Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 50 Penghianat yang terhianati


__ADS_3

 


Sementara itu, jauh disuatu negri Atas awan.


 


Dua siluet kilatan cahaya, memasuki sebuah ruangan, yang tak asing bagi mereka.


"Hormat kami guru, semoga guru salalu panjang umur.'' ucap kedua pemuda tersebut, sembari bersujud memberi hormat.


"Bangunlah.'' ucap guru besar Xio, dengan penuh wibawa.


Mereka berdua menegakkan punggungnya, setelah mendengar izin dari sang guru.


Namun, masih dalam keadaan kaki tetap seperti semula, di tekuk kebelakang, sebagai bantalan duduk mereka.


"Ternyata, kalian kembali jauh lebih cepat, dari yang seharusnya.


Sekarang, pergilah untuk bermeditasi kembali, selama dua purnama kedepan, untuk menyucikan, hati serta fikiran kalian dari kefanaan.'' Guru Xio


"Baik guru.'' Jawab keduanya sembari bersujud, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan sang guru.


Akan tetapi, ketika mereka sampai di luar ruangan, keduanya saling tatap, tanpa terdengar suara dari bibir mereka.


"Adik ( Ziaruo), apakah kau akan baik baik saja sekarang?.'' Prikir saudara ke 2(Yanyan ),didalam hatinya.


"Ziaruo, ternyata semua adalah, bagian dari hukuman kita.


Namun, aku tidak menyesal sama sekali.'' Gumam saudara ke2 ( Gutingye) didalam hatinya.


''Semoga sang pencipta, selalu menjaga, serta melindungi perjalanmu.'' Yanyan berkata lirih, namun masih dapat didengar oleh Gutingye.


''Benar, sang pencipta pasti menjaganya.'' Sahut Gutingye dengan lirih juga, seolah mereka berdua tahu, siapa orang yang mereka maksudkan.''


Sedangkan jauh dari tempat tersebut, lebih tepatnya, didalam sebuah kereta tawanan, yang menuju ke istana kerajaan Xili.


 


Seorang wanita, tengah berusaha mencoba memberikan harapan, untuk semua tawanan yang kini berada di sana.


Di dalam sebuah kereta besar, dengan gerbong yang dapat memuat, hampir 20 orang lebih dalam sekali angkut.


Gerbong tersebut dapat dengan jelas terlihat dari luar, karena hanya berupa kayu kayu yang di bentuk menyerupai, sebuah penjara kecil yang dapat dibawa untuk berpindah tempat.


Banyak penduduk, yang melemparkan batu, dan benda benda b*suk kearah semua orang yangvdidalamnya.


Sebab, yang difahami oleh semua orang, bahwa para prajurit tengah membawa tawanan, yang akan dijadikan budak, atau akan di hukum mati.


Sebenarnya, pangeran Murongyu dan pangeran Muronghui, mencoba memisahkan Ziaruo, dan membawanya kedalam kereta mereka, namun dengan tegas Ziaruo menolaknya.


Segalanya bukan tanpa alasan, meskipun dirinya tidak menyadari apapun yang terjadi.


Akan tetapi benar juga adanya, bahwa Ziaruo adalah istri dari sang pemimpin suami para wanita itu.

__ADS_1


Wanita wanita yang kini menunduk lesu, dengan raut kesedihan atas kehilangan keluarga mereka, dan bahkan kini akan di jual sebagai budak, atau sebagai wanita P*ngh*bur untuk melayani pria hidung belang.( penyuka cemilan diluar )


Tak dapat menghindari lemparan tersebut, sebuah batu bersarang dikening ziaruo dengan telak, sontak saja darah mengalir dari keningnya.


Darah tersebut, menambah hiasan hiasan merah di atas wajahnya, yang sudah banyak terdapat torehan warna yang sama disana.


Bahkan, ada beberapa bagian dari darah diwajah tersebut, yang sudah mengering.


"Nyonya ...'' teriak hampir semua orang disana bersamaan.


Ziaruo tersenyum sesaat, mendengar teriakan kekhawatiran dari semua wanita malang tersebut.


Ia hendak, mengatakan bahwa dirinya baik baik saja, agar mereka tidak camas.


Namun, tiba tiba saja pandangan matanya mengabur, dan akhirnya ia tidak menyadari apapun lagi.


Sementara itu, disebuah pavilliun besar kota kekaisar tang.


"Prang ..praang ..bruuaakk..!.''


suara benda benda pecah, dan terjatuh dengan sangat keras.


"Beraninya dia, beraninya, dasar b*jngan kurang ajar, aku berjanji akan mer*mukan seluruh tulang tulangnya nanti.'' Pekik seorang pemuda tampan, dengan kemarahan yang membuncah.


Ia memecahkan, hampir semua barang barang berharga diruangan tersebut, dengan sebuah cambuk hitam, ujung gangang cambuk itu berhiaskan batu permata merah delima, dengan warna pekat agak keunguaan.


Tak jauh dari tubuh pemuda tersebut, seorang wanita yang kini ketakutan di ujung ruangan. Kondisinya tak jauh berbeda dengan prajurit pengintai, yang baru saja masuk memberikan kabar beritan dari hutan barat kerajaan Xili.


Canzuo, kembali menyabetkan cambuknya kesembarang arah, menghantam apapun yang terlewati ujungnya hingga sebuah erangan terdengar di telinganya.


"Aaakkhhh...sakit, sakit yang mulia.'' Jeritan kesakitan, terdengar dari ujung ruangan tersebut.


Disana, ada seorang wanita dengan pakaian yang agak terbuka, terluka sabetan cambuk pada pergelangan tangannya.


Luka itu agak terbuka lebar serta mengalirkan darah, wajar saja hal itu terjadi karena pada ujung cambuk, milik pangeran Canzuo, terdapat 2 bilah pisau kecil yang tajam.


Mendengar teriakan dan isak tangis wanita tersebut, pangeran Canzuo mendekatinya menatap lekat wajah cantik itu, sebelum beralih menatap luka dipergelangan tangannya.


"Apakah itu menyakitkan?.'' Tanya pangeran Canzuo dengan suara pelan.


Namun entah mengapa, nada pelan itu justru membuat sang wanita meringsekan tubuhnya menjauh keujung ruangan. Seolah ia tengah ketakutan akan sesuatu didepannya.


"Ti..tidak tuan, selir ini baik baik saja.''Jawab wanita tersebut, dengan terbata.


"Benarkah?.'' Tanya lagi pangeran Canzuo, sembari menarik tangan selirnya, tepat ditempat luka dengan darah yang masih mengalir.


"Aaakkhh...sakit!.''Ucap reflek sang selir, ketika tangannya ditarik oleh pangeran Canzuo dengan kasar.


"Apakah sakit?.''Tanya Canzuo kembali.


Kali ini, wanita itu terdiam sejenak, ia tahu jika ia menjawab tidak, maka pria di depannya akan melakukan hal lain untuk menyakitinya.


Namun, jika menjawab sakit, ia takut akan menjadi akhir dari hidupnya, karena tadi ia telah berbohong, dengan mengatakan tidak sakit.

__ADS_1


Selir tersebut kebingungan serta ketakutan.


"Selir, apakah kau tidak akan menjawab pertanyaanku?, sejak kapan kau berani mengabaikan pertanyaanku?'' Tanya Canzuo lagi, dengan kekesalan yang kembali tampak diwajah serta sorot matanya.


"Ti...tidak yang mulia pangeran, selir ini baik baik saja.''Jawab wanita tersebut, dengan tubuh gemetar, serta suara yang ragu, bukti dari reflek bibir serta tubuhnya yang tengah berbohong.


Pangeran Canzuo, mengetahui hal itu dengan baik, bagaimanapun juga lebih dari 6 tahun, ia bersama wanita tersebut, memanjakannya, mencintainya, bahkan rela, mengasingkan dan menjatuhkan abdi setianya, ( sang jendral ) demi wanita itu.


Akan tetapi, ia menyadari keperibadian buruk yang tersembunyi, dari sifat ramah serta baik hatinya baru beberapa saat yang lalu.


Dan Canzuo menjadi kesal saat mengingat itu semua.


"Kasim, bawa selir Meng untuk periksa ketabib, katakan padanya bahwa dia tidak merasakan apapun meski terluka sangat parah.'' Perintah pangeran Canzuo, dengan wajah datarnya.


"Hamba mengerti, yang mulia pangeran mahkota.'' Jawab sang kasim, dengan suara tenang, serta membungkukkan punggungya sebagai bentuk penghormatannya kepada sang majikan.


Mendengar hal tersebut, wajah sang selir langsung memucat, ia bersimpuh, dan bersujud meminta pengampunan.


Wanita itu tahu, apa makna dari setiap ucapan pangeran Canzuo tersebut.


Akan tetapi, tidak akan ada arti apapun dari semuanya, dua kasim tetap membawanya pergi dari sana.


*Selir Mengyulin, atau yang disebut juga selir Meng, selir tercantik di kediaman pangeran Canzuo, ia terkenal baik dan ramah, namun satu hal kesalahan dan keburukannya, yaitu ia pernah, meninggalkan suaminya dan seorang bayi berusia 1 tahun.


Dimana saat itu, suaminya hanyalah, seorang prajurit yang bergelar sebagai wakil jendral saja.


Karena kejadian tersebut, prajurit yang memeliki kompetensi tinggi,


bahkan diharapkan akan, menggantikan posisi sang ayah, yang saat itu sebagai jendral besar, menjadi seseorang yang bermalas malasan, serta seenaknya sendiri. Pria tersebut menjadi berhati dingin dan kejam.


Karena hal inilah, hubungan dari pangeran Canzuo dan pria tersebut, menjadi renggang.


Bahkan canzuo, ketika hendak bertemu sang wakil jendral, ia terpaksa mengenakan topeng, agar bisa mendekati pria atau mantan suami selir mengyulin.


Suami dari selir Mengyulin pernah bertemu dengan Canzuo, saat Canzuo menjemput sang selir yang hendak pergi dari rumah sang suami, dan memilih tinggal dengan Canzuo.


Namun, suami selir Mengyulin tidak mengetahui, bahwa Canzuo adalah putra mahkota kekaisaran Tang, majikannya.


Dan untuk pangeran Canzuo, selir mengyulin merupakan perasaan pertamanya, mengenal dan mengetahui hubungan antara pria dan wanita dewasa.


Tentu saja, hal tersebut akibat pesona, dan bujuk rayu, dari selir Mengyulin terlebih dahulu.


"Beristirahatlah Jendralku, aku mengirimNya untukmu, maafkan aku...semua adalah kesalahnku, aku bersedia bertukar tempat denganmu, dikehidupan mendatang, jangan khawatir aku akan menjaga ziaruo untukmu.'' Ucap dalam hati, pangeran mahkota negri Tang Canzuo.


Pasangan selingkuh, adalah seorang pencuri yang mengambil, seorang pengkhianat, dan merekalah pasangan yang serasi.


"Benarkah demikian?.''


mampir juga ya di ''BATAS GARIS JINGGA'' saran, komentar serta vote sangat di harapkan.


terimakasih*


__ADS_1


__ADS_2