang lebih utama, dia adalah juga putra kadung dari darah daging, milik Lexue sendiri.
Tentu saja ia akan mengistimewakan putranya tersebut, karena ia tidak memiliki putra lain lagi, setelah kepergian Jiang Jingyun.
Sungguh hati seorang ibu telah terkubur dalam, dengan ribuan ambisi atas tahta, dan kekuasaan.
Meskipun untuk sebuah patriotik kelangsungan negrinya, ia pantas dan di benarkan melakukan hal tersebut.
Pendapat itu, hanya janda Lexue, dan orang-orang sepemikiran dengannya sajalah, yang membenarkan.
Namun, tetap saja ia tak ambil pusing dengan pendapat orang lain, baginya hidup ini adalah sebuah pilihan.
Karena, meski seterang dan sebesar apapun kebenaran, jika ia adalah pihak yang lemah, tetap saja dirinya akan teraniaya.
''Heemmzz...sepertinya mereka akan menemui akhir yang buruk.'' Sambung Lexue lagi, setelah membaca gulungan.
................................
Sementara itu, Fengjiu yang pergi dari Heven dengan kekecewaan, melangkah menuju pavilliun permaisuri Yun.
Akan tetapi, belum sempat ia mendekati pintu masuk pavilliun, beberapa orang tiba-tiba saja menghadang.
Melihat kehadiran mereka yang dirasa kurang sopan, dan bahkan mengejutkannya, Fengjiu semakin di buat kesal.
''Apa yang kau lakukan?, buka mata lebar dan lihat siapa wanita ini!." Ucap Fengjiu dengan amarah.
Kekecewaan wanita tersebut, semakin mengakar ketika melihat para prajurit terdekat Jing, kini berani menghalangi langkah kakinya.
Dengan nada suara yang masih tinggi, ia kembali bersuara. ''Jika kalian memiliki pikiran, maka menyingkirlah!, biarkan kami membereskan sumber masalah di istana ini, sebelum terlambat.''
Ucapan itu memanglah beralasan. Karena sebelum Fengjiu masuk keistana, ia telah membuat kesepakatan dengan para pemberontak.
__ADS_1
Selama ia dapat menyerahkan Ziaruo kepada mereka, maka sebagai balasan dari pimpinan tersebut(Jiang JingYun/mahkluk serigala jelmaan) akan menyembuhkan kaisar Jing, dari pengaruh guna-guna.
Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Jingyun, dan yang dipercaya oleh Fengjiu.
Akan tetapi, yang tidak diketahui oleh Fengjiu adalah, dibalik rencana pemberontakan kali ini, Fengjiu adalah bidak catur rencana kedua, yang di susun oleh sang jelmaan.
Jika rencana membunuh Jiang jing wei gagal, setidaknya sang Tuan (Murongxu), tidak akan marah besar, ketika ia menjadikan Jiang jing wei sebagai boneka ditangannya.
Membuat Jing berjalan, berpikir, bahkan hidup, dibawah telapak tangan miliknya.
Sementara, Fengjiu yang menelan mentah-mentah perkataan Jiang jingyun, semakin antusias, ketika ia membayangkan diri sebagai Permaisuri, mendampingi kaisarJing disinggahsana kekaisaran.
Akan tetapi, ke-4 penjaga yang kini berada di depan Fengjiu, tak bergeming sama sekali, mendengar ucapan kasar yang terlontar.
Dan hal itu, semakin menyulut kegeraman dihati Fengjiu.
''Menyingkir, atau aku tidak akan menganggap kalian.'' Ucapnya lagi.
Mendengar perkataan yang mengancam, salah satu penjaga pavilliun Ziaruo, maju dan berkata. ''Jika anda berpikir mereka mampu melakukannya, silahkan.
Jangan terlalu sungkan.''
Lianyi adalah salah satu, dari 10 penjaga tetpercaya milik Jiang Jiang jing wei.
Baginya tak ada perintah lain, atau kepatuhan untuk mereka selain Jing sang Kaisar.
Tidak juga ia patuh kepada Ziaruo, jika itu menyangkut kesangsian, atas kekuasaan dari Jiang jing wei.
Namun, sebagai pendamping dari Kaisar Jing, Ziaruo adalah tuan kedua bagi Lianyi.
''Penjaga tangkap Permaisuri jelmaan itu, singkirkan siapapun yang menghalangi.'' Perintah Fengjiu.
Ia merasa dengan kehadiran para penjaga miliknya, akan mampu melewati keempat penjaga disana.
Dan tak menunggu perintah kedua kalinya, 4 penjaga segera bergerak menyerang Lianyi dan 3 orang rekannya.
''Kita lihat seperti apa kemampuan dari penjaga elit Kaisar.'' Ucap dalam diam seorang pria, yang ikut berbaur diantara orang-orang Fengjiu.
Tatapan mata pria tersebut, tampak tajam dan sedikit menyeramkan.
Seolah, tatapan itu miliki kengerian dalam setiap sorot mata yang ia tampilkan.
Lianyi sejak awal merasa ada sesuatu yang salah, diantara para penjaga milik Fengjiu.
Namun, hingga ia memutuskan untuk menolak dan melakukan perlawanan atas perintah Fengjiu, Lianyi tetap belum bisa menemukan alasan apa, dari desir kengerian yang ia rasakan.
__ADS_1
''Jangan menyerah dengan apapun, ingat Kaisar telah mempercayakan Permaisuri kepada kita.'' Lianyi.
''Kami mengerti.'' Jawab ketiga orang lainnya, hampir bersamaan.